Pilpres 2019, Diamnya Muhammadiyah: Teringat AR Fachruddin

Simon kemudian melanjutkan kisahnya begini:

(Pak AR) Ke mana-mana dia naik sepeda motor Yamaha mungil warna oranye engkel tahun 70-an. Suaranya sudah keretek-keretek karena terlalu tua. Apalagi kalau boncengan sama Bu AR, joknya gak cukup sampai bokong Bu AR nyaris menduduki lampu belakang motor.

Ya, hanya motor Yamaha butut itulah kendaraan miliknya. Makanan keluarga Pak AR juga sama dengan anak-anak kos seperti saya. Tahu, tempe, sayur lodeh, sesekali ada telur dan ikan. Anak-anak kos yang orang tuanya kaya, seperti Bang Udin (mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM) jarang makan di rumah. Ia memilih lebih banyak makan di warung Padang yang ada di kawasan Terban.

Selain itu, di depan rumah Pak AR yang kini menjadi Gedung PP Muhammadiyah, berdiri sebuah kios bensin eceran. Kalau saat itu ketika hendak melintas ujung jalan Cik Di Tiro (sebelum sampai di bundaran UGM), motor Anda kehabisan bensin dan ingin beli di kios itu, maka jangan heran bila dilayani Pak AR.

Baca Juga:  Banyak Alasan Untuk Mengatakan Prabowo Akan Kalah di Pilpres 2019

Suatu ketika, saat kultum usai shalat Maghrib, Pak AR bercerita bila ada orang dari PT Astra datang mau memberi hadiah mobil Toyota Corolla DX tahun terbaru (1980) untuk Pak AR. “Piye iki (bagaimana ini–Red), nyopirmobil saja nggak bisa. Parkirnya sulit. Repot kalau bawa mobil apalagi kalau harus masuk ke kampung-kampung di pinggir Kali Code untuk ceramah. Jalannya sempit gak bisa untuk mobil,” kata Pak AR. Saya terpaksa menolaknya, ungkapnya enteng.

Di lain waktu, Pak AR juga pernah bercerita ditawari jabatan Menteri Agama berkali-kali oleh Pak Harto. Pak AR tetap menolaknya. “Saya sudah cukup ngurusi Muhammadiyah saja Pak Harto, terima kasih,” katanya.

Meski demikian, bukan berarti Pak AR tidak pernah minta bantuan kepada Pak Harto. Sehabis kultum Subuh, Pak AR bercerita. Beberapa hari lalu saya kirim surat ke Pak Harto. Isi suratnya sedikit atau pendek sekali.

KH. AR. Fachruddin

“Pak Harto, Muhammadiyah akan bangun universitas di Yogya. MenawiBapak kerso monggo (Kalau bapak berkenan menyumbang, ya silakan–Red),” itulah surat Pak AR kepada Pak Harto.

Baca Juga:  Kisah Sarung Bugis dan Dubes Bugis Di Qatar

Tak lama kemudian, Pak AR ditelepon ajudan presiden. Ada titipan dari Pak Harto untuk Pak AR. Benar, ada titipan cek yang cukup besar. Cek itu semua diserahkan ke kepada Panitia Pembangunan UMY.

Pak AR juga bercerita sering mendamaikan konflik antara militer dan tokoh-tokoh Islam. “Mendamaikannya cukup memakai tata krama Jawa yang halus,” kata Pak AR.

Kalau mentok, lanjutnya, ya ngomong ke Pak Harto. “Kalau sudah ke Pak Harto, semuanya selesai,” tuturnya.

Hubungan Pak AR dan Pak Harto memang sangat dekat. Komunikasinya pakai bahasa Jawa (Jawa krama/halus–Red). Pak Harto sangat menyukai Pak AR karena beliau tak pernah meminta apa pun untuk kepentingan pribadinya.

Tawaran menteri, jabatan, komisaris, mobil, rumah dari Pak Harto selalu ditolaknya. Kecuali untuk Muhammadiyah. Pak AR selalu ingat pesan KH Ahmad Dahlan: Hidup-hidupkan Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Pak AR tak pernah mau dikasih amplop kalau ceramah di manapun. Beliau paling suka kalau diundang orang-orang kecil di lembah Kali Code. “Kalau bukan saya yang ke Kali Code, siapa lagi,” ungkapnya.

Baca Juga:  Proklamasi itu Berat, Dilan. Kamu Tak Akan Kuat

Selain itu, aku juga selalu ingat pesan Pak AR. “Belajarlah untuk tidak mencintai dunia. Allah itu sangat pencemburu,” ujar Pak AR.

Pesan lain dari Pak AR yang juga terngiang sampai sekarang: “Kalau hatimu dipenuhi cinta dunia, lalu di mana tempat Allah di hatimu?”

(Artikel ini pertama kali dimuat oleh republika.co.id tanpa merubah judul dan isi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *