Kategori: BUDAYA

  • ‘Agama Baru’ Itu Sepak Bola

    Oleh: Adnan

    Sepak Bola merupakan sebuah permainan beregu dua kesebelasan di lapangan yang menggunakan bola sepak, masing-masing terdiri atas sebelas pemain dan berlangsung selama 2 x 45 menit, serta kemenangan ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan. Sepak bola termasuk satu permainan yang memiliki pendukung (supporter) fanatik.

    Fanatisme pendukungnya terkadang melebihi fanatisme mereka terhadap agama. Mereka marah ketika klub dan idola mereka dilecehkan kawan. Tapi, tak pernah marah ketika agama, kitab suci, dan nabi mereka dilecehkan lawan. Padahal yang perlu ditumbuhkan adalah fanatisme kepada agama, bukan kepada sepakbola. Sebab itu, wajar jika sepakbola menjadi “agama baru” dalam kehidupan manusia modern.

    Jika dalam agama terdapat pondasi penegak agama, semisal kitab suci, rumah ibadah, nabi, surga dan neraka, ibadah, zikir, dan pesan-pesan kebaikan. Maka dalam sepakbola juga memiliki pondasi yang mirip, sehingga sepakbola menjadi “agama baru” bagi manusia. Bahkan, bisa saja agama semisal Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Katolik, Kong Hu Cu, dan aliran kebatinan, menjadi agama dan kepercayaan kedua setelah “agama sepakbola”. Tentu persoalan tersebut menjadi sebuah ironi dalam kehidupan umat beragama. Sebab, agama diperlakukan laksana permainan, sebaliknya permainan diperlakukan laksana agama. Akibatnya, manusia lebih sering bersepakat nonton bola, dari pada mendengar ceramah agama.

    Beberapa fondasi
    Berikut beberapa fondasi “agama sepakbola” di antaranya: Pertama, rumah ibadah. Rumah ibadah merupakan pondasi penegak sebuah agama. semisal, masjid (Islam), Gereja (Kristen/Katolik), Pura (Hindu), Vihara (Budha), dan Klenteng (Kong Hu Cu). Keberadaan rumah ibadah sebagai tempat penyembahan dan pemujaan kepada Tuhan. Sedangkan rumah ibadah `agama sepakbola’ adalah lapangan, cafe, dan tempat-tempat pemutaran siaran langsung sepakbola. Tak jarang setiap sepakbola berlangsung, para supporter dan penonton penuh sesak untuk berkumpul di lapangan, atau cafe-cafe dan tempat pemutaran siaran langsung pun dipenuhi sesak oleh para pengikut “agama sepakbola”. Sebab, meninggalkan satu babak pertandingan laksana telah berbuat dosa besar.

    Kedua, kitab suci. Kitab suci merupakan sumber wahyu, pengetahuan, dan informasi yang berisi perintah dan larangan, serta pesan-pesan kebaikan dari Tuhan, semisal Alquran (Islam), Alkitab (Kristen/Katolik), Weda (Hindu), Tri Pitaka (Budha), dan Si Shu Wu Ching (Kong Hu Cu). Sedangkan kitab suci dalam “agama sepakbola” yakni media cetak dan elektronik yang berisi tentang berbagai informasi jadwal pertandingan, klub-klub yang akan bertanding, para pemain inti dan cadangan, klub yang gugur dari arena pertandingan, klub terkuat, dan lain sebagainya. Mungkin bagi “pemeluk agama sepakbola” tidak meng-update informasi sehari saja, laksana telah berbuat dosa setahun penuh.

    Ketiga, pembawa risalah. Pembawa risalah (Nabi) merupakan utusan Tuhan kepada umat. Keberadaan pembawa risalah bertugas mengajarkan umat, memberi contoh teladan, dan menerjemahkan pesan-pesan ketuhanan, semisal Muhammad saw (Islam), Yesus (Kristen/Katolik), Siddharta Gautama (Buddha), dan Kong Hu Cu (Kong Hu Cu). Sedangkan dalam “agama sepakbola” pembawa risalah merupakan para manager dan pelatih sepakbola. Mereka harus mampu menyuguhkan kehebatan dan kepintaran para pemain di lapangan dalam setiap pertandingan. Ketika sebuah pertandingan menang, maka manager dan pelatih akan mendapatkan pujian dari para pemeluk. Sebaliknya, jika kalah, maka tak jarang mereka mendapatkan kecaman.

    Keempat, ibadah. Ibadah merupakan segala aktivitas kebaikan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Ibadah menjadi ukuran seseorang sebagai pemeluk agama yang taat atau tidak, semisal shalat, puasa, zakat, dan haji dalam Islam. Sedangkan ibadah dalam ‘agama sepakbola’ adalah membeli tiket atau segelas kopi, duduk di tribun lapangan atau kursi di cafe siaran langsung sepakbola, perhatian fokus menyaksikan pertandingan selama 2 x 45 menit. Mungkin tidak mengikuti satu babak pertandingan laksana telah berbuat dosa yang sulit terampuni. Aktivitas semacam ini terus dilakukan hingga akhir sebuah pertandingan. Menyaksikan pertandingan demi pertandingan merupakan aktivitas ibadah bagi pemeluk ‘agama sepakbola’.

    Kelima, hari-hari besar agama. Hari-hari tersebut merupakan hari-hari yang dibesarkan dalam agama, sebab didalamnya terdapat kemuliaan, kehebatan, dan kebahagiaan bagi para pemeluk, semisal, Idul fitri dan Idul adha (Islam), Natal dan Paskah (Kristen/Katolik), Nyepi (Hindu), Waisak (Budha), dan Imlek (Kong Hu Cu). Hari-hari besar itu dijadikan sebagai momentum untuk berbagi kepedulian, kasih-sayang (silaturrahmi), dan bahagia penuh kegembiraan. Adapun dalam “agama sepakbola” hari-hari besar adalah musim piala dunia. Ketika piala dunia berlangsung, maka itu momentum berkumpul dan berbagi analisa siapa sang juara. Tak jarang ketika musim Piala Dunia tiba, agama yang sebenarnya bisa saja mereka singkirkan. Mungkin bagi pemeluk “agama sepakbola” lebih afdal nonton bola hingga menjelang terbit fajar dari pada Tahajud dan shalat Fajar.

    Keenam, zikir dan selawatan. Dalam Islam, zikir merupakan ucapan kalimat-kalimat mulia (thayyibah), semisal tasbih, takhmid, takbir, untuk mengagungkan Allah Swt, dan selawat untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi Nabi Muhammad Saw. Jika Islam memiliki pekikan takbir, maka “agama sepakbola” memiliki “pekikan gol” saat bola masuk ke gawang lawan. Adapun yel-yel yang diucapkan supporter secara serentak laksana “selawatan” para pemeluk “agama sepakbola”. Bisa saja mereka jarang ke masjid dan meunasah untuk membaca selawat, tapi yel-yel dan pekikan gol tak pernah luput dari aktivitas ibadah pemeluk “agama sepakbola”.

    Ketujuh, aliran dalam agama. Meskipun agama wadah perkumpulan para pemeluk, tapi dalam agama memiliki multi-aliran, baik di bidang aqidah (teologis), fikih (fiqh), dan tasawuf. Dalam kajian pemikiran Islam dikenal Jabariyah, Qadariyah, Muktazilah, Syiah, dan Ahlussunnah Waljamaah. Pun, dalam “agama sepakbola” memiliki berbagai aliran, berupa klub-klub sepakbola. Setiap klub punya pengikut fanatik masing-masing. Tak jarang sesama pengikut fanatik klub terjadi tawuran dan konflik, meskipun berada dalam satu payung “agama sepakbola”. Tak lebih dari konflik keagamaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat disebabkan beda paham dan aliran, meskipun di bawah satu payung agama.

    Hanya permainan

    Meskipun demikian, penulis berharap bahwa para penonton dan pecinta sepakbola di Aceh tidak menjadikan sepakbola sebagai sebuah agama. Tapi, menonton sepakbola hanya untuk membangkitkan semangat juang, menumbuhkan sportivitas, meningkatkan kebersamaan dan kekompakan, belajar strategi dan taktik, serta menyalurkan hobi. Sebab itu, jangan sampai Piala Dunia 2018 yang kini sedang berlangsung di Rusia, melupakan kita dengan agama yang sebenarnya, suburnya aktivitas perjudian, menurun etos kerja karena jaga malam, enggan beribadah kepada Allah Swt, dan luput menjaga kesehatan. Sepakbola hanyalah sebuah permainan untuk “cuci-mata”, maka jangan sampai konflik dan tawuran disebabkan beda dukungan dan idola.

    Pun, dunia ini laksana sebuah permainan, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain daripada permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. al-An’am: 32). Sebab itu, tidak haram menonton bola, tapi jangan sampai melupakan Allah Swt. Silahkan punya klub andalan, tapi zikir dan selawatan harus membudaya dalam kehidupan. Silahkan hobi bola, tapi tidak lupa mempersiapkan bekal takwa untuk pulang ke kampung akhirat. Mari!

    * Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

    Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul ‘Agama Baru’ Itu Sepakbola

  • Pesan Kebangsaan untuk Rapimnas IKAMI SUL-SEL

    Oleh : Amiruddin Wata (Ketua Panitia Rapimnas/Ketua Bidang Ketahanan dan Politik PB IKAMI SS/)

    Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

    Salam sejahtera. Shalawat dan salam sama-sama kita haturkan kepada Baginda Rasulullah SAW. Semoga kita selalu menjadi ummat yang mendapatkan syafaatnya di hari kemudian.

    Yang terhormat, Ketua Majelis Kehormatan, Ketua umum, sekjend, ketua-ketua bidang Pengurus Besar, dan Sahabat-sahabat IKAMI se-Indonesia. Melalui rilis ini sebagai penganti kehadiran saya selaku ketua panitia, saya ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Sebab ada hajatan keluarga yg tak bisa kami tinggal kan, sehinggga kami tak hadir di forum yang membanggakan ini.

    Namun jauh dari pelosok timur sini, pikiranku selalu terbawa ke Rapimnas Makassar. 4 tahun yang lalu kami juga hadir sebagai peserta di Rapimnas PB Ikami Sulsel Makassar. Suka dan duka selama Rapimnas tentu saja kami juga sama-sama tau, namun tak ada kata yang paling baik selain memaklumi segala kekurangan panitia selama ini. Saya yakin panitia maupun pengurus sudah melakukan kerja semaksimal mungkin.

    Di Rapimnas Makassar 4 tahun yang lalu, kami sebagai ketua cabang Ciputat, ada dua amanah yang dititipkan kepada cabang Ciputat, yakni soal pembenahan perkedaran IKAMI dan tuan rumah Munas. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi sosial politik tak memungkinkan menjalankan dua amanah tersebut.

    Waktu itu, politik ditubuh IKAMI juga sedang memanas dimana politik 2014 membuat citra IKAMI menjadi sedikit menurun. Baik dihadapan tokoh-tokoh dan senior-senior. Tapi, biarkan itu berlalu dan dijadikan pelajaran utk kita semua, bahwa organisasi kepemudaan seperti sangat tak elok diseret-seret ke wilayah politik praktis.

    Sahabat IKAMI Sulsel Se-Indonesia. Makassar sebagai ibukota Sulsel selalu menjadi primadona bagi kita semua, kerinduan kita pada kota ini karena kita diarasi oleh tanah leluhur yang sudah mendarah daging sejak zaman behula.

    Saya sendiri begitu merasakan, betapa rindunya bisa mengunjungi tanah kelahiran leluhur. Sebab, kita tau sendiri meski kita sebagai keturunan Bugis, Makassar, Mandar ataupun Toraja, kadang tanah Sulsel sangat jarang dikunjungi, bahkan ada yang belum pernah menginjakkan kakinya sama sekali.

    Maka dari itu “IKAMI Balik Kampung” memang menjadi konsep Rapimnas PB IKAMI kali ini.

    Sahabatku, jika melihat Makassar. Kota ini telah mengalami perkembangan yang begitu cepat, manusianya juga sadah modern. Pola pikir masyarakat nya telah banyak mengemuka di tingkatan nasional. Para tokoh-tokohya sudah melampaui cakrawala dan cakradimuka. Bahkan orang-orang Sulsel selalu dilirik menjadi pemimpin negeri ini.

    Oleh karena itu, anggota IKAMI Sulsel juga harus mengikuti perkembangan itu. Kita harus bisa berkontemplasi dengan zaman, teknologi dan modernitas. Kita, sudah berada pada era dimana ideologi-ideologi dunia sedang mengalami perperangan. Kalau kader IKAMI Sulsel tidak dapat berkontemplasi dengan ideologi dunia maka IKAMI akan ditinggalkan.

    Sahabatku, tema Rekonsiliasi Kebanggsaan dipilih oleh panitia, karena kita menyadari, bahwa bangsa ini sedang mengalami pengkotak-kotakan. Ada yang bertikai karena paham yang sangat tertutup, ada juga yang berselingkuh karena kepentingan politik. Agama sudah semakin mencampuri urusan bernegara, Umara yang harusnya mengurus ummat dan nilai suci kini sudah menenggelamkan diri diarea politik praktis. Terjadi pengelompokan, kelompok satu bertikai dengan kelompok lainnya. Oleh karena itu, rekonsiliasi memang diperlukan. Kita warga Sulsel pada umumnya, dan kader IKAMI pada khususnya harus bisa menyatukan konsep bernegara ini. Kita harus berpikir jauh ke depan sebagai negarawan, bukan sebagai politikus. Sebab negara ini telah kekurangan Negarawan (secara pemikiran).

    Melalui tema rekonsiliasi ini, IKAMI sudah harus berani mengebrak kemunduran pemikiran ini. Bangsa ini seolah-olah telah kehilangan rohnya sebagai bangsa yang terdepan. Kemajemukan yang menjadi ciri khas bangsa sudah harus kembali dihidupkan. Kader IKAMI harus menjadi negarawan, teknokrat, enterpreneurship, dan leadership.

    Melalui Rapimnas ini, diharapkan IKAMI mampu, menjadi bibit unggul bangsa. Menjadi garda terdepan penjaga kebhinekaan dan Pancasila. IKAMI harus mampu menyatukan kekuatan pemuda, menyamakan konsep kesatuan, dan merekonsiliasi kelompok-kelompok kepemudaan.

    Itulah sebabnya, konsep Pemuda bersatu, negara kuat. Agar kita tau arti penting sesungguhnya kehadiran pemuda bagi bangsa ini. Tak cukup pemuda semata. Tapi tapi pemuda harus bersatu, karena itu syarat agar negara kita ini menjadi negara yg kuat.

    Demikian sambutan singkat saya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa bersua dengan sahabat-sahabatku semua. Baik teman-teman Pengurus Besar, Pengurus Cabang se-Indonesia serta senior-senior yang hadir di Rapimnas. Mohon maaf atas segala kekurangan kami. Tak ad yang bisa kami sampaikan selain mengucapkan terimakasih, rasa syukur dan rasa bangga atas segala yg telah kita capai hari ini.

    Mengakhiri rilis sambutan ini, kepada Ketua Umum Habil Ngewa dan Sekretaris Panitia Kaharuddin Baso kami haturkan terima kasih yang teramat sangat yang telah yakin dan percaya bahwa Rapimnas kali ini bisa berjalan dengan lancar.

    Waakhirulkalam wassalamu’alaikum warahmatullahi wb.

  • Lebaran: Lubang Jarum Konsumerisme

    Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc

    Amin praktis bekerja 24 jam. Ia tinggal di kamar supir, yang berada dalam rumah majikannya. Ia harus stand-by setiap saat. Aku tidak tahu berapa kali sebulan ia mengunjungi istri dan anak-anaknya. Jelas sekali ia hampir tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Karena itu, jangan tanya betapa sumringahnya Min ketika ia pamit untuk mudik. Bukan karena di kantongnya ada THR. Bukan karena ia dibebaskan dari perintah tuan dan nyonya untuk sementara waktu. Ia ceria karena ia bisa meluangkan waktu khusus untuk orang-orang yang disayanginya.

    Tuan dan Nyonya tampaknya tidak begitu gembira. Mereka kehilangan supirnya, setelah lebih dahulu pusing karena ditinggalkan para pembantunya. Kepada mereka harus kita katakan, bila mereka ingin bahagia mereka harus mengubah jeruk asam menjadi jeruk manis. Carilah blessing in diguise dalam “musibat” Lebaran. Karena Tuan dan Nyonya tidak punya supir, mereka akan terpaksa tinggal di rumah. Seperti Min, karena kesibukan kerja atau dikerjain, selama ini mereka hampir tidak punya waktu untuk keluarga. Tuan dan Nyonya jarang bertemu. Orangtua jarang berbincang dengan anak-anaknya. Setiap anggota keluarga sibuk dengan dunianya masing-masing. Karena Lebaran, Min balik ke kampungnya, dengan sukarela. Karena Lebaran juga, semua anggota keluarga majikannya pun pulang, dengan terpaksa.Reuni keluarga adalah salah satu berkah Lebaran. Baik Min maupun majikannya sepanjang tahun telah mengorbankan keluarganya pada altar konsumerisme. Ketika Min meninggalkan kampung halamannya dan ketika Tuan menyelesaikan studinya di luar negeri, mereka didorong masuk ke dalam pusaran angin kapitalisme internasional.Mereka berubah wujud menjadi –apa yang disebut Erich Fromm- homo consumens. “Sebagai manusia, kita tidak punya tujuan kecuali memproduksi dan mengkonsumsi terus-menerus,” kata Fromm.

    Boleh jadi kita punya tujuan untuk membangun keluarga yang bahagia. Tapi kebahagiaan keluarga diukur dari jumlah barang yang kita konsumsi. Tampaknya kita ingin memberikan masa depan yang indah bagi anak-anak. Tapi keindahan masa depan mereka diukur dari banyaknya uang yang mereka miliki. Kelihatannya kita berjuang untuk menegakkan ajaran agama. Tapi tegaknya ajaran Tuhan dilihat dari jumlah penghasilan dari kegiatan dakwah kita. Atau kita bercita-cita untuk membangun bangsa ini. Tapi ukuran keberhasilan pembangunan ialah jumlah jalan tol, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat hiburan.

