Blog

  • Politik ‘Syantik’ Prabowo Vs Jokowi

    Politik ‘Syantik’ Prabowo Vs Jokowi

    Oleh: Abdullah Sammy, wartawan Republika

    M. Night Shyamalan boleh dibilang sebagai salah satu sutradara yang paling andal dalam menggarap film berplot twist. Plot twist adalah perubahan mendadak alur cerita.

    Beberapa karya sineas asal India itu seperti Unbreakable, the Sixth Sense, the Village, the Visit, atau Split menghadirkan ending cerita yang cukup mencengangkan penonton. Plot twist dalam film Shyamalan akhirnya membuat penonton terkaget-kaget karena perubahan ceritanya begitu tak terduga.

    Tak hanya Shyamalan yang bisa membuat penonton terkaget-kaget dengan plot twist-nya. Berbicara situasi politik Indonesia dalam 24 jam terakhir, kita juga disuguhkan perubahan kisah nan dramatis.

    Pada detik-detik terakhir jelang pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), kejutan besar terjadi. Tajuknya adalah tentang tarik ulur pendamping Jokowi. Hingga 15 menit sebelum pengumuman, semua orang tahu bahwa pendamping Jokowi adalah Mahfud MD.

    Mahfud bahkan sudah berbicara penetapan cawapres di televisi. Sehingga tak sedikit pun yang ragu bahwa jalan ceritanya akan bermuara pada kisah Jokowi-Mahfud mendaftar ke KPU keesokan harinya.

    Pendaftaran Bakal Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2019, JOKO WIDODO & MA’RUF AMIN, Jumat (10/8/2018)

    Namun kisah yang sudah ditebak oleh hampir seluruh pemirsa itu keliru. Skenario berubah dalam hitungan detik. Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin pada lima menit terakhir sebelum pengumuman.

    Duarrrrr…. Bagai petir di siang bolong. Semua kaget akan twist yang terjadi di kubu Jokowi.

    Twist yang tercipta belum berhenti sampai di situ. Kubu Jokowi yang awalnya lebih kental dengan jargon keberagamaan, kini mendadak lekat dengan simbol-simbol Islam.

    Lakunya isu agama itu terjadi usai gerakan protes jutaan massa di Jakarta pada 2 Desember 2016 (Gerakan 212). Usaha untuk menyematkan Gerakan 212 dengan sebutan makar, antikeberagaman, anti NKRI, gagal total.

    Jadi lepas kesuksesan 212 menang di DKI, twist mulai terjadi. Lepas Ahok divonis penjara, Gerakan 212 perlahan mulai dapat tempat di istana. Salah satunya dengan menunjuk alumni gerakan 212 Ali Mochtar Ngabalin sebagai juru bicara.

    Pengacara yang mengawal alumni Gerakan 212, Kapitra Ampera pun merapat ke PDI Perjuangan (PDIP). Di samping itu ada momen-momen menarik seperti pertemuan beberapa wakil Gerakan 212 dengan Jokowi atau dihentikannya kasus tokoh 212.

    Namun, puncak dari usaha merangkul Gerakan 212 adalah ditunjuknya Ma’ruf Amin, yang tak lain merupakan salah satu simbol spiritual gerakan. Rentetan fenomena itu secara tak langsung membalik lakon secara dramatis. Dari politik berlakon politik anti simbol agama, kini menggunakannya sebagai senjata.

    Plot twist yang terjadi ini membuat peta politik semakin sulit ditebak. Tapi di sisi lain, terjadi perubahan karakter tokoh yang sangat tajam. Yang tadinya begitu sekuler, kini mendadak agamis. Sebaliknya, yang Islamis pun mendadak pluralis.

    Pendaftaran Bakal Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Pemilu 2019, PRABOWO SUBIANTO & SANDIAGA SALAHUDDIN UNO, Jumat (10/8/2018)

    Kisah twist tak hanya terjadi di kubu Jokowi. Di toko sebelah, alias kubu Prabowo, plot twist berlakon ‘jenderal kardus’ mengemuka di detik akhir. Demokrat yang kecewa lantas melempar label ‘jenderal kardus’ pada Prabowo.

    Tapi beberapa jam berselang, Demokrat pun ikut gerbong Prabowo. Yang awalnya saling ‘lempar kardus’, kini mendadak mesra, makan satu piring bersama.

    Label ‘cebong’ dan ‘kampret’ pun bisa jadi akan ikut pula terseret arus twist. Karena semua ‘kampret’ bisa jadi cebong pada waktunya. ‘Cebong’ pun bisa jadi ‘kampret’ pada akhirnya.

    Sebab kalau dari cebong menjadi katak itu terlalu mainstream. Cebong jadi kampret itu baru twist yang hebat. Jadi bagi kedua pendukung di level penonton, lebih baik duduk ‘syantik’ dan nikmati segala dinamika politik.

    Saya pribadi meyakini, twist yang terjadi belum akan berhenti hingga pada ending di KPU. Dipastikan masih ada skuel-sekuel dari cerita berplot twist pada perpolitikan Indonesia.

    Ini bisa jadi lebih seru dari sekuel film berplot twist karya Shyamalan,Unbreakable dan Split. Konon trilogi dari film Unbreakable dan Splitberjudul Glass akan tayang di tahun 2019 atau bersamaan dengan pilpres.

    Sebelum menunggu kejutan plot twist di film Glass dan pilpres 2019, ada baiknya mencermati ulang kisah di film Unbreakable. Singkat cerita ini adalah kisah tentang seorang penderita kelainan genetis sejak lahir bernama Elijah Prince (Samuel L Jackson).

    Akibat kelainan genetis itu, tulang Elijah gampang retak sehingga dia pun dijuluki Mr Glass. Sejak kecil, Elijah gemar membaca komik yang mengandung kisah tentang pahlawan (super hero) dan penjahat (super villian).

    Mr Glass, sosok manusia rapuh, kemudian bertemu dengan sosok manusia tangguh berama David Dunn (Bruce Willis). Berkebalikan dengan Glass, Dunn adalah sosok yang tak pernah merasakan sakit. Bahkan saat kereta yang dtumpanginya kecelakaan, semua penumpangnya mati kecuali Dunn.

    Si rapuh dan si tangguh akhirnya berkawan. Elijah yang gemar membaca kisah komik punya teori bahwa Dunn adalah super hero yang mesti menolong sesama. Keyakinan itu didasari kenyataan bahwa kawannya itu selamat dari kecelakaan maut kereta.

    Meski awalnya mengabaikan perkataan Elijah, Dunn perlahan mulai sadar bawa dirinya pahlawan. Selain fisiknya yang tangguh, Dunn juga punya kemampuan untuk mengetahui kejahatan seseorang bila menyentuh tubuh seseorang itu.

    Saat bersalaman dengan Elijah di akhir cerita, kejutan besar tercipta. Saat bersentuhan itu, Dunn jadi diberi ‘penglihatan’ tentang sosok si rapuh kawannya itu. Elijah ternyata sosok yang membuat rekayasa atas kecelakaan kereta yang menimpa Dunn dan menyebabkan ratusan orang tewas. Si rapuh itu nyatanya adalah penjahat utamanya.

    Di akhir kisah, Elijah yang ternyata adalah sang super villian berkata, “Apakah Anda tahu apa hal yang paling menakutkan? Adalah tidak tahu tempat Anda di dunia ini.”

    Perkataan Mr Glass ini sama dengan ketakutan sebagian politisi. Bagi mereka, ketakutan adalah tak tahu tempatnya usai 2019 nanti. Selamat tinggal ideologi…

    (artikel pertama kali dimuat oleh republika.co.id, edisi 11/8)

  • Pilpres 2019, Diamnya Muhammadiyah: Teringat AR Fachruddin

    Pilpres 2019, Diamnya Muhammadiyah: Teringat AR Fachruddin

    JAKARTA, SUARADEWAN.com — Persyarikatan Muhammadiyah hingga kini berposisi unik dalam hiruk-pikuk pencalonan capres dan cawapres yang sekarang tengah heboh ini. Langgamnya tetap apolitis yang hanya diam dan menunggu hasil apa yang akan terjadi. Tidak terlihat nafsu yang menggebu dari para tokohnya untuk ikut-ikutan. Tak ada sosok anggota yang ada di jajaran elite Muhammadiyah (anggota PP Muhamadiyah) yang sibuk berkomentar, apalagi nekat ikut mencalonkan diri.

    Seruan Ketua Umum PP Muhammadiyah soal calon capres dan cawapres datar saja. “Kalau boleh Muhammadiyah mengajak bahwa pada seluruh institusi agama dan keulamaan tetap menjadi basis bagi kekuatan moral yang mengharapkan bangsa ini lebih luhur,” kata Haedar Nashir seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018.

    Haedar dalam kesempatan itu juga menyampaikan bila pada pihak lain, pilihan berpolitik tetap merupakan hak setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Namun, dia juga meminta agar institusi politik menghormati institusi keagamaan serta tidak memanfaatkannya untuk sekadar meraih kekuasaan.

    Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah

    Bagi yang kenal pada langgam Muhammadiyah pasti paham akan gaya ini. Tidak ikut sibuk menjadi “pendorong mobil mogok” institusi politik. Persyarikatan ini lebih memilih minggir dalam area politik praktis. Mereka terus meneguhkan hati tetap berkhidmat pada umat dalam memberikan pelayanan sosial kemasyarakatan.

    Apakah Muhammadiyah tidak paham politik? Jawabannya jelas tidak. Di sana banyak doktor politik yang paham akan soal siasyah (politik) dalam Islam dan juga paham yang ada di luarnya. Jumlah massanya sangat signifikan. Muhammadiyah adalah ormas Islam dengan jumlah massa kedua terbesar setelah NU. Bahkan, mereka relatif lebih solid dibandingkan ormas keagamaan lainnya. Semua terjalin rapi, termanajemen yang bagus, dengan sebaran di seluruh pelosok Indonesia.

    Namun, Muhammadiyah memilih diam dalam soal poitik kekuasaan. Bahkan, dalam banyak perbincangan pemimpin, Muhammadiyah dari dahulu siap menanggung konsekuensi bila politik kekuasaan melupakannya.

    ”Tidak dibantu oleh yang berkuasa juga tak apa-apa. Sebab, bantuan penguasa tak boleh malah merepotkan kami,’’ begitu pernyataan yang sering terdengar di banyak kesempatan. Dari sebelum merdeka hingga kini seratus tahun setelah kemerdekaannya, Muhammadiyah memang mandiri. Baik secara sikap, bahkan hingga soal keuangan yang kadang bagi ormas dianggap sebuah hal yang musykil.

    Selain itu, Muhammadiyah di masa lalu pun telah cukup kenyang dengan soal politik. Pelajaran pada masa Orde Lama, Orde Baru, bahkan Orde Reformasi telah mengajarkan bahwa pilihan untuk tegak lurus pada soal sosial kemasyarakatan adalah hal terbaik. Politik bukan hal yang begitu mutlak serta harga mati.

  • Fenomena Caleg Artis dan Transfer Politisi

    Oleh: AJI CHEN BROMOKUSUMO*

    Usai sudah hiruk pikuk pendaftaran calon legislatif untuk seluruh jenjang perwakilan di seluruh Indonesia. Pendaftaran calon anggota DPR-RI, DPR Provinsi dan Kota serta Kabupaten ditutup tepat 00.00 pada tanggal 17 Juli 2018 yang lalu.

