Tag: Piala Dunia

  • ‘Agama Baru’ Itu Sepak Bola

    Oleh: Adnan

    Sepak Bola merupakan sebuah permainan beregu dua kesebelasan di lapangan yang menggunakan bola sepak, masing-masing terdiri atas sebelas pemain dan berlangsung selama 2 x 45 menit, serta kemenangan ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan. Sepak bola termasuk satu permainan yang memiliki pendukung (supporter) fanatik.

    Fanatisme pendukungnya terkadang melebihi fanatisme mereka terhadap agama. Mereka marah ketika klub dan idola mereka dilecehkan kawan. Tapi, tak pernah marah ketika agama, kitab suci, dan nabi mereka dilecehkan lawan. Padahal yang perlu ditumbuhkan adalah fanatisme kepada agama, bukan kepada sepakbola. Sebab itu, wajar jika sepakbola menjadi “agama baru” dalam kehidupan manusia modern.

    Jika dalam agama terdapat pondasi penegak agama, semisal kitab suci, rumah ibadah, nabi, surga dan neraka, ibadah, zikir, dan pesan-pesan kebaikan. Maka dalam sepakbola juga memiliki pondasi yang mirip, sehingga sepakbola menjadi “agama baru” bagi manusia. Bahkan, bisa saja agama semisal Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Katolik, Kong Hu Cu, dan aliran kebatinan, menjadi agama dan kepercayaan kedua setelah “agama sepakbola”. Tentu persoalan tersebut menjadi sebuah ironi dalam kehidupan umat beragama. Sebab, agama diperlakukan laksana permainan, sebaliknya permainan diperlakukan laksana agama. Akibatnya, manusia lebih sering bersepakat nonton bola, dari pada mendengar ceramah agama.

    Beberapa fondasi
    Berikut beberapa fondasi “agama sepakbola” di antaranya: Pertama, rumah ibadah. Rumah ibadah merupakan pondasi penegak sebuah agama. semisal, masjid (Islam), Gereja (Kristen/Katolik), Pura (Hindu), Vihara (Budha), dan Klenteng (Kong Hu Cu). Keberadaan rumah ibadah sebagai tempat penyembahan dan pemujaan kepada Tuhan. Sedangkan rumah ibadah `agama sepakbola’ adalah lapangan, cafe, dan tempat-tempat pemutaran siaran langsung sepakbola. Tak jarang setiap sepakbola berlangsung, para supporter dan penonton penuh sesak untuk berkumpul di lapangan, atau cafe-cafe dan tempat pemutaran siaran langsung pun dipenuhi sesak oleh para pengikut “agama sepakbola”. Sebab, meninggalkan satu babak pertandingan laksana telah berbuat dosa besar.

    Kedua, kitab suci. Kitab suci merupakan sumber wahyu, pengetahuan, dan informasi yang berisi perintah dan larangan, serta pesan-pesan kebaikan dari Tuhan, semisal Alquran (Islam), Alkitab (Kristen/Katolik), Weda (Hindu), Tri Pitaka (Budha), dan Si Shu Wu Ching (Kong Hu Cu). Sedangkan kitab suci dalam “agama sepakbola” yakni media cetak dan elektronik yang berisi tentang berbagai informasi jadwal pertandingan, klub-klub yang akan bertanding, para pemain inti dan cadangan, klub yang gugur dari arena pertandingan, klub terkuat, dan lain sebagainya. Mungkin bagi “pemeluk agama sepakbola” tidak meng-update informasi sehari saja, laksana telah berbuat dosa setahun penuh.

    Ketiga, pembawa risalah. Pembawa risalah (Nabi) merupakan utusan Tuhan kepada umat. Keberadaan pembawa risalah bertugas mengajarkan umat, memberi contoh teladan, dan menerjemahkan pesan-pesan ketuhanan, semisal Muhammad saw (Islam), Yesus (Kristen/Katolik), Siddharta Gautama (Buddha), dan Kong Hu Cu (Kong Hu Cu). Sedangkan dalam “agama sepakbola” pembawa risalah merupakan para manager dan pelatih sepakbola. Mereka harus mampu menyuguhkan kehebatan dan kepintaran para pemain di lapangan dalam setiap pertandingan. Ketika sebuah pertandingan menang, maka manager dan pelatih akan mendapatkan pujian dari para pemeluk. Sebaliknya, jika kalah, maka tak jarang mereka mendapatkan kecaman.

