Kategori: TIPS

  • Ini Rahasia Mufidah JK dan Ida Tanri Abeng yang Belum Terungkap

    JAKARTA, SUARADEWAN.com – Suara Tanri Abeng terbata bata. Laki laki kelahiran 7 Maret 1942 itu menahan haru. Air matanya menggenang. “Ida masih ada. Suaranya khas,” ujar Tanri dihadapan sahabatnya Jusuf Kalla bersama istrinya Mufidah Jusuf Kalla serta seratusan lebih tamu lainnya. Siang itu, di penghujung 2017, di kediaman “manajer satu milyar” ini berlangsung doa peringatan wafatnya Ida Nasution Tanri Abeng yang berpulang setahun lalu tepatnya 17 Desember 2016.

    Tanri mengenang kepergian istrinya. Ida Nasution kala itu aktif di bidang kesenian HMI Makassar. Jusuf Kalla muda merupakan ketuanya. Nah, dibalik dinamika organisasi tersebut, dua pasang cinta sedang bertautan.  Odo odo Jusuf Kalla dan Mufidah serta Tanri Abeng dengan Ida Nasution.

    Mufidah dan Ida adalah sahabat sejak muda. Kebetulan keduanya pendatang di tanah Sulawesi. Mufidah asal Padang dan Ida Nasution asal Sumatera Utara namun lebih kental ke Minang nya. “Ada baiknya kita dengarkan langsung testimoni Ibu Mufidah Jusuf Kalla tentang sahabatnya,” Tanri kemudian mempersilahkan Mufidah berkisah tentang peristiwa 55 tahun silam itu.

    “Nama kami sama sama Ida. Kemana mana selalu berdua. Apalagi dulu waktu saya belum jadian sama Pak JK, Ida suka bohongi saya,” hadirin tergelak, tertawa.

    “Suatu kali Ida bilang ke saya kita ada acara baris berbaris untuk perayaan 17 Agustus. Kata Ida,  dicari wanita berambut panjang yang bisa dikepang dua. Padahal saya sudah pakai konde. Waktu itu saya sudah mau berangkat ke tempat kerja di bank. Ida bilang gak papa. Terus katanya kita pakai seragam. Saya bilang gak punya seragam itu. Ada, udah disiapkan oleh HMI, kata Ida. Saya bilang kaya donk HMI sekarang. Saya pun terpaksa ikut. Kami datang ke rumah pak ketua,” kisah Mufidah sambil melirik Jusuf Kalla ‘ketua’ yang dimaksud.

    Diam diam Ida Tanri Abeng mencium adanya kerenggangan hubungan Mufidah dan Jusuf Kalla. Ida lalu memasang siasat dan strategi yang disambut baik oleh Jusuf Kalla. Intinya, memulihkan hubungan cinta keduanya.

    Mufidah pun melanjutnya kisahnya, “Saya ini dibohongi sama Ida. Dia ajak saya ke rumah ketua diantar pakai mobil. Lalu supir kantor saya disuruh pergi.”

    Konspirasi berjalan mulus. Saat Mufidah akan pulang meninggalkan rumah sang ketua, mobil kantornya sudah tidak ada. “Mereka bilang ada keluarga supir itu yang kena musibah makanya balik duluan. Saya kemudian panggil becak. Eh daeng becaknya bilang bahwa ban nya kempes,” kenang Mufidah.

    Singkat cerita gadis Mufidah pulang dibonceng Jusuf Kalla muda. “Sampai di depan rumah saya, pak ketua langsung saya suruh pulang. Tapi akibat semua itu hubungan saya dengan Pak JK pulih.” Intinya Ida sering “membohongi” Mufidah. Dan kenangan dibohongi itu melekat erat dan berbuah manis hingga kini.

    Kisah lain, Mufidah pernah diajak  Ida ke Bogor untuk makan makan sekaligus curhat. Konon ada rumah makan Padang yang Ida sukai di sana. “Kami berduaan saja, Ida sendiri yang nyetir mobil,” cerita Mufidah.

    Dalam perjalanan Ida curhat kepada Mufidah. Katanya tanpa sepengetahuan Tanri Abeng, Ida selalu membongkar bongkar kantong baju dan celana suaminya setiap kembali dari luar negeri. “Ida cerita kepada saya. Kalau ada uang dolar Ida ambil. Tapi Ida pun mengakui, jangan jangan Tanri sengaja menyimpan uang dolar itu karena tahu Ida senang kalau menemukan uang dolar,” lanjut Mufidah.

