Penulis: Fahruddin Muhtar

  • Strategi Cadar dan Cingkrang Menteri Agama

    Strategi Cadar dan Cingkrang Menteri Agama

    Wacana Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi (FR), yang mengusulkan pelarangan penggunaan cadar dan celana cingkrang di lingkungan Kementerian Agama menuai banyak kritik. Perdebatan meluas sampai pada persoalan deradikalisasi. Yakni apa hubungannya antara gerakan radikal dengan pakaian?

    Keamanan

    Keamanan adalah alasan utama FR mempertimbangan aturan ini. Hal ini bisa dimengerti mengingat latar belakangnya sebagai seorang militer; purnawirawan Jendral TNI. Apalagi baru-baru ini, mantan Menkopolhukam Wiranto mengalami insiden penusukan oleh kelompok gerakan Islam radikal.

    Usulan Menag bisa dilihat sebagai langkah antisipatif terulangnya kejadian serupa. Persoalannya, apakah pakaian merupakan indikator tingkat radikalisme seseorang. Sebelum itu, kita kembali ke makna awal kata “radikal”.

    Radikal

    Radikal secara kebahasaan berasal dari kata Latin radix yang berarti akar. Karenanya, makna awal radikal adalah sesuatu yang bersifat sampai ke akar-akarnya. Ini sama pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), di mana salah satu arti kata radikal adalah secara menyeluruh atau habis-habisan.

    Dalam pengertian di atas, radikal sejauh ini tidak ada persoalan. Bahkan memang sudah seharusnya seseorang menganut keyakinannya secara radikal. Di Islam definisi ini mirip dengan kata ’kaffah’ yang berarti menyeluruh atau total.

    Dalam al-Qur’an firman Allah misalnya. “Ya ayyuha ladzina amanu udkhulu fissilmi kaffah” yang berarti “Hai orang-orang beriman masuklah ke dalam Islam secara total”. Masuk secara menyeluruh, secara habis-habisan, secara radikal.

    Ayat ini juga sangat mungkin dijadikan alat rekrutmen kelompok gerakan Islam radikal. Persoalannya gerakan radikal (radikalisasi) sudah memiliki makna yang sangat berbeda dengan definisi di atas.

    Radikalisasi

    Meski kebahasaan terkait erat, kenyataannya “radikal” dan “radikalisasi” memiliki makna yang berbeda. Radikal hanya mengandaikan totalitas tentang keyakinan yang dianut. Sementara radikalisasi (gerakan radikal) selain memiliki makna yang sama dengan radikal, juga memiliki agenda untuk menyerang yang tidak sepaham dengannya. Dan ini dilakukan dengan cara kekerasan. Inilah yang berbahaya!

    Saat seseorang mengatakan, “Istri saya memang cantik,” orang lain tidak akan mempersoalkan. Malah sangat mungkin memuji dia sebagai suami yang baik. Tetapi jika ia mengatakan, “Istri saya memang cantik. Dan istri kalian semuanya jelek!” ceritanya pasti jauh berbeda karena menyerang yang lain. Itu perbedaan mendasar radikal dan radikalisasi.

    Deradikalisasi

    Yang ingin diberantas Pemerintah adalah “radikalisasi”; gerakan radikalnya. Karena itu, agendanya dikenal sebagai “deradikalisasi”.

    Di Islam, kelompok-kelompok ini biasanya memang menggunakan pakaian berupa cadar dan celana cingkrang.

    Tetapi juga tidak tepat jika menggeneralisir bahwa semua yang bercadar dan bercelana cingkrang adalah kelompok gerakan Islam radikal. Sebab pakaian ini bukan bagian dari “gerakan radikal”, tetapi –bagi sebagian umat– kepercayaan secara radikal atau kaffah.

    Lalu apakah langkah yang diambil Menag FR keliru?

    Strategi FR

    Sebelum mengambil keputusan, idealnya Menag FR memang perlu melibatkan kelompok-kelompok agama untuk meminta pertimbangan terlebih dahulu. Jika tidak, hasilnya seperti sekarang ini. Kelompok agama tersebut bersuara di luar sebab ini sudah menjadi konsumsi publik.