    Keempat, ibadah. Ibadah merupakan segala aktivitas kebaikan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Ibadah menjadi ukuran seseorang sebagai pemeluk agama yang taat atau tidak, semisal shalat, puasa, zakat, dan haji dalam Islam. Sedangkan ibadah dalam ‘agama sepakbola’ adalah membeli tiket atau segelas kopi, duduk di tribun lapangan atau kursi di cafe siaran langsung sepakbola, perhatian fokus menyaksikan pertandingan selama 2 x 45 menit. Mungkin tidak mengikuti satu babak pertandingan laksana telah berbuat dosa yang sulit terampuni. Aktivitas semacam ini terus dilakukan hingga akhir sebuah pertandingan. Menyaksikan pertandingan demi pertandingan merupakan aktivitas ibadah bagi pemeluk ‘agama sepakbola’.

    Kelima, hari-hari besar agama. Hari-hari tersebut merupakan hari-hari yang dibesarkan dalam agama, sebab didalamnya terdapat kemuliaan, kehebatan, dan kebahagiaan bagi para pemeluk, semisal, Idul fitri dan Idul adha (Islam), Natal dan Paskah (Kristen/Katolik), Nyepi (Hindu), Waisak (Budha), dan Imlek (Kong Hu Cu). Hari-hari besar itu dijadikan sebagai momentum untuk berbagi kepedulian, kasih-sayang (silaturrahmi), dan bahagia penuh kegembiraan. Adapun dalam “agama sepakbola” hari-hari besar adalah musim piala dunia. Ketika piala dunia berlangsung, maka itu momentum berkumpul dan berbagi analisa siapa sang juara. Tak jarang ketika musim Piala Dunia tiba, agama yang sebenarnya bisa saja mereka singkirkan. Mungkin bagi pemeluk “agama sepakbola” lebih afdal nonton bola hingga menjelang terbit fajar dari pada Tahajud dan shalat Fajar.

    Keenam, zikir dan selawatan. Dalam Islam, zikir merupakan ucapan kalimat-kalimat mulia (thayyibah), semisal tasbih, takhmid, takbir, untuk mengagungkan Allah Swt, dan selawat untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi Nabi Muhammad Saw. Jika Islam memiliki pekikan takbir, maka “agama sepakbola” memiliki “pekikan gol” saat bola masuk ke gawang lawan. Adapun yel-yel yang diucapkan supporter secara serentak laksana “selawatan” para pemeluk “agama sepakbola”. Bisa saja mereka jarang ke masjid dan meunasah untuk membaca selawat, tapi yel-yel dan pekikan gol tak pernah luput dari aktivitas ibadah pemeluk “agama sepakbola”.

    Ketujuh, aliran dalam agama. Meskipun agama wadah perkumpulan para pemeluk, tapi dalam agama memiliki multi-aliran, baik di bidang aqidah (teologis), fikih (fiqh), dan tasawuf. Dalam kajian pemikiran Islam dikenal Jabariyah, Qadariyah, Muktazilah, Syiah, dan Ahlussunnah Waljamaah. Pun, dalam “agama sepakbola” memiliki berbagai aliran, berupa klub-klub sepakbola. Setiap klub punya pengikut fanatik masing-masing. Tak jarang sesama pengikut fanatik klub terjadi tawuran dan konflik, meskipun berada dalam satu payung “agama sepakbola”. Tak lebih dari konflik keagamaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat disebabkan beda paham dan aliran, meskipun di bawah satu payung agama.

    Hanya permainan

    Meskipun demikian, penulis berharap bahwa para penonton dan pecinta sepakbola di Aceh tidak menjadikan sepakbola sebagai sebuah agama. Tapi, menonton sepakbola hanya untuk membangkitkan semangat juang, menumbuhkan sportivitas, meningkatkan kebersamaan dan kekompakan, belajar strategi dan taktik, serta menyalurkan hobi. Sebab itu, jangan sampai Piala Dunia 2018 yang kini sedang berlangsung di Rusia, melupakan kita dengan agama yang sebenarnya, suburnya aktivitas perjudian, menurun etos kerja karena jaga malam, enggan beribadah kepada Allah Swt, dan luput menjaga kesehatan. Sepakbola hanyalah sebuah permainan untuk “cuci-mata”, maka jangan sampai konflik dan tawuran disebabkan beda dukungan dan idola.