    Suatu kali saat sudah menjadi istri wakil presiden periode 2004 – 2009, Ida menghubungi Mufidah. Ida minta agar diajak juga jalan jalan. Waktu itu kondisi Ida sudah sakit. Tapi Ida bersikeras tetap ikut. Berangkatlah Ida bersama rombongan ibu wapres ke Padang. “Sampai di Padang Ida sakit. Pusing, soalnya sudah lama tidak naik pesawat katanya. Akhirnya Ida gak ikut pulang karena harus dirawat di rumah sakit di Padang,” Tanri Abeng menambahkan.

    Peran Ida sebagai penggagas perdamaian cinta JK dan Mufidah juga diaminkan oleh Jusuf Kalla. Jusuf Kalla berkisah, bahwa Ida Nasution punya andil yang besar dalam menyatukan hubungan mereka saat saat masa pacaran waktu itu.

    “Bapaknya Ida itu polisi militer. CPM. Waktu itu bapaknya menjadi direktur di Hotel Negara. Kebetulan saya dan Mufidah menikah di hotel Negara,” kenang Jusuf Kalla.

    Perhiasan Palsu

    Ida yang bernama lengkap Farida Nasution adalah seorang  organisatoris super aktif. Ida pernah memimpin Ikatan Wanita Sulawesi Selatan, bagian dari kelompok Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri. Namun saat Tanri Abeng duduk sebagai menteri BUMN Ida menarik diri untuk tidak menonjol. Konon, itu salah satu taktik agar sesama ibu ibu di lingkungan BUMN tidak “memanfaatkannya” mencari cari jabatan untuk suami.

    Dalam keseharian Ida tergolong sederhana. Sebagaimana pengakuan Tanri Abeng, Ida lebih suka menggunakan perhiasan “murahan”. “Saya ini istri manajer satu milyar dan istri menteri, semua orang tidak akan percaya kalau saya pakai perhiasan palsu,” ungkap Tanri Abeng atas pernyataan istrinya itu.

    Menurut Tanri, sekitar 1-2 tahun terakhir sebelum wafat, Ida sempat melakukan protes keras. Suatu malam, Ida menarik Tanri bicara empat mata. Ida menyampaikan dan mempertanyakan bahwa kenapa uang jatah bulanannya dikurangi drastis. Meski sudah paham, Tanri tetap pura pura terkejut. Tanri bilang akan membicarakannya dengan Emil putra sulungnya.

    Secara rahasia Tanri dan Emil memang sepakat mengurangi “uang jajan” bulanan Ida selama sakit. Sebab menurut laporan asisten rumah tangga yang mendampinginya, diam diam Ida sering “kabur” keluar makan makanan enak yang sangat dipantang oleh dokter. “Ida suka sekali makan, sementara dokter meminta agar kami menjaga makanannya,” tambah Tanri.

    Catatan dari Simprug

    Penyakit yang mendera Ida memang hanya “jembatan” saja, hingga akhirnya setelah sekitar 10 hari dirawat di RSSP, dini hari 17 Desember 2016 tepat pukul 2 lewat 41 menit wanita murah hati itu tuntas “menyeberang” ke kehidupannya yang abadi. Ia merampungkan perjalanannya pulang ke haribaan sang Khalik.

    “Dia tidak menderita. Perginya tenang,” suara Tanri Abeng sedikit tersekat saat menuturkan kembali detik detik kembalinya sang istri di ruang ICU. Getaran haru dibalut keikhlasan memancar kuat dari laki laki asal Selayar Sul Sel.

    Malam itu, 23 Desember 2016, banyak kalangan hadir ber taziah memadati rumah Tanri Abeng. Saya mencatat, ada Sofyan Djalil yang sudah lima kali menjabat menteri dengan bidang berbeda, Agung Laksono tokoh senior Golkar, dan sederet nama nama kondang lainnya. Di halaman depan tegak berjejer karangan bunga kiriman dari Jokowi Presiden RI, Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI dan BJ Habibie.

    Mereka datang berbagi rasa, bertukar simpati atas kepergian Hajjah Farida Nasution Tanri Abeng. Saling meluapkan kenangan yang pernah hinggap dalam perjalanan silaturahim dengan Ida Tanri Abeng. Inilah persapaan dari sahabat sahabat yang menggetarkan hati sang tuan rumah.