    Tetapi sebagai sebuah strategi, langkah yang diambil Menag tidak sepenuhnya keliru.

    Sadar akan latar belakangnya yang bukan seorang agamawan, FR tahu bahwa penunjukannya sebagai Menag banyak dipertanyakan kelompok umat Islam. Yang ia belum tahu adalah seberapa besar penolakan tersebut.

    Sebelum nantinya akan banyak berinteraksi dengan mereka yang merespon saat ini, langkah awal yang perlu FR pastikan adalah pemetaan.

    Dengan melempar isu ini ke publik sebelum pembahasan, FR kemudian bisa melihat tingkat resistensi kelompok-kelompok yang mempertanyakannya. Sebab dengan seperti ini akan terlihat perbedaan reaksi penolakan, mulai dari yang bijak, lunak, sampai dengan keras.

    Bahkan dengan begini ia sudah bisa memetakan mana saja wilayah yang Aparatur Sipil Negara (ASN)-nya nantinya akan sangat resisten, seperti Aceh dan Banten. Di mana sebagian mereka tegas mengatakan lebih baik kehilangan status ASN, ketimbang menanggalkan pakaian –yang dalam keyakinan mereka– islami tersebut.

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/strategi-cadar-dan-cingkrang-menteri-agama/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]Atikel Asli[/btn]

  • Abah Kita (Bag. 4): Bandongan dan Sorogan

    Abah Kita (Bag. 4): Bandongan dan Sorogan

    Ini tentang Shonhaji yang berbeda. Ia hidup sekitar 1 abad lebih dulu dari murid Sunan Ampel yang kebetulan bernama sama. Nama lengkapnya Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash Shonhaji. Syekh Shonhaji.

    Hari itu Syekh Shonhaji mulai bimbang. Hari yang selama ini dinanti justru membuatnya ragu. Padahal hari itu ia akhirnya bisa menyelesaikan salah satu kitab, yang menurutnya akan membantu banyak orang yang ingin mempelajari ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab).

    Persoalannya bukan pada isi kitabnya, tetapi pada isi hatinya. Ia mulai meragukan apakah benar tujuan ia menulis kitab itu karena mengharap ridha Allah, atau berharap lain.

    Ia lalu memutuskan untuk membuang kebimbangan dengan cara membuang kitab itu. Menuju pantai, ia melempar kitab itu dan berserah, “Ya Allah. Jika kitab ini murni karena-Mu. Maka kembalikan ia padaku”.

    Sekembalinya ke rumah, Syekh yang juga dikenal sebagai Ibnu Ajurrum ini kaget. Kitab itu sudah kembali ke meja kerjanya. Tidak basah sedikit pun.

    Kitab itu kini populer -khususnya di kalangan pesantren- menjadi bacaan wajib dan bahkan jadi hafalan para santri. Ia populer dikenal sebagai Kitab Jurumiyah.

    * * *

    Salah satu kelebihan metode pengajaran pesantren adalah pada penguasaan teks kitab-kitab. Para Kiai tidak hanya mengajarkan santri tentang kajian Islam tematik, tetapi pemahaman teks baik bacaan maupun maknanya.

    Ada dua metode populer di pesantren seperti sempat disinggung sebelumnya. Yakni bandongan dan sorogan.

    Pertama, metode bandongan. Disebut ‘bandongan’ karena orang datang “berbondong-bondong” ke tempat pengajian.

    Bandongan biasa juga disebut wetonan, diambil dari kata ‘weton’ karena digelar hanya pada waktu-waktu tertentu.

    Tetapi karena dengan cara ini Kiai tidak bisa memastikan tingkat pemahaman santri per individu, maka di pesantren juga populer digunakan metode kedua.

    Metode kedua adalah sorogan. Sorogan berasal dari kata ‘sorog’ yang artinya “menyodorkan”. Dalam metode “sorogan” santri satu persatu menghadap dan membacakan kitab di hadapan Kiai.

    Di samping menekankan pada pengajaran individual (individual learning), metode ini juga sifatnya belajar tuntas (master learning) dan belajar berkelanjutan (continuous progress).

    * * *

    Abah Ma’ruf mengenang beberapa Kiai favoritnya di Tebuireng juga menggunakan metode-metode tersebut.

