Tag: Imam Shamsi Ali

  • Opini Imam Shamsi Ali: Membaca Gelombang Takdir!

    Oleh: Imam Shamsi Ali*

    Memasuki tahun pemilu, baik pilkada ditahun 2018 maupun pilpres di tahun 2019, perlu diingatkan kembali tentang “realita” (HAQ) di atas segala realita. Realita “keputusan” (qadha) di atas realita keputusan apapun. Itulah realita dan keputusan Allah SWT. Hiruk pikuk pemilihan pejabat publik kerap kali menjadikan banyak kalangan buta dengan penghulu realita (master of all realities) itu.

    Hidup manusia itu mengikut irama gelombang qadar Ilahi. Gelombang ombak yang dahsyat, bergerak sesuai pergerakan kehendak Pencipta kehidupan dan kematian (khalaqal mauta wal hayaata). Dan  kehendak Dia itulah akan dan pasti terjadi. Tiada keraguan (laa raeb) padanya sedikitpun.

    Anda hidup karena Dia yang “Al-Muhyii”.

    Anda makan karena Dia yang “Ar-Razzaq”.

    Anda kaya karena dia yang “Al-Ghany dan Al-Mughny”

    Anda kuat karena dia “Al-Qawii”.

    Anda mampu karena Dia yang “Al-Qadiir”.

    Bahkan anda berkuasa karena Dia yang “Maalikal mulk”.

    Dan ingat, suatu ketika anda pun mati juga karena Dia yang “Al-Mumiit”.

    Permasalahan sesungguhnya bukan pada pergerakan gelombang hidup. Bukan pada pergantian warna warni kehidupan. Karena itu pasti, harus dan alami. Naik turunnya pergerakan hidup, hitam putihnya warna hidup, pahit manisnya rasa hidup itu bukan masalah. Karena sekali lagi itu mutlak, bahkan bagian dari proses alami yang terjadi dalam hidup.

    Masalahnya justeru ada pada suasana “tatanan jiwa” manusianya. Semakin mapan jiwa manusia semakin kokoh, bahkan menikmati setiap detak pergerakan itu. Bahkan sungguh luar biasa ajibnya sikap manusia yang mapan kejiwaannya. “Ajaban liamril mukmin. In ashobathu sarraa syakar. Wa in ashoobathu dhorraa shobar. Wa fii dzalika kulihi khaer”.

    Sebaliknya kerapuhan dan kekerdilan jiwa manusianyalah, yang menjadikan pergerakan itu menimbulkan dua kemungkinan penyakit sosial (social sickness):

    1) Jika pergerakan itu menanjak, memihak dan menyenangkan maka dia akan membusungkan dada. Bahkan seringkali berusaha membusungkan dada, tidak mau dikalah, walau takdir memaksanya untuk terkalahkan dan dikalahkan.

    2) Tapi jika pergerakan itu melongsor turun, menungging, tidak memihat kepada ambisinya, yang terjadi adalah “sakit hati” dan dendam kusumat. Kerap kali dendam kusumat itu menampakkan diri pada momen-momen tertentu.

    Jiwa kerdil seperti ini terjadi pertama karena memang kegagalan memahami konsep tauhid itu sendiri. Konsep tauhid itu mengajarkan bahwa semua pergerakan hidup, semua warna dan bentuk hidup itu adalah proses, dan terkendali secara tunggal di antara jari jemari Ilahi. Konsep “biyadihi al-mulk” dan “ilaihi yurja’u al-amru kulluh” belum terhayati secara baik dan benar.

    Sejatinya memang keberhasilan atau kagagalan itu ditentukan secara mutlak oleh yang mengendalikan semua pergerakan di alam semesta ini. “Allahumma laa mani’a limaa a’thoeta wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa raadda limaa qadhaet”.

    Kegagalan dalam memahami tauhid ini berakibat pula kepada kegagalan dalam menerima kenyataan qadar dan qadha Ilahi. Dan hati yang gagal menerima kenyataan aadar dan qadha inilah yang rentang terjangkiti penyakit jiwa. Iri hati, dengki dan hasad menjadi bayang-bayang hidupnya.

    Penyakit yang bagaikan bara api yang panas ini ketika bertengger dalam jiwa  seseorang, menjadikannya merana, menggelepar kepanasan bagaikan cacing terhempas ke daratan panas.  Tidak akan pernah merasakan ketemangan  dan tidak akan pernah menenangkan. Menanggng derita dan kebinaan sendiri (self destruction) bahkan melakukan berbagai tindakan destruktif, baik dalamp kata maupun aksinya.

    Merajut jiwa

    Perjalanan hidup manusia itu tercatat dan akan menjadi catatan sejarah hidupnya. Minimal akan menjadi sejarah bagi diri sendiri, yang setiap orang akan membacanya pada masa yang telah ditentukan.