    Aksa Mahmud, founder Bosowa Grup berkisah bagaimana hubungannya dengan keluarga Tanri Abeng. Kala itu, Aksa lah yang menguruskan tiket Ida Tanri Abeng untuk berangkat ke Amerika. “Ibu Ida harus terbang ke Amerika, karena rencana pernikahannya dengan Tanri akan dilangsungkan di Amerika,” kenang Aksa yang saat itu berhasil mendapatkan tiket discount untuk Ida.

    Saat itu Tanri sedang mengikuti program American Field Service (AFS) Exchange program. Tanri mendapat bantuan dari keluarga Amerika bernama Gibson. Tanri adalah foreign student pertama yang dinobatkan sebagai distinguished alumni dari  State University of New York (SUNY), Buffalo, NY, AS.

    “Memang uang yang saya kirim pas pas sekali buat ongkos Ida ke Amerika,” timpal Tanri Abeng mengenang peristiwa 50 an tahun silam itu.

    Alwi Hamu, pendiri Fajar Group juga mengenang persahabatannya dengan Ida Tanri Abeng. Kala itu Alwi lah yang kerap membonceng Ida wara wiri mengedarkan proposal pencarian dana dalam rangka kegiatan kesenian HMI. “Macam macamlah, Ida bikin pentas tari, pentas drama, Ida semua yang urus. Saya bagian antar antar saja,” ungkap Alwi Hamu yang kala itu membonceng Ida dengan sktuter vespanya DD 18581.

    Paling Cantik Sedunia

    Agustus 2014, usai perhelatan pemilu presiden, saat menyeruput kopi di sebuah taman di kota Boston Amerika Serikat, Emil Abeng bercerita kepada saya tentang ibunya. Mantan anggota DPR RI Fraksi Golkar itu berkisah bahwa wanita paling cantik di dunia adalah ibunya.

    “Dimata saya, ibu saya adalah wanita yang paling cantik di dunia,” tutur Emil. Emil memang teramat dekat dengan ibunya.

    Perkenalan saya dengan keluarga ini terbilang tebal. Saya jumpa pertama dengannya sekitar tahun 1983, saat Emil tinggal di kawasan Jalan MPR Cilandak Jakarta Selatan. Saya diajak Acca, putra Rusdi Akib, sahabat Tanri Abeng. Di rumah Emil, ibunya menyapa kami dengan hangat. Ibu Ida seakan paham kalau perut kami belum terisi. Langsung menyilahkan kami duduk mengitari meja makan.

    Tanpa malu malu saya melahap makanan yang terhidang. Perut kenyang sebagai perantau ibukota makin komplit karena saat akan pamit Emil menyelipkan uang di kantong saya. Untuk ukuran saat itu banyak sekali. Setidaknya makan dan bayar kost aman selama sebulan. Harga sewa kamar kost tahun 1983 an sekitar 20 ribu rupiah per bulan. Jumlah uang yang Emil selipkan silahkan Anda duga duga sendiri. Intinya syukur Alhamdulillah banget, rezeki yang tak terduga duga.

    Saya terharu, sebagai tamu kami diterima laiknya keluarga. Ketulusan seorang ibu menyapa, karena Ibu Ida langsung mempersilahkan kami makan. Batin ibu Ida mampu menebak bahwa remaja perantau ini pastilah lapar alias belum makan. Dan faktanya memang demikian.

    Itulah naluri seorang ibu. Bahasa kalbu beliau mampu membaca apa yang kami alami. Perilakunya sebagai wanita kelas menengah di zaman itu terbilang langka, apalagi kami ini bukan siapa siapa. Saya mengenang rekaman peristiwa tersebut dengan apik. Al Fatiha untuk Ibu Ida.

    *Jakarta 26 Desember 2017

    Egy Massadiah*

  • Solusi Maksiat ala Ali Sadikin

    SUARADEWAN.com — Saat Ali Sadikin jadi gubernur, pernah ada istilah “becak komplit”. Istilah itu merujuk becak yang keliling membawa Pekera Seks Komersial (PSK) yang siap melayani syahwat para lelaki yang mau membayar.

    PSK lainnya, yang tak dibawa “becak komplit”, juga tak kalah liar menjajakan diri. Ada beberapa kawasan pelacuran di Jakarta yang sudah terkenal sejak dulu. Salah satu kawasan yang dikenal dengan pelacurannya adalah sekitar Stasiun Senen yang dikenal sebagai Planet Senen.

