Penulis: Asri Kirana

  • Trik Ampuh Menipu Caleg Yang Katanya Akan Mewakili Rakyat di Parlemen

    Trik Ampuh Menipu Caleg Yang Katanya Akan Mewakili Rakyat di Parlemen

    Melalui tulisan ini saya akan berbagi trik tentang tatacara menipu calon legislatif (caleg) yang katanya akan mewakili kita di parlemen.

    Mendekati pileg mendatang, sebagai rakyat, atau minimal orang-orang yang dipaksa menjadi rakyat, kita harus memiliki pengetahuan yang cukup agar sukses menipu caleg. Sebab, kesuksesan seorang rakyat di abad ini dilihat dari sejauh mana mereka mampu menipu caleg. Tidak lama lagi, mungkin akan ada riset khusus terkait kemampuan rakyat menipu caleg. Kita tunggu saja.

    Sembari menunggu hasil riset yang penelitinya belum kita kenal, sekarang kita akan mencoba mengulas beberapa trik ampuh tersebut.

    Pertama, jika ada caleg yang meminta dukungan, segera sambut dengan ramah. Katakan bahwa rakyat membutuhkan orang-orang seperti dia. Katakan juga bahwa dia harus memantapkan pikiran dan tekad untuk maju. Puji dia setinggi langit, setinggi-tingginya. Khusus caleg-caleg baru, biasanya akan tergoda. Setelah itu, minta sedikit uang kopi untuk membicarakan pencalonannya dengan kawan-kawan. Kalu tipuan pertama ini berhasil, maka lanjutkan dengan tipuan berikutnya.

    Kedua, setelah caleg menaruh kepercayaan kepada kita, segera usulkan pembentukan tim sukses. Untuk tahap awal, silakan catat beberapa nama anggota tim sukses di kertas, kalau bisa diketik rapi dan dilengkapi dengan foto copi KTP. Untuk mendapatkan foto copi KTP, kita bisa meminta bantuan perangkat desa seperti kepala lorong. Setelah daftar nama-nama tim sukses diajukan kepada caleg, jangan lupa minta biaya administrasi.

    Ketiga, setelah tim sukses terbentuk, segera ajukan jadwal pertemuan tim sukses dengan caleg. Untuk mempermudah mengumpulkan orang-orang, usulkan agar pertemuan dilakukan di kedai kopi. Setelah usulan pertemuan dan tempat diterima, jangan lupa minta sejumlah dana untuk mengorganisir tim sukses dan biaya makan-minum saat acara. Agar keuangan aman terkendali, jumlah anggaran yang diajukan harus dikalikan dua, tiga, atau empat; sesuai kebutuhan.

    Keempat, pada hari pertemuan tim sukses, orang-orang harus dikumpulkan tiga puluh menit sebelum jadwal. Buat saja pengumuman di kampung bahwa ada acara makan-minum di kedai si A pada pukul sekian. Pada saat mereka sudah terkumpul, beri sedikit penjelasan kepada mereka, bahwa sebentar lagi akan ada caleg yang datang. Mereka boleh pesan kopi, jus dan makanan apa saja dengan syarat harus mengangguk apa saja yang akan disampaikan caleg. Ingatkan mereka agar jangan ada yang membantah. Jika perlu, atur beberapa orang untuk menipu si caleg bahwa di beberapa kampung, rakyat sudah sepakat memilih dia. Intinya beri motivasi kepada caleg. Tetap semangat!

    Kelima, pada saat caleg tiba di lokasi, sebelum acara dimulai, segera bisik kepada caleg agar nanti setelah acara disediakan sedikit uang transpor. Minta uang itu dititipkan kepada kita saja. Usahakan orang-orang yang sudah dikumpulkan tadi jangan sampai mengetahui persoalan uang transpor. Mereka cukup diberi makan minum dan rokok.

    Keenam, setelah pertemuan selesai, segera sampaikan kepada caleg bahwa tim sukses membutuhkan spanduk, baliho, stiker banner dan kartu nama. Minta agar caleg mencetak dalam jumlah banyak, karena tim sukses kita sangat ramai. Usahakan dan rayu si caleg agar dia memercayakan kita untuk mencari percetakan yang pas. Ini penting agar kita juga mendapat keuntungan di percetakan.

    Ketujuh, pada saat alat peraga kampanye tersebut selesai dicetak, segera temui caleg untuk meminta biaya distribusi kartu nama, stiker, banner spanduk dan baliho. Untuk spanduk dan baliho jangan lupa minta juga biaya tambahan untuk membeli tali dan tiang. Biasanya harga tali dan tiang lebih mahal dari spanduk/baliho. Satu lagi, ongkos pasang harus di atas UMP.

    Kedelapan, kalau biaya distribusi sudah dicairkan, segera keliling kampung. Untuk menghemat anggaran, kartu nama dan stiker bagikan saja sendiri di kedai-kedai kopi dan tempat keramaian, atau minta anak-anak yang punya sepeda untuk membagikannya ke rumah-rumah di kampung. Biasanya anak-anak tidak meminta bayaran mahal. Untuk memasang spanduk dan baliho, silakan ajak beberapa pengangguran di kampung dengan sistem kerja borong. Dengan pola ini akan banyak uang yang tersisa.

    Kesembilan, segera usulkan kepada caleg untuk melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan para pemuda. Untuk meyakinkan si caleg, pada saat bertemu , ajaklah satu atau dua orang teman yang mirip tokoh, misalnya yang sering pakai peci. Pada saat usulan sudah diterima, segera minta dana dari caleg untuk mengatur pertemuan dengan para tokoh; sewa tempat dan konsumsi. Lebih baik pertemuan dilaksanakan di aula hotel. Jangan lupa buat perjanjian komitmen fee dengan penyedia tempat dan konsumsi. Sampaikan juga tentang uang saku perserta pertemuan kepada caleg. Tapi, seperti biasa, jumlah uang saku ini jangan sampai diketahui oleh peserta agar nanti dana ini bisa kita cubit sedikit.

    Kesepuluh, setelah semuanya beres, segera cari tokoh untuk diangkut ke tempat acara. Tidak perlu susah-susah, ajak saja beberapa orang ketua pemuda, kepala desa dan beberapa orang teungku. Atau kalau tidak ada teungku, cari saja orang-orang yang wajah dan pakaiannya mirip teungku. Katakan kepada mereka bahwa acara ini hanya ceramah politik biasa, tugas mereka hanya mendengar saja. Agar mereka bersemangat kabarkan juga bahwa dalam acara ini disediakan uang saku, dan nanti kalau caleg itu terpilih mereka bisa memasukkan proposal. Kemudian, pada saat acara berlangsung, jangan lupa *menyetel* beberapa tokoh tersebut untuk menyampaikan kepada caleg bahwa dia sangat berpotensi untuk menang. Informasi bohong ini penting diketahui oleh caleg agar ia semakin percaya dengan kita.

    Kesebelas, biasanya kalau pertemuan dengan tokoh ini sukses, si caleg akan mengundang kita secara khusus ke rumahnya. Sampai di sana dia akan menepuk bahu kita dan memberikan sejumlah bonus. Jangan lupa gunakan kepercayaan ini untuk memasang tipuan selanjutnya. Segera usulkan untuk persiapan saksi menjelang pileg. Untuk tahap pertama minta dana perekrutan saksi, kemudian biaya pelatihan saksi. Sebagai saksi cari saja anak muda pengangguran di kampung, pasti mereka bersedia. Untuk pelatihan saksi cukup buat pertemuan kecil saja guna menghemat anggaran.