    Salah satu Kiai favorit Abah yang menggunakan bandongan adalah Kiai Syamsuri Badawi. Di antara kitab-kitab yang ia ajarkan adalah Jam’ul Jawami’ dan Hadits Muslim.

    Di setiap bulan Ramadhan, Kiai Syamsuri menamatkan pelajaran Hadits Muslim dalam 21 hari. Pengajian malam dimulai selepas tarawih sampai sahur. Dan pengajian siang dimulai pagi sampai dzuhur, dan dilanjut lagi sampai ashar.

    Kiai favorit yang Abah Ma’ruf ingat dengan metode sorogannya adalah Kiai Idris Kamali. Ia mengajarkan Qur’an dan Hadits, terutama Al-Baghawi, Al-KhazinIbnu Katsir, kitab Al-Itqan fi Ulumul al-Qur’an, dan Kitab Bukhari.

    Kiai Idris Kamali adalah murid langsung, yang juga kemudian menjadi menantu Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

    Selain kedua Kiai kharismatik itu, Kiai favorit Abah Ma’ruf lainnya adalah Kiai Tahmid, seorang ahli ushul fiqh. Cara Kiai Tahmid yang sangat argumentatif dalam mengajarkan kitab Iqna’ sangat mempengaruhi Abah Ma’ruf.

    Gaya bicara dan berargumen Kiai Tahmid inilah yang membentuk karakter Abah dalam seni berkomunikasi dan berdebat.

    Seni yang sangat akrab bagi kalangan santri. Apalagi untuk seorang Kiai yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/abah-kita-bag-4-bandongan-dan-sorogan/” text_color=”#000000″ bg_color=”#ffffff” icon=”” icon_position=”start” size=”14″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]

  • Abah Kita (Bag.3): Amanah Bagi Santri

    Abah Kita (Bag.3): Amanah Bagi Santri

    Jamaah yang membangun Masjid Ampel mulai rusuh. Mereka meragukan kredibilitas Mbah Sonhaji, santri yang ditunjuk Sunan Ampel untuk memimpin pembangunan masjid tersebut.

    Pasalnya, mereka tidak yakin ketepatan arah kiblat yang sudah ditentukan Mbah Sonhaji. Padahal, ia sudah menjelaskan bahwa keputusannya itu sudah melalui penghitungan yang matang. Tetapi jamaah terus saja memojokkannya.

    Demi menjaga amanah dan nama baik sang guru, sebagai santri yang sudah seharusnya menjadi na-ibul ‘ulama (wakil ulama), Mbah Sonhaji terpaksa melakukan sesuatu yang tidak lazim.

    Ia terpaksa melubangi tembok yang dia yakini sebagai arah kiblat, dan mempersilahkan mereka semua melihat ke dalamnya. Semua tercengang. Tidak percaya pada apa yang sedang mereka lihat.

    Yang tampak di balik tembok bolong itu adalah Ka’bah Baitullah yang berada di Kota Makkah. Rumah Allah yang menjadi kiblat masjid di seluruh dunia.

    Sejak itu, mereka pun tidak lagi meragukan kemampuan santri Sunan Ampel ini. Melainkan jadi sangat menghormati Mbah Sonhaji, dengan memberinya gelar sebagai Mbah Bolong.

    * * *

    Ada banyak versi tentang asal kata santri. Tapi salah satu yang menarik adalah penjelasan mantan Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama (NU) alm. KH. Sahal Mahfudh, karena menafsirkan tiap huruf di dalamnya.

    Menurutnya kata ‘santri’ berasal dari Bahasa Arab ”santaro” yang bentuk jamaknya ”sanatir”. Ia tersusun dari empat huruf -sin, nun, ta’, dan ra’- yang masing-masing memiliki makna antara lain:

    1. Sin bermakna “satrul aurati” (menutup aurat). Sebagai santri selayaknya memiliki kebiasaan berpakaian yang menutupi aurat. Artinya malu ketika setiap perilakunya bertentangan dengan syari’at dan norma yang ada.

    2. Nun bermakna “na-ibul ulama” (wakil dari ulama). Santri harus menunjukkan sikap mulia untuk menjaga nama baik gurunya. Termasuk menunaikan amanah sang guru dengan baik, sebagaimana Mbah Sonhaji.