    Menurut catatan Alwi Shihab dalam Betawi Queen of The East (2002), waktu zaman Belanda, di Jakarta pernah ada lokalisasi di Kaligot, Sawah Besar juga Gang Heuber, Petojo — yang setelah kemerdekaan dinamai gang Sadar. Pada 1950an hingga 1960an, sebelum Planet Senen mulai ramai dengan pelacuran, tempat buang syahwat terbesar berada di Jalan Halimun.

    Ketika Planet Senen sudah muncul sebagai kawasan prostitusi, pemandangan selepas senja di sana menguarkan aroma kemesuman yang pekat. Perempuan-perempuan berpenampilan seronok bermunculan dari dalam rumah-rumah kardus. Perempuan-perempuan itu, yang dulu disebut sebagai Wanita “P”, mangkal dari dari senja hari hingga subuh.

    “Begitu diangkat sebagai Gubernur DKI, Bang Ali (sapaan Ali Sadikin) menjadi tidak betah melihat keadaan Planet (Senen) yang mesum, terbentang dari rel kereta api di Stasiun Senen hingga ke Tanah Tinggi,” tulis Alwi Shihab.

    “Saya ngilu menyaksikannya. Di antara wanita-wanita itu ada anak-anak yang masih belasan tahun umurnya,” ujar Ali Sadikin dalam buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1994).

    Ali mempelajari bagaimana kota-kota lain mengelola pelacuran. Ia, misalnya, mengetahui bagaimana Surabaya mengatur bisnis lendir ini supaya hidung belang tukang jajan bisa leluasa datang namun pada saat yang sama mencegah agar penyakit kelamin tidak leluasa gentayangan di sudut-sudut kota. Selain Surabaya, Ali Sadikin juga pernah ke Bangkok yang terkenal dengan industri seksnya. Di sana ia menyaksikan bagaimana pelacuran dilokalisasikan.

    Banyak orang berpikiran bahwa pelacuran bisa dihentikan lewat penyuluhan — yang dalam istilah Ali Sadikin disebut sebagai “diindoktrinasi” — untuk disalurkan ke proyek-proyek pemerintah. Ali tidak sepaham dengan pemikiran macam itu. Alasannya: jumlah PSK pada 1970an jumlahnya ribuan. Jika harus diarahkan ke proyek-proyek, tidak akan cukup.

    Ali pun menempuh langkah yang tidak populer di mata masyarakat Indonesia yang memandang tabu pada soal-soal semacam seks berbayar: Ali memilih melokalisasikan mereka. Ia hendak merealisasikan apa yang pernah dilihatnya di kota-kota lain, misalnya Bangkok.

    Tempat yang ia pilih berada di utara Jakarta. Letaknya tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok. Kramat Tunggak namanya. Para PSK dari Senen, Kramat Raya dan tempat lainnya kemudian digiring ke sana, ke Kramat Tunggak.

    Nama Kramat Tunggak terkait Prasasti Tugu yang yang berada tidak jauh dari kawasan itu. Menurut Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi: Asal muasal, Kebudayaan, dan Adat istiadatnya (1997), “tugu” sering disebut sebagai “tunggak” oleh orang-orang Betawi. Berhubung dianggap keramat, maka kawasan itu disebut dengan “Kramat Tunggak”.

    Pada 1970an, tempat ini ideal menjadi lokalisasi pelacuran karena masih sepi. “Sebelum dijadikan tempat lokalisasi, wilayah Kramat Tunggak berupa rawa, sawah dan kebun. Letaknya pun terpencil jauh dari pemukiman penduduk,” tulis Fikri dalam skripsinya Lokalisasi Kramat Tunggak Pada Masa Gubernur Ali Sadikin: 1971-1977 (2011).
    Menurut catatan Fikri, meski sepi bukan berarti di sana tak ada penghuni. Lokalisasi ini tak sulit mendatangkan para hidung belang. Letaknya yang dekat pelabuhan tentu strategis.

    Apa yang dilakukan Ali jelas ditentang banyak pihak, terutama kelompok keagamaan dan organisasi perempuan. Menurut catatan Fikri dalam skripsinya, dari kelompok Islam setidaknya ada Ramlan Mardjoned — yang pernah jadi sekretaris Mohammad Natsir. Menurut Ramlan, yang juga menjadi anggota Ikatan Masjid Djakarta (IMD), melokalisasikan sama saja melegalkan perzinahan.