    Sebagai homo consumens kita menghabiskan waktu lebih banyak di tempat-tempat produksi dan konsumsi barang dan jasa, daripada dalam lembaga-lembaga sosial. Kita lebih sering berkunjung ke pusat perbelanjaan daripada rumah ibadat. Kita lebih banyak berada di tempat kerja daripada di rumah sendiri. Kita lebih sibuk mengurus transaksi bisnis daripada bercanda ria dengan keluarga. Orang-orang kaya pun –penguasa dan pengusaha- lebih banyak mengeluarkan uang untuk membangun mal daripada sekolah.

    Hasrat konsumsi, “rage to consume” (Marshall Sahlins), mendorong kita untuk membeli dan membeli. Kita mencari kebahagiaan dalam membeli. Kita menyebut orang baik kepada orang yang membeli barang dan jasa yang baik; bukan pada orang yang bekerja dengan baik. Menurut Daniel Bell, kita sudah mengganti work ethic denganconsumer ethic. Pahlawan yang dielu-elukan di zaman ini dan gambarnya dipajang di mana-mana adalah “heroes of consumption”, bukan “heroes of production”.

    Menurut salah satu nubuwat Nabi Muhammad, “Akan datang suatu zaman ketika manusia menyembah dinar (uang). Mereka bekerja keras pagi dan sore untuk mendapatkan uang.” Uang, dalam bahasa Marx, telah menjadi fetish, benda mati yang mempunyai kekuatan supranatural. Uang menjadi ukuran derajat manusia. Manusia yang paling mulia ialah yang paling banyak uangnya. Dengan uang, mereka bisa terlibat dengan aktif dalam budaya konsumerisme.
    Jadi konsumerisme itu sebuah agama. Iklan adalah kitab sucinya. Mal-mal rumah ibadatnya, dan kaum kapitalis orang-orang sucinya. Apa bedanya Al-Quran dengan iklan? Al-Quran dibaca dengan cepat, iklan diikuti dengan khusyuk. Al-Quran mendatangkan ketentraman, iklan membina kekecewaan. “Tujuan iklan,” kata Robert E Lane dalam The Loss of Happiness in Market Democracy, “ ialah menciptakan bukan kepuasan, tetapi kekecewaan, termasuk kecewa terhadap diri sendiri.”

    Anda akan merasa puas dengan apa yang Anda punyai, selama Anda tidak dibandingkan dengan orang yang memiliki apa yang tidak Anda punyai. Anda sudah cukup bahagia dengan mobil tua Anda, sampai di depan muka Anda diperlihatkan gemerlap mobil baru. Dengan jeratan psikologis, iklan menambah penderitaan Anda dengan menegaskan bahwa Anda terhina karena tidak punya mobil baru. “Anda pecundang tanpa mobil baru”.

    Tugas iklan memang membuat Anda kecewa dengan kehidupan Anda sekarang ini. Anda didorong untuk bergairah membeli. Iklan dirancang tidak untuk memenuhi kebutuhan tetapi untuk menciptakan kebutuhan. Ketika kebutuhan baru muncul, Anda harus bekerja lebih keras. Sekarang Anda harus mengambil banyak waktu untuk bekerja. Di antara waktu yang disita untuk pekerjaan Anda adalah waktu untuk kegiatan-kegiatan sosial, termasuk berkumpul dengan keluarga. Bernard de Mandeville berkata, “Kemewahan telah mempekerjakan jutaan orang miskin. Kesombongan memperkejakan jutaan orang lebih banyak lagi. Irihati dan kesombongan adalah duta-duta industri”.

    Semua agama mengharamkan kedengkian dan kepongahan. Konsumerisme mewajibkannya. Semua agama membentuk manusia yang berkhidmat kepada manusia yang lain, bersikap rendah hati, dan mendahulukan kepentingan orang lain. Konsumerisme mendidik Anda untuk menjadi egois, narsisis, dan mementingkan diri sendiri.
    Perlahan-lahan tapi pasti, Min dan majikannya, dan kita semua menjadi kita seperti sekarang ini. Kita memandang semua makhluk Tuhan sebagai instrumen untuk melayani kebutuhan kita. Kita tidak berpikir bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain. Kita memutar otak bagaimana bisa memanfaatkan orang lain.

    Apa yang diperoleh kaum pemilik modal? Uang yang lebih banyak. Apa yang kita peroleh? Kita kehilangan kehangatan dalam pergaulan dengan orang-orang penting di sekitar kita. Kita kehilangan kepercayaan dan cinta kasih. Kita tidak bisa percaya dan orang pun tidak percaya kepada kita. Kita tidak bisa menyayangi, karena itu juga tidak disayangi. Akhirnya, seperti kata Robert E Lane, kita kehilangan kebahagiaan dalam demokrasi pasar.

    Robert Lane berbicara tentang penderitaan semua masyarakat demokratis kapitalis. Untuk bangsa Indonesia, kita harus menambah penderitaan kita karena penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Di Amerika, betapa pun kapitalisnya, orang-orang yang menganggur dapat “unemployment check”, gaji secukupnya untuk sekedar tetap hidup. Di Jerman, betapa pun kapitalisnya, orang-orang sakit dapat perawatan kesehatan gratis. Di negara-negara kapitalis lainnya, betapa pun menindasnya para pemilik modal, rakyat kecil bisa makan kenyang, memperoleh pendidikan yang berkualitas, mendapat tunjangan pada masa tuanya. Pajak yang mereka bayar kembali lagi pada mereka.

    Rakyat Indonesia telah kehilangan kebahagiaannya dalam masyarakat industri. Tapi mereka juga harus menanggung beban tambahan. Mestinya bangsa ini sudah gila semua. Mengapa tidak? Karena ada Lebaran. Pada hari itu mereka kembali kepada keluarganya, budayanya, nilai-nilai tradisionalnya dan agamanya. Maka Min pun gembira ketika memeluk anak-anaknya. Dan majikannya pun tertawa-tawa di tengah-tengah keluarganya. (sd)

    sumber: kangjalal.co

  • Armani, Inter, dan Mimpi di Kota Milan

    Oleh Abdullah Sammy

    Perancang kenamaan Italia, Giorgio Armani awalnya tidak suka ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Milan. Armani kecil menilai, Milan terlalu besar dan kacau bila dibandingkan dengan kota tempat dia tinggal, Piacenza.

    Hanya ada dua hal yang membuat Armani kecil suka dengan kota Milan, bioskop dan risotto alla Milanese. Sekitar 75 tahun berselang, Armani tak lagi membenci kota ini. Sebaliknya, rasa cinta Armani pada Milan tak sekadar lagi karena bioskop dan risotto.

    Cinta Armani pada Milan jadi begitu besar karena dia membuktikan sendiri bahwa kota ini membuka mimpi bagi siapapun yang hendak berusaha. “Milan adalah kota metropolis yang sesungguhnya. Kota yang kuat dan tak mengenal takut, tapi terbuka bagi siapapun dia. Sedikit demi sedikit, saya menyadari bahwa saya bisa menjadi besar di Kota ini,” kata Armani seperti dilansir dari laman V Magazine.

    Giorgio Armani

    Armani membuktikan bahwa Kota Milan selalu membuka peluang. Dari seorang anak desa di Piacenza, Armani menjelma menjadi salah satu manusia terkaya di jagad bisnis fashion dunia.

    Segala produk berlabel Armani menguasai pasar industri fashion. Walhasil dari Milan, Armani kini mencengkram dunia. Untuk mengabadikan perjalanan Armani yang menguasai dunia dari kota di utara Italia itu, Kota Milan membuka museum yang diberi nama Armani Silos pada 2015 lalu.

    Tak hanya Armani Silos yang menjadi situs pembuktikan kebesaran Kota Milan. Lebih dari itu, ada Stadion Giuseppe Meazza sebagai pembuktikan tuah Kota Milan.

    Di Giuseppe Meazza, klub sepak bola bernama Internazionale Milan (Inter Milan) mewakili filosofi Kota Milan yang terbuka bagi masyarakat dunia. Sejak pertama kali berdiri pada 9 Maret 1909, Inter Milan punya filosofi bahwa sepak bola harus membuka kesempatan yang sama pada manusia.

    Dari negara manapun dia, Inter Milan selalu membuka kesempatan bagi manusia untuk mewujudkan mimpinya. Ini sama halnya dengan filosofi Kota Milan yang begitu ramah pada orang asing. Data yang dilansir dari laman Wanted Milan mencatat, dari total 3,1 juta penduduk Kota Milan, sekitar 474 ribu di antaranya adalah imigran asal luar Uni Eropa.

    Giuseppe Meazza Stadium Milan

    Walhasil, Milan jadi kota dengan angka imigran tertinggi. Meski masih meninggalkan masalah sosial, taraf hidup imigran di Milan tergolong cukup baik. Ini terbukti dengan catatan 68 persen dari imigran di Kota Milan mampu meraih pekerjaan.

    Tak pelak, Milan pun jadi kota internasional di mana harmoni ragam suku, bangsa, agama, dan budaya membaur di satu wilayah. Segala keragaman itu tak membatasi seseorang di Kota Milan untuk mendapat kesempatan yang sama untuk meraih mimpinya.