    Keduabelas, menjelang pileg, segera panggil saksi untuk dipertemukan dengan caleg. Ini penting agar si caleg tidak ragu atas kerja kita sehingga ia pun akan berani mengeluarkan sejumlah dana untuk biaya saksi. Tapi, kepada para saksi jangan pernah sampaikan berapa total biaya saksi yang diberikan caleg. Hal ini penting diingat agar nantinya kita bisa memotong dana saksi tanpa diketahui oleh saksi dan caleg sendiri. Dan, jangan lupa meminta mobil operasional plus BBM dari caleg untuk mengontrol kerja saksi di hari H.

    Ketigabelas, pada hari H sebaiknya kita menjaga jarak dengan caleg. Kalau perlu merantau sejenak ke luar kota. Dari sana kita melakukan pemantauan dengan cara menelepon para saksi setelah penghitungan suara. Jika si caleg menang, maka secepat kilat kita harus menjumpai caleg untuk melaporkan kesuksesan kita. Tapi, seandainya terjadi kecelakaan sehingga caleg kalah, maka segera matikan HP dan melanjutkan perantauan. Tentunya selama menipu caleg beberapa bulan, atau mungkin setahun, modal kita sudah lebih dari cukup. Bukan tidak mungkin, dengan modal itu, lima tahun ke depan kita bisa mencalonkan diri sebagai caleg tanpa bisa ditipu oleh siapa pun, sebab kita sendiri sudah berpengalaman menipu.

    Semoga trik ini bermanfaat bagi kita semua.

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/trik-ampuh-menipu-caleg-yang-katanya-akan-mewakili-rakyat-di-parlemen/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]

  • Orang-Orang Kaya Yang Mengaku Hidupnya Makin Sulit

    Orang-Orang Kaya Yang Mengaku Hidupnya Makin Sulit

    Oleh: Rhenald Kasali*

    Sambil senyum-senyum saya membaca keluh kesah kawan-kawan saya. Meski hidupnya enak, rumah besar, ada mobil, pesta pernikahan anaknya wah, bahkan ada yang memelihara hewan-hewan mahal, tetapi tak semua merasa makin kaya. Perhatian saya justru pada teman-teman yang “merasa makin miskin.”

    Well, tak ada yang mengatakan kini kehidupan jauh lebih enak. Namun, ada konsekuensi dari keinginan kita yang menuntut perubahan, apalagi ini era disrupsi.

    Di sisi lain, saat tatanan ekonomi dunia chaos, selalu ada energi besar yang memicu kreativitas, bahkan mencuri kemenangan. Persis seperti tim Indonesia dalam Asian Games 2018 ini. Sometimes you win and sometimes you learn.

    Kembali ke kawan-kawan tadi. Dalam WA grup. Sama seperti Anda, kami juga membahas segala “kesulitan.” Tapi belakangan saya sering bertanya, orang kaya, kok merasa hidupnya susah?

    Suka Mengatasnamakan Rakyat

    Akhirnya saya mulai sungguhan melakukan riset. Persis seperti waktu kuliah S-3. Saya kelompokkan mereka berdasarkan tempat tinggal dan simbol-simbol kekayaan yang mereka pamerkan.

    Saya juga menelisik apakah mereka punya “calling” sosial atau tidak, semisal kontribusi dalam pendidikan, kesehatan, atau pembinaan anak-anak muda yang motifnya bukan kekuasaan atau kelompok identitas, melainkan yang altruistik, dengan ketulusan.

    Saya lakukan analytics kata-kata kunci yang sering sekali mereka ucapkan. Memakai semacam big data.

    Ternyata kata-kata negatif, benci pada keadaan, justru banyak dikeluarkan oleh mereka yang hidupnya, maaf, kering-kerontang atau yang terbiasa mengedepankan identitas kelompok. Padahal, sekali lagi, mereka tidak miskin.

    Sayangnya, mereka juga mudah dihasut kebencian, padahal Tuhan sudah pernah memberi kesempatan sebagian mereka untuk berkuasa menjadi pejabat atau pemimpin.

    Dan yang lebih menarik lagi, mereka yang merasa hidupnya tambah susah itu, selalu terkait dengan kata “rakyat.”

    Maksud saya, mereka sering sekali mengatasnamakan rakyat. “Rakyat hidup semakin sulit,” “harga-harga yang harus dibayar rakyat terus melambung,” “daya beli turun.” Dan akhirnya “Rakyat di desa hidup merana, pekerjaan sulit.”

    Mereka membuat rakyat merasa lebih susah, padahal rakyat yang dimaksud itu harus diajarkan keluar dari perangkap kepindahan (the great shifting), supaya usahanya kembali pulih dan ekonomi tumbuh lebih tinggi lagi.

    Setiap kali melihat “rakyat susah” mereka ikut susah, tetapi hatinya tak tergerak sama sekali untuk mengulurkan bantuan, selain kata-kata.

    Sementara teman-teman saya yang justru berjiwa sosial, tidak sekalipun mengatasnamakan rakyat.

    Hartanya Naik

    Pergunjingan pun beralih ke soal harta. Sebab sewaktu nilai rupiah terdesak, kawan-kawan saya yang merasa susah itu menawarkan asetnya untuk dijual. Ya rumah, apartemen, tanah, bahkan barang-barang tertentu.

    Sama seperti Anda, saya berpikir mereka sedang butuh uang (BU), “pasti harganya turun.” Ternyata mereka berkata lain. “Tidak dong. dollar naik, harga tanah dan bangunan juga naik dong.” Ternyata mereka tidak sedang BU, tetapi mencari keuntungan juga.

    Saya semakin terkesima saat membaca Twitter yang dikirim seorang anak muda tentang besarnya kekayaan calon-calon presiden dan wakil presiden. Ternyata sama saja. Besar harta mereka setahun terakhir ini naik fantastis. Tetapi dalam pernyataannya, mereka selalu mengatasnamakan rakyat dan merasa hidup di sini semakin susah.

    “Rada ngga nyambung,” sergah anak muda yang menulis itu di Twiter.

    The Empty Raincoat

    Hampir 20 tahun lalu, saat dunia mulai mengenal internet, Prof Charles Handy mengajak kita “making sense of the future.” Ya, mengendus masa depan. Ia menyebut fenomena ini sebagai the empty raincoat. Sebuah perasaan yang berbeda dengan realitas yang ada.

    Wajar bahwa orang-orang bingung, selalu membuat kebingungan. Kalau mereka tak kontrol mulutnya dan kebijaksanaan tak datang menemui hari tuanya, maka kesusahan akan menjadi sahabat teman-teman dan bangsanya. Sesungguhnya, orang yang banyak mengeluh adalah orang yang dikeluhkan teman-temannya.

    Ini disindir Handy dalam Paradox of Riches. Tentu orang yang semakin kaya (secara ekonomi) merasa lebih punya kontrol dan maunya lebih dan lebih banyak lagi. Tetapi celakanya, ada semakin banyak harta yang tak bisa dimiliki orang berada pada harga berapa pun.

    Ekonom menyebut hal itu sebagai public goods, dan untuk menikmatinya kita harus berbagi tempat (sharing space) dengan orang lain. Anda bisa membeli mobil, tapi jalanannya harus berbagi dengan orang lain.

    Ketika perekonomian membaik dan daya beli naik, semua orang bisa memilikinya. Kini Anda harus berbagi kemacetan, bahkan ada kalanya tak bisa dipakai karena aturan ganjil-genap. Anda tak bisa membeli kelancaran lalu lintas berapa pun besarnya uang Anda selain berbagi hari dan mau diatur.

    Udara dan air bersih, lingkungan yang aman, politik yang menenteramkan, masyarakat yang tidak pemarah, dan seterusnya juga sama saja.

