Kategori: CERPEN

  • Kolong Rel

    Oleh : Amiruddin W (Penggagas Komunitas 1000 Biografi)

    Malam itu, si El sang Sastrawan, lulusan salah satu kampus ternama di Jakarta mengajakku keluar. Di jam yang sudah menunjukkan arah jarum 12 malam itu, bagi sekolompok anak muda seperti el adalah hal yang biasa, bagi mereka malam adalah siang, dan siang adalah malam.

    “Bro kita kemana?”tanyaku kepada el sambil memegang gagang setir motor Mio ku.

    “Ah, ayo jalan aja kanda,” jawab el, seperti biasanya el memang sering memanggilku dengan sebutan kanda. Terang saja, dari senioritas angkatan memang aku lebih senior, dari organisasi juga gak salah lagi. Tapi, apapun itu, pertemanan tidak memupuk hirarki kesenioritasan, label pemanggilan hanyalah istilah formal dalam kesantunan.

    Dari arah Salemba menuju Matraman itu jalanan Jakarta mulai sepi, gedung-gedung pencakar langit itu berdiri kokoh seolah menghardik kekuasaan. Kami berjalan dalam embun malam, hingga sampai ke arah Kampung Melayu.

    “Stop, stop kanda,”motorku tiba-tiba berhenti karena ulah el yang menginstruksikan berhenti secara mendadak.Tepat dibawah Rel Kereta Api, si el menyuruhku memarkir si jago merahku. Kami pelan-pelan memasuki sebuah lorong gelap, dengan gerombolan manusia yang hilir-mudik.

    “Oh my god,”ucapku dalam hati. Si el membawaku ke tempat para wanita dijajakkan, dan para pria melampiaskan nafsu. Di pinggir Kolong Rel Kereta Api itu, manusia-manusia kaum Spartacus bergelimangan membujuk, merayu, dan menawarkan tarif.

    Di Rel Kereta Api itulah, transaksi seks terjadi. Tarifnya begitu murah, dari 50k hingga 200k, untuk sewa tempat melakukan jajakan seks itu juga berkisar 50k. Iyalah, wajar saja, tempat ini diperkhususkan hanya untuk mereka yang berkantong tipis, bermodal pelampiasan, dan berkelas rendah.

    Para PSK di area ini juga bermacam-macam, hanya bermodal seksi, dan sedikit parfum dan lipstik mereka sudah bisa melancarkan jual beli. Usia mereka ada yang masih terbilang ABG, tapi ada juga yang sudah berumuran. Tarif berdasarkan, presentasi umur dan kecantikan rupa. Tapi tentu saja, PSK ini tak “Seindah” PSK di tempat yang lebih berkelas.

    *********

    Sambil tertatih berjalan, gadis bertubuh langsing, dengan celana diatas paha menyambariku. Di pinggiran rel kereta Api area Kampung Melayu itu, berhamburan lelaki berhidung belang sedang menjajaki seksualitas dan pemuasan birahi.

    Setiap malam, sekira pukul 11.00 Pm hingga menjelang subuh, area ini telah penuh dengan wanita penghibur malam dan lelaki hidung belang. Area ini bisa dikatakan masih tergolong lokalisasi Kelas Teri, hampir disepanjang Rel KRL di Jakarta dihuni oleh bisnis esek-esek seperti ini.

    Tapi, jika jauh kita ke dalam. Bisnis pemuas nafsu laki-laki hidung belang ini, dengan kelas menengah, bisa kita telesuri di Area Jakarta Kota. Klub-klub malam yang isinya wanita-wanita bertubuh lunglai tanpa busana.Disinilah, terjadi peng kotakan dalam kota.

    Di area ini, sekelompok organisasi lokal menjadi palang pintu keamanan. Seperti memiliki batasan, area ini hanya dimasuki oleh mereka yang ingin menjajaki wanita penghibur itu. Dari sudut pintu ke pintu lain, masing-masing bodyguard menjaga ketat. Tidak boleh ada pengambilan gambar sepeserpun. Sebab, didalam lokalisasi itu juga dilakukan patroli oleh bodyguard.

    Jakarta, dalam sudut pandang yang berbeda, adalah Jakarta yang kelam. Dari tengah malam hingga menjelang subuh, miliaran rupiah bertukar dalam bisnis esek-esek ini. Bukan hanya disitu, bahkan transaksi gelap bisa saja terjadi (baca: Jakarta Undercover).

    Di kolong rel, standar kamarnya juga terjangkau oleh lelaki ekonomi di bawah. Namun, bagi mereka lelaki dari pengusaha dan pejabat daerah, pasti kelasnya di area Jakarta Kota itu atau pesan antar lewat Mucikari.

    Inilah Jakarta-ku, kota urban, bak penyakit yang telah tersebar virus di ujung kota hingga menjalar ke pusat. Konon bisnis ini menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi APBD DKI Jakarta. Jadi wajar, “dipelihara” oleh pemda. Bahkan bisa jadi bisnis lokaliasi ini juga sebagian dimiliki oleh oknum pejabat.

    **********

    Malam itu berlalu dengan cepat, paling tidak si el telah memberikan aku sebuah referensi baru tentang kehidupan seksualitas di Jakarta. Kami, hanya menghabiskan malam itu, dengan melihat, dan menelusuri informasi. Tak jarang el sering mewawancara perempuan-perempuan itu.

    Seperti biasanya, bangun pagi adalah kelemahan hidup. Itulah mengapa “sebagian” mahasiswa mengalami dekradasi kemapanan hidup, karena tak biasa bangun pagi. Kalaupun bangun pagi, adalah akibat dari efek kopi yang sejak malam diminum, atau karena belum tidur sama sekali.

    Tapi, apapun itu, rasanya malam itu membawaku berpikir ke dalam sebuah cakrawala Jakarta yang lebih luas. Bahwa Jakarta adalah tempat bergumulnya semua bisnis, mulai dari bisnis jual beli barang, jual beli wanita, jual beli proyek hingga jual beli jabatan. Jika hidup se-senormal orang di daerah untuk menghadapi watak Jakarta yang begitu keras, rasa-rasanya, kita akan mati diinjak petaka.

    Di kolong rel, area lokalisasi dijamin oleh pemerintahnya. Iktikad untuk melancarkan pemuasan nafsu bagi kaum adam ini dipicu karena maraknya pemerkosaan yang terjadi di mana-mana. Waktu itu, Gubernur era 90-an Ali Sadikin memikirkan bagaimana Jakarta bisa jauh dari maraknya pemerkosaan.

    Maka dibentuklah lokalisasi di berbagai titik di Jakarta. Yang terkenal adalah Kalijodo. Sang bos asal Sulawesi Selatan adalah penguasa lokalisasi ini. Konon dari zaman ke zaman, area ini juga memiliki backingan yang kuat dari aparat polisi atau militer.

    Sebab bisnis esek-esek bukan hanya soal seksualitas, tapi disitu juga terjadi bisnis miras, narkoba dengan tingkat varian kelas yang bermacam-macam.Perputaran ekonomi di area ini begitu kencang dan derasnya. Mereka yang datang dari daerah biasanya menghabiskan puluhan juta untuk memuaskan nafsu di tempat-tempat seperti ini.

    *********

    Kehidupan malam Jakarta yang merajelela dan seksualitas yang membabi buta (baca: Jakarta Undercover), benar adanya yang disampaikan oleh Moammar Emka. Bahwa kehidupan malam Jakarta bagaikan dua sisi yang berbeda dalam deretan waktu yang sama, ada yang berpesta pora, dilain sisi ada yang sedang bertabih melantunkan ayat suci.

    Pembelahan sisi sosial dan kemanusiaan terjadi di kota yang disebut Metropolitan ini. Gap yang menjulang tinggi antara miskin dan kaya, hanya dibatasi oleh tembok yang bertebal 8 cm. Kemiskinan di Jakarta dianggap hal sepele dan seksualitas merupakan rutinitas yang tak ada matinya.