    Selain Ramlan, ada Sjamsinoer Adnoes, Ketua Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI). Sjamsinoer bahkan mendatangi Ali Sadikin untuk memprotes kebijakan tersebut.

    “Datanglah pada saya delegasi presidium KAWI Pusat yang dipimpin Ketua periodiknya Nyonya Sjamsinoer Adnoes. Ia menentang pikiran saya mengenai pemecahan masalah wanita ‘P’ itu. Mereka mengartikan pikiran dan tindakan saya itu memperbolehkan eksploitasi manusia atas manusia, merendahkan derajat wanita dan menjauhkan kemungkinan rehabilitasi bagi wanita yang sadar,” kenang Ali Sadikin.

    Tak semua orang Islam menentang ide lokalisasi Ali Sadikin. Salah satunya, menurut catatan Fikri dalam skripsinya, tokoh Nahdlatul Ulama keturunan Betawi Selemba, KH Harun Al-Rasyid, setuju melokalisasikan pelacuran. Namun, ia memberikan syarat: lokalisasi itu haruslah menjadi bagian atau tahapan dari usaha menuju penghapusan prostitusi secara tuntas. Ia juga menambahkan syarat lain: lokalisasi juga harusnya mengurangi akses para hidung belang.

    Kramat Tunggak setidaknya mampu menghalau aksi “becak komplit” yang liar agar tidak mudah dijangkau masyarakat Jakarta. Juga menjauhkan dunia pelacuran dari sekitar kampung-kampung Jakarta.

    Tak hanya pelacuran saja yang pernah dilegalkan lewat lokalisasi oleh Ali Sadikin di Jakarta. Tapi juga judi. Seperti lokalisasi pelacuran, judi yang dilokalisasikan juga menghasilkan uang. Berdasar Undang-undang Nomor 11 tahun 1957, pemerintah daerah berhak memungut pajak dari judi.

    “Dari Pak Djumadjitin saya pun baru tahu, bahwa Pak Sumarno bekas Gubernur, juga pernah punya rencana untuk mengadakan judi, mengadakan Lotto. Tapi rupanya beliau ragu,” aku Ali Sadikin.

    Walikota Sudiro juga pernah punya ide untuk mengadakan kasino di Pulau Edam, di Teluk Jakarta. Rencana itu tak terlaksana. “Tapi partai-partai agama gigih menolaknya,” aku Ali. Seperti zina, bagi Ali, judi juga haram. Ali mengatur judi itu untuk kalangan tertentu saja, bukan untuk orang Islam.

    “Untuk apa mereka menghambur-hamburkan uang di Macao. Lebih baik untuk pembangunan di Jakarta saja. Dan waktu itu saya jelaskan, bahwa DKI memerlukan dana untuk membangun jalan, sekolah, puskesmas, pasar dan lain-lain,” aku Ali Sadikin.

    Meski banyak yang menentang, Ali tetap jalan. “Saya sahkan judi itu. Mulai dengan lotere totalisator, lotto, dengan mencontoh dari luar negeri. Lalu dengan macam-macam judi lainnya. Sampai kepada Hwa Hwe,” kenang Ali.

    Cap Gubernur maksiat pun dilekatkan pada Ali Sadikin. Sialnya Nani Arnasih, istri Ali, juga kena getahnya. Sang Istri sampai sempat mendapatkan julukan Madam Hwa Hwe.

    Kepada penentang kebijakan yang dicap maksiat itu, Ali pun melucu dengan bilang: “Bapak-bapak, kalau masih mau tinggal di Jakarta, sebaiknya beli helikopter karena jalan-jalan di DKI (Jakarta) dibangun dengan pajak judi.”

    (Sumber : tirto.id)

  • Sharing Knowledge dari Pak Ginanjar Kartasasmita

    it’s nice to know….

    Maaf saya sedang di Boston, sejenak kembali ke Harvard. Saya membaca diskusi di WAG tentang HTI. Saya ingin berbagi pandangan mengenai HTI dan konsep khilafah yang mendasarinya, mungkin bermanfaat. Saya peroleh bahannya dari seorang aktivis dan intelektual muda Islam, yang tidak pernah sekolah di luar negeri, S1 di UIN, S2 di UI dan S3 di Unpad, jadi tidak bisa dituduh sebagai agen dan pembawa ajaran asing.