    Di lapangan sepak bola, Inter benar-benar mewakili filosofi dari Kota Milan ini. Sejarah mencatat seorang asal negara tergolong kecil macam Makedonia (Goran Pandev) atau Albania (Rey Manaj) mampu mewujudkan mimpi di dunia sepak bola dengan baju kebesaran biru hitam milik Inter Milan.

    Bahkan sejak 2013, klub Inter Milan dipimpin oleh orang asal luar Italia, tepatnya dari Indonesia, Erick Thohir. Awalnya banyak yang memandang sebelah mata tentang sepak terjang orang Indonesia yang memimpin salah satu klub terbesar Italia itu. Tapi kini, pertanyaan itu mulai terjawab dengan keberhasilan Inter kembali ke Liga Champions mulai musim depan.

    Sejak pertama kali memegang kendali Inter Milan, Erick sudah memasang target bahwa dirinya butuh lima musim untuk mengembalikan hegemoni Inter. “Inter Milan harus kembali tampil konsisten di kompetisi papan atas Eropa dan mempunyai sistem manajemen yang tak kalah dengan klub papan atas dunia,” begitu pernyataan Erick di awal kiprahnya memegang kendali Inter Milan.

    Saat pertama kali diambil alih itu, kondisi Inter sedang dalam kondisi kurang baik di dalam dan luar lapangan. Inter hanya finish di posisi sembilan klasemen Seri A musim 2012/2013.

    Tak hanya di lapangan, di luar lapangan pun Inter pada 2012/2013 mencatat penurunan performa yang signifikan. Jika merujuk statistik tahunan yang dikeluarkan oleh Brand Finance, nilai produk Inter pada 2012/2013 melorot tajam dari 215 juta dolar AS menjadi 151 juta dolar AS. Inter mengalami penurunan nilai produk hingga 30 persen.

    Erick Thohir, Presiden Inter Milan

    Dengan segala keterpurukan itu, pemilik Inter kala itu Massimo Moratti memutuskan untuk melego klub yang telah dia kuasai selama 20 tahun ini. Moratti sadar bahwa Inter memerlukan nahkoda baru yang mampu membawa suntikan segar bagi manajemen tim. Sebab Inter mesti segera berbenah total guna mengimbangi kemajuan pesat industri olahraga.

    Akhirnya nahkoda itupun diambil alih Erick Thohir pada akhir 2013. Sejak 2013, usaha panjang mulai dilakukan untuk membangkitkan Inter. Manajemen baru Inter sadar, usaha membangkitkan Nerazzurri tak akan bebuah instan.  Butuh perbaikan jangka panjang untuk mengembalikan Inter ke khittahnya sebagai salah satu klub terbesar di dunia.

    Salah satu perubahan awal yang dilakukan manajemen baru Inter adalah dengan mengubah jajaran di balik layar. Inter merekrut sejumlah profesional papan atas, seperti Alessandro Antonello yang malang melintang di industri keuangan.

    Antonello adalah eks petinggi di Puma Italia dan perusahaan ekuitas Amerika Serikat, Sun Capital Partners. Selain Antonello, Erick juga memboyong Tim Williams yang merupakan salah satu orang di balik kesuksesan bisnis Manchester United sebagai tim terkaya di dunia.

    Dengan tim baru yang profesional, Inter mulai memperbaiki sisi bisnis. Ekspansi mulai dijalankan Inter ke sejumlah negara, terutama Cina. Puncaknya ketika Erick menggandeng raksasa bisnis Cina, Suning Group, sebagai mitra kepemilikan klub per 2016. “Kami memutuskan untuk menggandeng Suning untuk membuat klub semakin kuat,” kata Erick.

    Erick saat itu yakin, dengan segala perubahan yang dia lakukan, target kembali ke Liga Champions. “Target Inter adalah konsisten bermain di Liga Champions Eropa,” ujar Erick.

    Usaha perbaikan yang dilakukan manajemen Inter perlahan tapi pasti terlihat di neraca bisnis klub. Data Brand Finance pada 2018 ini pun berbanding terbalik dengan data pada 2013. Jika nilai ekonomis Inter Milan per 2012/2013 menurun 30 persen menjadi hanya 151 juta dolar AS, kini nilainya di musim 2017/2018 meroket hingga 475 juta dolar AS.

    Jika dibandingkan tahun sebelumnya, nilai ekonomis Inter meroket sebesar 115 persen. Inter yang tahun 2017 hanya menghuni peringkat 28, kini duduk di peringkat 13 besar dunia dalam urusan nilai ekonomis klub. Angka kenaikan nilai ekonomis Inter merupakan yang tertinggi bersama klub Jerman, RB Leipzig.

    Data lembaga keuangan Deloite per Januari 2018 juga mencatat kenaikan signifikan Inter dari sisi ekonomis. Inter tercatat sebagai tim dengan pendapatan komersial tertinggi di Italia. Inter mencatat pendapatan komersial sebesar 130,1 juta euro. Jumlah ini lebih tinggi dari juara Seri A Juventus yang pendapatan dari sisi komersialnya hanya 114 juta euro.

    Proposi pendapatan dari sisi komersial Inter mencapai 50 persen dari total pemasukan. Ini berbanding terbalik dengan klub Italia lain yang porsi pendapatan terbesarnya dari hak siar. Padahal, jika ditilik lebih jauh, klub-klub terkaya di dunia pemasukan utamanya dari sisi komersial, bukan hak siar.

    Selain hitungan uang, tingkat popularitas Inter juga ikut terkerek. Jika pada 2013 lalu, Inter hanya punya followers kurang dari 0,7 juta di Twitter dan empat juta di Facebook, kini per 2018 pengikut Inter di Twitter sudah melonjak jadi 1,5 juta, 7,5 juta pengikut di Facebook, dan 1,7 juta di Instagram.

    Namun sisi yang paling penting dari semua itu adalah kebangkitan di atas lapangan. Keputusan manajemen Inter menunjuk Luciano Spalletti sebagai pelatih Inter di awal musim nyatanya membuahkan hasil manis.

    Spalletti yang sudah mengenal karakter sepak bola Italia, mampu mengembalikan gaya lama Inter yang bermain dengan 4-3-3. Pada awal musim 2017/2018, Inter di bawah Spalletti tak jor-joran dalam membeli pemain. Ini berbeda dengan saudara sekota mereka, yakni AC Milan yang menghabiskan dana transfer hingga lebih dari 200 juta euro.

    Inter dengan cermat membeli sejumlah pemain muda potensial macam Matias Vecino, Milan Skriniar, dan Dalbert. Inter juga meminjam dua pemain, yakni Joao Cancelo dari Valencia dan Rafinha. Total, dana transfer yang dihabiskan Inter pada awal musim 2017/2018 kurang dari 70 juta euro.

    Luciano Spaletti, Pelatih Inter Milan

    Dengan dana yang jauh lebih minim dari AC Milan, manajemen Inter awalnya dikritik. Banyak yang menilai, Inter tak akan mampu bersaing di papan atas. Tapi segala kritik itu coba ditepis manajemen Inter.

    Presiden lama Inter, Massimo Moratti pun angkat komentar. Moratti menilai, langkah yang dilakukan manajemen Inter sudah tepat. Inter, kata Moratti, berbeda dengan manajemen AC Milan.

    Menurut Moratti, dari segala sisi manajemen Inter jauh lebih baik dibanding saudara sekota mereka. Dari segala rekam jejak, Moratti menilai pengambilalihan saham Inter Milan jauh lebih baik daripada AC Milan.

     “Benar-benar tidak ada kesamaan antara penjualan saham saya kepada Erick Thohir dan penjualan saham AC Milan, keduanya memiliki karakter yang berbeda,” ujar Moratti.

    Apa yang disampaikan Moratti nyatanya terbukti di atas lapangan. Pada awal hingga pertengahan musim, Inter dengan kebijakan transfer yang lebih minim, nyatanya mampu bersaing di papan atas klasemen. Pada awal Desember 2017, Inter bahkan mampu merebut puncak klasemen Seri A.

    Namun pada awal paruh kedua, prestasi Inter sempat menurun. Inter yang awalnya berada di posisi teratas klasemen, perlahan tapi pasti mulai turun posisinya. Pada pertengahan Desember 2017 hingga Januari 2018, Inter mencatat delapan laga tanpa kemenangan.

    Hasil minor ini membuat Inter tak hanya terlempar dari peringkat teratas tapi juga posisinya di empat besar terancam. Penurunan prestasi Inter ini ditenggarai akibat minimnya stok pelapis.

    Inter MIlan

    Di lini depan, Inter tak punya banyak opsi selain Mauro Icardi. Walhasil, saat Icardi tampil jelek hasil buruk juga dipetik Inter.

    Walhasil, pada Januari manajemen Inter bergerak cepat di bursa transfer guna membangkitkan tim dari keterpurukan. Rafinha didatangkan dari Barcelona sebagai opsi tambahan.

    Bersama Rafinha, Spalletti mencoba untuk menerapkan taktik baru. Skema 4-2-3-1 diterapkan. Perubahan ini menjadi kunci Inter untuk bangkit di paruh terakhir kompetisi.