    Cukup banyak drama dan kejutan yang mewarnai pendaftaran ini. Baru pagi harinya di hari terakhir pendaftaran calon anggota legislatif di KPU Pusat, Partai Solidaritas Indonesia adalah yang pertama datang mendaftar pukul 08.15. Setelah itu suasana kembali “tenang tapi mendebarkan” sampai dengan sore harinya.

    Baru mulai sekitar pukul 14.30 mulai nampak beberapa beberapa parpol mendatangi Gedung KPU. Namun hingga pukul 20.30 baru tujuh parpol yang mendaftar.

    Sementara di Tangerang Selatan, juga terjadi hal yang sama. Tanggal 16 Juli 2018, Partai Solidaritas Indonesia adalah yang pertama mendaftar ke KPUD Tangerang Selatan. Setelah itu tidak ada satupun parpol mendaftar sampai dengan keesokan harinya tanggal 17 Juli 2018.

    Kenapa nyaris seluruh parpol mendaftarkan para calon anggota legislatif ke KPU dan KPUD di saat-saat terakhir pendaftaran? Semua parpol tanpa kecuali memberikan alasan bahwa pendaftaran di saat terakhir adalah strategi partai.

    Apakah benar demikian? Mungkin benar salah satu alasan adalah strategi partai, yang menahan terbukanya figur-figur andalan public figure ataupun politisi kawakan sebagai vote getter dalam daftar calon legislatif.

    Namun sepertinya ada yang luput dari pemberitaan ataupun tidak diakui oleh hampir semua parpol, yaitu karena sistem baru yang disebut dengan Sistem Informasi Pencalonan, yang disebut dengan SILON Komisi Pemilihan Umum.

    Banyak LO – Liaison Officer dari parpol yang kewalahan dengan SILON ini. KPU sudah memberikan username dan password kepada seluruh parpol dari semua jenjang perwakilan jauh hari, bahkan sebelum Lebaran sudah diberikan kepada masing-masing parpol.

    Namun ternyata sebagian besar parpol ditengarai cukup gaptek dengan sistem baru KPU ini. Masih diperparah dengan tabiat dan kultur sebagian masyarakat Indonesia yang demen mengurus segala sesuatu di saat-saat terakhir.

    Mungkin injury time attitude ini membuat semangat terpacu karena aliran adrenalin yang ditimbulkan dari sensasi mengurus di last minutes. Termasuk yang sekarang terjadi adalah persiapan Asian Games 2018 yang masih pontang-panting kebut sana kebut sini.

    Nyaris semua parpol dan para bakal calon legislatifnya mengurus semua persyaratan yang disyaratkan KPU di saat-saat terakhir. Rumah sakit-rumah sakit pemerintah penuh sesak antrean para bacaleg dan para LO yang mengurus surat keterangan sehat jasmani, rohani dan bebas narkoba.

    Beberapa insiden terjadi ketika beberapa LO dengan arogan memotong antrean dan ada juga anggota dewan incumbent yang petentang-petenteng minta diistimewakan dilayani lebih dulu.

    Kantor-kantor polisi penuh antrean yang mengurus SKCK – Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Kantor-kantor Pengadilan Negeri juga penuh antrean mengurus surat keterangan bebas pidana.

    Setelah semua persyaratan beres, kehebohan belum usai. Kegaptekan para LO dan bacaleg juga menjadi kendala tersendiri.

    Urusan memindai dokumen asli menjadi softcopy menjadi tantangan tersendiri. Mengunggah softcopy dokumen ke dalam SILON KPU tantangan lain lagi. Belum lagi cukup sering server KPU ambles tidak bisa diakses ataupun lamban sekali. Pendeknya heboh!

    Fenomena vote getter

    Hal yang cukup mengejutkan adalah fenomena semakin banyaknya public figure yang menjadi bacaleg lebih marak dibanding dengan Pemilu 2014. Orang-orang ramai menyebutnya sebagai fenomena caleg artis.

    Banyak sekali bintang film, bintang sinetron, penyanyi yang ramai-ramai bergabung atau ditarik menjadi bacaleg.

    Sebut saja: Syahrul Gunawan, Giring “Nidji”, Tina Toon, Jane Shalimar, Dirly Dave Sompie, Tommy Kurniawan, Tessa Kaunang, Eddies Adelia, Nafa Urbach, Kristina, Vena Melinda, Anissa Bahar, Chris John, Okky Asokawati, Sultan Djorghi, Desy Ratnasari, dan ada juga tokoh-tokoh figur publik, tokoh kontroversial, nama-nama beken yang ikut serta nyaleg.

    Lebih tepatnya: total taburan bintang ada 54 bintang film, bintang sinetron, penyanyi, bintang iklan dan sejenisnya.

    Sejumlah Artis yang nyaleg lewat Partai Nasdem

    Terbanyak ada di Nasdem sebanyak 27 orang; disusul PDI-P 13 orang; kemudian PKB 7 orang; Berkarya 5 orang; PAN, Demokrat, Golkar masing-masing 4 orang; Perindo dan Gerindra masing-masing 3 orang; dan PSI 1 orang. Sementara terbanyak transfer politisi adalah dari Hanura ke Nasdem yang disebabkan konflik internal Hanura.

    Yang mencengangkan adalah: Kapita Ampera, pengacara dan orang dekat Rizieq Shihab, menjadi caleg dari PDI-P untuk Dapil Sumbar dan Yusuf Supendi, pendiri PKS, menjadi caleg dari PDI-P untuk Dapil Bogor.

    Publik sangat jelas melihat dan menengarai dua sosok tokoh tersebut sangat kontroversial dan vokal selama ini berdiri di sisi berlawanan di manapun pemerintah berada. Namun sekali lagi berlaku, konon katanya dalam dunia politik tak ada lawan ataupun kawan abadi, yang ada adalah kepentingan bersama.

    Yang tak kalah menggemparkan adalah jajaran menteri yang masih menjabat, beramai-ramai nyaleg juga: Puan Maharani (Menko PMK) dari PDI-P Dapil Jateng V; Yasonna Laoly (Menhum HAM) dari PDI-P Dapil Sumut II; Hanif Dhakiri (Menaker) dari PKB Dapil Depok; Imam Nahrowi (Menpora) dari PKB Dapil Jakarta Timur; Eko Putro S (Menteri DPDT) dari PKB Dapil Bengkulu; Lukman Hakim (Menag) dari PPP Dapil Jabar VI; Asman Abdur (Menpan) dari PAN Dapil Riau; Nusron Wahid (Kepala BNP2TKI) dari Golkar Dapil Jateng II.

    Kenapa ini terjadi? Rupanya disebabkan oleh ini: Presidential Threshold 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara nasional dan Parliamentary Threshold 4 persen (naik dari sebelumnya 3,5 persen).

    Tidak heran parpol berlomba menangguk perolehan suara. Nasdem dengan latar belakang pengalaman mengelola media, nampaknya aura pengelolaan parpolnya seperti pengelolaan media, figur publik, bintang dan rating; demikian juga dengan PDI-P sebagai partai penguasa harus mengukuhkan posisinya dengan menangguk suara semaksimal mungkin; terlihat dari dua tokoh yang berseberangan pun akhirnya nyaleg dengan kendaraan PDI-P.

    Yang menjadi momok bagi parpol adalah perubahan cara perhitungan peroleh kursi dewan. Perhitungan sebelumnya yang menggunakan Kuota Hare diubah menjadi Metode Sainte Lague Murni, yang diperkenalkan oleh ahli matematika asal Perancis, Andre Sainte Lague.

    Ilustrasi:

    Misal dalam Pemilu Legislatif 2019 di Dapil X perolehan suara:

    1. Partai A: 220.000
    2. Partai B: 100.000
    3. Partai C: 30.000
    4. Partai D: 25.000
    5. Partai E: 3.000

    Hitungan dengan Metode Kuota Hare (Pemilu 2014)

    Misal jatah 4 kursi dengan harga 1 kursi 200.000 suara. Jadi Perolehan Kursi:

    1 KURSI PERTAMA : UNTUK Partai 1

    1. Partai A: 1 kursi sisa 20.000
    2. Partai B: 0 kursi sisa 100.000
    3. Partai C: 0 kursi sisa 30.000
    4. Partai D: 0 kursi sisa 25.000
    5. Partai E: 0 kursi sisa 3.000

    Karena masih ada sisa 3 kursi, sisa kursi diberikan kepada perolehan terbanyak yaitu partai B, partai C, Partai D.

    Sehingga hasil akhirnya: Partai A, B, C dan D masing-masing satu kursi.

    Hitungan dengan Metode Sainte Lague Murni

    1. Partai A meraih 220.000 suara.
    2. Partai B meraih 100.000 suara.
    3. Partai C meraih 30.000 suara.
    4. Partai D meraih 25.000 suara.
    5. Partai E 3.000 suara.

    *Kursi Pertama*

    Maka kursi pertama didapat dengan pembagian 1.

    1. Partai A 220.000/1 = 220.000
    2. Partai B 100.000/1 = 100.000
    3. Partai C 30.000/1 = 30.000
    4. Partai D 25.000/1 = 25.000
    5. Partai E 3.000/1 = 3.000

    Jadi kursi pertama adalah milik partai A dengan 220.000 suara.

    *Kursi Kedua*

    Untuk kursi ke-2, dikarenakan A tadi sudah menang di pembagian 1. Maka berikutnya, A akan dibagi 3, sedangkan yang lain masih dibagi 1.

    Perhitungan kursi ke-2 adalah:

    1. Partai A 220.000/3 = 73.333
    2. Partai B 100.000/1 = 100.000
    3. Partai C 30.000/1 = 30.000
    4. Partai D 25.000/1 = 25.000
    5. Partai E 3.000/1 = 3.000

    Maka kursi ke-2 adalah milik partai B dengan 100.000 suara.

    *Kursi Ketiga*

    Sekarang kursi ke-3, Partai A dan B telah mendapatkan kursi dengan pembagian 1, maka mereka tetap dengan pembagian 3, sedangkan suara partai lain masih dengan pembagian 1.

    Maka perhitungan kursi ke 3 adalah:

    1. Partai A 220.000/3 = 73.333
    2. Partai B 100.000/3 = 33.333
    3. Partai C 30.000/1 = 30.000
    4. Partai D 25.000/1 = 25.000
    5. Partai E 3.000/1 = 3.000

    Maka di sini kursi ke-3 milik partai A lagi dengan 73.333 suara.

    *Kursi Keempat*

    Perhitungan suara untuk kursi ke 4, A dan B telah mendapat kursi dengan pembagian 3, maka mereka akan masuk ke pembagian 5.

    1. Partai A 220.000/5 = 44.000
    2. Partai B 100.000/3 = 33.333
    3. Partai C 30.000/1 = 30.000
    4. Partai D 25.000/1 = 25.000
    5. Partai E 3.000/1 = 3.000

    Kursi ke-4, jatuh di Partai A lagi.