    Khilafah singkatnya adalah konsep kepemimpinan tunggal dimana seluruh umat Islam di dunia ada dibawah satu Pemimpin yang dinamakan Khalifah sebagaimana yang ditunjukkan di zaman Khulafaurasyidin (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali Bin Abi Thalib).

    Dalam konsep itu, tidak ada batas-batas negara bangsa (nation state) dan tidak diakui kepemimpinan berdasarkan kebangsaan karena menurut mereka, itu berasal dari Barat. Mereka tidak mengakui adanya konsep nasionalisme karena nasionalisme itu merupakan produk dari barat.
    Mereka menolak demokrasi karena lagi-lagi demokrasi itu tidak ada dalam Islam dan merupakan produk dari Barat

    Hizbut Tahrir lahir di Yordania (dimana HT dilarang) berawal dari sempalan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tokoh utamanya Taqiyudin An Nabhani memandang bahwa Ikhwanul Muslimin masih mengakui adanya nation-state dalam politik Arab.
    Dalam pandangan pendukung Hizbut Tahrir di seluruh dunia, khilafah adalah satu-satunya institusi atau entitas politik yang bisa mempersatukan umat Islam seluruh dunia. Menurut mereka, hanya dengan khilafah, umat Islam sedunia dapat mengatasi berbagai masalah, semacam keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran, dan berbagai bentuk kenestapaan lain. Karena itulah, dari waktu ke waktu selalu ada kelompok di kalangan umat Islam yang mengorientasikan cita gerakan mereka untuk pembentukan khilafah. Di antara mereka ada yang bergerak secara damai atau kekerasan seperti ISIS.

    Padahal, konsep khilafah itu sendiri problematis dan utopian. Terdapat banyak perbedaan konsep dan praksis khilafah di antara para pemikir Muslim penggagasnya sejak dari Jamaluddin al-Afghani, ’Abdul Rahman al-Kawakibi, Abu al-A’la al-Mawdudi, sampai Taqiuddin al-Nabhani.

    Utopianisme khilafah juga terletak pada kenyataan bahwa kaum Muslim di sejumlah kawasan dunia telah mengadopsi konsep negara-bangsa berdasarkan realitas bangsa dengan tradisi sosial, budaya, kondisi geografis; dan pengalaman historis masing2. Karena itu, ”unifikasi” seluruh wilayah dunia Muslim di bawah kekuasaan politik tunggal merupakan angan-angan belaka.

    Ormas-ormas Islam Indonesia pernah membentuk Califat Comite seiring dengan penghapusan “khilafah” di Turki pada 1924 oleh kaum Turki Muda. Mereka bermaksud membela dan menuntut agar “khilafah” di Turki dihidupkan kembali. Merespons gejala ini, “the grand old man” Haji Agus Salim menyatakan, komite itu beserta khilafah tak relevan dengan Indonesia. Menurut beliau apa yang disebut “khilafah” di Turki adalah kerajaan despotik dan korup yang tak perlu dibela, apalagi diikuti umat Islam Indonesia. Pasca Califat Comite, khilafah hampir sepenuhnya absen dalam wacana pemikiran Islam di Indonesia. Ormas-ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah, tak pernah bicara tentang khilafah, sebaliknya menerima dan mengembangkan konsep dan praksis negara-bangsa Indonesia.

    Bagi Hizbut Tahrir, khilafah akan dicapai melalui tiga tahap: kultural, interaksi, dan revolusi. Pada tahap kultural, mereka akan menyebarluaskan gagasan khilafah kepada seluruh lapisan masyarakat, kaum Muslim khususnya, dengan beragam cara; diskusi, ceramah, penerbitan, dan cara persuasi lainnya. Tahap itu yang sekarang sedang mereka lalui di Indonesia.

    Setelah itu, tahap kedua, interaksi, infiltrasi, dan advokasi ke lembaga militer, keamanan, dan institusi2 kunci. Setelah semua terpengaruhi, dan jika momennya sudah tepat, mereka akan menegakkan hukum Islam. Dan, pada tahap inilah rezim khilafah dinyatakan berdiri.

    Gagasan mengenai khilafah sebetulnya tidak hanya diusung oleh HT, termasuk HT di Indonesia. Pada tingkat tertentu gerakan tarbiyyah yang condong ke Ikhwanul Muslimun, juga mencita-citakan negara Islam, meski namanya bukan khilafah. Mereka sama-sama mendambakan pemerintahan yang merujuk Al-Quran dan Sunnah.