    Sadar tidak sadar, antara pendosa dan pengkhutbah pintu surga berada dalam alunan ruang dan waktu yang sama. Suara musik DJ berbunyi dalam komposisi alunan shalawatan di Masjid-Masjid Jakarta. “Siapa yang mampu menghentikan?”desahku.

    Itulah Jakarta dibalik kolong rel yang penuh dengan nafsu yang memanas. Pelampiasan hidup di lorong gelapnya gank-gank kecil serta transaksi bisnis haram dengan mulusnya berlangsung tanpa interupsi.

    Setidaknya, ada beberapa titik di Jakarta yang pernah aku lakukan investasi tentang kehidupan kolong rel. Jika ingin sedikit bergeser ke Selatan Jakarta, Arah Manggarai, setidaknya bisnis esek-esek memanjangi 3 Km. Jajakannya juga sama, bahkan tarifnya juga sama.

    Bergeser ke Jakarta Timur, kita akan menjumpai Kolong Rel Kereta Jatinegara. Tak hanya perempuan berlabel original, yang perempuan non original juga memadati area ini. Jika di Manggarai dan Kampung Melayu masih susah didapatkan, berbeda halnya di Jatinegara ini.

    Di sepanjang pingiran jalan yang berbatasan dengan Rel KRL ini perempuan-perempuan bertubuh linting dan berpayu dara seksi menjajakkan lelaki yang sedang berkendaraan. Secara vulgar transaksi seks terjadi ditepi jalan itu.

  • Cerita Untuk Raisa Andriana

    Cerita Untuk Raisa Andriana

    Mulai hari ini aku akan melupakanmu dan mengingatmu sekali-kali saja. Secukupnya. Itu jauh lebih baik dari apapun aku kira. Tapi kalau bisa malah sebelum aku selesai menuliskan ini, bagaimana? Kamu sepakat? Tidak? Baiklah, tapi ada yang mesti kamu tahu: semua ini bukanlah perkara mudah.

    Barangkali aku akan seperti dalam puisi Saut Situmorang: seseorang yang akan mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa. Lalu entah apa bisa menjalani cinta selanjutnya? Ini semua pilihan kita. Kecewa adalah akibatnya.

    Ketika menulis ini aku senyum-senyum sendiri asal kamu tahu. Mengkhayal memang sebegini menyakitkan. Menerima kenyataan bisa begitu menyedihkan. Melupakanmu adalah caraku pura-pura merayakan kebahagiaan. Tenang, aku tidak akan mengingkari semua ini. Percayalah seperti ketika aku dan kamu, dulu, kalau hujan pasti berhenti sebelum kita sampai dan kita tetap menerabasnya. Hujan membasahi kita. Kita sama-sama paham bagaimana menghangatkan. Namun yang selalu basah, sampai sekarang, itu kenangan.

    ilustrasi (@kulturtava)

    Jika pada satu hari kita (kembali) dipertemukan masih sama-sama menggenggam kecewa, kira-kira apa yang kamu lakukan? Aku sekadar menanyakan. Tidak dijawab juga tidak apa-apa. Toh, jika pertanyaan itu kamu kembali tanyakan, aku juga tidak tahu mesti menjawab apa.

    Apa diam adalah jawaban? Setidaknya jawaban terbaik sebelum keliru yang diikuti banyak alasan.

    Atau, barangkali jawaban adalah pertanyaan itu sendiri?

    Aku ingin jadi penyair. Penyair yang baik, yang bisa mengindahkan perpisahan; menenggelamkan kesedihan. Penyair yang bisa merayakan perpisahan dengan membuat luka baru. Penyair tidak takut gelap. Yang jauh ditakuti penyair justru kebahagiaan. Walau berpisah denganmu tidak pernah sekalipun terpikirkan.

    Tidak perlu kamu heran. Konon memang begitu jalan penyair. Aku sudah siap setelah ini. Kamu juga. Kelak, kita akan bersama dalam puisi-puisi panjang yang aku tuliskan. Itu maksudku!

    Tak ada yang abadi, tentu, tapi ingatan setidaknya bisa hidup kekal dalam kenangan. Lewat hujan, senja atau kekecewaan yang kita berusaha relakan.