    Hadirnya Rafinha ini yang kembali mampu memperbaiki performa Inter. Rafinha yang malang melintang bersama Barcelona mampu mencetak assist dan gol bagi Inter di saat paling krusial kompetisi. Pada tiga laga terakhir Seri A, Rafinha mampu mencetak dua gol.

    Namun pemain yang punya peran terbesar bagi Inter adalah sang capitano, Mauro Icardi. Spanjang musim ini, Icardi mampu mencetak 29 gol yang membuatnya menjadi top skorer Seri A musim 2017/2018.

    Sosok sentral Icardi pun tampak pada laga penentuan Inter musim ini menghadapi Lazio di Olimpico, Senin (21/5) dini hari WIB. Inter yang sempat tertinggal 0-1 dan 1-2, mampu bangkit di penghujung laga. Adalah penalti Icardi pada menit ke-78 yang jadi kunci kebangkitan Inter. Ini disusul gol Vecino pada menit ke-81 yang memastikan Inter menang dramatis 3-2.

    Hasil ini sekaligus memastikan apa yang dijanjikan manajemen baru Inter pada 2013 lalu terwujud, yakni tiket Liga Champions.

    Selain Icardi, pujian besar juga patut diberikan pada sang pelatih, Spalletti. Spalletti dengan jeli mampu meramu skema 4-3-3  dan 4-2-3-1 Inter dengan sangat seimbang. Duet Skriniar dan Miranda di lini belakang mampu menjaga soliditas pertahanan. Sedangkan trio Ivan Perisic, Icardi, dan Candreva mampu jadi motor untuk menggedor pertahanan lawan.

    Ini juga ditambah kolaborasi apik Marcelo Brozovic, Roberto Gagliardini, dan Vecino di lini tengah. Pada Januari, kolaborasi ini diperkuat oleh Rafinha yang kemudian jadi kunci permainan tim pada paruh kedua kompetisi.

    Tak hanya soal teknis, hal terpenting yang dihadirkan Spalletti adalah mental bertanding. Ini terbukti dengan performa apik yang ditunjukkan Inter setiap melakoni laga besar.

    Musim ini, Intar tercatat mampu membawa pulang poin dari markas Juventus dan menang dari AC Milan. Puncaknya kala Spalletti mampu memenangkan laga final perebutan tiket Liga Champions melawan Lazio, akhir pekan lalu.

    “Spalletti memang memperlihatkan karakter Inter yang luar biasa. Selama beberapa tahun ini (Inter Milan) masih turun naik, tapi saat ini ia (Spalleti) sudah memperlihatkan karakternya sekarang,” ujar Erick Thohir.

    Dengan segala perubahan yang dilakukan, Inter telah berhasil mewujudkan mimpi yang sudah dirajut sejak lima tahun silam. Mimpi untuk mengembalikan Nerazzurri ke jajaran elite Eropa di ajang Liga Champions.

    Mulai musim depan, Inter akan kembali meretas mimpinya untuk tampil di babak utama Liga Champions melawan tim besar dunia macam Real Madrid, Barcelona, dan Manchester United.

    Kubu Inter menyadari bahwa keberhasilan lolos ke Liga Champions bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya ini adalah awal dari mimpi besar untuk mengembalikan Inter layaknya musim 2010 saat mereka mampu menjadi tim Italia pertama yang meraih trbele winners.

    Awal mimpi baru pun kini coba dirajut Inter. Selain bekal ekonomi yang semakin membaik, Inter punya amunisi lain yang sangat vital bagi masa depan tim kedepan. Bekal itu adalah pembinaan pemain muda Inter yang sangat baik.

    Inter Milan Treble/ 2010

    Bukan rahasia lagi jikalau Inter memiliki primavera (tim U-19) yang terbaik di Italia saat ini. Salah satu pembuktiannya adalah di turnamen Viareggio Cup tiga musim terakhir. Pada kompetisi papan atas bagi tim usia muda di dunia itu, Inter dua kali tampil sebagai juara pada tiga musim terakhir.

    Kini di daftar skuat muda Inter, ada sejumlah nama potensial yang bisa menjadi pondasi klub untuk merajut kembali mimpinya sebagai raja Eropa. Pemain seperti Andrea Pinamonti, Federico Valietti, dan Nicolo Zainolo bisa mulai merajut mimpinya untuk menembus tim utama di masa mendatang.

    Ini karena manajemen Inter punya kebijakan untuk menjadikan pemain muda asli binaan Inter sebagai pondasi tim di masa depan.

    Dengan gabungan materi mumpuni, dukungan manajemen yang profesional, hingga bekal pemain muda potensial, mimpi baru kini dicanangkan Inter. Mereka bertekad untuk menjadi raja Italia di musim depan.

    Sebuah mimpi yang bukan barang mustahil terjadi di Kota Milan. Sebab Milan sudah terbukti menjadi pelabuhan mimpi bagi siapapun yang mau berusaha.

    Layaknya kisah seorang Giorgio Armani. Pria desa asal Piacenza yang pada 1957 hanya menjadi seorang penjaga toko di La Rinascente, kini, menjadi perancang busana tersukses dengan kekayaan total mencapai 8,1 miliar dolar AS.

    (dimuat pertama kali di republika dengan judul yang sama: Armani, Inter, dan Mimpi di Kota Milan

  • Opini Imam Shamsi Ali: Membaca Gelombang Takdir!

    Oleh: Imam Shamsi Ali*

    Memasuki tahun pemilu, baik pilkada ditahun 2018 maupun pilpres di tahun 2019, perlu diingatkan kembali tentang “realita” (HAQ) di atas segala realita. Realita “keputusan” (qadha) di atas realita keputusan apapun. Itulah realita dan keputusan Allah SWT. Hiruk pikuk pemilihan pejabat publik kerap kali menjadikan banyak kalangan buta dengan penghulu realita (master of all realities) itu.

    Hidup manusia itu mengikut irama gelombang qadar Ilahi. Gelombang ombak yang dahsyat, bergerak sesuai pergerakan kehendak Pencipta kehidupan dan kematian (khalaqal mauta wal hayaata). Dan  kehendak Dia itulah akan dan pasti terjadi. Tiada keraguan (laa raeb) padanya sedikitpun.

    Anda hidup karena Dia yang “Al-Muhyii”.

    Anda makan karena Dia yang “Ar-Razzaq”.

    Anda kaya karena dia yang “Al-Ghany dan Al-Mughny”

    Anda kuat karena dia “Al-Qawii”.

    Anda mampu karena Dia yang “Al-Qadiir”.

    Bahkan anda berkuasa karena Dia yang “Maalikal mulk”.

    Dan ingat, suatu ketika anda pun mati juga karena Dia yang “Al-Mumiit”.

    Permasalahan sesungguhnya bukan pada pergerakan gelombang hidup. Bukan pada pergantian warna warni kehidupan. Karena itu pasti, harus dan alami. Naik turunnya pergerakan hidup, hitam putihnya warna hidup, pahit manisnya rasa hidup itu bukan masalah. Karena sekali lagi itu mutlak, bahkan bagian dari proses alami yang terjadi dalam hidup.

    Masalahnya justeru ada pada suasana “tatanan jiwa” manusianya. Semakin mapan jiwa manusia semakin kokoh, bahkan menikmati setiap detak pergerakan itu. Bahkan sungguh luar biasa ajibnya sikap manusia yang mapan kejiwaannya. “Ajaban liamril mukmin. In ashobathu sarraa syakar. Wa in ashoobathu dhorraa shobar. Wa fii dzalika kulihi khaer”.

    Sebaliknya kerapuhan dan kekerdilan jiwa manusianyalah, yang menjadikan pergerakan itu menimbulkan dua kemungkinan penyakit sosial (social sickness):

    1) Jika pergerakan itu menanjak, memihak dan menyenangkan maka dia akan membusungkan dada. Bahkan seringkali berusaha membusungkan dada, tidak mau dikalah, walau takdir memaksanya untuk terkalahkan dan dikalahkan.

    2) Tapi jika pergerakan itu melongsor turun, menungging, tidak memihat kepada ambisinya, yang terjadi adalah “sakit hati” dan dendam kusumat. Kerap kali dendam kusumat itu menampakkan diri pada momen-momen tertentu.

    Jiwa kerdil seperti ini terjadi pertama karena memang kegagalan memahami konsep tauhid itu sendiri. Konsep tauhid itu mengajarkan bahwa semua pergerakan hidup, semua warna dan bentuk hidup itu adalah proses, dan terkendali secara tunggal di antara jari jemari Ilahi. Konsep “biyadihi al-mulk” dan “ilaihi yurja’u al-amru kulluh” belum terhayati secara baik dan benar.

    Sejatinya memang keberhasilan atau kagagalan itu ditentukan secara mutlak oleh yang mengendalikan semua pergerakan di alam semesta ini. “Allahumma laa mani’a limaa a’thoeta wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa raadda limaa qadhaet”.

    Kegagalan dalam memahami tauhid ini berakibat pula kepada kegagalan dalam menerima kenyataan qadar dan qadha Ilahi. Dan hati yang gagal menerima kenyataan aadar dan qadha inilah yang rentang terjangkiti penyakit jiwa. Iri hati, dengki dan hasad menjadi bayang-bayang hidupnya.