    3. Ta’ bermakna “tarkul ma’ashi” (meninggalkan kemaksiatan). Artinya santri harus konsisten mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar. Tapi tentu semua dilakukan dengan cara ma’ruf (baik), bukan dengan cara yang juga munkar (buruk).

    4. Ra’ bermakna “raisul ummah” (pemimpin umat). Artinya santri harus mampu menjadi pemimpin yang bisa memberikan perubahan yang positif.

    * * *

    Memperhatikan amanah di atas, jelas menjadi santri tidak mudah. Termasuk juga proses pendidikan yang harus dilalui.

    Abah Ma’ruf masih mengingat jelas, bagaimana saat ia nyantri di Tebu Ireng dan beberapa pondok lainnya, di mana ia harus menguasai beragam cabang ilmu agama.

    Abah Ma’ruf sebenarnya sudah masuk Pesantren Tebu Ireng saat kelas enam Ibtidaiyyah (sekolah dasar). Ia mengenang bagaimana dia yang sekecil itu kemana-mana harus memanggul kitab Iqna’ yang tebal.

    Kitab yang lengkapnya berjudul Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’. ini adalah kitab klasik fiqh bermazhab Syafi’i. Di Mesir sendiri kitab ini baru dipelajari di madrasah menengah atas, tapi di Tebu Ireng kitab tersebut sudah harus Ma’ruf kecil kuasai di tingkat dasar Ibtidaiyyah.

    Masih untung jika kebetulan metode yang dipilih Kiai adalah bandongan. Dengan metode ini, Kiai akan membacakan, menerjemahkan, sekaligus menjelaskan maksud dari kitab yang dibacakan. Santri tinggal menyimak apa yang disampaikan Kiai.

    Tapi jika metode yang dipilih Kiai adalah sorogan, seluruh santri baru tentu akan panik. Sebab metode ini mengharuskan mereka untuk membaca kitab gundul langsung di depan Kiai. Kiai akan mengoreksi ketepatan pembacaan dan pemahaman santri pada teks kitab.

    Sementara bagi Abah Ma’ruf sendiri, tantangan terus berlanjut ketika ia pulang. Ma’ruf kecil yang ketika itu pulang pergi Jombang-Banten, pulang tidak untuk langsung beristirahat. Tetapi juga harus menghadapi sang Kakek, Kiai Ramli, yang menguji kesungguhan cucunya menuntut ilmu pesantren.

    Sekali lagi, menjadi santri memang tidak mudah. Ia status terhormat yang melalui proses panjang. Bukan sebutan yang bisa diberi begitu saja, hanya karena kepentingan agar diterima sekelompok ummat.

    Karena itu, ketika ada seorang Presiden sangat menghormati santri dengan -sejak tahun 2015- menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai ‘Hari Santri Nasional’, sangat tidak masuk akal jika orang terus menyebutnya sebagai anti-Islam.

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/abah-kita-bag-3-amanah-bagi-santri/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]

  • Abah Kita (Bag.2): Makna Gelar Kiai

    Abah Kita (Bag.2): Makna Gelar Kiai

    Pasukan Majapahit yang menyerbu Giri Kedaton mendadak kocar-kacir. Seketika pena yang digunakan Sunan Giri berubah menjadi sebilah keris berputar-putar menyambar utusan Prabu Brawijaya. Membuat sesama mereka ribut sendiri, dan sebagian lain melarikan diri.

    Kelak, keris peninggalan Sunan Giri ini lalu dikenal dengan nama ‘Kiai Kalam Munyeng’. Kalam berarti pena, dan munyeng artinya berputar. Lalu dari mana gelar Kiai-nya?

    Bukankah Kiai adalah gelar penghormatan pada orang yang dituakan, atau pada orang yang diakui kedalaman ilmu agamanya. Pendeknya, bukankah gelar Kiai itu diperuntukkan untuk manusia saja?

    * * *

    Istilah Kiai mulanya memang diperuntukkan bagi benda-benda keramat –khususnya senjata pusaka– milik penguasa di Tanah Jawa. Gelar yang dipercaya berasal dari kata ‘iki wae’ (ini saja) ini kemudian berkembang bukan hanya pada pusaka pilihan, tetapi juga pada manusia pilihan. Terutama mereka yang memiliki kedalaman ilmu.