    Semestinya aku sudahi cerita ini. Sebab semakin aku berusaha terus menulisnya, semakin aku susah melupakanmu. Tenggelam dalam kata-kata, tersedak oleh kenyataannya. Tapi, toh aku sedang berusaha mencoba kehilangan dan ditinggalkan. Karena tidak mungkin aku meninggalkan. Aku akan berjuang dan berjuang seadanya. Sekuat-kuatnya tersiksa.

    Melupakanmu adalah kebodohan. Seperti menghindar dari bayangan! Apa bisa? Bahkan tempat paling gelap sekalipun.

    Sesudah ini akan tiba satu masa: malam-malam yang sudah tua usianya datang menemuiku dan membolak-balik kenangan. Meski terlihat aneh, pada saat itu datang, aku ingin bersembunyi saja di kamar. Mengurung diri. Menemani sepi. Sambil meretapi kesesalan ini, mengumpat dalam hati. Setelah semua itu usai, aku akan keluar lewat jendela saja. Bukan lewat pintu. Aku takut ada yang tertinggal di sana dan (kembali) mengingatmu. Dari jendela, aku bisa langsung keluar rumah lewat pekarangan belakang dan melompat dinding pagar. Aku akan terus berlari sejauh mungkin mencari taman yang tidak dihiasi bintang-bintang. Tidak juga bulan. Aku ingin tertidur di bawah pohon besar yang rindang dan menjauhkanmu dari mimpi-mimpi malamku.

    Mulai hari ini aku akan melupakanmu dan mengingatmu sekali-kali saja. Secukupnya. Kalau bisa.

    Perpustakaan Teras Baca, 3 September 2017
    Puisi Saut Situmorang yang dimaksud: “Hujan dan Memori”

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/cerita-untuk-raisa-andriana/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]

  • Alkisah Garuda Dibelit Tiga Ekor Naga Di Candi Kidal

    Oleh: Sri Bintang Pamungkas

    Alkisah pada tahun 1200-an di Kerajaan Singhasari, Raja Kertanegara mendirikan Prasasti berupa sebuah Candi. Candi itu kemudian disebut Candi Kidal, terletak di sebelah Timur Kota Malang sekitar 20 kilometer. Konon Candi itu dipersembahkan untuk mendiang Ibunya, Tribuana Tunggadewi yang hidupnya sempat terlunta-lunta.

    Terlepas dari cerita yg sesungguhnya, dan yang beredar di kalangan masyarakat, saya mengartikannya sendiri, yaitu sesudah mengunjugi Candi tersebut pada 2013.

    Sebagaimana kebanyakan Candi, pada Candi Kidal itu pun terukir relief-relief. Ada tiga relief yang menggambarkan cerita tentang Garuda dan Naga. Di salah satu relief digambarkan ada seekor Garuda bersama tiga ekor Ular Naga. Di relief yang ke dua ada gambar Garuda sedang membawa Tabung berisi air di kepalanya. Konon air itu adalah Air Amarta dari Lautan. Sedang relief ke tiga ada gambar Garuda dg seorang Perempuan Cantik, juga dibawanya di atas kepalanya.

    Menurut yg punya cerita, adalah dua orang Ibu yg masing-masing melahirkan Garuda dan Tiga Ular Naga. Tiga Ular Naga ini berbuat jahat terhadap Ibu si Garuda dan menyanderanya, sehingga Garuda harus bertempur melawan para Naga.

    Dalam pertempuran itu Sang Garuda kalah, sehingga meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa. Diberilah Sang Garuda senjata berupa Air Amarta yg berasal dari Lautan.

    Dengan Air Amarta itu Sang Garuda kembali bertempur melawan para Naga untuk membebaskan Ibunya. Kali ini Sang Garuda memenangi peperangannya melawan para Naga dan berhasil membebaskan dan membawa kembali Ibunya.