    “Iqra’ kitaabak…kafaa biNafsikal yauma alaika hasiba”, kata manual hidup manusia.

    Dan kerenanya setiap detak perjalannnya akan menjadi bagain dari catatan pertanggung jawaban itu. Di saat anda berumur 1 – 2 tahun anda bagaikan adonan yang dibentuk oleh orang tua, khususnya Ibu. Mau dijadikan gorengan apapun sesungguhhnya ada di tangan siapa yang membentukmu.

    Memasuki umur 3-6 tahun terjadi pergesekan antara pengaruh orang lain dan upaya diri sendiri dalam mewarnai jiwa seseorang. Dalam dunia teknologi dan kemajuan informasi dan telekomunikasi, anak pada fase inipun terkadang dibentuk oleh mainannya.

    Usia 6-12 tahun masa membangun fondasi. Masa menentukan soliditas atau kerapuhan fondasi jiwanya. Wajar saja kalau fase ini sekolahnya dikenal dengan “sekolah dasar”. Ibarat bangunan sedang terjadi penataan fondasinya.

    Tapi sejatinya bangunan kehidupan itu akan mulai terbentuk warnanya ketika memasuki umur 12 ke atas. Masa itu sebuah gedung dapat dinilai secara kasat, baik atau buruknya. Dalam bahasa agama, di saat inilah seseorang memulai pertanggung jawaban, memasuki umur “akil dan balig”.

    Perjalanan selanjutnya adalah masa 18 – 25 tahun. Sebuah rentang kehidupan untuk meneruskan membangun, memperkokoh dan mempercantik hidup anda. Masa ini adalah masa membangun warna karakter hidup.

    Di saat mencapai umur 25 hingga 40 tahun anda  memasuki tingkat kematangan dalam kedewasaan. Umur nikah, bekerja dan membangun masa depan warna kehidupan. Pada rentang masa itu bangunan itu masih bisa bongkar pasang, menata untuk masa yang tiada kembali.

    Di saat anda memasuki umur 40 tahun berarti anda mencapai tingkat kedewasaan tertinggi. Wajar jika kenabian nabi-nabi dimulai ketika berumur 40 tahun. Kecuali Isa AS tentunya. Posisi ini tidak bertahan lama. Antara 40, 50, maksimal 65 tahun. Itulah rata-rata umur umat Muhammad SAW.

    Kenyataan inilah yang diingatkan oleh Rasul bahwa jika anda yang berumur 40 tahun atau lebih, tapi anda tidak melakukan perubahan, acuh dengan pembenahan karakter, tunggu akibat yang tiada berujung.

    Di saat masanya anda berbenah, tapi anda biarkan bocoran atap rumah anda, atau dinding rumah anda dimakan rayap, maka tunggu kehancuran dan keruntuhannya.

    Demikianlah ketika anda sudah melewati 40 tahun tapi penyakit jiwa tidak diobati, bahkan berakibat kepada tumbuhnya prilaku destruktif; angkuh, busung dada, iri hati dan hasad, sering mengharap dipuji tanpa dasar (yuriiduuna an yuhmadu bimaa lam yaf’alu). Di saat itu berhati-hatilah jangan-jangan itu memang tabiat dasar anda. Khawatirnya tabiat itulah yang anda akan bawa hingga ke liang kubur.

    Ada orang sakit hati karena disakiti atau dizholimi orang lain. Itu wajar dan alami. Tapi seringkali keanehan terjadi. Ada orang yang sakit hati tanpa sebab. Hanya karena orang lain di sekitarnya dianggap lebih dari dirinya, dan menjadi ancaman, entah itu kenyataan atau sekedar ilusi.

    Jika hal seperti ini terjadi pada seseorang, sungguh sebuah penyakit kronis yang berakibat destruktif, baik pada dirinya sendiri maupun lingkungannya.

    Penyakit jiwa tanpa sebab  ini rata-rata terjadi ketika seseorang berambisi selangit, sementara kemampuan secuil. Nafsu setinggi langit, tapi energi positifnya loyo. Menjadikannya ibarat katak di bawah tempurun. Ingin terbang apa daya sayap terputus secara khalqi.

    Akibatnya orang ini akan dijangkiti penyakit murakkab (berlipat ganda). Di satu sisi karena ambisi itu akan semakin memaksakan diri untuk sesuatu yang di luar kapasitasnya. Di sisi lain dengan mudah menyalahkan, jika tidak orang lain, maka dirinya akan menjadi bulan-bulanan kemarahan. Itulah kenyataan di dunia modern, betapa keputus asaan, bahkan bunuh diri menjadi “salvation” (penyelamatan) pintas.

    Atau akan nampak dalam prilaku sosial dan lingkungannya. Pada tataran rumah tangga misalnya, tingkat kekerasan rumah tangga (domestic abuses) dan percaraian drastis meninggi. Justeru itu terjadi di saat semua fasilitas duniawi lebih tersedia. Dari kampung, ke kota-kota besar, hingga ke jantung dunia bahkan Hollywood, fenomen ini nyata di depan mata kita semua.

    Itulah akibat kerapuhan mental, atau bahkan tidak berlebihan jika saya menyebutnya “mental disorder” (penyakit mental).

    Orang yang berpenyakit mental yang demikian biasanya hanya mampu merintih kesakitan dalam selimut tebalnya, sambil bermimpi terbang tinggi ke angkasa luar.

    Ketidak mampuan dalam memburu ambisinya membawa kepada sikap menyalahkan setiap nyamuk yang beterbangan di semitarnya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang beterbangan sambil bersiul itu dilihatnya sebagai ancaman bagi dirinya…..bagaikan bom nuklir yang akan menghamburkan darah dagingnya setiap saat. Dan semoga Allah menjaga!

    * Presiden Nusantara Foundation

    (Tulisan ini dimuat pertama kali di republika.co.id )

  • Islam di Amerika dan Paradoks

    oleh : Imam Shamsi Ali *

    Setiap kali saya pulang kampung, Indonesia, di berbagai acara baik pertemuan maupun ceramah selalu ditanya tentang perkembangan Islam di Amerika. Bagaimana keadaan umat, meningginya Islamofobia, hingga dampak berbagai kebijakan pemerintahan Donald Trump saat ini.

    Merespons berbagai pertanyaan ini memang agak kesulitan menjawab dengan jawaban langsung dan hitam putih. Masalahnya adalah Islam dan umat di Amerika itu berada dalam situasi yang paradoks. Di satu sisi Islamofobia dan kasus-kasus kekerasan kepada komnitas Muslim cukup meninggi. Bahkan sejak terpilihnya Donald Trump sebagai presiden, ragam kasus kekerasan terjadi di sana sini.

    Namun demikian, di sisi lain, perkembangan Islam juga semakin meninggi bahkan tidak lagi terbendung. Setiap tahun puluhan ribu warga Amerika memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Masyarakat Amerika secara umum juga semakin terbuka untuk mengetahui Islam. Dan simpati kepada umat ini juga semakin meluas, bahkan dari masyarakat yang selama ini dipersepsikan sebagai “musuh”, seperti masyarakat Yahudi.

    Saya ingin mengulang kembali sejarah yang pernah terjadi di bulan Februari lalu. Puluhan ribu warga Amerika non Muslim hadir mendukung kami dalam sebuah demonstrasi besar-besaran di Time Square, jantung kota New York. Demo yang dihadiri oleh Wali Kota New York dan pembesar lainnya itu mengusung tema: Today I am a Muslim too (hari ini saya juga Muslim). Sebuah pernyataan tegas bahwa teman-teman non Muslim di Amerika bersama kami komunitas

    Muslim menghadapi tendensi fobia pemerintahan Trump.

    Pertanyaannya adalah kenapa terjadi paradoks ini? Kenapa Islam tetap berkembang pesat di tengah Islamophobia yang semakin meninggi? Apa faktor-faktor yang menjadikan Islam sehingga tidak lagi terhalangi?

    Faktor Islam

    Islam itu adalah kebenaran yang sempurna. Keindahan yang tiada tertandingi. Kekuatan yang tidak terkalahkan. Kekurangan dan keburukan (ugliness) Islam tidak pada nilai dan ajarannya. Tapi, lebih pada prilaku pemeluknya melalui misreprsentasi yang terkadang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan.

    Islam itu damai, pemeluknya mudah emosi dan marah. Islam itu adil, pemeluknya seringkali melakukan kezholiman dalam berbagai aspek kehidupan. Islam itu maju, pemeluknya mayoritas terbelakang, bodoh dan miskin. Islam itu mengedepankan kerjasama, pemeluknya mudah membenci dan konflik. Demikian seterusnya.

    Maka, perkembangan Islam di Amerika tidak terlepas dari kesempurnaan Islam itu. Ketika warga Amerika mampu menembus batas-batas kesalah pahaman itu, galibnya karena propaganda media dan politisi, mereka akan menemukan keindahan agama ini. Keindahan dan kekuatan dalam segala aspeknya.

    Saya masih teringat seorang diplomat Amerika yang pernah bertugas di Mesir, Libanon, dan Tunis. Beliau datang ke Islamic Center menyampaikan keinginannya masuk Islam karena keindahan Islam dalam aspek ruhiyahnya. Yang paling membekas dalam batin beliau ketika itu adalah suara azan.

    “Suara itu masing terngiang-ngiang di telinga saya” katanya.