    Paradox of Poverty

    Kini teknologi semakin memudahkan. Bekerja dari rumah misalnya. Dulu keduanya dibentangkan oleh jarak dan waktu. Jadi banyak yang bisa diselesaikan dengan waktu yang lebih sedikit (working less time). Tetapi, kini ada tuntutan untuk bekerja serba cepat. Bekerja dari rumah berarti tak punya waktu juga karena begitu banyak yang harus dan bisa dikerjakan. Pusing, bukan?

    Tetapi, masih ada yang lebih paradox. Ini soal bagaimana kaum superkaya memaknai arti kemiskinan? Maksud saya, kalau tak pernah hidup melarat lalu ujug-ujug bisa menjadi presiden atau wakilnya, benarkah mampu membuat program yang meaningful untuk memberantas kemiskinan?

    Saya beri contoh saja Donald Trump yang superkaya itu. Sama seperti politisi-politisi kaya Indonesia yang menjual kemelaratan (poverty) dan “penderitaan rakyat” sewaktu kampanye, Trump membekukan Obama Care yang pro poor. Tetapi di lain pihak, Trump justru mengusir para imigran miskin dan menurunkan pajak perusahaan-perusahaan besar dari 35 persen menjadi 21 persen.

    Saya semakin tertegun ketika membaca buku Homo Deus yang ditulis profesor Yuval Noah Harari: A Brief History of Tomorrow. Ia mengingatkan:

    “Saat negara-negara terfokus mengentaskan kemiskinan, kita menemukan pembunuh terbesar umat manusia. Bukan lagi kurang gizi, penyakit menular atau terorisme, melainkan gula.”

    Ada paradoks antara eating too little (yang mengakibatkan kurang gizi) vs eating too much (yang mengakibatkan diabetes dan obesitas).

    Science telah turut mengatasi banyak masalah kaum papa. Di Indonesia, dengan program dana desa yang generous kita menyaksikan telah ada lebih dari 100.000 km jalan desa. Penyakit-penyakit menular pun cepat diberantas.

    Tetapi, tiga pembunuh terbesar manusia Indonesia menurut survei yang dilakukan oleh Balitbangkes (Sample Registration Survey) adalah diabetes, stroke, dan penyakit jantung. Ketiganya, konon banyak diderita kelompok kaya. Bukan kaum miskin.

    Di sisi lain, ditemukan realitas bahwa komplain besar terhadap layanan BPJS Kesehatan, ternyata bukan dari kaum miskin, melainkan kelas menengah yang malas bayar iuran. Mereka lebih mengedepankan hak ketimbang kewajibannya. Bisa dibayangkan, masa depan layanan yang generous ini kalau kelak negara dipimpin orang kaya seperti Trump.

    Begitulah kita menyaksikan sebagian orang-orang kaya yang merasa hidupnya semakin sulit. Mereka komplain apa saja, mulai dari ganjil-genap, jalan yang jauh di bandara, parkir yang padat, demo yang dilarang, sampai tadi itu: kok hidup jadi lebih susah?

    *Penulis adalah Akademisi dan praktisi bisnis yang juga guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sejumlah buku telah dituliskannya antara lain Sembilan Fenomena Bisnis (1997), Change! (2005), Recode Your Change DNA (2007).

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/orang-orang-kaya-yang-mengaku-hidupnya-makin-sulit/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]

  • Trio Putin-Erdogan-Rouhani Permalukan Arab

    Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

    Sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT) telah diselenggarakan di Ankara, Turki, pada Rabu lalu (04/04). Agenda besar konferensi membahas masa depan Suriah. Yang menarik, tak seorang pun dari pihak Suriah — baik Presiden Bashar Assad dan rezimnya maupun kelompok-kelompok oposisi — yang terlibat dalam konferensi.

    Juga para pemimpin Arab. Tak ada satu pun dari mereka yang menghadiri KTT itu. Justru yang menjadi aktor utama KTT adalah Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Iran Ayatullah Hassan Rouhani.

    Ketiga negara itu bukan Arab. Turki dan Iran memang bagian dari Timur Tengah tapi bukan Arab. Sedangkan Rusia berada di ujung dunia, ribuan kilometer dari Suriah. Sedangkan Suriah sendiri merupakan anggota Liga Arab — beranggotakan 22 negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa.

    Baca juga: Tiga Negara Ini Bukan Sekutu tapi Bersatu Demi Suriah

    Seorang pengamat Timur Tengah menyebut KTT trio presiden bukan Arab yang membahas salah satu negara Arab jelas menggambarkan kondisi Suriah yang acakadut.  Juga kondisi para pemimpin dunia Arab itu sendiri. Seolah trio pemimpin bukan Arab itu ingin mempermalukan para pemimpin Arab.

    ‘’Lihatlah, wahai para pemimpin Arab!  Boro-boro kalian menyelesaikan masalah Suriah, persoalan Palestina saja yang sudah berlangsung selama puluhan tahun tidak bisa kalian selesaikan.’’

    Pengamat tadi dari Saudi, bernama Masyary al-Thaidy. Menurutnya, melihat foto atau video yang memperlihatkan trio Erdogan-Putin-Rouhani tersenyum – saat konferensi pers usai KTT — justru menunjukkan kondisi dunia Arab yang suram.‘’Hari ini kami mengumumkan secara resmi berakhirnya perang di Suriah,’’ ujar  Rouhani.

    ‘’Kami sepakat bekerja sama menyelesaikan krisis Suriah,’’ kata Putin.

    ‘’ISIS dan semua kelompok teroris serta yang mendukung mereka tidak dapat berkontribusi pada pembentukan perdamaian abadi di Suriah,’’ Erdogan menjelaskan.

    Kata ‘teroris’ dari Erdogan itu merujuk pada kelompok-kelompok Kurdi yang selama ini berjuang menuntut kemerdekaan dari Turki. Mereka menggunakan wilayah perbatasan dua negara — Turki-Suriah — sebagai basis perjuangan. Amerika Serikat (AS) selama ini dianggap mendukung perjuangan Kurdi. Itulah sebabnya AS tidak dilibatkan dalam KTT tripartit itu, meskipun mereka ikut memerangi sebuah kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

    Ketiga negara — Turki, Rusia, dan Iran — sebenarnya mempunyai banyak perbedaan. Iran adalah Syiah, Turki merupakan negara Suni, sedangkan Rusia negara komunis yang kini jadi sekuler. Rusia dan Iran sejak awal mendukung rezim Bashar Assad.

    Sementara itu, Turki mendukung kelompok-kelompok oposisi sejak muncul konflik di Suriah tujuh tahun lalu. Hanya satu yang menyamakan ketiga negara itu, masing-masing mempunyai kepentingan di Suriah.

    Dukungan Iran kepada rezim Presiden Assad sebagai upaya untuk membuka jalur Syiah: Iran-Irak-Suriah-Lebanon (Hizbullah). Presiden Assad adalah Syiah, sedangkan mayoritas warga Suriah adalah Suni.

    Di pihak lain, Putin — yang masih dalam eforia kemenangan atas terpilihnya kembali sebagai Presiden Rusia — berambisi untuk menebar pengaruhnya di Timur Tengah melalui Suriah. Pengaruh yang selama ini didominasi oleh AS. Ia sangat membutuhkan dukungan Erdogan untuk memberikan ‘perlindungan’ yang diperlukan melawan tuduhan bahwa intervensi Rusia di Suriah adalah perang terhadap umat Islam.

    Apalagi serangan pasukan Suriah yang didukung penuh militer Rusia — baik udara, darat, maupun laut — telah menewaskan puluhan ribu warga.