    Hasil Akhir

    1. Partai A = 3 kursi
    2. Partai B = 1 kursi
    3. Partai C = 0 kursi
    4. Partai D = 0 kursi
    5. Partai E = 0 kursi

    Sekarang jelas dan gamblang kenapa begitu pentingnya untuk parpol mengusung ‘taburan bintang’ (bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, bintang politik, sosok kontroversial, figur publik, dsb) sebagai vote getter.

    Peta politik dan peta kekuatan parpol berubah total, Metode Sainte Lague bisa dibilang adalah the winner takes it all – pemenangnya sapu bersih kursi yang tersedia. Semoga bintang-bintang yang bertaburan ini tidak menjadikan wajah politik Indonesia menjadi seperti kebanyakan sinetron televisi yang hanya mengejar rating.

    Semoga yang terbaik untuk Indonesia. God bless Indonesia…

     

    * Penulis Adalah: Head of Cultural Research & Study, Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (http://aspertina.org)

    Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Fenomena Caleg Artis dan Transfer Politisi

  • ‘Agama Baru’ Itu Sepak Bola

    Oleh: Adnan

    Sepak Bola merupakan sebuah permainan beregu dua kesebelasan di lapangan yang menggunakan bola sepak, masing-masing terdiri atas sebelas pemain dan berlangsung selama 2 x 45 menit, serta kemenangan ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan. Sepak bola termasuk satu permainan yang memiliki pendukung (supporter) fanatik.

    Fanatisme pendukungnya terkadang melebihi fanatisme mereka terhadap agama. Mereka marah ketika klub dan idola mereka dilecehkan kawan. Tapi, tak pernah marah ketika agama, kitab suci, dan nabi mereka dilecehkan lawan. Padahal yang perlu ditumbuhkan adalah fanatisme kepada agama, bukan kepada sepakbola. Sebab itu, wajar jika sepakbola menjadi “agama baru” dalam kehidupan manusia modern.

    Jika dalam agama terdapat pondasi penegak agama, semisal kitab suci, rumah ibadah, nabi, surga dan neraka, ibadah, zikir, dan pesan-pesan kebaikan. Maka dalam sepakbola juga memiliki pondasi yang mirip, sehingga sepakbola menjadi “agama baru” bagi manusia. Bahkan, bisa saja agama semisal Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Katolik, Kong Hu Cu, dan aliran kebatinan, menjadi agama dan kepercayaan kedua setelah “agama sepakbola”. Tentu persoalan tersebut menjadi sebuah ironi dalam kehidupan umat beragama. Sebab, agama diperlakukan laksana permainan, sebaliknya permainan diperlakukan laksana agama. Akibatnya, manusia lebih sering bersepakat nonton bola, dari pada mendengar ceramah agama.

    Beberapa fondasi
    Berikut beberapa fondasi “agama sepakbola” di antaranya: Pertama, rumah ibadah. Rumah ibadah merupakan pondasi penegak sebuah agama. semisal, masjid (Islam), Gereja (Kristen/Katolik), Pura (Hindu), Vihara (Budha), dan Klenteng (Kong Hu Cu). Keberadaan rumah ibadah sebagai tempat penyembahan dan pemujaan kepada Tuhan. Sedangkan rumah ibadah `agama sepakbola’ adalah lapangan, cafe, dan tempat-tempat pemutaran siaran langsung sepakbola. Tak jarang setiap sepakbola berlangsung, para supporter dan penonton penuh sesak untuk berkumpul di lapangan, atau cafe-cafe dan tempat pemutaran siaran langsung pun dipenuhi sesak oleh para pengikut “agama sepakbola”. Sebab, meninggalkan satu babak pertandingan laksana telah berbuat dosa besar.

    Kedua, kitab suci. Kitab suci merupakan sumber wahyu, pengetahuan, dan informasi yang berisi perintah dan larangan, serta pesan-pesan kebaikan dari Tuhan, semisal Alquran (Islam), Alkitab (Kristen/Katolik), Weda (Hindu), Tri Pitaka (Budha), dan Si Shu Wu Ching (Kong Hu Cu). Sedangkan kitab suci dalam “agama sepakbola” yakni media cetak dan elektronik yang berisi tentang berbagai informasi jadwal pertandingan, klub-klub yang akan bertanding, para pemain inti dan cadangan, klub yang gugur dari arena pertandingan, klub terkuat, dan lain sebagainya. Mungkin bagi “pemeluk agama sepakbola” tidak meng-update informasi sehari saja, laksana telah berbuat dosa setahun penuh.

    Ketiga, pembawa risalah. Pembawa risalah (Nabi) merupakan utusan Tuhan kepada umat. Keberadaan pembawa risalah bertugas mengajarkan umat, memberi contoh teladan, dan menerjemahkan pesan-pesan ketuhanan, semisal Muhammad saw (Islam), Yesus (Kristen/Katolik), Siddharta Gautama (Buddha), dan Kong Hu Cu (Kong Hu Cu). Sedangkan dalam “agama sepakbola” pembawa risalah merupakan para manager dan pelatih sepakbola. Mereka harus mampu menyuguhkan kehebatan dan kepintaran para pemain di lapangan dalam setiap pertandingan. Ketika sebuah pertandingan menang, maka manager dan pelatih akan mendapatkan pujian dari para pemeluk. Sebaliknya, jika kalah, maka tak jarang mereka mendapatkan kecaman.

    Keempat, ibadah. Ibadah merupakan segala aktivitas kebaikan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Ibadah menjadi ukuran seseorang sebagai pemeluk agama yang taat atau tidak, semisal shalat, puasa, zakat, dan haji dalam Islam. Sedangkan ibadah dalam ‘agama sepakbola’ adalah membeli tiket atau segelas kopi, duduk di tribun lapangan atau kursi di cafe siaran langsung sepakbola, perhatian fokus menyaksikan pertandingan selama 2 x 45 menit. Mungkin tidak mengikuti satu babak pertandingan laksana telah berbuat dosa yang sulit terampuni. Aktivitas semacam ini terus dilakukan hingga akhir sebuah pertandingan. Menyaksikan pertandingan demi pertandingan merupakan aktivitas ibadah bagi pemeluk ‘agama sepakbola’.

    Kelima, hari-hari besar agama. Hari-hari tersebut merupakan hari-hari yang dibesarkan dalam agama, sebab didalamnya terdapat kemuliaan, kehebatan, dan kebahagiaan bagi para pemeluk, semisal, Idul fitri dan Idul adha (Islam), Natal dan Paskah (Kristen/Katolik), Nyepi (Hindu), Waisak (Budha), dan Imlek (Kong Hu Cu). Hari-hari besar itu dijadikan sebagai momentum untuk berbagi kepedulian, kasih-sayang (silaturrahmi), dan bahagia penuh kegembiraan. Adapun dalam “agama sepakbola” hari-hari besar adalah musim piala dunia. Ketika piala dunia berlangsung, maka itu momentum berkumpul dan berbagi analisa siapa sang juara. Tak jarang ketika musim Piala Dunia tiba, agama yang sebenarnya bisa saja mereka singkirkan. Mungkin bagi pemeluk “agama sepakbola” lebih afdal nonton bola hingga menjelang terbit fajar dari pada Tahajud dan shalat Fajar.

    Keenam, zikir dan selawatan. Dalam Islam, zikir merupakan ucapan kalimat-kalimat mulia (thayyibah), semisal tasbih, takhmid, takbir, untuk mengagungkan Allah Swt, dan selawat untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi Nabi Muhammad Saw. Jika Islam memiliki pekikan takbir, maka “agama sepakbola” memiliki “pekikan gol” saat bola masuk ke gawang lawan. Adapun yel-yel yang diucapkan supporter secara serentak laksana “selawatan” para pemeluk “agama sepakbola”. Bisa saja mereka jarang ke masjid dan meunasah untuk membaca selawat, tapi yel-yel dan pekikan gol tak pernah luput dari aktivitas ibadah pemeluk “agama sepakbola”.

    Ketujuh, aliran dalam agama. Meskipun agama wadah perkumpulan para pemeluk, tapi dalam agama memiliki multi-aliran, baik di bidang aqidah (teologis), fikih (fiqh), dan tasawuf. Dalam kajian pemikiran Islam dikenal Jabariyah, Qadariyah, Muktazilah, Syiah, dan Ahlussunnah Waljamaah. Pun, dalam “agama sepakbola” memiliki berbagai aliran, berupa klub-klub sepakbola. Setiap klub punya pengikut fanatik masing-masing. Tak jarang sesama pengikut fanatik klub terjadi tawuran dan konflik, meskipun berada dalam satu payung “agama sepakbola”. Tak lebih dari konflik keagamaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat disebabkan beda paham dan aliran, meskipun di bawah satu payung agama.

    Hanya permainan

    Meskipun demikian, penulis berharap bahwa para penonton dan pecinta sepakbola di Aceh tidak menjadikan sepakbola sebagai sebuah agama. Tapi, menonton sepakbola hanya untuk membangkitkan semangat juang, menumbuhkan sportivitas, meningkatkan kebersamaan dan kekompakan, belajar strategi dan taktik, serta menyalurkan hobi. Sebab itu, jangan sampai Piala Dunia 2018 yang kini sedang berlangsung di Rusia, melupakan kita dengan agama yang sebenarnya, suburnya aktivitas perjudian, menurun etos kerja karena jaga malam, enggan beribadah kepada Allah Swt, dan luput menjaga kesehatan. Sepakbola hanyalah sebuah permainan untuk “cuci-mata”, maka jangan sampai konflik dan tawuran disebabkan beda dukungan dan idola.

    Pun, dunia ini laksana sebuah permainan, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain daripada permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. al-An’am: 32). Sebab itu, tidak haram menonton bola, tapi jangan sampai melupakan Allah Swt. Silahkan punya klub andalan, tapi zikir dan selawatan harus membudaya dalam kehidupan. Silahkan hobi bola, tapi tidak lupa mempersiapkan bekal takwa untuk pulang ke kampung akhirat. Mari!

    * Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Bimbingan Konseling Islam, Sekretaris Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

    Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul ‘Agama Baru’ Itu Sepakbola

  • Dominasi Senyap Parpol Islam dalam Pilkada Serentak

    Oleh Fitriyan Zamzami*

    Partai-partai berbasis massa Islam secara kumulatif banyak memenangkan pasangan calon yang diusung maupun didukung dalam perhelatan pilkada serentak 2018, terutama di tingkat pemilihan gubernur. Sejumlah kader parpol berbasis massa Islam, baik sebagai calon gubernur maupun calon wakil gubernur, juga berhasil unggul merujuk hitung cepat.

    Dari 17 pemilihan gubernur (pilgub) tahun ini, paslon yang diusung PKB menang di enam daerah, sedangkan PAN memenangkan paslon yang mereka dukung di 10 daerah. Jumlah tersebut adalah yang terbanyak, bersanding dengan calon yang didukung Nasdem dalam berbagai pilgub tahun ini.

    Sementara, PPP memenangkan calon yang mereka dukung di tujuh provinsi. Jumlah itu persis dengan jumlah kemenangan calon yang didukung PKS.

    Pada tingkat pilgub, satu-satunya partai pemuncak pemilihan legislatif 2014 yang juga memuncaki jumlah kemenangan paslon yang mereka usung adalah Golkar di sembilan daerah. Sementara, PDIP hanya menang di empat provinsi, Gerindra di tiga provinsi, dan Demokrat di enam provinsi.