    Candi Kidal – Malang/ Jawa Timur

    Bagi kita, Garuda itu adalah simbol bangsa Nusantara atau Indonesia. Sedang Ular Naga itu adalah simbol bangsa Cina. Dari cerita sejarah sebelumnya, tentulah Raja Kertanegara tahu, bahwa bangsa Cina dari Utara sudah sering melakukan expedisi ke Selatan, sejak abad VI, untuk menaklukkan Nusantara. Antara lain, Meng Cie, adalah pejabat Negara Cina yg diutus untuk meminta Singhasari tunduk kepada Cina. Kertanegara marah, memotong kedua telinga Meng Cie dan menyuruhnya pulang.

    Apa yg ingin disampaikan raja Kertanegara dg Candi Kidal adalah sebuah peringatan bagi bangsa Nusantara agar selalu waspada dan berhati-hati terhadap bangsa Cina. Sang Ibu yg digambarkan di Candi itu tidak lain adalah Ibu Pertiwi Nusantara. Dan Air Amarta itu tidak lain adalah lautan yg mempersatukan pulau-pulau di Nusantara. Ibu Pertiwi Nusantara akan merdeka dan menang melawan musuh dari manapun, hanya dengan persatuan. Lautan di Nusantara itulah yg membikin rakyat Indonesia bersatu.

    Cover Buku Ganti Rezim Ganti Sistim

    Gambar Garuda di batu relief di Candi Kidal itu pulalah yg dilihat oleh Sultan Hamid II dari Kalimantan Barat, digambarnya ulang dan diperlihatkannya kepada Bung Karno. Bung Karno melukiskan kembali gambar Garuda itu menjadi Garuda Pancasila yg kita kenal sekarang.

    Ketika saya berkunjung ke Candi Kidal pada 2013, hanya relief ke dua yg masih terlihat bagus… yg lain sudah rusak dan tidak jelas. Gambar Garuda yg sedang membawa Tabung Air Amarta itu yg kemudian saya pakai untuk front cover buku saya Ganti Rezim Ganti Sistem: Pergulatan Untuk Menguasai Nusantara @2014, sebuah cerita ttg upaya orang-orang Cina menguasai Nusantara, dari sejak jaman Soekarno sampai Jokowi.

    Sumber dari Group WhatsApp

  • Kisah Rantau dan Abad Sebuah Tulisan

    Oleh : Amir Wata*

    Sebagai pengantar, term ini terbagi menjadi dua bagian; pertama, tentang bagaimana menulis itu amatlah penting, dan yang kedua adalah bagaimana falsafah “rantau” juga menjadi bagian penting dalam peradaban manusia. Untuk mendeskripsikan apa itu menulis, dengan sangat bagus, Ben Okri, penulis Afrika mengatakan “Jika Anda ingin mengetahui apa yang berlangsung di sebuah zaman, cari tahulah tentang apa yang terjadi dengan penulisnya.” para penulis, the town-criers, adalah barometer zaman.

    Kekuasaan bisa saja membungkam mulut yang berteriak, tapi masyarakat tentu saja masih mampu melakoni kebenaran. Namun, nalar penulis tak mampu ditindas oleh penguasa, ia memberontak terhadap penantian dan berkisah dalam buku-buku mereka;  menjelaskan tentang bumi yang rusak, tentang ketidakadilan yang mengalir, tentang cinta yang bersemi dan bahkan tentang kehidupan. Maka, benar apa yang ditulis oleh Ben Okri, bahwa Manusia adalah homo fibula; makhluk pengisah. Manusia dengan tarikan sejarah yang panjang, mampu mengisahkan; kehidupan sekaligus mampu menjelaskan “kematian”. 

    Jika disaksikan bersama, buku hanyalah sebuah benda mati, tetapi isi di dalamnya mengandung kehidupan. Di balik sebuah buku, terdapat sebuah “dunia” yang belum banyak dikenal-tentang pengarang, pengaruh teknologi dan budaya, lika-liku industry dan persaingan, para pecandu, dan pernak-pernik lain yang masih luput dari perhatian. Dan, beruntungnya di Indonesia buku atau dikenal dengan aksara juga menjadi salah satu kekuatan besar dalam kisah-kisah gelombang sejarah di nusantara ini. Sehingga pengetahuan tentang kisah, majapahit, siliwangi, sriwijaya dll, tertulis dengan epik oleh para penulis. Lahirlah kehidupan kematian yang berkisah tentang tradisi, sejarah, ilmu pengetahuan, dan agama.  Sehingga, dalam seni menulis puisi tradisi sastra Jawa Kuno, ada yang disebut kalangon, yang mampu membawa pembacanya tenggelam di dalam pengalaman keindahan. Tradisi ini melahirkan Ramayana (abad ke-9) atau Arjunawiwaha (abad ke-11) yang terkenal.