    Tapi khusus untuk keris Kiai Kalam Munyeng, kesamaannya sebenarnya bukan hanya pada statusnya sebagai yang terpilih, tapi juga pada maknanya. Yakni ketika melihat kisah Kalam Munyeng dalam tafsir metafornya.

    Sebagai metafor, pena yang merupakan wujud asli keris Kalam Munyeng adalah simbol pengetahuan. Sunan Giri mengalahkan prajurit Majapahit sesungguhnya karena kedalaman ilmunya. Ia beradu argumen tentang siapa sesungguhnya penguasa Majapahit yang sah, hingga akhirnya prajurit itu ribut sendiri.

    Pena sendiri sebagai simbol pengetahuan, misalnya bisa dilihat pada lambang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di mana arti lambang berbentuk pena di logo HMI bermakna haus akan ilmu pengetahuan.

    * * *

    Sebutan Kiai pada manusia pilihan –seperti pada sebutan Kiai Haji (KH) Ma’ruf Amin misalnya– adalah karena kedalaman ilmunya.

    Gelar Kiai pada Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini tidak muncul begitu saja, seperti orang yang hanya karena sering berkumpul lalu mengatasnamakan agama. Melainkan karena KH. Ma’ruf Amin (Abah Ma’ruf) memiliki latar belakang historis panjang terkait gelar tersebut.

    Sejak dari lahir Abah Ma’ruf memang memiliki trah kiai. Ayahnya, KH. Mohammad Amin (Kiai Amin) adalah seorang Kiai yang sering mengajar dari kampung ke kampung, dan membuka pesantren di Kresek, Tangerang. Kedalaman ilmu Kiai Amin di antaranya karena pernah belajar ke Makkah. Di sana ia seangkatan dengan KH. Anwar Musaddad, mantan Wakil Rais ‘Aam PBNU.

    Bahkan dari jalur ibu pun Abah Ma’ruf memiliki keturunan Kiai. Ibunya, Hj. Maimunah adalah putri dari KH. Muhammad Ramli (Kiai Ramli). Baik Kiai Amin maupun Abah Ma’ruf banyak berguru pada Kiai Ramli karena kedalaman ilmunya. Kiai Ramli pun pernah belajar ke Makkah, dan seangkatan dengan KH. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim).

    Benar, Mbah Hasyim yang dimaksud adalah tokoh kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yang juga adalah Rais ‘Aam PBNU pertama.

    Rupanya baik dari jalur ayah maupun ibu, masing-masing memiliki sahabat seangkatan yang menjabat setingkat pimpinan dan wakil Rais ‘Aam. Tidak heran jika takdir kemudian mengantarnya menduduki jabatan prestisius NU tersebut.

    * * *

    Trah Kiai tidak segera membuat Abah Ma’ruf berani menggelari dirinya ulama. Melainkan karena ia juga ditempa oleh pendidikan yang sarat dengan ilmu agama.

    Sejak kecil, meski bersekolah SD ia juga tetap mengaji di Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kresek. Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Tetapi selain itu, ia juga berguru di banyak pesantren lainnya, khususnya di wilayah Banten.

    Pendidikan inilah yang membentuk kedalaman ilmu dan ketinggian akhlak Abah Ma’ruf. Ajaran ilmu dan akhlak tidak membuatnya petantang-petenteng menyebut diri ulama, lalu dengan mudah memaki orang yang dianggapnya berbeda.

    Ia paham betul, bahwa bukan hanya amar ma’ruf (perintah pada kebaikan) yang perlu dilakukan dengan cara ma’ruf (baik). Tetapi juga nahi munkar (larangan pada keburukan) pun perlu dilakukan dengan cara yang ma’ruf.

    Bukan dengan cara yang ternyata sebenarnya tidak kalah munkar.

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/abah-kita-bag-2-makna-gelar-kiai/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]

  • Abah Kita (Bag.1) : Kelahiran Sang Semar

    Abah Kita (Bag.1) : Kelahiran Sang Semar

    Apa yang kita ingat tiap tanggal 11 Maret? Hampir semua akan menjawab ‘Supersemar’. Surat Perintah 11 Maret (Super Semar) yang menjadi legitimasi beralihnya tongkat pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru.