    Penyakit yang bagaikan bara api yang panas ini ketika bertengger dalam jiwa  seseorang, menjadikannya merana, menggelepar kepanasan bagaikan cacing terhempas ke daratan panas.  Tidak akan pernah merasakan ketemangan  dan tidak akan pernah menenangkan. Menanggng derita dan kebinaan sendiri (self destruction) bahkan melakukan berbagai tindakan destruktif, baik dalamp kata maupun aksinya.

    Merajut jiwa

    Perjalanan hidup manusia itu tercatat dan akan menjadi catatan sejarah hidupnya. Minimal akan menjadi sejarah bagi diri sendiri, yang setiap orang akan membacanya pada masa yang telah ditentukan.

    “Iqra’ kitaabak…kafaa biNafsikal yauma alaika hasiba”, kata manual hidup manusia.

    Dan kerenanya setiap detak perjalannnya akan menjadi bagain dari catatan pertanggung jawaban itu. Di saat anda berumur 1 – 2 tahun anda bagaikan adonan yang dibentuk oleh orang tua, khususnya Ibu. Mau dijadikan gorengan apapun sesungguhhnya ada di tangan siapa yang membentukmu.

    Memasuki umur 3-6 tahun terjadi pergesekan antara pengaruh orang lain dan upaya diri sendiri dalam mewarnai jiwa seseorang. Dalam dunia teknologi dan kemajuan informasi dan telekomunikasi, anak pada fase inipun terkadang dibentuk oleh mainannya.

    Usia 6-12 tahun masa membangun fondasi. Masa menentukan soliditas atau kerapuhan fondasi jiwanya. Wajar saja kalau fase ini sekolahnya dikenal dengan “sekolah dasar”. Ibarat bangunan sedang terjadi penataan fondasinya.

    Tapi sejatinya bangunan kehidupan itu akan mulai terbentuk warnanya ketika memasuki umur 12 ke atas. Masa itu sebuah gedung dapat dinilai secara kasat, baik atau buruknya. Dalam bahasa agama, di saat inilah seseorang memulai pertanggung jawaban, memasuki umur “akil dan balig”.

    Perjalanan selanjutnya adalah masa 18 – 25 tahun. Sebuah rentang kehidupan untuk meneruskan membangun, memperkokoh dan mempercantik hidup anda. Masa ini adalah masa membangun warna karakter hidup.

    Di saat mencapai umur 25 hingga 40 tahun anda  memasuki tingkat kematangan dalam kedewasaan. Umur nikah, bekerja dan membangun masa depan warna kehidupan. Pada rentang masa itu bangunan itu masih bisa bongkar pasang, menata untuk masa yang tiada kembali.

    Di saat anda memasuki umur 40 tahun berarti anda mencapai tingkat kedewasaan tertinggi. Wajar jika kenabian nabi-nabi dimulai ketika berumur 40 tahun. Kecuali Isa AS tentunya. Posisi ini tidak bertahan lama. Antara 40, 50, maksimal 65 tahun. Itulah rata-rata umur umat Muhammad SAW.

    Kenyataan inilah yang diingatkan oleh Rasul bahwa jika anda yang berumur 40 tahun atau lebih, tapi anda tidak melakukan perubahan, acuh dengan pembenahan karakter, tunggu akibat yang tiada berujung.

    Di saat masanya anda berbenah, tapi anda biarkan bocoran atap rumah anda, atau dinding rumah anda dimakan rayap, maka tunggu kehancuran dan keruntuhannya.

    Demikianlah ketika anda sudah melewati 40 tahun tapi penyakit jiwa tidak diobati, bahkan berakibat kepada tumbuhnya prilaku destruktif; angkuh, busung dada, iri hati dan hasad, sering mengharap dipuji tanpa dasar (yuriiduuna an yuhmadu bimaa lam yaf’alu). Di saat itu berhati-hatilah jangan-jangan itu memang tabiat dasar anda. Khawatirnya tabiat itulah yang anda akan bawa hingga ke liang kubur.

    Ada orang sakit hati karena disakiti atau dizholimi orang lain. Itu wajar dan alami. Tapi seringkali keanehan terjadi. Ada orang yang sakit hati tanpa sebab. Hanya karena orang lain di sekitarnya dianggap lebih dari dirinya, dan menjadi ancaman, entah itu kenyataan atau sekedar ilusi.

    Jika hal seperti ini terjadi pada seseorang, sungguh sebuah penyakit kronis yang berakibat destruktif, baik pada dirinya sendiri maupun lingkungannya.

    Penyakit jiwa tanpa sebab  ini rata-rata terjadi ketika seseorang berambisi selangit, sementara kemampuan secuil. Nafsu setinggi langit, tapi energi positifnya loyo. Menjadikannya ibarat katak di bawah tempurun. Ingin terbang apa daya sayap terputus secara khalqi.

    Akibatnya orang ini akan dijangkiti penyakit murakkab (berlipat ganda). Di satu sisi karena ambisi itu akan semakin memaksakan diri untuk sesuatu yang di luar kapasitasnya. Di sisi lain dengan mudah menyalahkan, jika tidak orang lain, maka dirinya akan menjadi bulan-bulanan kemarahan. Itulah kenyataan di dunia modern, betapa keputus asaan, bahkan bunuh diri menjadi “salvation” (penyelamatan) pintas.

    Atau akan nampak dalam prilaku sosial dan lingkungannya. Pada tataran rumah tangga misalnya, tingkat kekerasan rumah tangga (domestic abuses) dan percaraian drastis meninggi. Justeru itu terjadi di saat semua fasilitas duniawi lebih tersedia. Dari kampung, ke kota-kota besar, hingga ke jantung dunia bahkan Hollywood, fenomen ini nyata di depan mata kita semua.

    Itulah akibat kerapuhan mental, atau bahkan tidak berlebihan jika saya menyebutnya “mental disorder” (penyakit mental).

    Orang yang berpenyakit mental yang demikian biasanya hanya mampu merintih kesakitan dalam selimut tebalnya, sambil bermimpi terbang tinggi ke angkasa luar.

    Ketidak mampuan dalam memburu ambisinya membawa kepada sikap menyalahkan setiap nyamuk yang beterbangan di semitarnya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang beterbangan sambil bersiul itu dilihatnya sebagai ancaman bagi dirinya…..bagaikan bom nuklir yang akan menghamburkan darah dagingnya setiap saat. Dan semoga Allah menjaga!

    * Presiden Nusantara Foundation

    (Tulisan ini dimuat pertama kali di republika.co.id )

  • Sendal Jepit Untuk Masjid

    JAKARTA, SUARADEWAN.com – Seorang netizen memposting pengalamannya saat shalat di sebuah mesjid di kawasan Jakarta Barat. Akun bernama catastrophe21 (Pamungkas Patria) tersebut bercerita tentang sedekah sendal jepit untuk mesjid. Hal ramah tamah tapi cukup menginspirasi kita berbuat kebaikan sebagaimana yang dilakukan ibu Linda. Ini isi lengkapnya unggahan netizen tersebut.

    Sedikit aku cerita latar belakangnya kenapa gue disini. Beberapa hari lalu gue sempet dapet kabar tentang adanya pembagian sandal jepit oleh seseorang di beberapa masjid, salah satunya masjid dimana aku berada sekarang, masjid Jami’ Al Anshor yang berlokasi di daerah Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Senin (19/2).

    Selama ini gue taunya, kalau orang berdonasi dengan misal menyumbang Al Qur’an, atau mencuci mukenah yang ada di sana. Nah, ini beda, orang ini menyumbang dengan memberikan sandal jepit.

    Memang terlihat receh, tapi tunggu dulu, ini tentu sangat bermanfaat, terutama bila saudara – saudara muslim yang mampir untuk beribadah, namun tidak membawa sandal, kan gak mungkin pakai sepatu setelah wudlu. Kerennya lagi, kata info tersebut,  beberapa mesjid yang kecipratan sendal jepit berada di kawasan lalu lalang turis.

    Singkat cerita, gue dapat info bahwa donatur sandal jepit ini namanya Ibu Linda Enry. Setelah aku googling ternyata beliau seoramg PNS yang menjabat sebagai Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Barat. Menarik gak? Jelas menarik, karna secara jabatan, beliau pasti ngurusin seputar wisata tentunya.

    Tapi yang beliau lakuin, ngurusin tempat ibadah. Dan kalau di liat dari lokasi, masjid ini menopang wisata sekitar. Intinya, selain mengurusi tempat wisata, beliau pun memikirkan penopang wisata, salah satunya masjid. Menginspirasi bukan? Keren nih kalau PNS PNS lainnya atau siapa saja ketularan gerakan ini. Ketika dihubungi Linda Enriany, berkisah beberapa waktu lalu, pada saat akan sholat di masjid di sekitar obyek wisata, ia kesulitan berwudhu karena tidak tersedianya sendal. Sedikitnya 300 pasang sandal jepit dibagikan.