    Pun, dunia ini laksana sebuah permainan, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain daripada permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. al-An’am: 32). Sebab itu, tidak haram menonton bola, tapi jangan sampai melupakan Allah Swt. Silahkan punya klub andalan, tapi zikir dan selawatan harus membudaya dalam kehidupan. Silahkan hobi bola, tapi tidak lupa mempersiapkan bekal takwa untuk pulang ke kampung akhirat. Mari!

    * Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

    Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul ‘Agama Baru’ Itu Sepakbola

  • Peluang Indonesia Ikut Piala Dunia

    Oleh: Muhammad Fadhli (Pengamat Sepakbola)

    Ajang bergengsi Piala Dunia yang selalu menarik perhatian penduduk bumi menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi setiap negara yang bisa ikut tampil. Untuk dapat menjadi salah satu dari 32 negara pesertanya tentu tidaklah mudah, babak kualifikasi begitu ketat harus dihadapi.

    Sebagai bangsa Indonesia kita seperti sudah menisankan keinginan, seakan Indonesia tak layak tampil di ajang itu. Ironi, seperti di FIFA World Cup 2018 ini, kita menjagokan negara lain dan membelanya, sampai mau mengeluarkan biaya untuk mengoleksi bermacam merchandise dan mengenakan kaos tim negara itu.

    Menyaksikan setiap pertandingan FIFA World Cup yang digelar setiap sekali empat tahun ini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa banyak faktor yang membuat sebuah tim untuk bisa jadi pesertanya. Mulai dari skill permainan, fisik, tim yang solid, dukungan pemerintah, dan lainnya.

    Meskipun bangsa Indonesia seakan telah menisankan keinginan Timnas dari negaranya untuk ikut Piala Dunia, namun bukan berarti Pemerintah tinggal menaburkan bunga. Justru pemerintah selalu berusaha menghidupkan terus kemungkinan itu, dengan memberikan perhatian dan dukungan nyata pada dunia persebakbolaan di Tanahair, baik dalam bentuk fasilitas, pendanaan, pelatihan, kaderisasi, dan berbagai bentuk dukungan moril dan materil lainnya. Tapi ini belum membuahkan hasil sesuai yang diinginkan.

    – Muhammad Fadhli, Pengamat Sepakbola. (Dok. Diatunes Management)

    Kita tahu, permainan sepakbola itu juga adalah adu kekuatan fisik, mental, dan sprint. Setiap tim yang ikut Piala Dunia sudah memiliki itu, bisa dikatakan Piala Dunia saat ini lebih pada adu strategi. Bagaimana otak akan bisa diadu ketika fisik dan mental belum mendukung?

    Membahas fisik tentu akan merujuk pada postur dan stamina atlitnya. Dan ini sangat erat kaitannya dengan ras. Selama ini rekrut permain untuk Timnas bertujuan baik, dari liga untuk melahirkan pemain yang layak dipilih. Tim yang berlaga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, mencerminkan keadilan dan Bhineka Tunggal Ika.

    Kita juga tahu, Indonesia dihuni oleh beberapa ras, di antaranya; Negro Melanesia, Mongoloid Melayu, keturunan asing. Ras campuran secara fisik tidak sekuat ras murni.

    Di Indonesia ras negro melanesia diklasifikan sebagai ras yang memiliki tubuh yang tegap, dan lebih tinggi. Mayoritas mereka menghuni Papua, Maluku, dan Riau. Secara fisik mereka lebih kuat.

    Jika dari orang-orang dari ras negroid melanesia ini direkrut dan dibina, dengan penanganan khusus dan beradaptasi pada stereotip agar sejalan dengan regulasi yang ada dalam dunia persebakbolaan, akan jadi peluang besar bagi Indonesia untuk ikut Piala Dunia. (*)