    ‘Perlindungan’ itu diperlukan lantaran Putin tidak mau mengulang pengalaman pahit dulu ketika Uni Sovyet mengintervesi Afghanistan. Intervensi militer Uni Sovyet saat itu dianggap sebagai perang melawan umat Islam. Karena itu, bukan suatu kebetulan ketika penasihat Kremlin baru-baru ini menegaskan kepada para tokoh Muslim di seluruh Federasi Rusia bahwa keberadaan militer Rusia di Suriah mendapat dukungan dari pemimpin Muslim Suni Presiden Erdogan.

    Sebaliknya, Erdogan juga membutuhkan Putin agar serangan militer Turki terhadap kantong-kantong Kurdi di wilayah Suriah tidak diganggu-gugat oleh rezim Assad. Dan, itulah yang terjadi. Pasukan Rusia dan Suriah benar-benar menutup mata terhadap berbagai serangan militer Turki ke wilayah-wilayah Kurdi.

    Bahkan Erdogan sepertinya diberi keleluasaan untuk menguasai wilayah-wilayah Kurdi yang sebenarnya menjadi bagian dari kedaulatan Suriah. Dukungan Putin kepada Erdogan juga telah menghentikan berbagai kecaman keras dari pihak Iran atas sepak terjang militer Turki di wilayah Suriah.

    Sebagai politisi berpengalaman, Erdogan tampaknya paham betul bahwa ia harus mengambil peran penting di tengah adu kekuatan antara negara-negara besar. Dalam hal ‘permainan pengaruh’ di Suriah, ia merasa akan lebih baik buat Turki bila memihak kepada Rusia dalam berhadapan dengan kekuatan besar lainnya yang diwakili oleh AS. Apalagi AS selama ini mendukung perjuangan Kurdi.

    Lalu apakah peran atau pengaruh AS di Suriah benar-benar habis dengan KTT Tripartit ini? Apalagi Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan akan segera menarik semua pasukannya dari Suriah?

    Baca juga: Tiga Negara Ini Bukan Sekutu tapi Bersatu Demi Suriah

    AS — bersama negara-negara lain — selama ini merupakan kekuatan utama dalam perang melawan ISIS. Ia juga penyokong utama keberadaan kelompok-kelompok Kurdi. Sekitar 2 ribu pasukan AS kini masih berada di Suriah Utara sebagai bagian dari misi melawan sisa ISIS, yang sebelumnya menguasai daerah tersebut.

    Wilayah ini merupakan basis kelompok-kelompok Kurdi. Kini, dengan rencana Trump menarik pasukan AS dari Suriah, warga Kurdi pun khawatir. Mereka kini tanpa dukungan.

    Amerika Serikat selama ini pun merupakan sekutu utama negara-negara Arab, khususnya negara-negara Teluk. Bahkan puluhan tahun AS telah menjadi ‘penjaga’ keberadaan negara-negara Teluk, terutama untuk melawan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

    Karena itu KTT di Ankara dengan tiga aktor utama Erdogan, Putin, dan Rouhani sulit dikatakan sebagai pengulangan Konferensi Yalta dalam tingkat yang lebih kecil, regional Suriah.  Konferensi Yalta adalah KTT yang dihadiri oleh tiga tokoh Sekutu — Winston Churchill (Inggris), Franklin D. Roosevelt (AS), dan Joseph Stalin (Uni Sovyet) — untuk mengakhiri Perang Dunia II. Konferensi ini juga sekaligus untuk membicarakan pembagian pampasan perang (baca: pengaruh) di antara negara-negara pemenang perang terhadap mereka yang kalah.

    Suriah tentu bukan Jerman, Jepang, dan Italia sebagai pihak yang kalah dalam PD II, meskipun Presiden Bashar Assad kini hanyalah boneka dari Presiden Putin. Konflik di Suriah banyak yang terlibat. Di dalam negeri ada kelompok-kelompok oposisi, ada Kurdi, dan ada rezim Bashar Assad sendiri.

    Di luar itu ada kekuatan-kekuatan regional dan internasional yang juga terlibat. Ada negara-negara Arab yang tidak menginginkan rezim Assad, ada Turki, Iran, Rusia, AS, negara-negara Eropa, dan seterusnya.

    Namun, KTT di Ankara dengan aktor utama Erdogan, Putin, dan Rouhani  untuk membicarakan masa depan Suriah jelas menggambarkan ketidak-berdayaan para pemimpin Arab. Ketidak-berdayaan yang disebabkan perbedaan sikap dan perseteruan di antara mereka sendiri. Sedangkan masa depan Suriah akan tetap menjadi misteri. Perebutan pengaruh akan terus berlangsung. Korbannya adalah rakyat Suriah.

    (Pertama kali dimuat di republika.id edisi 9/4)

  • Opini Imam Shamsi Ali: Membaca Gelombang Takdir!

    Oleh: Imam Shamsi Ali*

    Memasuki tahun pemilu, baik pilkada ditahun 2018 maupun pilpres di tahun 2019, perlu diingatkan kembali tentang “realita” (HAQ) di atas segala realita. Realita “keputusan” (qadha) di atas realita keputusan apapun. Itulah realita dan keputusan Allah SWT. Hiruk pikuk pemilihan pejabat publik kerap kali menjadikan banyak kalangan buta dengan penghulu realita (master of all realities) itu.

    Hidup manusia itu mengikut irama gelombang qadar Ilahi. Gelombang ombak yang dahsyat, bergerak sesuai pergerakan kehendak Pencipta kehidupan dan kematian (khalaqal mauta wal hayaata). Dan  kehendak Dia itulah akan dan pasti terjadi. Tiada keraguan (laa raeb) padanya sedikitpun.

    Anda hidup karena Dia yang “Al-Muhyii”.

    Anda makan karena Dia yang “Ar-Razzaq”.

    Anda kaya karena dia yang “Al-Ghany dan Al-Mughny”

    Anda kuat karena dia “Al-Qawii”.

    Anda mampu karena Dia yang “Al-Qadiir”.

    Bahkan anda berkuasa karena Dia yang “Maalikal mulk”.

    Dan ingat, suatu ketika anda pun mati juga karena Dia yang “Al-Mumiit”.

    Permasalahan sesungguhnya bukan pada pergerakan gelombang hidup. Bukan pada pergantian warna warni kehidupan. Karena itu pasti, harus dan alami. Naik turunnya pergerakan hidup, hitam putihnya warna hidup, pahit manisnya rasa hidup itu bukan masalah. Karena sekali lagi itu mutlak, bahkan bagian dari proses alami yang terjadi dalam hidup.

    Masalahnya justeru ada pada suasana “tatanan jiwa” manusianya. Semakin mapan jiwa manusia semakin kokoh, bahkan menikmati setiap detak pergerakan itu. Bahkan sungguh luar biasa ajibnya sikap manusia yang mapan kejiwaannya. “Ajaban liamril mukmin. In ashobathu sarraa syakar. Wa in ashoobathu dhorraa shobar. Wa fii dzalika kulihi khaer”.

    Sebaliknya kerapuhan dan kekerdilan jiwa manusianyalah, yang menjadikan pergerakan itu menimbulkan dua kemungkinan penyakit sosial (social sickness):

    1) Jika pergerakan itu menanjak, memihak dan menyenangkan maka dia akan membusungkan dada. Bahkan seringkali berusaha membusungkan dada, tidak mau dikalah, walau takdir memaksanya untuk terkalahkan dan dikalahkan.

    2) Tapi jika pergerakan itu melongsor turun, menungging, tidak memihat kepada ambisinya, yang terjadi adalah “sakit hati” dan dendam kusumat. Kerap kali dendam kusumat itu menampakkan diri pada momen-momen tertentu.