    Selain kedua gerakan tersebut, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) malah sudah mendeklarasikan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai khalifah. Mereka mengklaim negara khilafah telah ditegakkan di wilayah yang mereka kuasai. Sejumlah hukum Islam telah mereka terapkan. Perempuan yang keluar rumah dengan pakaian selain warna hitam dihukum mati. Tentara musuh dibunuh bahkan ada yang dibakar hidup-hidup.

    Terlepas dari debat sesama pengusungnya, khilafah tidak mengenal demokrasi. Dalam khilafah tidak ada penyusunan hukum oleh representasi warga, apa pun latar belakangnya. Khilafah hanya mengakui hukum berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Tidak mungkin bagi penganut khilafah mengakui dasar negara lain, misalnya Pancasila. Meskipun sifatnya diametral namun khilafah sebetulnya serupa dengan komunisme, dengan diktator (proletariatnya), internasionalisme nya, dogmatismenya, militansinys, kebrutalan nya, brainwashing-nya, dan intoleransi nya terhadap perbedaan.

    Boston 11Mei’17
    Ginanjar Kartasasmita

  • Cerdas di Dunia Maya

    Oleh Muhammad Ruslailang

    Menjadi cerdas atau bodoh di dunia maya sebenarnya hanyalah pilihan mudah. Di internet, dengan kepesatan alur informasi yang demikian tinggi, kita bisa meraup berbagai informasi. Tulisan ini sekadar menghamparkan sejumput solusi bagaimana Anda bisa menjadi cerdas di dunia maya.

    Melalui internet [bil khusus social media], peluang anda untuk menjadi bodoh dan pintar sama besarnya, 50-50. Otak anda bisa makin tumpul kalau setiap hari diasupi dengan beragam link berita atau status yang hanya berisikan hujatan, serangan atau celaan ke golongan tertentu. Nyinyir dan sok merasa lebih cerdas dan mampu mengatasi masalah – walaupun hanya sekadar di status socmed, semua orang sepertinya bisa melakukannya.

    Terlalu mudah. Semudah anda juga akan dicap “haters” atau “bigot” karena terus-terusan bertingkah seperti anak kecil yang berbekal informasi copas sekadarnya sudah berani cuap-cuap gak karuan tentang hal-hal kenegaraan dan ketuhanan sambil menyerang pihak seberang. Itu kalau anda memilih untuk memanfaatkan peluang pertama.

    Nah peluang kedua, anda bisa berada di sisi sebelahnya. Menjadi pemakai internet yang positif. Daripada ikut-ikutan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, Anda bisa menjadi pembelajar yang kritis. Lakukanlah riset mudah dengan berselancar di dunia maya. Bukankah perintah agama, juga petuah bijak dari kearifan tradisional yang kita anut, meniscayakan keharusan untuk menggali lebih banyak informasi sebelum mengunyahnya menjadi keyakinan?

    Selain milyaran artikel penambah pengetahuan, semisal know-how atau motivasi [agama, self-help, popular science], juga bertebaran jutaan buku digital [ebook] yang bisa anda akses dengan gratis. Menurut Wikipedia, ada sekitar 6,000,000 ebook yang sudah diaplod ke berbagai website penyedia layanan ebook. Sebahagian besar adalah gratisan, termasuk yang disediakan googlebooks di mesin pencarinya.

    Bagi anda penyuka novel atau sastra, ada sekitar 21% ebook yang disajikan adalah genre fiksi. Tentu saja yang lebih banyak masih ebook jenis non-fiksi, terutama buku-buku ilmiah populer; komputer, sejarah, sains, agama, budaya, dan sebagainya. Anda penyuka penulis besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Rendra, ES Ito, hingga Gabriel Garcia Marquez dan Haruki Murakami? Buku-buku karya mereka bisa dinikmati hanya dengan sekali klik.

    Di salah satu web, karya Pramoedya dari Arus Balik, Tetralogi Pulau Buru, Gadis Pantai hingga beberapa kumpulan Cerpen Cerita Dari Blora tersedia dan bisa diunduh gratis.

    Wikipedia mencatat bahwa 42% dari ebook yang tersedia di internet itu tergolong non-fiksi, sebahagian besar mungkin buku serius untuk menambah pengetahuan Anda. Semacam perpustakaan besar untuk Anda meraup sebanyak mungkin pengetahuan. Anda bisa jadi sarjana, tanpa perlu memasuki jenjang formal kependidikan.