    Singkat cerita sang diplomat itu mengikrarkan syahadah karena faktor keindahan sentuhan ruhiyah Islam melalui lantunan azan di saat sholat.

    Mungkin contoh yang agak ekstrim dalam benak sebagian orang adalah kisah ini. Seorang wanita yang masih muda, berumur sekitar 24 tahun hadir di kelas muallaf saya dan berdiskusi dengan seorang feminis.

    Sang feminis: “Islam is discriminative to women. Look at how Islam permits men to marry more than one” katanya.

    Wanita muda: “Listen, I am a second wife. But Ibdon’t feel at all as having a half husband. My husband is fully responsible and taking care of me”.

    Lanjutnya lagi: “I dropped out from my HS because I was pregnant and no one wanted to be responsible for my kid. But my husband married me, and takes my kid as his own kid”.

    Ini mungkin contoh ekstrim dan berat bagi perasaan wanita khususnya. Tapi, di situlah keindahan Islam dalam membangun keluarga. Bahwa ego pribadi bukan segalanya. Ada faktor-faktor sosial, moral dan masyarakat yang di kedepankan.

    Semakin Islam terekspos ke masyarakat Amerika semakin pula ternampakkan keindahan itu. Dan keindahan itulah yang menjadi daya tarik bagi mereka untuk menerima Islam sebagai jalan hidup mereka.

    Baca juga: Trump, Islamofobia, dan Benturan Peradaban

    Faktor Amerika

    Pertumbuhan Islam juga tentunya sangat ditentukan oleh faktor Amerikanya. Bahwa antara Islam dan Amerika ada kesenyawaan, keselarasan dan komonalitas yang tinggi. Islam menjunjung tinggi kebebasan. Bahkan sering saya sampaikan bahwa Islam dan kebebasan itu bagaikan ikan dan air. Sebesar apapun ikan jika airnya kering, maka lambat laun ikan itu akan mati. Dan Amerika adalah negara yang menjadikan kebebasan sebagai pilar berbangsa.

    Islam mengedepankan keadilan (justice) untuk semua manusia. Di Amerika kita kenal “justice for all” sebagai dasar perundang undangan. Dan hukum masih menjadi raja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Islam berwawasan kebaikan dan kebahagiaan bersama (hasanah fid dunia wa hasanah fil akhirah). Amerika juga mengamanatkan “pursuit of happiness” (mencari kebahagiaan) sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Demikian seterusnya. Nilai-nilai yang dikandung Islam dan Amerika sejalan. Saya tidak mengatakan sejajar. Karena Islam itu adalah ajaran langit (firman Tuhan). Dan Amerika adalah kreasi bumi yang tidak suci. Langit dan bumi itu tidak akan pernah sejajar. Tapi realita pada tataran praktis kehidupan  senyawa.

    Maka, dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam itu menjadikannya sangat mudah diterima oleh warga Amerika. Karena sekali lagi, mereka telah memiliki filsafat  hidup yang demikian. Tidaklah salah ketika orang mengatakan yang diperlukan orang-orang Amerika itu hanya “syahadat” saja. Secara karakter sosial, bahkan pandangan hidup sudah banyak yang sejalan dengan ajaran Islam.

    Nilai dan semangat atau komonalitas keduanya (Islam dan Amerika) di atas itu menjadi faktor penting bagi perkembangan Islam yang tinggi di Amerika. Maka menghalagi Islam sejatinya seolah penghalangan nyata ke nilai-nilai yang sesungguhnya dibanggakan oleh orang-orang Amerika.

    Tentu faktor lain yang penting juga adalah faktor karakter orang-orang Amerika. Mereka terbuka, luas wawasan, dan ada rasa keingin tahuan yang tinggi. Oleh karenanya ketika Islam sampai ke mereka, baik dengan wajah buruk (mispersepsi) apalagi memang dengan wajah indah, mereka dengan mudah menerimanya.

    Ini yang menjadikan saya pribadi sangat iptimis bahwa apapun rintangannya Islam di Amerika akan tetap berkembang dan jaya. Bahkan saya melihat tantangan-tantangan itu justeru dihadirkan sebagai pemacu bagi kemajuannya. Dengan kata lain, tantangan sesungguhnya dapat dibalik menjadi peluang bagi kemajuan Islam di bumi Amerika. Insya Allah!

    Udara Mksr-Jkt, 9 Nopember 2017

    *) Presiden Nusantara Foundation

    Saudaraku, bantu wujudkan pendirian pesantren pertama di bumi Amerika. Untuk donasi silahkan klik: https://KitaBisa.com/PesantrenAmerika 2. klik tombol “Donasi Sekarang”3. Masukkan nilai donasi & transfer.
    Jazakumullah ahsanal jazaa!

    (tulisan ini sudah muat di http://www.republika.co.id, pada Sabtu, 11 November 2017)