    Tetapi, di Bugis-Makassar juga patut ditinjau. Puisi atau kisah epik Bugis I La Galigo atau Sureq Galigo ditulis dengan menarik tentang sejarah Bugis pada awal abad ke-14 yang kemudian menjadi salah satu naskah klasik terpanjang di dunia. La Galigo terdiri dari 300.000 larik sajak. Menurut R.A. Kern yang menuliskan katalog Galigo pada 1939, jika saja cerita lengkapnya dapat dikumpulkan maka seluruhnya akan berjumlah 6.000 halaman folio. Sebuah mahakarya. Dari situlah, bugis-makassar mengenal tradisi historiografi yang khas, yakni menuliskan catatan terperinci dari rumah raja atau pembesar. Tradisi ini meluas ke Bima, dan melahirkan antara lain Bo’ Sangaji Kai, “Buku catatan raja-raja Bima” yang meliputi kurun waktu dua abad, mulai abad ke-17.

    Dengan begitu, dapat kita cerna. Bahwa tradisi menulis memang sudah banyak digeluti oleh pendahulu kita. Namun, meski disadari pasca kemerdekaan bahwa tradisi menulis itu hanya digeluti oleh lapisan masyarakat tertentu saja. Rakyat umumnya menyebarkan pengetahuan lewat tembang atau kidung yang disampaikan lisan dari generasi ke generasi. Hal ini lebih menunjukkan bahwa tradisi yang cukup tua tidak menjamin tumbuhnya budaya tulis baca yang cukup kental dan meluas. Apalagi dalam era yang serba digital seperti yang dihadapkan hari ini, anak-anak Indonesia kemudian dibenturkan dengan tradisi yang lebih bersifat audio, visual daripada gerakan literasi (aksara).

    Rantau dan Menulis

    Dalam tradisi Bugis–Makassar, merantau adalah salah satu cara untuk pengenalan kepada semesta. Maka, tak ayal, terutama masyarakat Bugis-Makassar perjalanan “merantau” adalah satu-satunya cara untuk menemukan jati diri. Namun, sangat disayangkan, ada semacam keterbalikan paradigma masyarakat kita hari ini, bahwasanya perantau adalah orang-orang yang kalah bersaing di kampung halamannya.

    Padahal, tak sedikit perantau Bugis Makassar kelak menjadi orang sukses di kampung orang. Ada yang menjadi pejabat, pebisnis sukses, di tanah Jawa misalnya mereka mampu hadir di tengah-tengah kauman menjadi tokoh umat dan masyarakat. Terlepas dari isu seporadis kebernasan pemuda Makassar hari ini, tapi pada fakta lain perantau Bugis Makassar mampu beradabtasi di setiap lingkungan yang meraka tinggal.  Dalam falsafah budaya Bugis ada ungkapan yang mengatakan “Akkulu peppeko mulao, abbulu rompengku mulesu,” artinya “Seorang perantau, harus berangkat dengan bekal sedikit dan kelak jika pulang harus membawa hasil sebanyak-banyaknya.”

    Dengan prinsip seperti itulah, maka jiwa budaya Bugis dikenal dengan etos kerja yang tinggi. Niat yang teguh, semangat yang membara tak membuat mereka surut dari terpaan apapun. Seperti ungkapan “Pura babbara sompeku, pura tangkisi gulikku, ulebbireng tellengnge natowalia; sudah ku kembangkan layarku, sudah kupasangkan kemudiku, lebih baik saya tenggelam dan tercungkup perahuku daripada harus surut.” Seperti itulah falsafah budaya Bugis yang menjadi tekad masyarakat bugis-makassar dalam berjuang di tanah rantau.