    Jiwa kerdil seperti ini terjadi pertama karena memang kegagalan memahami konsep tauhid itu sendiri. Konsep tauhid itu mengajarkan bahwa semua pergerakan hidup, semua warna dan bentuk hidup itu adalah proses, dan terkendali secara tunggal di antara jari jemari Ilahi. Konsep “biyadihi al-mulk” dan “ilaihi yurja’u al-amru kulluh” belum terhayati secara baik dan benar.

    Sejatinya memang keberhasilan atau kagagalan itu ditentukan secara mutlak oleh yang mengendalikan semua pergerakan di alam semesta ini. “Allahumma laa mani’a limaa a’thoeta wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa raadda limaa qadhaet”.

    Kegagalan dalam memahami tauhid ini berakibat pula kepada kegagalan dalam menerima kenyataan qadar dan qadha Ilahi. Dan hati yang gagal menerima kenyataan aadar dan qadha inilah yang rentang terjangkiti penyakit jiwa. Iri hati, dengki dan hasad menjadi bayang-bayang hidupnya.

    Penyakit yang bagaikan bara api yang panas ini ketika bertengger dalam jiwa  seseorang, menjadikannya merana, menggelepar kepanasan bagaikan cacing terhempas ke daratan panas.  Tidak akan pernah merasakan ketemangan  dan tidak akan pernah menenangkan. Menanggng derita dan kebinaan sendiri (self destruction) bahkan melakukan berbagai tindakan destruktif, baik dalamp kata maupun aksinya.

    Merajut jiwa

    Perjalanan hidup manusia itu tercatat dan akan menjadi catatan sejarah hidupnya. Minimal akan menjadi sejarah bagi diri sendiri, yang setiap orang akan membacanya pada masa yang telah ditentukan.

    “Iqra’ kitaabak…kafaa biNafsikal yauma alaika hasiba”, kata manual hidup manusia.

    Dan kerenanya setiap detak perjalannnya akan menjadi bagain dari catatan pertanggung jawaban itu. Di saat anda berumur 1 – 2 tahun anda bagaikan adonan yang dibentuk oleh orang tua, khususnya Ibu. Mau dijadikan gorengan apapun sesungguhhnya ada di tangan siapa yang membentukmu.

    Memasuki umur 3-6 tahun terjadi pergesekan antara pengaruh orang lain dan upaya diri sendiri dalam mewarnai jiwa seseorang. Dalam dunia teknologi dan kemajuan informasi dan telekomunikasi, anak pada fase inipun terkadang dibentuk oleh mainannya.

    Usia 6-12 tahun masa membangun fondasi. Masa menentukan soliditas atau kerapuhan fondasi jiwanya. Wajar saja kalau fase ini sekolahnya dikenal dengan “sekolah dasar”. Ibarat bangunan sedang terjadi penataan fondasinya.

    Tapi sejatinya bangunan kehidupan itu akan mulai terbentuk warnanya ketika memasuki umur 12 ke atas. Masa itu sebuah gedung dapat dinilai secara kasat, baik atau buruknya. Dalam bahasa agama, di saat inilah seseorang memulai pertanggung jawaban, memasuki umur “akil dan balig”.

    Perjalanan selanjutnya adalah masa 18 – 25 tahun. Sebuah rentang kehidupan untuk meneruskan membangun, memperkokoh dan mempercantik hidup anda. Masa ini adalah masa membangun warna karakter hidup.

    Di saat mencapai umur 25 hingga 40 tahun anda  memasuki tingkat kematangan dalam kedewasaan. Umur nikah, bekerja dan membangun masa depan warna kehidupan. Pada rentang masa itu bangunan itu masih bisa bongkar pasang, menata untuk masa yang tiada kembali.

    Di saat anda memasuki umur 40 tahun berarti anda mencapai tingkat kedewasaan tertinggi. Wajar jika kenabian nabi-nabi dimulai ketika berumur 40 tahun. Kecuali Isa AS tentunya. Posisi ini tidak bertahan lama. Antara 40, 50, maksimal 65 tahun. Itulah rata-rata umur umat Muhammad SAW.

    Kenyataan inilah yang diingatkan oleh Rasul bahwa jika anda yang berumur 40 tahun atau lebih, tapi anda tidak melakukan perubahan, acuh dengan pembenahan karakter, tunggu akibat yang tiada berujung.

    Di saat masanya anda berbenah, tapi anda biarkan bocoran atap rumah anda, atau dinding rumah anda dimakan rayap, maka tunggu kehancuran dan keruntuhannya.

    Demikianlah ketika anda sudah melewati 40 tahun tapi penyakit jiwa tidak diobati, bahkan berakibat kepada tumbuhnya prilaku destruktif; angkuh, busung dada, iri hati dan hasad, sering mengharap dipuji tanpa dasar (yuriiduuna an yuhmadu bimaa lam yaf’alu). Di saat itu berhati-hatilah jangan-jangan itu memang tabiat dasar anda. Khawatirnya tabiat itulah yang anda akan bawa hingga ke liang kubur.

    Ada orang sakit hati karena disakiti atau dizholimi orang lain. Itu wajar dan alami. Tapi seringkali keanehan terjadi. Ada orang yang sakit hati tanpa sebab. Hanya karena orang lain di sekitarnya dianggap lebih dari dirinya, dan menjadi ancaman, entah itu kenyataan atau sekedar ilusi.

    Jika hal seperti ini terjadi pada seseorang, sungguh sebuah penyakit kronis yang berakibat destruktif, baik pada dirinya sendiri maupun lingkungannya.

    Penyakit jiwa tanpa sebab  ini rata-rata terjadi ketika seseorang berambisi selangit, sementara kemampuan secuil. Nafsu setinggi langit, tapi energi positifnya loyo. Menjadikannya ibarat katak di bawah tempurun. Ingin terbang apa daya sayap terputus secara khalqi.

    Akibatnya orang ini akan dijangkiti penyakit murakkab (berlipat ganda). Di satu sisi karena ambisi itu akan semakin memaksakan diri untuk sesuatu yang di luar kapasitasnya. Di sisi lain dengan mudah menyalahkan, jika tidak orang lain, maka dirinya akan menjadi bulan-bulanan kemarahan. Itulah kenyataan di dunia modern, betapa keputus asaan, bahkan bunuh diri menjadi “salvation” (penyelamatan) pintas.

    Atau akan nampak dalam prilaku sosial dan lingkungannya. Pada tataran rumah tangga misalnya, tingkat kekerasan rumah tangga (domestic abuses) dan percaraian drastis meninggi. Justeru itu terjadi di saat semua fasilitas duniawi lebih tersedia. Dari kampung, ke kota-kota besar, hingga ke jantung dunia bahkan Hollywood, fenomen ini nyata di depan mata kita semua.

    Itulah akibat kerapuhan mental, atau bahkan tidak berlebihan jika saya menyebutnya “mental disorder” (penyakit mental).

    Orang yang berpenyakit mental yang demikian biasanya hanya mampu merintih kesakitan dalam selimut tebalnya, sambil bermimpi terbang tinggi ke angkasa luar.

    Ketidak mampuan dalam memburu ambisinya membawa kepada sikap menyalahkan setiap nyamuk yang beterbangan di semitarnya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang beterbangan sambil bersiul itu dilihatnya sebagai ancaman bagi dirinya…..bagaikan bom nuklir yang akan menghamburkan darah dagingnya setiap saat. Dan semoga Allah menjaga!

    * Presiden Nusantara Foundation

    (Tulisan ini dimuat pertama kali di republika.co.id )

  • Membubarkan HMI dan HTI

    Oleh: Yusuf Maulana *)

    Ernest Utrech, sebuah nama yang mesti dikenang sebagai pelajaran bagi aktivis Islam. Nama Prof Drs Ernest Utrech SH, amat sangat asing bagi aktivis pergerakan hari ini. Dalam kurun 1950-an, Utrech, seorang warga keturunan Belanda-Indonesia berhaluan Kiri, acap membuat gaduh di kalangan akademik dan politik.

    Sebagaimana dicatat oleh Agussalim Sitompul (1982) dalam karyanya, HMI dalam Pandangan Seorang Pendeta, Utrech merupakan aktor intelektual yang getol menyuarakan pendiskreditan Himpunan Mahasiswa Islam. Tuduhan yang ia lontarkan ujungnya adalah agar HMI dibubarkan oleh Presiden Sukarno. Setali fitnahnya pada Masyumi, Utrech pun begitu benci pada HMI.

    Di beberapa kota, provokasinya berujung perlawanan. Hingga ia pun ditempatkan di Jember. Jabatannya: Sekretaris  Fakultas Hukum Universitas Brawijaya cabang Jember. Rupanya, kedudukannya di Jember ini, semacam kulminasi kebenciannya pada HMI. Dari tangannya lahir Surat Keputusan Nomor 2/1964 tanggal 12 Mei 1964 yang melarang keberadaan HMI di kampusnya. Peristiwa SK No 2/1964 ini, kalangan yang seide dengan Utrech pun menggalang kekuatan. Maka, mulailah kampanye pembubaran HMI di banyak tempat, khususnya di Jawa.

    HMI, kala itu, nyaris saja senasib para orangtuanya di Masyumi: dibubarkan. Tak hanya dibubarkan, nama baik para aktivisnya jadi bulan-bulanan. Belum tindakan lain yang mengarah pada ancaman dan intimidasi fisik.

    Atas izin Allah, usaha para aktivis senior Islam untuk tidak terjadi lagi pelarangan gerakan dakwah, lebih-lebih di kalangan generasi muda, membuahkan hasil. Patut kiranya disebut andil politisi dan para ulama di Nahdlatul Ulama yang menggaransi pada Sukarno bahwa HMI bukan dan tidak seberbahaya Masyumi sebagaimana tudingan Ernest Utrech.

    Baca juga: Panglima TNI: HMI dan TNI Berjuang Bersama Mempertahankan Ideologi Pancasila

    Kejadian 53 tahun lampau itu, sudah semestinya jadi pelajaran. Bagi siapa saja, terutama di kalangan aktivis Islam. Bahwa ada kalangan yang memanfaatkan kekuasaan dan kekuatan ideologi yang di jantung kekuasaan untuk menista dan membunuh tanpa ampun lawan-lawannya.

    Berbeda dengan semasa Utrech duduk sebagai anggota konstituante dari PNI, sebagai akademisi kiri malah ia tanpa malu-mau menjadi propagandis dan mesin pembunuh. Adu argumentasi diganti kesemenaan dan eksekusi tanpa debat terbuka. Posisinya hanya digunakan sebagai aji mumpung menindas lawan.

    Hari ini, “festivalisasi” yang diikuti “parade” menista kekuatan islamis begitu terasa. Tak perlu jadi sosok pintar dalam akademik untuk merasa. Keluarnya Perpu No 2 Tahun 2017 menjadi gong serupa SK No 2/1964 oleh seorang Utrech sendiri!

    Bayangkan, dari akademisi satu bisa menjalar gerakan menggayang HMI; bagaimana bila festival kepongahan berkuasa dan antipati pada kekuatan lain dilakukan oleh penguasa? Serupa HMI yang dimitoskan subversif dan pewaris Masyumi (yang kadung dilekatkan oleh pendukung rezim Sukarno sebagai pemberontak), demikian pula ormas seperti Hizbut Tahrir Indonesia dipandang. “Penolakan” pada demokrasi dan Pancasila hanya mitos menutupi kegemaran penguasa mengambil jalan pintas ketimbang mengajak dialog dan bahkan membina (bila perlu dan andai HTI “sesat” dari jalan Pancasila).

    Apa yang terjadi? Persekusi yang dialamatkan pada pihak lain sekarang justru menjadi model yang tidak malu-malu dipraktikkan oleh alat negara seperti kampus. Mulai dari menteri sampai pejabat kampus seolah alpa pada tradisi intelektual dalam penyadaran pihak lain. Tidak ada tempat buat HTI untuk membela diri dan dihujat dalam mimbar demokratis. Semua dipersegerakan penindakan dengan propaganda dan antusiasme yang mengikuti di mana-mana. Tak berbeda dengan inisiatif dingin Ernest Utrech.

    Kendati Utrech asing bagi sebagian besar aktivis Islam, dalam kasus pejabat menteri dan kampus yang gempita menyikat anak bangsa hanya karena terlibat dalam HTI, setidaknya perlu menimbang jangka panjang. Bagaimana mereka kelak dituliskan dalam sejarah? Apakah benar bakal jadi pahlawan pembela Pancasila, atau sekadar alat rezim dalam menindas kekuatan berbeda yang tidak mau ditundukkan? Artinya pula, pejabat dan civitas akademik pun tidak steril untuk pongah sebagai diktator penafsir. Jauh lebih menjijikkan ketimbang perilaku ormas keagamaan yang kadang mereka sinisi kala beringas merazia peredaran minuman keras.

    *) Kurator Pustaka Lawas Perpustakaan Samben Yogyakarta

    (Tulisan ini sudah dimuat sebelumnya di Republika)

  • PT. Antam, Tbk Harus Diaudit Tim Independen

    Oleh: Hasyemi Faqihudin*

    Provinsi Jawa Barat dalam sektor pertambangan terdapat di tiga titik saja yang mendapat sorotan tajam dari para investor dan pemegang saham. Diantaranya, Kabupaten Bogor, Cianjur dan sukabumi. Di kota/kabupaten ini cukup memilki SDA yang begitu kaya.

    Dalam tahun 2016 PT. Antam TBK UBPE Pongkor kabupaten bogor dalam realisasi bukaan lahan mencapai 83,59 hektare, realisasi reklamasi 47,25 hektare. Rencana reklamasi pada 2017 hingga 2021 seluas 25,14 hektare dan sarana yang dipertahankan 5 hektare dengan sisa area terbuka 36,34.

    Menyebut bahwa Rencana reklamasi revegetasi tahun 2021 hingga selesai seluas 6,20 hektare. Ada empat portal tambang yang akan ditutup, yakni Ciurug L 600, Ciurug L 700, Ciurug L 703 dan Gudang Handak L 515.

    Sebuah catatan yang dirilis dalam kegiatan konsultasi Publik Untuk Rencana Pascatambang PT.Antam TBk UPE Pongkor pada tahun 2021 nanti Rencananya akan ditutup. Sehingga PT. Antam berniat untuk membuka ekowisata berbasis pertambangan.

    Adapun GM PT Antam Pongkor, pasca operasi penambangan mineral berhenti pada 2021 nanti, revegetasi akan dilakukan pada lahan seluas 11,20 hektare yang terbagi atas 5 hektare digunakan sebagai peruntukkan lain dan 6,20 hektare akan direvegetasi.

    Langkah terpisah dalam kontra sosial ialah, Adapun langkah strategis yang di hadapi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bogor kepada masyarakat sekitar mengingat bahayanya pelaku Gurandil di area pertambangan emas milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Unit Bisnis Pertambangan Emas (UPBE) Pongkor, Kecamatan Nanggung dalam titik kontradiktif.

    Dilansir beberapa media, bahwa pasca penertiban Gurandil yang dilakukan aparat keamanan bekerja sama dengan aparatur pemerintahan hingga dewan mengklaim bahwa bisa meningkatkan pendapatan produksi emas. Dengan demikian kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Bogor pun meningkat.

    Lalu pertanyaannya adalah dalam subtansi daripada penertiban gurandil agar PAD meningkat dan rencana strategis direvegetasi dan juga penutupan pertambangan tahun 2021 dan akan membuat ekowisata berbasis pertambangan. Lantas PAD ini kenapa masih minim dirasakan masyarakat dalam konteks pemberdayaan dan pembangunan di kabupaten bogor? Karena berawal lemahnya perhatian oleh pemerintah sehingga berdampak psikologis ekstrem yang menjadi rendahnya pendapatan ekonomi warga.

    Menurut Ketua Komisi III DPRD Ada temuan menarik dalam rapat soal Antam yang kami lakukan yakni laporan dari pihak Taman Nasional bahwa masih ada Gurandil yang beroperasi, namun tak terkoordinasi. Ini yang tidak kita inginkan, ungkapannya. Namun penulis dapat mengartikan secara berlawanan arus, yaitu siapa yang ingin menginginkan hal tsb, kalau toh nilai pendapatan di PT. ANTAM saja hanya dinikmati oleh para pemegang proyek di tingkat dewan.

    Maka ketika keberhasilan Pemkab melakukan penertiban Gurandil hingga Sungai Cikaniki kembali bisa dinikmati warga tak berbanding lurus dengan produksi PT Antam itu sendiri. Pertanyaan dasar ialah, apakah warga mengetahui pendapatan hasil emas yang tidak transparansi yang dilakukan oleh pemegang kebijakan.

    Dan anehnya, pernyataan berbeda, entah kenapa berbalik arah yang dilontarkan ketua komisi III DPRD Kab. Bogor. Menurutnya Produksi ko tak berubah. Seharusnya dengan tidak ada lagi Gurandil produksi emas Antam harus naik. Selama ini kan mereka teriak-teriak, produksi turun akibat adanya Gurandil. Nah, sekarang Gurandil sudah pergi, produksi malah cenderung turun. Ada apa ini?

    Sebelum statistik prosentase angka kemiskinan se kabupaten bogor. Maka tentunya menelisik yang dirasakan warga Kecamatan Nanggung yang berada disekitar penambangan PT ANTAM. Data merilis angka kemiskinan rakyatnya menempati urutan lima besar dari 40 kecamatan. Dan int tentunya tidak sesuai apa yang dipernyatakan oleh dewan juga pemkab. Indikasi sudah tidak dikawatirkan, namun pertanyaannya kemana dana CSR disalurkan selama 22 tahun PT. Antam UPBE Pongkor beroperasi?

    Bahkan upaya upaya ketua DPRD Kab. Bogor dalam mempertanyakan kepada pihak Antam, masyarakat menilai gagal total.

    Pusaran hantam sangat membelit, SDA sudah habis dikeruk. Bahkan target penertiban gurandil di tahun kemarin pun sempat terjadi patroli, sehingga banyak warga yang diproses secara hukum. Namun kenapa upaya peningkatan PAD berbalik arah kenyataan merosotnya kemiskinan?

    Bahkan sempat terjadi pada dewan atas usulan Antam yaitu merekomendasikan agar dibentuk panitia khusus (Pansus) soal tidak transparannya pemberian Corporate Social Responsibility (CSR). CSR tersebut diantaranya membantu dalam alih profesi gurandil, jumlah produksi hingga kontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat Nanggung menjadi dasar pembentukan Pansus tersebut. Tetapi apa nyatanya sampe sekarang ini?

    Yang jelas, pansus jangan dibentuk oleh DPRD Kab bogor atau DPR RI. Namun Lembaga khusus pertambangan yang harus terjun mengaudit dan mengoptimalisasi keadaan sebenarnya PT antam.

    *Penulis adalah Koordinator Indonesia Community Energi Research (ICER) Wilayah Jawa Barat.

  • Akhlak Seorang Ulama, Melarang Tanpa Harus Menyakiti Yang Bersangkutan

    SUARADEWAN.com – Suatu hari, Simbah Kiai Abdul Hamid Pasuruan menerima tamu seorang pria yang kebetulan memakai gelang yang terbuat dari emas. Padahal, sebagaimana yang telah termaktub dalam beberapa kitab fiqh, haram hukumnya seorang lelaki memakai perhiasan, baik cincin maupun gelang, yang terbuat dari emas.

    Namun, untuk mengingatkan sang tamu, kyai Abdul Hamid tidak serta merta menyuruh orang tersebut mencopot, apalagi memaksa. Dengan lemah lembut, beliau meminta gelang emas tersebut dari tamu. “Pak gelange kulo suwun njiih (Pak, gelangnya saya minta ya),” kata Kiai Abdul Hamid.

    Karena yang meminta adalah seorang tokoh ulama yang sangat disegani, dengan gembira sang tamu pun memberikan gelang tersebut. “Monggo Pak Kiai,” sahut sang tamu.

    Setelah diambil Kiai Hamid, ia kemudian memberikan kembali gelang tersebut kepada si tamu, sambil berkata. “Pak, niki gelange kulo hadiahaken kagem istri njenengan (Pak, ini gelangnya saya hadiahkan untuk istri Anda,” tutur Kiai Hamid.

    Dengan sedikit kebingungan karena pemberian yang ia berikan, justru diberikan kembali, sang tamu pun bertanya. Pertanyaan tersebut dijawab Kiai Hamid dengan penjelasan bahwa seorang lelaki dilarang untuk memakai gelang emas.

    Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, sang tamu pun mau menerima penjelasan tersebut dan tidak memakai gelang emasnya dengan senang hati dan tanpa ada rasa dipaksa.

    Begitulah akhlak seorang ulama, melarang tanpa harus menyakiti yang bersangkutan. Lahu al-fatihah! (Ajie Najmuddin, disarikan dari Ceramah Habib Muhammad bin Husein bin Anis Al-Habsyi Solo, pada pengajian Khotmil Qur’an MWC NU LAWEYAN, Senin (13/3/2017).

    Sumber

  • Pilkada Yang Berkualitas Melahirkan Pemimpin Yang Berkualitas

    Tulisan ini menyambung dari apa yang ditulis oleh penulis Asriyon Roza, “PADANG BUTUH PEMIMPIN KUAT DAN BERKARAKTER”. Untuk mewujudkan itu tentu bukan hal yang mudah. Perlu dilihat berbagai aspek antara lain seperti tingkat kualitas pemilih yang minim dari pendidikan politik, media yang berfungsi sebagai alat kontrol sosial dalam menyampaikan informasi yang mencerdaskan wawasan politik masyarakat dan Peran serta Fungsi penyelenggara Pilkada sebagai penjaga dan penjamin berlangsungnya proses politik dan demokrasi yang jujur dan berkeadilan.

    Lembaga penyelenggara Pilkada dalam hal ini KPU Kato Padang dan Panwaslih sedini mungkin harus menunjukan keserius dan untuk mewujudkan tatanan demokrasi yang mencerdaskan masyarakat pemilih. Penyelenggara harus mampu berdiri ditengah. Penyelenggara harus menjaga kode etik dan independensinya sebagai wasit yang menegakan nilai-nilai keadilan demokrasi.

    Sangat naif sekali dalam sebuah proses perhelatan demokrasi dapat terwujudnya Pilkada yang berkulitas kalau penyelenggara tidak mampu menunjukan komitmennya menjadi wasit yang berdiri diatas keadilan demokrasi. Hal ini menjadi jamak disetiap perhelatan Pilkada selalu terjadi sengketa. Mulai dari tahap penetapan pasangan calon saja telah ada indikasi yang dapat disematkan kepada penyelengara tidak berada pada posisi yang mengedepankan fair play seperti yang terjadi pada Pilkada di beberapa kabupaten kota seperti Aceh Barat Daya, Buton, Jayapura dan lain-lain. Yang berujung masuknya keranah sengketa hukum dan di DKPP kannya komsioner KPU beserta Panwaslih.

    Tentu kita berharap penyelenggaraan Pilkada kota Padang jauh lebih baik dari apa yang telah terjadi kalau dibandingkan kabupaten kota lainnya. Seluruh tahapan dan verifikasi pasangan calon harus benar-benar dilakukan untuk mencegah adanya praktek-praktek curang dalam tahapan pencalonan. Pilkada adalah pintu gerbang untuk melahirkan pemimpin yang berkualitas. Peran dan fungsi penyelenggara sangat vital dalam menjaga itu semua.

    Telah menjadi rahasia umum bahwa setiap proses penyelenggaraan Pilkada tidak terlepas dari praktek-praktek politik uang. Semua pihak yang berkepentingan tentu akan bermain dalam tahapan-tahapan tertentu. Hal ini pastinya tidak terlepas dari adanya kepentingan bisnis yang terkait dengan kebijakan yang dibuat nantinya. Komitmen atau janji menjadi sesuatu yang harus di bayar lunas dikemudian hari. Belum lagi mahar yang harus dibayar oleh pasangan calon untuk mendapatkan dukungan partai politik. Praktek-praktek seperti itu tentunya telah mencedrai proses demokrasi yang dilandasi prinsip-prinsip kejujuran dan akuntabel.

    Melibatkan KPK

    Untuk menjamin agar tidak terjadinya praktek-praktek penyimpangan dalam proses demokrasi dalam penyelenggaraan Pilkada, dalam hal ini KPUD dan Panwaslih harus menggandengan Komisi Pemberantaskan Korupsi (KPK). KPK harus hadir dalam setiap tahapan untuk mencegah sedini mungkin praktek-praktek yang dapat menjadi benih terjadinya korupsi. Tentunya hal ini sejalan dengan fungsi KPK untuk melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadinya pidana korupsi dikemudian hari. Tidak dapat di pungkuri telah banyak kepala daerah yang ditangkap oleh KPK setelah menjabat posisi Walikota dan Bupati.

    Seperti disalah satu forum diskusi yang pernah penulis ikuti dimana salah seorang penyelenggara komisioner KPUD mengungkapkan bahwa hasil evaluasi yang dilakukan terhadap penyelenggaraan Pilkada sebagian besar dimenangkan melalui praktek Money Politic. Dia mengatakan praktek Money Politic ini menurutnya seperti hantu atau bau kentut tercium tapi tidak terlihat. Saya pikir ini hanya sebagai bentuk pernyataan atas ketidak beraniaanya dalam mencegah itu semua. Seakan akan ada aspek pembiaran oleh penyelenggara tersebut. Penulis berharap hal-hal seperti ini tidak terjadi dalam penyelenggaraan pilkada Kota Padang dimana ada komitment dan keinginan semua elemen untuk mewujudkan proses perhelatan politik di Kota Padang nantinya berjalan dengan jujur, adil dan akuntabel untuk mewujudkan pilkada yang berkualitas dan terpilihkan pemimpin yang berkualitas dalam hal ini kuat dan berkarakter.

  • Trump, Islamofobia, dan Benturan Peradaban

    Oleh : Mulawarman Hannase*

    Sosoknya begitu kontroversial. Dalam menyampaikan gagasannya, boleh dikatakan ia tampak over convidencez. Walaupun di-bully dengan kebijakannya yang kontroversial, seakan dia tidak peduli. Kelihatannya otoriter, tapi ia sungguh beruntung. Meskipun dalam survei kalah jauh, nyatanya dialah yang memenangkan pertarungan.

    Begitulah kira-kira gambaran dari karakter sosok Donald Trump, presiden baru Amerika Serikat (AS) yang terpilih secara demokratis. Trump datang membawa kebijakan yang menuai protes keras publik Amerika maupun kalangan internasional.

    Dalam tulisan ini, penulis mencoba mengetengahkan beberapa kebijakan Trump yang cenderung diskriminatif terhadap komunitas Muslim baik di Amerika Serikat maupun di Timur Tengah serta konsekuensi dari kebijakan tersebut.

    Dalam artikelnya yang berjudul “An Apology to Muslims for President Trump”, dimuat dalam New York Times 2 Februari 2017, seorang jurnalis terkenal Amerika bernama Nicolas Kristof meminta Presiden Trump meminta maaf kepada seluruh umat Islam khususnya di Amerika Serikat.

    Permintaan maaf tersebut hendaknya dilakukan Trump atas kebijakannya yang diskriminatif melarang warga tujuh negara mayoritas Islam masuk ke Amerika Serikat. Ia menganggap bahwa Trump sesungguhnya tidak memahami persoalan dan konstelasi yang terjadi saat ini.

    Gesekan yang terjadi dan menyebabkan konflik dan aksi-aksi teror di mana-mana bukanlah perseteruan antara orang Islam dan non-Islam, tetapi antara kelompok moderat dan radikal di setiap kelompok beragama. Islam bukanlah cancer sebagaimana dituduhkan oleh salah seorang penasihat keamanan Trump, Mike Flynn.

    Oleh karena itu, secara keseluruhan kita melihat perbedaan yang cukup signifikan mengenai respons masyarakat internasional atas terpilihnya Trump sebagai presiden baru AS dibanding dengan pendahulunya, Barack Obama.

    Ketika Obama terpilih menjadi presiden AS, sebagian besar pengamat dan politisi di Timur Tengah menyambut baik dan merasakan sebuah optimisme khususnya dalam konteks hubungan dunia Barat dan Timur. Mereka mendambakan kebijakan politik baru Amerika terhadap dunia Islam yang lebih persuasif dan anti-diskriminatif.

    Kita tahu bahwa rezim sebelum Obama, George W Bush ‘berjasa’ menciptakan dua perang yang menyengsarakan masyarakat Islam di Timur Tengah yaitu perang Irak dan Afghanistan. Sosok Obama dinilai bukanlah sosok yang akan membuat kebijakan diskriminatif karena ia sendiri berasal dari kelompok minoritas yang dalam sejarah Amerika kerap menjadi objek diskriminasi oleh kelompok mayoritas.

    Sosok Obama pun dinilai bisa membangun berbagai kebijakan luar negeri yang tidak anti-Islam dan lebih bersahabat dengan dunia Islam. Tidak lama setelah menjabat sebagai presiden Amerika, Obama pun mengunjungi Turki dan Mesir, dua negara yang sangat berpengaruh di Dunia Islam dan Timur Tengah.

    Meskipun pada kenyataannya, retorika Obama yang ingin membangun tatanan baru di Timur Tengah yang kondusif dan bersahabat, sampai akhir masa jabatannya masih jauh panggang dari api. Berbeda dengan Obama, Donald Trump seakan telah menjadi momok bagi dunia Islam. Hal tersebut sudah terlihat sejak ia mulai melakukan kampanyenya.

    Salah satu visi misi kampanye Trump yang kontroversial adalah rencana ingin menghentikan laju imigran, terutama pengungsi konflik Timur Tengah masuk ke Amerika. Sebagai wujud komitmen terhadap janjinya, berselang beberapa hari setelah dilantik (20 Januari 2017) Trump menandatangani dokumen pelarangan imigran masuk ke negeri Paman Sam termasuk dari 7 negara berpenduduk mayoritas Muslim.