    Saya pun akan menjawab sama. Tapi bukan Supersemar yang merujuk pada surat kontroversial tahun 1966 itu. Melainkan pada sosok super nan kharismatik seperti Semar dalam pewayangan.

    Karakter Semar dalam kisah pewayangan diyakini merupakan warisan dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Ia mendakwahkan Islam di nusantara demikian halusnya melalui budaya, yang salah satunya melalui karakter Semar.

    Semar dalam sebuah versi, sesungguhnya diambil dari kata ‘simaar’ yang berarti paku. Persisnya ‘simaarudunia’ atau paku dunia. Paku bertujuan sebagai pengokoh, mengokohkan nilai kebenaran.

    Dikisahkan, dalam upaya membangun kahyangan, Semar pernah bermaksud meminjam tiga pusaka Kerajaan Amarta. Jamus Kalimasada, Tumbak Kalawelang, dan Payung Tunggulnaga.

    Tetapi niat baik itu dicurigai dan dihalang-halangi para dewa di Suralaya, hingga akhirnya Suralaya pun guncang karena amuk sang Semar.

    * * *

    Tepat 76 tahun yang lalu, 11 Maret 1943, tokoh yang mengingatkan pada lakon Semar lahir di Desa Kresek. Kabupaten Tangerang, Banten.

    Ia sosok sederhana, bersahaja, bijaksana, dan jenaka. Karakter yang terbentuk dari kultur tempat ia lahir dan tumbuh, di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

    Banyak gagasan dan gerakannya –sebagaimana akan dibahas pada tulisan selanjutnya– yang kemudian mengantarkannya menjadi Rais Aam NU sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dua posisi prestisius yang menunjukkan ketinggian ilmu, dan tidak ada keraguan pada keulamaannya.

    Sampai akhirnya, saat seseorang memakinya di sebuah persidangan, jutaan ummat berbulan-bulan tumpah ke jalan mengawal fatwanya. Negara guncang, layaknya Suralaya oleh Semar.

    Tapi seperti juga halnya Semar memaafkan yang para dewa yang akhirnya mengaku salah, ia pun memaafkan mereka yang menyadari kesalahannya. Tidak ada dendam pada dirinya.

    * * *

    Kesamaan mereka bukan hanya pada kebesaran keduanya. Tetapi pada nilai-nilai yang mereka perjuangkan. Pusaka Kerajaan Amarta sesungguhnya hanyalah simbol yang dibawa Kanjeng Sunan dalam mendakwahkan Islam di jalur budaya nusantara.

    Jamus Kalimasada tidak lain adalah “Dua Kalimat Syahadat”, yang merupakan kunci keislaman. Tumbak Kalawelang adalah simbol hati dan pikiran yang jernih. Dan yang tidak boleh terlupakan, Payung Tunggulnaga adalah simbol pengayoman pada seluruh rakyat jelata.

    Pesan dalam lakon ‘Semar Mbangun Kahyangan’ adalah, untuk membangun sebuah negara jangan melupakan nilai luhur agama, tapi tetap dalam koridor akhlak mulia, dan melindungi rakyat kecil. Ma’ruf (kebaikan) yang juga selalu ditebar oleh sosok berdarah Sunda itu.

    Ya, orang itu adalah KH. Ma’ruf Amin. Sosok kharismatik yang selalu menyempatkan waktu mendengar segala curhat dan pertanyaan remaja yang kadang lucu dan ngga penting-penting banget saat kami berkunjung.

    Tapi dengan kedalaman ilmu dan akhlak agamanya ia tetap dengan sabar memberi nasehat, layaknya Abah (ayah) pada anak-anak yang sedang lucu-lucunya. Abah Ma’ruf Amin.

    [btn url=”https://www.suaradewan.com/abah-kita-bag-1-kelahiran-sang-semar/” text_color=”#ffffff” bg_color=”#000000″ icon=”” icon_position=”start” size=”18″ id=”” target=”on”]ARTIKEL ASLI[/btn]