    Pada tingkat pasangan calon, di pilgub NTB 2018, kader PKS Zulkieflimansyah sebagai calon gubernur berhasil memuncaki hasil hitung cepat. Merujuk hitung cepat LSI Denny JA, pasangan Zulkieflimansyah-Sitti Rohmi Djalilah unggul dengan 30,16 persen suara. Diikuti paslon M Suhaili-Muhammad Amin sebesar 28,86 persen dan paslon Ahyar Abduh-Mori Hanafi dengan suara 24,77 persen.

    Selain pada Zulkieflimansyah, nuansa Islami juga kental pada pasangan ini, mengingat Sitti Rohmi Djalilah merupakan kader yang diajukan Nahdlatul Wathan, ormas Islam terbesar di NTB. Ia juga merupakan kakak kandung Gubernur NTB TGB Zainul Majdi.

    Pasangan Edy Rahmadi-Musa Rajekshah juga unggul di Pilkada Sumut menurut hitung cepat LSI Denny JA. Mereka memperoleh 56,52 persen suara mengalahkan pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus. Meski sejauh ini keduanya belum resmi menjadi kader, mereka kerap terlihat mengenakan jaket putih PKS selama kampanye, sehubungan partai itu adalah salah satu yang paling getol menyokong Edy-Musa.

    Dalam pidato menyambut keunggulan merujuk hitung cepat kemarin, tampak juga Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain yang berperan penting dalam gerakan pemidanaan kasus penodaan agama oleh mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

    Di Riau, lembaga riset dan konsultan politik Pollmark Indonesia dalam hitung cepatnya menyatakan, pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Riau Syamsuar-Edy Nasution unggul dalam pilgub Riau 2018 dengan perolehan suara mencapai 38,17 persen. Syamsuar merupakan kader PAN dan diusung oleh parpol tersebut bersama PKS dan Nasdem.

    Di Sumatra Selatan (Sumsel), hitung cepat LSI Denny JA dan Puskaptis menunjukkan keunggulan tipis pasangan Herman Deru-Mawardi Yahya atas pasangan Dodi Reza Alex-Giri Ramanda Kiemas. LSI menempatkan keunggulan Herman-Mawardi pada angka 35,91 persen berbanding 31,76 persen. Sedangkan, Puskaptis menghitung, Herman Mawardi memperoleh 34,23 persen dibandingkan dengan 34,04 persen yang diperoleh pasangan Dodi-Giri.

    Herman Deru mula-mulanya dilamar PAN untuk maju sebagai calon gubernur dalam Pilkada Sumsel 2018. Belakangan, Nasdem dan Hanura ikut mengusung saat pendaftaran sebagai calon.

    Sementara, PPP berhasil menempatkan kader mereka, UU Ruzhanul Ulum, mendampingi Ridwan Kamil sebagai calon gubernur yang unggul dalam hitung cepat. Pasangan itu menurut sejumlah hitung cepat unggul sekitar 2 hingga 3 persen dari pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung Gerindra dan PKS.

    Pergerakan mesin partai PKS pada pekan-pekan menjelang pencoblosan disebut sejumlah pengamat mendongkrak raihan Sudrajat-Syaikhu yang sebelumnya sempat disurvei hanya memiliki elektabilitas 7 persen.

    PKS juga menempatkan kader mereka, Hadi Mulyadi, sebagai calon wakil gubernur Kalimantan Timur mendampingi Isran Noor. Pasangan itu menurut hitung cepat juga unggul di Pilkada Kaltim 2018.

    Di Jawa Tengah, pasangan Sudirman Said dan kader PKB Ida Fauziyah memunculkan sedikit kejutan dengan mementahkan sejumlah hasil survei. Mereka berhasil memperoleh sekitar 44 persen suara dalam hitung cepat, melonjak tajam dari hasil berbagai survei sebelum pilkada yang mentok di angka belasan. Tidak hanya aktif di PKB, Ida Fauziah juga aktivis Muslimat Nahdlatul Ulama.

    Sedangkan, di Lampung, paslon Arinal Djunaidi-Chusnuniah unggul dalam hitung cepat lembaga survei Cyrus Network pada Pilkada Lampung dengan perolehan 38,9 persen. Pasangan itu diusung Golkar, PKB, dan PAN, sementara Chusnuniah merupakan kader PKB.

    Peneliti politik senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai faktor kader partai politik Islam terhadap suara partai politik Islam turut memengaruhi hasil pilkada serentak 2018 ini. Menurut dia, kemenangan sejumlah pasangan calon yang lekat dengan figur dalam parpol Islam juga menyumbangkan suara bagi pasangan calon.

    “Jadi, kita memang tidak bisa memandangnya secara hitam putih. Tapi, ya, kalau format, itu idealnya gabungan antara nasional dan Islam,” ujar Syamsudin saat dihubungi wartawan, Rabu (27/6).

    Karena itulah, menurut dia, kerja sama antara kader parpol Islam berperan penting dalam proses pengambilan suara di parpol Islam.

    Peneliti dari LIPI lainnya, Siti Zuhro, tidak menyangkal bahwa parpol Islam dari segi kadernya sangat memengaruhi hasil perolehan suara dalam pilkada tahun ini. Kendati demikian, ia menyayangkan belum ada soliditas di antara parpol-parpol Islam.

    “Mereka (parpol Islam) jalan sendiri-sendiri sehingga tidak mampu memenangkan pilkada 2018 secara telak. Padahal, kalau parpol-parpol bisa bersatu, dampaknya akan jauh lebih signifikan,” kata Siti Zuhro

    *) Penulis adalah Redaktur Republika

    (Pertama kali muat di Republika.id, edisi 28 Juni 2018)

  • Pesan Kebangsaan untuk Rapimnas IKAMI SUL-SEL

    Oleh : Amiruddin Wata (Ketua Panitia Rapimnas/Ketua Bidang Ketahanan dan Politik PB IKAMI SS/)

    Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

    Salam sejahtera. Shalawat dan salam sama-sama kita haturkan kepada Baginda Rasulullah SAW. Semoga kita selalu menjadi ummat yang mendapatkan syafaatnya di hari kemudian.

    Yang terhormat, Ketua Majelis Kehormatan, Ketua umum, sekjend, ketua-ketua bidang Pengurus Besar, dan Sahabat-sahabat IKAMI se-Indonesia. Melalui rilis ini sebagai penganti kehadiran saya selaku ketua panitia, saya ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Sebab ada hajatan keluarga yg tak bisa kami tinggal kan, sehinggga kami tak hadir di forum yang membanggakan ini.

    Namun jauh dari pelosok timur sini, pikiranku selalu terbawa ke Rapimnas Makassar. 4 tahun yang lalu kami juga hadir sebagai peserta di Rapimnas PB Ikami Sulsel Makassar. Suka dan duka selama Rapimnas tentu saja kami juga sama-sama tau, namun tak ada kata yang paling baik selain memaklumi segala kekurangan panitia selama ini. Saya yakin panitia maupun pengurus sudah melakukan kerja semaksimal mungkin.

    Di Rapimnas Makassar 4 tahun yang lalu, kami sebagai ketua cabang Ciputat, ada dua amanah yang dititipkan kepada cabang Ciputat, yakni soal pembenahan perkedaran IKAMI dan tuan rumah Munas. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi sosial politik tak memungkinkan menjalankan dua amanah tersebut.

    Waktu itu, politik ditubuh IKAMI juga sedang memanas dimana politik 2014 membuat citra IKAMI menjadi sedikit menurun. Baik dihadapan tokoh-tokoh dan senior-senior. Tapi, biarkan itu berlalu dan dijadikan pelajaran utk kita semua, bahwa organisasi kepemudaan seperti sangat tak elok diseret-seret ke wilayah politik praktis.

    Sahabat IKAMI Sulsel Se-Indonesia. Makassar sebagai ibukota Sulsel selalu menjadi primadona bagi kita semua, kerinduan kita pada kota ini karena kita diarasi oleh tanah leluhur yang sudah mendarah daging sejak zaman behula.

    Saya sendiri begitu merasakan, betapa rindunya bisa mengunjungi tanah kelahiran leluhur. Sebab, kita tau sendiri meski kita sebagai keturunan Bugis, Makassar, Mandar ataupun Toraja, kadang tanah Sulsel sangat jarang dikunjungi, bahkan ada yang belum pernah menginjakkan kakinya sama sekali.

    Maka dari itu “IKAMI Balik Kampung” memang menjadi konsep Rapimnas PB IKAMI kali ini.

    Sahabatku, jika melihat Makassar. Kota ini telah mengalami perkembangan yang begitu cepat, manusianya juga sadah modern. Pola pikir masyarakat nya telah banyak mengemuka di tingkatan nasional. Para tokoh-tokohya sudah melampaui cakrawala dan cakradimuka. Bahkan orang-orang Sulsel selalu dilirik menjadi pemimpin negeri ini.

    Oleh karena itu, anggota IKAMI Sulsel juga harus mengikuti perkembangan itu. Kita harus bisa berkontemplasi dengan zaman, teknologi dan modernitas. Kita, sudah berada pada era dimana ideologi-ideologi dunia sedang mengalami perperangan. Kalau kader IKAMI Sulsel tidak dapat berkontemplasi dengan ideologi dunia maka IKAMI akan ditinggalkan.

    Sahabatku, tema Rekonsiliasi Kebanggsaan dipilih oleh panitia, karena kita menyadari, bahwa bangsa ini sedang mengalami pengkotak-kotakan. Ada yang bertikai karena paham yang sangat tertutup, ada juga yang berselingkuh karena kepentingan politik. Agama sudah semakin mencampuri urusan bernegara, Umara yang harusnya mengurus ummat dan nilai suci kini sudah menenggelamkan diri diarea politik praktis. Terjadi pengelompokan, kelompok satu bertikai dengan kelompok lainnya. Oleh karena itu, rekonsiliasi memang diperlukan. Kita warga Sulsel pada umumnya, dan kader IKAMI pada khususnya harus bisa menyatukan konsep bernegara ini. Kita harus berpikir jauh ke depan sebagai negarawan, bukan sebagai politikus. Sebab negara ini telah kekurangan Negarawan (secara pemikiran).

    Melalui tema rekonsiliasi ini, IKAMI sudah harus berani mengebrak kemunduran pemikiran ini. Bangsa ini seolah-olah telah kehilangan rohnya sebagai bangsa yang terdepan. Kemajemukan yang menjadi ciri khas bangsa sudah harus kembali dihidupkan. Kader IKAMI harus menjadi negarawan, teknokrat, enterpreneurship, dan leadership.

    Melalui Rapimnas ini, diharapkan IKAMI mampu, menjadi bibit unggul bangsa. Menjadi garda terdepan penjaga kebhinekaan dan Pancasila. IKAMI harus mampu menyatukan kekuatan pemuda, menyamakan konsep kesatuan, dan merekonsiliasi kelompok-kelompok kepemudaan.

    Itulah sebabnya, konsep Pemuda bersatu, negara kuat. Agar kita tau arti penting sesungguhnya kehadiran pemuda bagi bangsa ini. Tak cukup pemuda semata. Tapi tapi pemuda harus bersatu, karena itu syarat agar negara kita ini menjadi negara yg kuat.

    Demikian sambutan singkat saya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa bersua dengan sahabat-sahabatku semua. Baik teman-teman Pengurus Besar, Pengurus Cabang se-Indonesia serta senior-senior yang hadir di Rapimnas. Mohon maaf atas segala kekurangan kami. Tak ad yang bisa kami sampaikan selain mengucapkan terimakasih, rasa syukur dan rasa bangga atas segala yg telah kita capai hari ini.

    Mengakhiri rilis sambutan ini, kepada Ketua Umum Habil Ngewa dan Sekretaris Panitia Kaharuddin Baso kami haturkan terima kasih yang teramat sangat yang telah yakin dan percaya bahwa Rapimnas kali ini bisa berjalan dengan lancar.

    Waakhirulkalam wassalamu’alaikum warahmatullahi wb.

  • Peluang Indonesia Ikut Piala Dunia

    Oleh: Muhammad Fadhli (Pengamat Sepakbola)

    Ajang bergengsi Piala Dunia yang selalu menarik perhatian penduduk bumi menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi setiap negara yang bisa ikut tampil. Untuk dapat menjadi salah satu dari 32 negara pesertanya tentu tidaklah mudah, babak kualifikasi begitu ketat harus dihadapi.

    Sebagai bangsa Indonesia kita seperti sudah menisankan keinginan, seakan Indonesia tak layak tampil di ajang itu. Ironi, seperti di FIFA World Cup 2018 ini, kita menjagokan negara lain dan membelanya, sampai mau mengeluarkan biaya untuk mengoleksi bermacam merchandise dan mengenakan kaos tim negara itu.

    Menyaksikan setiap pertandingan FIFA World Cup yang digelar setiap sekali empat tahun ini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa banyak faktor yang membuat sebuah tim untuk bisa jadi pesertanya. Mulai dari skill permainan, fisik, tim yang solid, dukungan pemerintah, dan lainnya.

    Meskipun bangsa Indonesia seakan telah menisankan keinginan Timnas dari negaranya untuk ikut Piala Dunia, namun bukan berarti Pemerintah tinggal menaburkan bunga. Justru pemerintah selalu berusaha menghidupkan terus kemungkinan itu, dengan memberikan perhatian dan dukungan nyata pada dunia persebakbolaan di Tanahair, baik dalam bentuk fasilitas, pendanaan, pelatihan, kaderisasi, dan berbagai bentuk dukungan moril dan materil lainnya. Tapi ini belum membuahkan hasil sesuai yang diinginkan.

    – Muhammad Fadhli, Pengamat Sepakbola. (Dok. Diatunes Management)

    Kita tahu, permainan sepakbola itu juga adalah adu kekuatan fisik, mental, dan sprint. Setiap tim yang ikut Piala Dunia sudah memiliki itu, bisa dikatakan Piala Dunia saat ini lebih pada adu strategi. Bagaimana otak akan bisa diadu ketika fisik dan mental belum mendukung?

    Membahas fisik tentu akan merujuk pada postur dan stamina atlitnya. Dan ini sangat erat kaitannya dengan ras. Selama ini rekrut permain untuk Timnas bertujuan baik, dari liga untuk melahirkan pemain yang layak dipilih. Tim yang berlaga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, mencerminkan keadilan dan Bhineka Tunggal Ika.

    Kita juga tahu, Indonesia dihuni oleh beberapa ras, di antaranya; Negro Melanesia, Mongoloid Melayu, keturunan asing. Ras campuran secara fisik tidak sekuat ras murni.

    Di Indonesia ras negro melanesia diklasifikan sebagai ras yang memiliki tubuh yang tegap, dan lebih tinggi. Mayoritas mereka menghuni Papua, Maluku, dan Riau. Secara fisik mereka lebih kuat.

    Jika dari orang-orang dari ras negroid melanesia ini direkrut dan dibina, dengan penanganan khusus dan beradaptasi pada stereotip agar sejalan dengan regulasi yang ada dalam dunia persebakbolaan, akan jadi peluang besar bagi Indonesia untuk ikut Piala Dunia. (*)

  • Soeharto, Tabir dan Takbir 1997

    Oleh Selamat Ginting*

    Malam takbiran 1997, ada perhelatan agama dan budaya nasional di titik nol Jakarta, kawasan Monumen Nasional (Monas).

    Presiden Soeharto langsung memimpin gema takbir. Itulah kali pertama ia memimpin acara takbiran secara nasional.

    Media massa meliput secara khusus momentum yang jarang terjadi itu. Adakah tabir di balik acara tersebut? Maka, dibuat tim liputan khusus. Terdiri dari wartawan liputan istana, politik, agama, dan budaya. Saya masuk dalam tim liputan politik. Sekalian buka puasa hari terakhir dan malam takbiran di kawasan Monas.

    Sebagai wartawan politik, teringat istilah saat masih kuliah. Akronim Soeharto bagi aktivis mahasiswa adalah ‘SOEdah  HArus TObat’.

    Benarkah Soeharto mulai mendekati ‘pertobatan’? Artinya, perlahan-lahan membuka tabir ia akan menutup karier kepresidenannya yang lebih dari 30 tahun itu, dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan? Walahuallam. Itu takdir dan hanya Allah yang tahu.

    Sebagai wartawan, saya mengamati bagaimana Soeharto didampingi Wakil Presiden Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Menteri Agama Prof Dr Muhammad Quraish Shihab, sejumlah anggota kabinet, perwakilan negara-negara sahabat, para tokoh nasional. Tidak ketinggalan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr KH Hasan Basri.

    Soeharto mengenakan baju koko putih, kopiah putih dan sarung. Ia  melantunkan takbir seperti umumnya.

    Allaahu akbar… Allaahu akbar… Allaahu akbar…..

    Laa – ilaaha – illallaahu wallaahu akbar.

    Allaahu akbar walillaahil – hamd. Menegaskan keagungan Tuhan dan bersaksi atas ke-esa-an Tuhan. Tiada Tuhan selain Allah.

    Jenderal bintang lima itu melantunkannya dengan bibir bergetar. Fokus perhatian utama, tentu saja kepada Pak Harto. Bukan hanya pada saat ia melantunkan takbir, tetapi juga saat ia menabuh beduk.

    Takbir dilakukan secara bergantian Pak Harto, Try Sutrisno, Rhoma Irama, Emha Ainun Najib, KH Zainuddin MZ, Qori senior Muammar Zainal Asykin, dan KH Hasan Basri.

    Kehadiran Rhoma, Emha, Zainuddin, dan Muammar turut menjadi daya tarik massa untuk hadir memenuhi monumen icon ibu kota negara.

    Takbir menjadi lebih syahdu dengan alunan parade beduk yang dibawakan santri-santri dari berbagai daerah.

    KH Hasan Basri dan Rais Aam PBNU KH Ilyas Ruhiyat mengakui  itulah kali pertama selama kepemimpinannya, Pak Harto memimpin langsung acara takbiran.

    Ini kah tanda-tanda tabir dalam waktu tidak lama lagi, ia akan lengser? Begitulah pertanyaan yang berkecamuk dalam diri wartawan politik. Jangan-jangan pada Pemilu 1997, ia tidak akan mencalonkan atau dicalonkan lagi sebagai presiden. Sebab, pada 8 Juni 1997, usianya genap 76 tahun.

    Namun, prediksi-prediksi politik saat itu dikesampingkan terlebih dahulu. Pertanyaan awal yang mengganggu saya, di mana Soeharto yang ‘kejawen’ itu belajar bertakbir dan menabuh beduk?

    Pertanyaan itu secara singkat terjawab mana kala membaca buku otobiografi ‘Soeharto Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya’ karangan Ramadhan KH dan G Dwipayana. Soeharto ternyata menyelesaikan SMP di sekolah Schakel Muhammadiyah. Di situ ia mulai bersentuhan dengan lembaga ke-Islam-an.

    Selain nuansa politis, acara itu juga kental dengan unsur budaya. Hadirnya ‘raja dangdut’ Rhoma Irama dan ‘kyai kanjeng’ Emha Ainun Najib menjadi magnet tersendiri. Takbir dan zikir penuh warna kesenian nuansa Islami yang tidak monoton. Iringan musik dengan hentakkan dan gamelan yang bertalu-talu membuat Pak Harto tersenyum dan bertepuk tangan.

    Begitu juga dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibawakan hafiz Indonesia Muammar ZA, membuat merinding yang mendengarkannya. Terjemahannya membuat pendengar akan menyadari betapa besar keagungan Tuhan dan manusia tak pantas untuk menyombongkan diri. Kekuasaan itu milik Allah dan dengan kehendak-Nya, Ia dapat mengambilnya kapan saja.

    Dubes Saudi Arabia seperti dikutip KH Hasan Basri mengungkapkan Gema Takbir di Monas, baru pertama kalinya terjadi di dunia. Di mana agama dan budaya berpadu begitu indahnya. “Semua khidmat selama mengikuti acara. Pak Harto pun terharu.”

    Ya, semua terharu setelah menyelesaikan ritual wajib keagamaan selama sebulan penuh bagi umat Islam. Semua merindukan kembali menjadi fitri (suci).

    Saya pun menghapus spekulasi politik acara tersebut. Saya buang jauh-jauh kata tabir. Di Monas itu kita sama sebagai Abdullah, abdi Allah. Tak pantas saya menilai orang. Biarlah itu menjadi raport masing-masing insan di akhirat kelak. Kita berdoa dan berbuat yang baik-baik saja.

    Maaf lahir dan batin.

    *) Penulis adalah jurnalis Republika

    (tulisan dimuat pertamakali di republika.co.id, edisi 16 Juni 2018)

  • China-Amerika Serikat: Kawan Atau Lawan?

    Oleh : Andi Muhammad Arief Malleleang

    Konstelasi politik dunia internasional dewasa ini semakin menarik untuk diperbincangkan, bagaimana tidak, dengan semakin beragamnya aktor dalam hubungan internasional menjadikan pola yang berlaku juga menjadi lebih dinamis.

    Munculnya aktor-aktor baru dalam berbagai sektor khususnya ekonomi dan politik membangkitkan kembali nuansa kompetisi bagi bangsa-bangsa besar seperti Amerika Serikat (AS), dan juga Cina atau bangsa-bangsa besar lainnya.

    Sepeti yang kita ketahui bahwasanya Amerika dan sekutunya merupakan penantang terakhir yang bertahan dari ganasnya Perang Dunia II, dan panasnya perang Dingin. Tak ayal, hal tersebut membuat Amerika kemudian menjadi negara adidaya, dan menjadi pusat bagi peradaban dunia modern.

    Namun kini situasinya telah berubah, kekuatan-kekuatan penyeimbang bagi dominasi Amerika tidak pernah benar-benar mati. Dominasi yang ditunjukkan oleh Amerika perlahan mulai dapat terbantahkan oleh munculnya negara-negara besar seperti Rusia, Cina, dan juga Iran yang muncul sebagai negara penantang baru yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

    Hal ini dapat dilihat dari bangkitnya mereka baik di sektor keamanan, ataupun sektor perekonomian. Seperti Cina misalnya, kebangkitan Cina di sektor perekonomian perlahan mampu merubah peta pasar dunia yang tadinya dikuasai oleh Amerika dan juga negara-negara sekutunya. Tentunya kebangkitan ini merupakan ancaman yang tidak main-main bagi mulusnya kuasa Amerika dan sekutunya untuk mengatur peta perdagangan dunia yang mereka mainkan selama beberapa dekade terakhir.

    Baca juga: Teman dan Musuh Amerika di Bawah Kepemimpinan Donald Trump

    Dengan kebangkitan Cina yang semakin tahun semakin meningkat ini, AS merasa Cina sudah mulai mendominasi kekuasaanya di dunia, terutama pada bidang ekonomi. Banyak kebijakan-kebijakan yang dinilai sangat kontoversial dan memiliki resiko besar dalam pelaksanaannya tapi justru membuahkan hasil baik, bahkan memberikan keuntungan bagi Cina sendiri.

    Contohnya kebijakan Cina berupa devaluasi Yuan, People’s Bank of Cina(PBOC) memotong nilai mata uangnya pada tahun 2015 silam. Tidak tanggung-tanggung, Bank Sentral Negeri Panda tersebut melakukan devaluasi mata uangnya hampir menyentuh angka 2% yang dimana rekor sepanjang sejarah ekonomi Cina. Hal ini sangat memberikan dampak besar terhadap nilai dari mata uang dan juga kegiatan ekspor-impor dunia.

    Aktivitas ekspor yang sebelumnya didominasi oleh Uni Eropa dan Amerika sangat terkena dampak dari kebijakan ekstrim yang diambil oleh Cina. Pasalnya, penurunan aktifitas ekspor Cina yang terjadi beberapa tahun terakhir sebelum tahun 2015, telah membuat produk-produk Cina tidak dapat bersaing di pasaran internasional apabila dibandingkan dengan produk-produk Amerika dan sekutunya.

    Sehingga devaluasi yuan merupakan kebijakan untuk menanggapi penurunan ekspor Cina terhadap pasar internasional agar dapat mengimbangi aktifitas ekspor yang dimainkan oleh AS dan sekutunya. Setelah kebijakan ini disepakati, banyak sekali perusahaan-perusahaan raksasa dunia diambilalih dan dikuasai oleh Cina.

    Di satu sisi perusahaan milik AS justru mengalami penurunan yang cukup signifikan karena disebabkan oleh daya saing pasar produk Amerika sudah tidak dapat lagi menarik perhatian kebanyakan konsumen dunia.

    Produk Cina dinilai memiliki harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan produk AS dan sekutunya, ditambah dengan jenis produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda bahkan menyamai produk-produk Amerika yang harganya lebih mahal.

    Selain devaluasi yuan yang efeknya sangat mempengaruhi kekuasaan Cina di dunia, beberapa negara super power dunia juga cukup dikagetkan dengan kebijakan Cina berupa penyediaan visa khusus bagi keturunan etnis Cina di seluruh dunia untuk menetap atau berkunjung ke Cina.

    Visa tersebut sangat memungkinkan mereka tinggal selama lima tahun, atau melakukan kunjungan ke daratan Cina berkali-kali dalam satu kurun waktu. Kebijakan ini adalah cara Cina untuk menarik kembali keturunan-keturunan etnis Cina yang termasuk kedalam kategori Foreign High-end Talent (Talenta Top Asing).

    Adapun yang digolongkan kedalam kategori Talenta Top Asing adalah seperti para pengusaha perusahaan raksasa dunia, pemain dan pelatih asing di klub-klub olah raga Cina, para mahasiswa post-doktoral dari universitas top dunia, serta warga asing yang memiliki pendapatan enam kali lipat dari pendapatan rata-rata warga Cina. Tentunya hal ini akan meningkatkan jumlah warga asing berkeahlian khusus untuk tinggal dan bekerja di Cina.

    Pasalnya Cina memberanikan diri untuk memberikan keringanan yang cukup menggiurkan bagi seluruh warga diasporanya untuk kembali memberikan kontribusi terhadap perkembangan Cina.

    Hal ini akan membuat Amerika semakin tertekan dengan adanya kebijakan tersebut, sebab seluruh pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh tiap warga diaspora tentunya akan menjadi sumber informasi serta motor penggerak perkembangan Cina.

    Tidak hanya dua kebijakan diatas, One Belt One Road (OBOR) juga menjadi salah satu kebijakan yang diinisiasi oleh Cina untuk menciptakan situasi ekonomi dimana Cina sebagai negara penguasa ekonomi dunia.

    Bagaiamana tidak, Cina telah menggencarkan investasi besar-besaran secara meluas untuk mendukung pembangunan infrastruktur ke 55 negara seluruh dunia, termasuk Indonesia. Beberapa pakar politik dan ekonomi dunia beranggapan tindakan ini sangat berisiko bagi masa depan Cina, tetapi hal itu lagi-lagi dipatahkan dengan adanya respon baik dari negara yang mendapatkan keuntungan bagi kemajuan ekonomi mereka di masa mendatang.

    Dan bagi Cina sendiri, respon baik serta dukungan dari berbagai negara tentunya akan memberikan keuntungan besar untuk Cina, yaitu berupa dukungan politik dan ekonomi yang kemudian menjadikan Cina sebagai negara yang disegani di dunia.

    Dominasi Cina yang menggurita di sektor ekonomi dunia tentu dapat menjadi ancaman baru bagi Amerika Serikat, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Amerika sebagai bentuk pembendungan pengaruh Cina yang semakin kuat.

    Kebijakan tersebut berupa perubahan arah politik Amerika yang sebelumnya memiliki fokus terhadap keamanan dan ideologisasi negara menjadi perdagangan dan investasi ke negara berkembang maupun maju. Selain itu adanya slogan ‘America First’ oleh Amerika sebagai bentuk penguatan identitasnya sebagai negara super power yang masih memiliki pengaruh dan kekuasaan terhadap dunia internasional.

    Pada kenyataannya, setiap negara akan terus berupaya untuk menunjukkan identitasnya sebagai negara super power. Hal inilah yang terjadi pada Amerika dan Cina saat ini. Setiap kebijakan yang dibuat akan selalu menjadi kekuatan bagi perkembangan negara tersebut.

    Cina yang saat ini ingin mendapatkan dominasi dari dunia internasional menerapkan beberapa kebijakan guna mencapai tujuannya. Bagi Amerika, kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Cina merupakan sebuah ancaman untuk berlomba-lomba menjadi negara adikuasa. (geotimes.com)

  • Lebaran: Lubang Jarum Konsumerisme

    Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc

    Amin praktis bekerja 24 jam. Ia tinggal di kamar supir, yang berada dalam rumah majikannya. Ia harus stand-by setiap saat. Aku tidak tahu berapa kali sebulan ia mengunjungi istri dan anak-anaknya. Jelas sekali ia hampir tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Karena itu, jangan tanya betapa sumringahnya Min ketika ia pamit untuk mudik. Bukan karena di kantongnya ada THR. Bukan karena ia dibebaskan dari perintah tuan dan nyonya untuk sementara waktu. Ia ceria karena ia bisa meluangkan waktu khusus untuk orang-orang yang disayanginya.

    Tuan dan Nyonya tampaknya tidak begitu gembira. Mereka kehilangan supirnya, setelah lebih dahulu pusing karena ditinggalkan para pembantunya. Kepada mereka harus kita katakan, bila mereka ingin bahagia mereka harus mengubah jeruk asam menjadi jeruk manis. Carilah blessing in diguise dalam “musibat” Lebaran. Karena Tuan dan Nyonya tidak punya supir, mereka akan terpaksa tinggal di rumah. Seperti Min, karena kesibukan kerja atau dikerjain, selama ini mereka hampir tidak punya waktu untuk keluarga. Tuan dan Nyonya jarang bertemu. Orangtua jarang berbincang dengan anak-anaknya. Setiap anggota keluarga sibuk dengan dunianya masing-masing. Karena Lebaran, Min balik ke kampungnya, dengan sukarela. Karena Lebaran juga, semua anggota keluarga majikannya pun pulang, dengan terpaksa.Reuni keluarga adalah salah satu berkah Lebaran. Baik Min maupun majikannya sepanjang tahun telah mengorbankan keluarganya pada altar konsumerisme. Ketika Min meninggalkan kampung halamannya dan ketika Tuan menyelesaikan studinya di luar negeri, mereka didorong masuk ke dalam pusaran angin kapitalisme internasional.Mereka berubah wujud menjadi –apa yang disebut Erich Fromm- homo consumens. “Sebagai manusia, kita tidak punya tujuan kecuali memproduksi dan mengkonsumsi terus-menerus,” kata Fromm.

    Boleh jadi kita punya tujuan untuk membangun keluarga yang bahagia. Tapi kebahagiaan keluarga diukur dari jumlah barang yang kita konsumsi. Tampaknya kita ingin memberikan masa depan yang indah bagi anak-anak. Tapi keindahan masa depan mereka diukur dari banyaknya uang yang mereka miliki. Kelihatannya kita berjuang untuk menegakkan ajaran agama. Tapi tegaknya ajaran Tuhan dilihat dari jumlah penghasilan dari kegiatan dakwah kita. Atau kita bercita-cita untuk membangun bangsa ini. Tapi ukuran keberhasilan pembangunan ialah jumlah jalan tol, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat hiburan.

    Sebagai homo consumens kita menghabiskan waktu lebih banyak di tempat-tempat produksi dan konsumsi barang dan jasa, daripada dalam lembaga-lembaga sosial. Kita lebih sering berkunjung ke pusat perbelanjaan daripada rumah ibadat. Kita lebih banyak berada di tempat kerja daripada di rumah sendiri. Kita lebih sibuk mengurus transaksi bisnis daripada bercanda ria dengan keluarga. Orang-orang kaya pun –penguasa dan pengusaha- lebih banyak mengeluarkan uang untuk membangun mal daripada sekolah.

    Hasrat konsumsi, “rage to consume” (Marshall Sahlins), mendorong kita untuk membeli dan membeli. Kita mencari kebahagiaan dalam membeli. Kita menyebut orang baik kepada orang yang membeli barang dan jasa yang baik; bukan pada orang yang bekerja dengan baik. Menurut Daniel Bell, kita sudah mengganti work ethic denganconsumer ethic. Pahlawan yang dielu-elukan di zaman ini dan gambarnya dipajang di mana-mana adalah “heroes of consumption”, bukan “heroes of production”.

    Menurut salah satu nubuwat Nabi Muhammad, “Akan datang suatu zaman ketika manusia menyembah dinar (uang). Mereka bekerja keras pagi dan sore untuk mendapatkan uang.” Uang, dalam bahasa Marx, telah menjadi fetish, benda mati yang mempunyai kekuatan supranatural. Uang menjadi ukuran derajat manusia. Manusia yang paling mulia ialah yang paling banyak uangnya. Dengan uang, mereka bisa terlibat dengan aktif dalam budaya konsumerisme.
    Jadi konsumerisme itu sebuah agama. Iklan adalah kitab sucinya. Mal-mal rumah ibadatnya, dan kaum kapitalis orang-orang sucinya. Apa bedanya Al-Quran dengan iklan? Al-Quran dibaca dengan cepat, iklan diikuti dengan khusyuk. Al-Quran mendatangkan ketentraman, iklan membina kekecewaan. “Tujuan iklan,” kata Robert E Lane dalam The Loss of Happiness in Market Democracy, “ ialah menciptakan bukan kepuasan, tetapi kekecewaan, termasuk kecewa terhadap diri sendiri.”

    Anda akan merasa puas dengan apa yang Anda punyai, selama Anda tidak dibandingkan dengan orang yang memiliki apa yang tidak Anda punyai. Anda sudah cukup bahagia dengan mobil tua Anda, sampai di depan muka Anda diperlihatkan gemerlap mobil baru. Dengan jeratan psikologis, iklan menambah penderitaan Anda dengan menegaskan bahwa Anda terhina karena tidak punya mobil baru. “Anda pecundang tanpa mobil baru”.

    Tugas iklan memang membuat Anda kecewa dengan kehidupan Anda sekarang ini. Anda didorong untuk bergairah membeli. Iklan dirancang tidak untuk memenuhi kebutuhan tetapi untuk menciptakan kebutuhan. Ketika kebutuhan baru muncul, Anda harus bekerja lebih keras. Sekarang Anda harus mengambil banyak waktu untuk bekerja. Di antara waktu yang disita untuk pekerjaan Anda adalah waktu untuk kegiatan-kegiatan sosial, termasuk berkumpul dengan keluarga. Bernard de Mandeville berkata, “Kemewahan telah mempekerjakan jutaan orang miskin. Kesombongan memperkejakan jutaan orang lebih banyak lagi. Irihati dan kesombongan adalah duta-duta industri”.

    Semua agama mengharamkan kedengkian dan kepongahan. Konsumerisme mewajibkannya. Semua agama membentuk manusia yang berkhidmat kepada manusia yang lain, bersikap rendah hati, dan mendahulukan kepentingan orang lain. Konsumerisme mendidik Anda untuk menjadi egois, narsisis, dan mementingkan diri sendiri.
    Perlahan-lahan tapi pasti, Min dan majikannya, dan kita semua menjadi kita seperti sekarang ini. Kita memandang semua makhluk Tuhan sebagai instrumen untuk melayani kebutuhan kita. Kita tidak berpikir bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain. Kita memutar otak bagaimana bisa memanfaatkan orang lain.

    Apa yang diperoleh kaum pemilik modal? Uang yang lebih banyak. Apa yang kita peroleh? Kita kehilangan kehangatan dalam pergaulan dengan orang-orang penting di sekitar kita. Kita kehilangan kepercayaan dan cinta kasih. Kita tidak bisa percaya dan orang pun tidak percaya kepada kita. Kita tidak bisa menyayangi, karena itu juga tidak disayangi. Akhirnya, seperti kata Robert E Lane, kita kehilangan kebahagiaan dalam demokrasi pasar.

    Robert Lane berbicara tentang penderitaan semua masyarakat demokratis kapitalis. Untuk bangsa Indonesia, kita harus menambah penderitaan kita karena penindasan yang dilakukan oleh para pemimpin kita. Di Amerika, betapa pun kapitalisnya, orang-orang yang menganggur dapat “unemployment check”, gaji secukupnya untuk sekedar tetap hidup. Di Jerman, betapa pun kapitalisnya, orang-orang sakit dapat perawatan kesehatan gratis. Di negara-negara kapitalis lainnya, betapa pun menindasnya para pemilik modal, rakyat kecil bisa makan kenyang, memperoleh pendidikan yang berkualitas, mendapat tunjangan pada masa tuanya. Pajak yang mereka bayar kembali lagi pada mereka.

    Rakyat Indonesia telah kehilangan kebahagiaannya dalam masyarakat industri. Tapi mereka juga harus menanggung beban tambahan. Mestinya bangsa ini sudah gila semua. Mengapa tidak? Karena ada Lebaran. Pada hari itu mereka kembali kepada keluarganya, budayanya, nilai-nilai tradisionalnya dan agamanya. Maka Min pun gembira ketika memeluk anak-anaknya. Dan majikannya pun tertawa-tawa di tengah-tengah keluarganya. (sd)

    sumber: kangjalal.co

  • Rasionalitas Syiah Menangkal Terorisme

    Oleh: Mawa Kresna

    Arif Mulyadi mendatangi saya di pojokan aula Islamic Cultural Center (ICC) begitu azan magrib terdengar sayup-sayup. Ia membawa tiga gelas air minum kemasan lalu menyodorkan kepada saya.

    “Silakan kalau mau membatalkan puasa dulu. Kalau kami nanti berbuka setelah gelap,” kata Arif.

    Tafsir waktu magrib pemeluk Syiah memang berbeda dari patokan jam yang dipakai umat Suni di Indonesia. Mereka benar-benar menunggu ufuk timur gelap. Saat itulah mereka baru berbuka, lalu menunaikan salat magrib.

    Setelah memberikan air minum, Arif kembali ke depan, duduk di tempatnya semula, mencermati lagi Alquran dan mengikuti bacaan qari.

    Ada sekitar empat puluhan orang yang menghadiri semaan Quran di aula itu. Semaan adalah membaca dan mendengarkan pembacaan Alquran. Kegiatan ini rutin dibikin penggiat ICC selama Ramadan. Mereka khusyuk mengikuti kegiatan itu di tengah puluhan kaligrafi yang yang dipajang pada dinding kiri dan kanan aula.

    Salah satu kaligrafi yang mencolok bertuliskan Ya Aba Shalih Al-Mahdi. Kata Arif, kaligrafi itu adalah seruan tawasul kepada Imam Mahdi. Imam Mahdi memiliki kuniah (julukan) Abu Shalih. Julukan ini hal lazim di masyarakat Arab. Biasanya julukan itu bersandar pada anak tertua atau karena alasan lain.

    Arif hanya satu dari 2,5 juta pemeluk Syiah di Indonesia. Di Indonesia, komunitas Syiah kerap menjadi target persekusi. Salah satu peristiwa yang mudah diingat adalah kasus di Sampang, Madura, pada akhir 2011 dan awal 2012. Di sana umat Syiah diusir dari kampung mereka. Meski demikian, umat Syiah lainnya tetap tenang.

    “Kami tidak akan terpancing. Kami melihat yang lebih penting, yaitu persatuan dan kebebasan beribadah,” kata Arif.

    Sore itu yang mendapat giliran menjadi penceramah adalah Dr. Umar Shahab, salah satu pendiri ICC. ICC didirikan menjadi yayasan yang menjadi pusat kajian Syiah di Indonesia. Dalam ceramah malam itu, Umar menyinggung fungsi salat.

    “Salat itu supaya kita jauh dari perbuatan keji dan mungkar,” katanya.

    Usai ceramah, kata-kata itu kembali diucapkan Umar ketika berbincang bersama saya tentang pandangan Syiah terhadap terorisme.

    “Pada dasarnya salat itu untuk menjauhkan dari perbuatan seperti itu. Kalau ada orang salat, lalu mengebom gereja, ini bagaimana? Kami yakin tidak ada orang Syiah yang seperti itu,” ucap Umar.

    Syiah dan Rasionalitas

    Keyakinan Umar bahwa pemeluk Syiah jauh dari aksi terorisme didasarkan pada cara Syiah memaknai Alquran dengan akal sehat. Dalam pandangan Syiah, akal menjadi bagian tak terpisahkan untuk memaknai Quran dan kebenaran. Bahkan akal, kata Umar, bisa berdiri sendiri untuk menentukan mana yang benar dan salah.

    “Dalam teologi Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah, akal tidak bisa berdiri sendiri, kebenaran hanya diketahui melalui wahyu. Syiah mengatakan akal mampu mengetahui kebenaran tanpa wahyu,” ujar Umar.

    Cara berteologi ini yang membuat Syiah berbeda. Hal itu juga ditegaskan oleh Direktur Islamic Cultural Center, Dr. Abdul Majid Hakim Elahi, perwakilan Iran yang ditunjuk untuk mengurusi ICC sebagai pusat kegiatan Syiah di Indonesia.

    Menurut Hakim, dalam Islam secara umum dibagi dalam tiga golongan. Pertama, golongan skripturalis yang “tidak menggunakan akal dan hanya bersandar pada teks” dalam memaknai ayat Quran. Golongan kedua adalah liberal yang “menafsirkan Quran seenaknya” dan cenderung lekat dengan “pemikiran Barat.” Golongan ketiga adalah yang menggunakan akal atau rasional untuk memahami Quran dan menjadikan akal sebagai “salah satu pilar dalam beragama.”

    “Syiah ada pada golongan ketiga. Maka, jangan heran kalau banyak pemikir, filsuf, ilmuwan dari Syiah. Dan Anda bisa lihat, dari golongan mana para teroris yang kini ada itu muncul? Dari golongan yang pertama, yang tidak menggunakan akal dalam beragama,” jelas Hakim.

    Rasionalitas beragama diwujudkan dengan memfokuskan gerakan Syiah dalam dunia pengetahuan dan pendidikan. Mereka sekolah untuk menjadi pemikir, akademisi, dan praktisi. Lainnya dengan menerbitkan buku-buku pemikiran Islam dan filsafat agama. Itu pula yang dilakukan oleh ICC di Indonesia.

    “Tahun kemarin kami membuat seminar internasional di sini, dihadiri oleh ilmuwan Islam di seluruh dunia. Alhamdulillah, acara itu berjalan dengan lancar. Ini sumbangsih kami untuk dunia Islam,” tambah Hakim.

    Syiah Menangkal Terorisme

    Berteologi menggunakan akal inilah yang menjadi resep jitu Syiah menangkal gerakan teror berbasis ajaran agama menyusup ke dalam komunitas mereka, khususnya di Indonesia. Kata Umar Shahab, “buaian janji surga dan tujuh bidadari” tidak cukup untuk membujuk orang-orang Syiah untuk meledakkan bom bunuh diri.

    “Itu karena mereka melihat tujuh bidadari secara tekstual. Ya ini akan jadi perdebatan, apakah itu hanya pengandaian atau secara harfiah? Tapi apa pun itu, umat Syiah tahu bahwa melukai orang lain yang tidak ada urusannya dengan kita itu adalah salah. Apalagi ini mengebom gereja,” kata Umar. “Bahkan untuk jihad pun ada syaratnya, salah satunya tidak boleh menyerang rumah ibadah.”

    Para pelaku bom bunuh diri itu, ujar Umar, berharap setelah mereka melakukan aksi terornya akan masuk surga. Cara pandang seperti ini yang dianggap oleh Syiah sebagai kesalahan berpikir yang paling mendasar.

    “Mereka berpikir bahwa mereka sudah melakukan kebaikan, tapi itu salah. Itu karena mereka melihat kebenaran dengan dangkal,” kata Umar.

    Abdul Majid Hakim Elahi menyadari terorisme bukan perkara merakit bom semata lalu meledakkannya. Masalah yang lebih mendasar adalah menjaga rasionalitas dalam beragama. Sebab, terorisme sejatinya adalah pemikiran, ujarnya.

    “Maka tidak bisa dilawan dengan fisik. Untuk meng-counter ya dengan pemikiran juga. Itu yang sudah dilakukan Syiah sejak dulu,” tambah Hakim.