    Namun, kisah tak berarti apa-apa jika tak tertuang dalam dokumentasi. Baik itu foto, maupun tulisan. Kalau saja, La Galigo tak pernah tertulis maka tentu kita tak akan pernah mengenal bagaimana tradisi 7 kerajaan yang ada di tanah Sulawesi. Merantau memiliki filosofi keteguhan hati yang kuat, namun tanpa menulisnya, kisah rantau akan menjadi usang oleh zaman, dan hanya secarik kertas yang mampu membahasakan keteguhan hati tersebut. Itulah, mengapa kekayaan tulis-menulis dan merantau menjadi benang merah yang saling berkaitan. Di era kontemporer seperti sekarang, menulis kisah hidup seseorang lebih populer daripada menulis ilmu pengetahuan. Dari kisah seseorang, setidaknya kita mampu “membaca” pengalaman yang tertuang di dalam buku tersebut.

    Kalau saja, logika tak mampu berekspresi dengan kata-kata, paling tidak lisan akan tergantikan dengan tinta. Sehingga kita dapat mendeskripsikan bahwa buku meskipun dia adalah benda mati, tapi “dunia teks” dan sekaligus “teks tentang dunia yang lain” hidup di dalamnya. Ia menyelipkan kekayaan imajinasi, luapan emosi, atau gelora kreativitas yang menjelma sebagai bentangan narasi dari hal-hal bersahaja hingga peristiwa agung dalam kehidupan. Bahkan tak sedikitpun, para pengarangnya diburu, atau penulisnya disanjung setinggi langit, namun bisa saja sekaligus kekuasaan menjadi panik karena penulis buku mampu mengurai masalah tentang ketatanegaraan.

    Mengambil dari kisah kehidupan sehari-sehari yang kemudian divisualisasikan dalam narasi film, telah banyak dilakoni oleh novelis-novelis ternama di Indonesia. Sang Buya Hamka misalnya, menampilkan teks puisi dalam judul bukunya “Tenggelamnya Kapal Vanderwijk” yang kemudian buming di tahun 2014, atau Andrea Hirata yang kemudian mengisahkan kehidupan masa kecilnya dalam buku “Laskar Pelangi”, dan “Sang Pemimpi”. Dan salah satu penulis dengan gaya Islami, Habiburahman El Shirazy yang sempat menjadi buming di tahun 2004 seperti “Ayat-Ayat Cinta”, atau “Ketika Cinta Bertasbih“. Beralih ke dunia lain, seorang penulis “gender” seperti Asma Nadia yang tengah Buming dengan bukunya yang telah difilmkan seperti “Assalamualaikum Beijing” membuat ledakan baru dalam industri film yang bergaya khas mengisahkan perjalanan seorang wanita yang Islami. Adalagi, buku yang kemudian telah dua kali difilmkan berjudul “Surga yang Tak Dirindukan” mewarnai ruang ekspresi dunia teks menjadi dunia visual yang banyak di minati.

    Asma Nadia juga tak sendiri, ia dan beberapa penulis perempuan yang lain, misalnya Merry Riana, mengisahkan kisah hidupnya dalam buku “Mimpi Sejuta Dolar” kemudian difilmkan, lagi-lagi menarik peminat segmentasi penonton yang menyukai film dalam versi “kisah hidup”. Oleh karena itu, dunia teks seperti yang dilakoni oleh banyak penulis yang kemudian banyak difilmkan, telah mengalami ledakan segmen bisnis industri sastra dan film. Dan menjadi sangat menggiurkan, jika sepenggalan kisah menjadi tabiat dan ambisius untuk menjadi bisnis. Asma Nadia, paling tidak telah merubah mindset kebanyakan wanita Islam “kuno”, Merry Riana paling tidak juga telah menekadkan kita bahwa wanita itu juga harus berjuang. Namun yang perlu dipahami, “Di balik Keteguhan Hati Wanita” ada laki-laki yang mensupportnya.

    *Penulis adalah lulusan ilmu politik Fisip UMJ, saat ini aktif sebagai pemred di suaradewan.com