Tag: KH Ma’ruf Amin

  • Abah Kita (Bag. 4): Bandongan dan Sorogan

    Abah Kita (Bag. 4): Bandongan dan Sorogan

    Ini tentang Shonhaji yang berbeda. Ia hidup sekitar 1 abad lebih dulu dari murid Sunan Ampel yang kebetulan bernama sama. Nama lengkapnya Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash Shonhaji. Syekh Shonhaji.

    Hari itu Syekh Shonhaji mulai bimbang. Hari yang selama ini dinanti justru membuatnya ragu. Padahal hari itu ia akhirnya bisa menyelesaikan salah satu kitab, yang menurutnya akan membantu banyak orang yang ingin mempelajari ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab).

    Persoalannya bukan pada isi kitabnya, tetapi pada isi hatinya. Ia mulai meragukan apakah benar tujuan ia menulis kitab itu karena mengharap ridha Allah, atau berharap lain.

    Ia lalu memutuskan untuk membuang kebimbangan dengan cara membuang kitab itu. Menuju pantai, ia melempar kitab itu dan berserah, “Ya Allah. Jika kitab ini murni karena-Mu. Maka kembalikan ia padaku”.

    Sekembalinya ke rumah, Syekh yang juga dikenal sebagai Ibnu Ajurrum ini kaget. Kitab itu sudah kembali ke meja kerjanya. Tidak basah sedikit pun.

    Kitab itu kini populer -khususnya di kalangan pesantren- menjadi bacaan wajib dan bahkan jadi hafalan para santri. Ia populer dikenal sebagai Kitab Jurumiyah.

    * * *

    Salah satu kelebihan metode pengajaran pesantren adalah pada penguasaan teks kitab-kitab. Para Kiai tidak hanya mengajarkan santri tentang kajian Islam tematik, tetapi pemahaman teks baik bacaan maupun maknanya.

    Ada dua metode populer di pesantren seperti sempat disinggung sebelumnya. Yakni bandongan dan sorogan.

    Pertama, metode bandongan. Disebut ‘bandongan’ karena orang datang “berbondong-bondong” ke tempat pengajian.

    Bandongan biasa juga disebut wetonan, diambil dari kata ‘weton’ karena digelar hanya pada waktu-waktu tertentu.

    Tetapi karena dengan cara ini Kiai tidak bisa memastikan tingkat pemahaman santri per individu, maka di pesantren juga populer digunakan metode kedua.

    Metode kedua adalah sorogan. Sorogan berasal dari kata ‘sorog’ yang artinya “menyodorkan”. Dalam metode “sorogan” santri satu persatu menghadap dan membacakan kitab di hadapan Kiai.

    Di samping menekankan pada pengajaran individual (individual learning), metode ini juga sifatnya belajar tuntas (master learning) dan belajar berkelanjutan (continuous progress).

    * * *

    Abah Ma’ruf mengenang beberapa Kiai favoritnya di Tebuireng juga menggunakan metode-metode tersebut.

    Salah satu Kiai favorit Abah yang menggunakan bandongan adalah Kiai Syamsuri Badawi. Di antara kitab-kitab yang ia ajarkan adalah Jam’ul Jawami’ dan Hadits Muslim.

    Di setiap bulan Ramadhan, Kiai Syamsuri menamatkan pelajaran Hadits Muslim dalam 21 hari. Pengajian malam dimulai selepas tarawih sampai sahur. Dan pengajian siang dimulai pagi sampai dzuhur, dan dilanjut lagi sampai ashar.

    Kiai favorit yang Abah Ma’ruf ingat dengan metode sorogannya adalah Kiai Idris Kamali. Ia mengajarkan Qur’an dan Hadits, terutama Al-Baghawi, Al-KhazinIbnu Katsir, kitab Al-Itqan fi Ulumul al-Qur’an, dan Kitab Bukhari.

    Kiai Idris Kamali adalah murid langsung, yang juga kemudian menjadi menantu Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

    Selain kedua Kiai kharismatik itu, Kiai favorit Abah Ma’ruf lainnya adalah Kiai Tahmid, seorang ahli ushul fiqh. Cara Kiai Tahmid yang sangat argumentatif dalam mengajarkan kitab Iqna’ sangat mempengaruhi Abah Ma’ruf.

    Gaya bicara dan berargumen Kiai Tahmid inilah yang membentuk karakter Abah dalam seni berkomunikasi dan berdebat.

    Seni yang sangat akrab bagi kalangan santri. Apalagi untuk seorang Kiai yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/abah-kita-bag-4-bandongan-dan-sorogan/” text_color=”#000000″ bg_color=”#ffffff” icon=”” icon_position=”start” size=”14″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]

  • Abah Kita (Bag.3): Amanah Bagi Santri

    Abah Kita (Bag.3): Amanah Bagi Santri

    Jamaah yang membangun Masjid Ampel mulai rusuh. Mereka meragukan kredibilitas Mbah Sonhaji, santri yang ditunjuk Sunan Ampel untuk memimpin pembangunan masjid tersebut.