    Adapun yang menerima selain Masjid Assahara di lingkungan kantor Walikota Jakarta Barat, juga  dibagikan ke pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Masjid Jami Al Anshor Jl. Pengukiran II Kelurahan Pekojan, DKM Masjid Jami Al Mansyur Jl. Sawah Lio No. 2 Kel Jembatan Lima, DKM Masjid Jami An Nawir Jl. Pekojan No. 71 Kel Pekojan Kec, DKM Masjid Jami Al Anwar Jl. Tubagus Angke, Gg. Mesjid No.1 Kel Angke, DKM Masjid Jami Tambora Jl. Tambora No. 4, DKM Masjid Jami Kebon Jeruk Jl. Hayam Wuruk No. 83, Kel Maphar,  serta Mushola Tinggi Pekojan Jl. Pekojan Raya No. 43 Kelurahan Pekojan. (af)

  • Pribumi: Antara Columbus, Indian, dan Aborigin

    Oleh : Prof DR Abdul Hadi WM*

    Mana yang benar? Pribumi atau aborigin?” itu adalah pertanyaan yang sering saya tanyakan koleganya saya Ben Joseph yang asal Kanada.

    Saya benar-benar menghargai pertanyaan dan motif di balik pertanyaan – untuk menghormati masyarakat pribumi dengan menggunakan terminologi yang benar.

    Bangsa Aborigin mengubaah nama untuk ‘Indigenousa kolektif’ untuk penduduk asli Kanada dan telah menjadi tantangan sejak Christopers Columbus tiba di tanah itu pada tahun 1492 M. Saat itu ia peercaya telah mendarat di india. Maka ia pun memberkan nama kepada populasi yang ada dengan  sebutan sebagai ” Indian.” Meskipun terang-terangan tidak benar, namun Columbus dan orang Eropa tak peduli.

    Baca juga:

    Pada masa kemudian, penggunaan kata-kata india di Kanada menurun karena asal koneksi dengan ke kebijakan kolonial seperti undang-Undang mengenai ‘India’. Kemudian ada Departemen India (rintisan ke pribumi dan urusan warga Kanada di utara). Juga ada agen India, sekolah perumahan india, serta berbagai hal lainnya yang mengatur soal penanganan warga pribumi Kanada itu.

    Meski begitu, sampai sejarang neberapa komunitas terus menggunakan sebutan India dalam nama suku mereka . Terbentuknya Osoyoos Band india adalah sebuah contohnya. Beberapa individu pun masih mengacu pada idenitas diri mereka sebagai orang india, tetapi dalam hal kata benda kolektif, itu kini sudah semakin jarang digunakan.

    Istilah ”native” juga merupakan istilah umum tetapi dianggap uncivil dan jarang digunakan dalam percakapan yang saling menghormati.

    Orang Aborigin pindah ke popularitas sebagai benda kolektif yang benar untuk negara pertama, inuit dan plain dan diadopsisecara luas oleh pemerintah dan banyak kelompok nasional. Perbedaan ini dibuat hukum pada tahun 1982 ketika undang-undang datang menjadi. Bagian 35 (2) dari undang-undang, “Penduduk Aborigin Kanada” termasuk orang india, inuit dan plain bangsa Kanada.

    *Guru Besar Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Jakarta.

    (tulisan ini telah tayang di republika.co.id per 23 Oktober 2017)

  • Kota Padang Butuh Pemimpin Kuat dan Berkarakter

    Oleh: Asriyon Roza, SE.Ak., CA., M.Si*

    Dinamika politik Pilkada Kota Padang terus menggeliat. Beberapa calon terus bermunculan. Mulai dari politisi, birokrat, incumbent, profesional, aktivis dan lain-lain. Tentunya masyarakat tidak mempersoalkan latar belakang dari kandidat yang bermunculan.

    Hari ini Kota Padang membutuhkan pemimpin yang mampu melakukan perubahan besar terhadap seluruh lini, sehingga perubahan itu betul-betul dapat dirasakan oleh masyarakat. Sudah beberapa kali pergantian Walikota Padang pasca reformasi namun tidak terlalu terlihat perubahan yang mendasar dari Kota Padang. Kecuali pembangunan Fisik yang terlihat tambal sulam.

    Memang ada beberapa perbaikan yang terlihat seperti Pantai Muara Padang, Pasar Raya yang dulu semrawut pasca gempa 2009 kini sedikit mulai tertata, dan mungkin ada perbaikan juga pada Pasar Lubuk Buaya. Namun pada konteks lain masih banyak yang belum terbenahi. Kota Padang sudah seperti Jakarta dimana pada jam-jam tertentu terjadi kemacetan yang cukup parah. Seperti sepanjang jalan menuju Basko. Dan bahkan sekarang bertambah ke jalan Khatib Sulaiman akibat dibangunnya pusat perbelanjaan komersil yang disinyalir pembangunannya melanggar RT/RW. Dan itu terlihat dari adanya beberapa gugatan yang dilakukan oleh masyarakat dan LSM.

    Asriyon Roza

    Pembangunan pusat perbelanjaan di Khatib Sulaiman itu kurang mempetimbangkan dampak terhadap masyarakat. Seharusnya Pemerintah Kota Padang membenahi dulu infrastuktur jalan di daerah khatib tersebut sehingga kemacetan dapat diatasi sedini mungkin. Sangat terlihat sekali pembangunan itu kurang terencana dengan baik entah target apa yang ingin dicapai oleh Pemerintah Kota Padang saat ini.  Biarlah dipulangkan kepada masyarakat untuk menilainya.

    Belum lagi persoalan terminal yang tidak jelas keberadaannya. Saluran drainase yang tidak tertata dengan baik sehingga di beberapa tempat kalau hujan terjadi genangan air. Bahkan di daerah by pass sering sekali terjadi banjir besar yang disebabkan belum adanya saluran pembuangan air, ditambah posisi badan jalan telah berada diatas rumah penduduk di sekitar jalan tersebut. Belum lagi keluhan yang dirasakan oleh masyarakat pinggiran kota yang minim perhatian Pemko Kota Padang. Mereka merasakan belum mendapatkan perhatian dan sentuhan pembangunan yang berarti terutama terhadap perbaikan infrastruktur jalan.

    Selanjutnya dari sisi perbaikan nilai-nilai moral di tengah masyarakat juga minim mendapatkan perhatian yang menimbulkan keresahan sebagian masyarakat Kota Padang. Hal ini tidak terlepas dari berkembangnya pusat-pusat hiburan, hotel, musro (tempat karoeke), tenda-tenda pendek di daerah pantai dan juga rumah-rumah maksiat di daerah Bungus yang hilang timbul. Dan baru-baru ini yang cukup menghebohkan dengan terbitnya surat dari Rektor Universitas Andalas (UNAND) yang menolak mahasiswa-mahasiswi LGBT.

    Terbitnya surat itu tentu bukan tanpa alasan, sudah pasti pihak Rektorat UNAND tahu bahwa LGBT di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang sudah pada tahap meresahkan. Terhadap hal-hal ini tidak terdapat langkah dan tindakan kongkrit dari Pemerintah Kota Padang.

    Berbagai tantangan sudah terlihat di depan mata tentunya Kota Padang harus berbenah dengan cepat. Kota Padang butuh pemimpin yang kuat dan berkarakter. Jelas rekam jejaknya, bersih diri dari isu-isu yang terkait kasus korupsi dan tindakan-tindakan yang berbau amoral. Karena dari pemimpin yang berkarakter dan kuat itulah semua persoalan tersebut bisa diatasi. Dan tentunya peran aktif masyarakat juga harus dilibatkan.

    Pemimpin yang kuat dan berkarakter itu tentunya pemimpin yang mampu menggerakkan partisipasi masyarakat. Masyarakat harus didorong aktif untuk mewujudkan setiap perubahan. Pemimpin Kota Padang kedepan harus memiliki orientasi sebagai pelayan publik, karenanya Infrastruktur layanan publik harus dibenahi sesuai kebutuhan yang bernilai guna dan tepat guna sehingga penggunaan anggaran benar-benar tepat sasaran.

    Dalam beberapa dekade kepemimpinan Kota Padang, sangat dirasakan kurangnya keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam melakukan pembangunan kota. Masyarakat agak cenderung individualis. Kehidupan gotong royong semakin terasa asing. Sangat jauh berbeda dahulunya apa yang kita rasakan. Dimana setiap minggu masyarakat bahu membahu bergotong royong membersihkan lingkungan, seperti membersihkan selokan, membersihkan masjid, dan lain-lain. Hari ini hal-hal seperti itu semakin sulit ditemukan.

    Perubahan ini tidak terlepas dari minimnya kemampuan pemimpin dalam menggerakkan partisipasi masyarakat sebagai subjek pembangunan. Masyarakat terkadang dipandang oleh pemimpinnya sebagai objek pembangunan. Inilah yang harus di rubah kedepan oleh pemimpin kota Padang. Hal itu bisa terwujud dengan tampilnya pemimpin yang kuat dan berkarakter.

    Semoga saja masyarakat Kota Padang dapat mewujudkan dan memilih pemimpin yang kuat dan berkarakter itu. Tanpa itu Kota Padang akan jalan di tempat dan tertinggal dibandingkan daerah lain yang hari ke hari terus berbenah dan melakukan perbaikan-perbaikan yang sangat mendasar bagi kepentingan dan kebutuhan masyarakatnya.

    * Penulis adalah Sekretaris Sekolah Politik Nasional (SPN) ICMI 2016

  • International Women’s Day; Refleksi Kuatnya Perempuan dan Hore untuk itu!

    Oleh: Isyana Kurniasari Konoras, SH.MH*

    International Women’s Day yang jatuh pada 8 Maret, sesungguhnya diambil dari kisah perjuangan perempuan. Yakni, sebuah perjuangan berabad-abad lamanya untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, seperti halnya kaum laki-laki. Sekedar mengulang sejarah, gagasan tentang perayaan ini pertama kali dikemukakan pada saat memasuki abad ke-20 di tengah-tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja. Sejarah akan menjadi bagian dalam setiap perjalanan bangsa. Hari Perempuan Internasional telah menjadi simbol perjuangan yang dilalui semua perempuan di seluruh dunia untuk memperoleh kesetaraan dan kesejahteraan.

    Dalam konteks kekinian secara umum, pembangunan pemberdayaan perempuan telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, tetapi berbagai permasalahan masih dihadapi, seperti masih tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta masih adanya kesenjangan pencapaian hasil pembangunan antara perempuan dan laki-laki, yang tercermin dari masih terbatasnya akses sebagian besar perempuan di berbagai bidang. termasuk dalam hal peningkatan kapasitas kesejahteraan ekonomi bagi kaum perempuan.

    Mempromosikan pemberdayaan ekonomi perempuan adalah untuk mendorong pembangunan ekonomi setengah dari total populasi di dunia. Studi Bank Dunia (2012) mengidentifikasi bahwa produk domestik bruto per kapita dan kesetaraan gender terkait positif. The International Trade Centre (ITC) studi Saing UKM (2016) mengungkapkan bahwa pangsa hambatan prosedural untuk perdagangan yang dimiliki perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Output per pekerja akan meningkat hingga 25% di banyak negara jika hambatan yang mencegah perempuan bekerja di pekerjaan atau sektor-sektor tertentu telah dihapus. Aguirre dan lain-lain (2012) memperkirakan bahwa 812.000.000 antara 865 juta perempuan di negara berkembang dan negara-negara, termasuk Indonesia, memiliki potensi untuk berkontribusi lebih banyak untuk ekonomi nasional mereka.

    Tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan di dalam membangun ketahanan ekonomi, sudah dirasakan dampaknya, terutama dalam sektor informal. Perempuan yang populasinya hampir sama dengan laki-laki adalah sumber daya manusia yang potensial bagi pembangunan bangsa. Dengan jumlah perempuan Indonesia mencapai 118 juta jiwa (49,7%), maka peran perempuan dalam pembangunan bangsa Indonesia sangat besar dan merupakan aset bangsa yang potensial serta kontributor yang signifikan dalam pembangunan ekonomi.

    Partisipasi perempuan dalam pertumbuhan ekonomi yang sangat penting itu tidak hanya untuk menurunkan tingkat kemiskinan di kalangan perempuan, tetapi juga sebagai pondasi yang kokoh di sektor lain. Namun demikian masih begitu banyak faktor penghambat bagi kaum perempuan untuk mencapai tingkat produktivitas, antara lain adalah rendahnya akses pembiayaan bagi perempuan pengusaha.

    Economist Intelligence Unit (2010) mengukur akses perempuan terhadap keuangan. Di antara 33 negara Asia, Indonesia menduduki peringkat 22 dengan skor 29,6. Ini masih jauh di bawah beberapa negara tetangga seperti Singapura (peringkat 2 / mencetak 70,9), Malaysia (peringkat 3 / mencetak 70,5), Thailand (peringkat ke-7 / mencetak 56,9) dan Vietnam (peringkat 10 / mencetak 40,7). 

    Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya kapasitas perempuan dalam pengelolaan keuangan dari bisnis mereka. Dalam kasus umum, perempuan mempunyai kelemahan dalam membedakan antara manajemen keuangan pribadi mereka dengan bisnis mereka. Selanjutnya, tantangan lainnya berasal dari masalah kepatuhan lisensi / paten dan gaya manajerial.

    Sulitnya mendapatkan akses permodalan dalam peningkatan kapasitas usaha perempuan menjadi sebuah Pekerjaan Rumah besar bagi kaum perempuan. Pemerintah diharapkan mampu membuka kesempatan yang lebih besar bagi kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam perekonomian negara dan dalam mengembangkan bisnis.

    International women’s day diharapkan tidak hanya menjadi ajang ceremonial belaka, namun menjadi pengingat bagi kita untuk terus memperjuangkan hak bagi kaum perempuan dalam meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan. Bukankah perempuan membutuhkan momen nyata dari kesendirian dan refleksi diri untuk menyeimbangkan berapa banyak dari diri kita yang kita berikan, dan karena perempuan adalah perempuan dan hore untuk itu!.

    Selamat Hari Perempuan Intenational!

    *Penulis adalah Mantan Fungsionaris KOHATI PB HMI

  • Trump, Islamofobia, dan Benturan Peradaban

    Oleh : Mulawarman Hannase*

    Sosoknya begitu kontroversial. Dalam menyampaikan gagasannya, boleh dikatakan ia tampak over convidencez. Walaupun di-bully dengan kebijakannya yang kontroversial, seakan dia tidak peduli. Kelihatannya otoriter, tapi ia sungguh beruntung. Meskipun dalam survei kalah jauh, nyatanya dialah yang memenangkan pertarungan.

    Begitulah kira-kira gambaran dari karakter sosok Donald Trump, presiden baru Amerika Serikat (AS) yang terpilih secara demokratis. Trump datang membawa kebijakan yang menuai protes keras publik Amerika maupun kalangan internasional.

    Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengetengahkan beberapa kebijakan Trump yang cenderung diskriminatif terhadap komunitas Muslim baik di Amerika Serikat maupun di Timur Tengah serta konsekuensi dari kebijakan tersebut.

    Dalam artikelnya yang berjudul “An Apology to Muslims for President Trump”, dimuat dalam New York Times 2 Februari 2017, seorang jurnalis terkenal Amerika bernama Nicolas Kristof meminta Presiden Trump meminta maaf kepada seluruh umat Islam khususnya di Amerika Serikat.

    Permintaan maaf tersebut hendaknya dilakukan Trump atas kebijakannya yang diskriminatif melarang warga tujuh negara mayoritas Islam masuk ke Amerika Serikat. Ia menganggap bahwa Trump sesungguhnya tidak memahami persoalan dan konstelasi yang terjadi saat ini.

    Gesekan yang terjadi dan menyebabkan konflik dan aksi-aksi teror di mana-mana bukanlah perseteruan antara orang Islam dan non-Islam, tetapi antara kelompok moderat dan radikal di setiap kelompok beragama. Islam bukanlah cancer sebagaimana dituduhkan oleh salah seorang penasihat keamanan Trump, Mike Flynn.

    Oleh karena itu, secara keseluruhan kita melihat perbedaan yang cukup signifikan mengenai respons masyarakat internasional atas terpilihnya Trump sebagai presiden baru AS dibanding dengan pendahulunya, Barack Obama.

    Ketika Obama terpilih menjadi presiden AS, sebagian besar pengamat dan politisi di Timur Tengah menyambut baik dan merasakan sebuah optimisme khususnya dalam konteks hubungan dunia Barat dan Timur. Mereka mendambakan kebijakan politik baru Amerika terhadap dunia Islam yang lebih persuasif dan anti-diskriminatif.

    Kita tahu bahwa rezim sebelum Obama, George W Bush ‘berjasa’ menciptakan dua perang yang menyengsarakan masyarakat Islam di Timur Tengah yaitu perang Irak dan Afghanistan. Sosok Obama dinilai bukanlah sosok yang akan membuat kebijakan diskriminatif karena ia sendiri berasal dari kelompok minoritas yang dalam sejarah Amerika kerap menjadi objek diskriminasi oleh kelompok mayoritas.

    Sosok Obama pun dinilai bisa membangun berbagai kebijakan luar negeri yang tidak anti-Islam dan lebih bersahabat dengan dunia Islam. Tidak lama setelah menjabat sebagai presiden Amerika, Obama pun mengunjungi Turki dan Mesir, dua negara yang sangat berpengaruh di Dunia Islam dan Timur Tengah.

    Meskipun pada kenyataannya, retorika Obama yang ingin membangun tatanan baru di Timur Tengah yang kondusif dan bersahabat, sampai akhir masa jabatannya masih jauh panggang dari api. Berbeda dengan Obama, Donald Trump seakan telah menjadi momok bagi dunia Islam. Hal tersebut sudah terlihat sejak ia mulai melakukan kampanyenya.

    Salah satu visi misi kampanye Trump yang kontroversial adalah rencana ingin menghentikan laju imigran, terutama pengungsi konflik Timur Tengah masuk ke Amerika. Sebagai wujud komitmen terhadap janjinya, berselang beberapa hari setelah dilantik (20 Januari 2017) Trump menandatangani dokumen pelarangan imigran masuk ke negeri Paman Sam termasuk dari 7 negara berpenduduk mayoritas Muslim.