    Pasalnya, mereka tidak yakin ketepatan arah kiblat yang sudah ditentukan Mbah Sonhaji. Padahal, ia sudah menjelaskan bahwa keputusannya itu sudah melalui penghitungan yang matang. Tetapi jamaah terus saja memojokkannya.

    Demi menjaga amanah dan nama baik sang guru, sebagai santri yang sudah seharusnya menjadi na-ibul ‘ulama (wakil ulama), Mbah Sonhaji terpaksa melakukan sesuatu yang tidak lazim.

    Ia terpaksa melubangi tembok yang dia yakini sebagai arah kiblat, dan mempersilahkan mereka semua melihat ke dalamnya. Semua tercengang. Tidak percaya pada apa yang sedang mereka lihat.

    Yang tampak di balik tembok bolong itu adalah Ka’bah Baitullah yang berada di Kota Makkah. Rumah Allah yang menjadi kiblat masjid di seluruh dunia.

    Sejak itu, mereka pun tidak lagi meragukan kemampuan santri Sunan Ampel ini. Melainkan jadi sangat menghormati Mbah Sonhaji, dengan memberinya gelar sebagai Mbah Bolong.

    * * *

    Ada banyak versi tentang asal kata santri. Tapi salah satu yang menarik adalah penjelasan mantan Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama (NU) alm. KH. Sahal Mahfudh, karena menafsirkan tiap huruf di dalamnya.

    Menurutnya kata ‘santri’ berasal dari Bahasa Arab ”santaro” yang bentuk jamaknya ”sanatir”. Ia tersusun dari empat huruf -sin, nun, ta’, dan ra’- yang masing-masing memiliki makna antara lain:

    1. Sin bermakna “satrul aurati” (menutup aurat). Sebagai santri selayaknya memiliki kebiasaan berpakaian yang menutupi aurat. Artinya malu ketika setiap perilakunya bertentangan dengan syari’at dan norma yang ada.

    2. Nun bermakna “na-ibul ulama” (wakil dari ulama). Santri harus menunjukkan sikap mulia untuk menjaga nama baik gurunya. Termasuk menunaikan amanah sang guru dengan baik, sebagaimana Mbah Sonhaji.

    3. Ta’ bermakna “tarkul ma’ashi” (meninggalkan kemaksiatan). Artinya santri harus konsisten mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar. Tapi tentu semua dilakukan dengan cara ma’ruf (baik), bukan dengan cara yang juga munkar (buruk).

    4. Ra’ bermakna “raisul ummah” (pemimpin umat). Artinya santri harus mampu menjadi pemimpin yang bisa memberikan perubahan yang positif.

    * * *

    Memperhatikan amanah di atas, jelas menjadi santri tidak mudah. Termasuk juga proses pendidikan yang harus dilalui.

    Abah Ma’ruf masih mengingat jelas, bagaimana saat ia nyantri di Tebu Ireng dan beberapa pondok lainnya, di mana ia harus menguasai beragam cabang ilmu agama.

    Abah Ma’ruf sebenarnya sudah masuk Pesantren Tebu Ireng saat kelas enam Ibtidaiyyah (sekolah dasar). Ia mengenang bagaimana dia yang sekecil itu kemana-mana harus memanggul kitab Iqna’ yang tebal.

    Kitab yang lengkapnya berjudul Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’. ini adalah kitab klasik fiqh bermazhab Syafi’i. Di Mesir sendiri kitab ini baru dipelajari di madrasah menengah atas, tapi di Tebu Ireng kitab tersebut sudah harus Ma’ruf kecil kuasai di tingkat dasar Ibtidaiyyah.

    Masih untung jika kebetulan metode yang dipilih Kiai adalah bandongan. Dengan metode ini, Kiai akan membacakan, menerjemahkan, sekaligus menjelaskan maksud dari kitab yang dibacakan. Santri tinggal menyimak apa yang disampaikan Kiai.

    Tapi jika metode yang dipilih Kiai adalah sorogan, seluruh santri baru tentu akan panik. Sebab metode ini mengharuskan mereka untuk membaca kitab gundul langsung di depan Kiai. Kiai akan mengoreksi ketepatan pembacaan dan pemahaman santri pada teks kitab.

    Sementara bagi Abah Ma’ruf sendiri, tantangan terus berlanjut ketika ia pulang. Ma’ruf kecil yang ketika itu pulang pergi Jombang-Banten, pulang tidak untuk langsung beristirahat. Tetapi juga harus menghadapi sang Kakek, Kiai Ramli, yang menguji kesungguhan cucunya menuntut ilmu pesantren.

    Sekali lagi, menjadi santri memang tidak mudah. Ia status terhormat yang melalui proses panjang. Bukan sebutan yang bisa diberi begitu saja, hanya karena kepentingan agar diterima sekelompok ummat.

    Karena itu, ketika ada seorang Presiden sangat menghormati santri dengan -sejak tahun 2015- menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai ‘Hari Santri Nasional’, sangat tidak masuk akal jika orang terus menyebutnya sebagai anti-Islam.

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/abah-kita-bag-3-amanah-bagi-santri/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]