    Hakim menilai ulama di Indonesia berperan penting dalam mereduksi penyebaran gagasan terorisme. Mereka bisa menyampaikan pada umat bagaimana praktik Islam yang baik, Islam yang membawa rahmat. Tujuannya, agar umat Islam berlaku sebagaimana seorang muslim.

    “Saya percaya Indonesia masih damai. Kita masih bisa lawan terorisme bersama-sama. Mereka hanya segelintir kecil,” kata Hakim. (tulisan pertama kali dimuat di tirto.id)

  • Mewaspadai Gerakan Generasi Ibnu Muljam, Ekstremis Fanatik

    JAKARTA, SUARADEWAN.com — Abdurrahman bin Muljam adalah orang yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhah (Kwa), Peristiwa berdarah itu terjadi di Bulan Ramadhan, ketika Ibnu Muljam merasa paling benar dan menganggap orang di luar dirinya layak untuk dibunuh.

    Khalifah Ali bin Abi Thalib (Kwa) gugur sebagai syahid tanggal 21 Ramadhan akibat tebasan pedang salah seorang anggota sekte Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam Al Murodi saat shalat subuh 19 Ramadhan. Uniknya sang pembunuh ini melakukan aksinya sambil berkata,

    “Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”

    Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mulutnya mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya,

    “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

    Pagi itu, 19 Ramadhan kepala Imam Ali AS ditebas oleh seorang durjana Abdurrahman bin Muljam di saat Imam sedang melakukan ruku’ dalam sholatnya. Abdurrahman bin Muljam adalah seorang muslim, namun dia kala itu berbeda dengan yg lainnya. Dia mengkafirkan semua yang tidak sejalan pemahaman dengannya. Padahal bin Muljam adalah seorang hafiz Qur’an, sholatnya tepat waktu.

    Pada waktu mulia, subuh; pada hari yang paling mulia, Jum’at; pada bulan yang mulia, Ramadan; seorang ekstremis fanatik mengutip firman mulia pada saat melakukan tindakan terkutuk terhadap manusia mulia, Imam Ali bin Abi Thalib As. Pedang yang melukai imam Ali meski tidak terlalu dalam menghujam tubuh Imam namun pedang itu beracun yang menyebabkan tubuh Imam terkulai lemah.

    Kaligrafi Khalifah ‘Aly bin Abi Thalib Kwa

    Tatkala khalifah Ali bin Abi Thalib Kwa akhirnya gugur, Ibnu Muljam pun dieksekusi mati dengan cara diqishas. Proses qishasnya pun bisa membuat kita tercengang karena saat tubuhnya telah diikat untuk dipenggal kepalanya, ia masih sempat berpesan kepada algojo yang mendapat tugas melakukan eksekusi,

    “Jangan penggal kepalaku sekaligus. Tapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

    Demikianlah keyakinan Ibnu Muljam yang berpendapat bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib Kwa yang nota bene salah satu sahabat yang dijamin masuk surga, menantu (suami Sayyidah Fathimah Ra) dan saudara sepupu Rasulullah SAW dan ayah dari Imam Hasan As dan Imam Husein As, dua pemimpin pemuda ahli surga, sebagai tindakan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Aksi yang dilakukan oleh Ibnu Muljam ini adalah realitas pahit yang kita lihat pada kehidupan ummat Islam sekarang dimana diantara para pemuda kita terdapat kelompok yang giat melakukan provokasi untuk membunuh kaum muslimin yang tidak berdosa. Kelompok ini menggunakan intimidasi dan aksi kekerasan sebagai strategi perjuangan mereka.

    Merekalah yang pada raut wajahnya memancarkan hidayah dan mereka juga senantiasa membaca Al Qur’an di waktu siang dan malam. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi sebab karakteristik mereka tepat sebagaimana sinyalemen yang disampaikan Rasulullah dalam sebuah hadits yang artinya,

    “Akan ada para lelaki yang membaca Al Qur’an tanpa melampaui tulang selangka mereka. Mereka telah keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busur.”

    Kebodohan mengakibatkan mereka merasa berjuang membela kepentingan agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang memerangi Islam dan kaum muslimin.

    Ibnu Muljam sejatinya adalah figur lelaki yang shalih, zahid dan bertaqwa. Bukan lelaki bengal yang buta sama sekali terhadap ilmu agama. Di wajahnya terlihat dengan nyata jejak sujud. Ia juga hapal Al Qur’an dan sekaligus sebagai guru yang berusaha mendorong orang lain untuk menghapalkannya.

    Khalifah Umar bin Khatthab pernah menugaskannya ke Mesir demi mengabulkan permohonan ‘Amr bin ‘Ash yang memohon kepada beliau untuk mengirim ke Mesir figur yang hafal Al Qur’an untuk mengajarkannya kepada penduduk Mesir. Tatkala ‘Amr bin ‘Ash meminta,

    “Wahai amirulmukminin, kirimkanlah kepadaku lelaki yang hafal Al Qur’an untuk mengajari penduduk Mesir, “

    Umar menjawab, “Saya mengirimkan untukmu seorang lelaki bernama Abdurrahman bin Muljam, salah seorang ahli Al Qur’an yang aku prioritaskan untukmu dari pada untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur’an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia…!.”

    Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur’an, bertaqwa dan rajin beribadah namun semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, tidak membawa iman dan Islam akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya dan berafiliasi dengan sekte Khawarij yang telah meracuni para pemuda muslim sehingga melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam namun justru mengklaim semua itu dalam rangka membela ajaran Allah dan Rasulullah.

    Bercermin dari figur Ibnu Muljam tentu kita tidak perlu merasa aneh jika sekarang muncul kelompok-kelompok ekstrim yang mudah memvonis kafir terhadap sesama muslim yang berbeda pandangan melakukan tindakan yang sama persis dilakukan oleh Ibnu Muljam. Mereka mengklaim berjuang menegakkan agama Allah namun faktanya justru menebar ketakutan kepada ummat Islam dan menciptakan konflik internal berdarah-darah yang membuat mustahil membangun persatuan sesama kaum muslimin.

    Oleh karena itu menjadi tugas bersama para ulama dan umaro’ untuk membentengi kaum muslimin di Indonesia dari ide-ide keagamaan destruktif yang dikembangkan oleh generasi pewaris Abdurrahman bin Muljam dan untuk berusaha keras menghalangi siapapun yang ingin menjadikan Indonesia sebagai ladang subur bagi tumbuhnya kelompok-kelompok khawarij modern (Neo Khawarij) yang militan namun miskin ilmu.

    Wallahu A’lam. (redaksi/islami.co)

  • Quo Vadis 20 Tahun Reformasi

    Oleh: Shiny Ane

    Bulan Mei diidentikkan dengan peringatan reformasi, tonggak perubahan yang meruntuhkan kekuasaan Soeharto. Gerakan massa waktu itu ibarat air bah yang tak terbendung.

    Sejarah saat itu melahirkan kebebasan, melahirkan euforia. Seluruh rakyat Indonesia bersorak soai menyambut hari yang baru, dengan semangat baru, harapan baru, dan cita-cita baru. Tetapi … benarkah?

    Sekarang, bahkan setelah hampir dua dekade kita masih melihat berbagai gelagap sikap menghadapi realitas baru di era baru ini. Seolah apa yang telah dilahirkan oleh sejarah bangsa ini pada dua puluh tahun kebelakang begitu prematur. Banyak pengamat mengatakan bahwa reformasi dianggap gagal.

    Bangsa ini pernah dibuat kaget dengan sebuah rilis penelitian dari Indo Barometer yang memublikasikan hasil survei nasional sepanjang 25 April-4 Mei, yang menyatakan 40,9 persen responden mempersepsikan Orde Baru lebih baik dari Orde Lama dan reformasi. Hanya 22,8 persen yang memilih era Reformasi sebagai yang terbaik.

    Tentu, hasil survei itu menjadi polemik. Mereka yang melihat dari cara pandang skeptis akan memunculkan pertanyaan: benarkah hasil survei itu merefleksikan pandangan umum masyarakat Indonesia?

    Tetapi persoalannya bukan di situ, melainkan pada hal yang lebih substansial, yakni menguatnya gejala kekecewaan masyarakat terhadap kaum elite, baik di kekuasaan eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

    Kekecewaan atas jalannya reformasi bisa kita dari berbagai diskusi di kampus-kampus, hingga warung kopi yang bertajuk Quo Vadis Reformasi…

    Hal lain yang membuat reformasi kita nampak berjalan di tempat adalah politisasi hukum. Proses penegakan hukum menjadi lamban, bahkan terkadang keluar jalur dan masuk di ranah politik.

    Misalnya, rakyat mungkin sudah bosan melihat berbagai kasus hukum yang menguap tanpa alasan jelas. Tindakan korupsi yang dilakukan sejumlah politikus dan pejabat sangat kental dengan ciri permainan politik ketimbang penegakan hukum. Beragam kasus hukum didorong ke permukaan untuk menjadi pembuka sejumlah negosiasi dengan kekuatan lain.

    Korupsi menjadi momok lain bagi jalannya agenda reformasi. Saat ini ada kecenderungan parpol tergerus habis oleh pusaran korupsi para elite yang ada di dalamnya. Budaya korupsi ini kian melembaga karena parpol harus bertarung di pemilu dan pilkada yang sangat mahal.

    Ongkos demokrasi elektoral sangat tinggi akibat politik yang tak berbasis kinerja, melainkan hanya berupa transaksi menjelang pemilu. Konsekuensinya, politikus dan parpol harus bergerilya, bahkan kerap menjadi “drakula” untuk megisap banyak sumber finansial, agar bisa bertahan di medan pertempuran yang panjang dan melelahkan dan masih banyak maslah lainnya.

    Lantas bagaimana kemudian kita akan melihat Indonesia kedepan dalam momentum 20 tahun reformasi esok?

    Oleh karenanya, dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi ini, kami selaku kelompok generasi muda yang masih mempunyai cita-cita panjang ke depan untuk mengawal bangsa ini, mengundang bapak/ibu sekalian untuk membincangkan kembali agenda reformasi melalui sebuah penerbitan antologi esai sosial-politik bersama.

    Sehingga, kita saat ini dapat melihat dengan jelas dan terang sebenarnya, masalahnya dengan data-data yang lebih tajam, dan bagaimana kita mesti menyikapi 20 tahun reformasi ini. “Quo Vadis 20 Tahun Reformasi: Dari mana mau ke mana?” (aw)

     

  • Pasar Sehat, Masyarakat Bermartabat

    Oleh: Matius Sampe*

    Program Kaltim Bermartabat yang didisain pasangan calon nomor 4 Rusmadi Wongso – Irjen Pol (Purn) kian menggugah selera berbagai kalangan untuk mengupasnya. Tidak hanya dari warga pinggiran kota yang menaruh harapan ada perbaikan hidup dari lahirnya pemimpin baru, tetapi juga dari kalangan kampus. Kali ini, Matius Sampe, Mahasiswa Pascasarjana; pengembangan dan perencanaan wilayah Unmul Samarinda. Berikut ungkapannya dalam sebuah tulisan.

    Beberapa hari lalu, saya menemukan selebaran di rumah salah seorang kolega kerja. Isinya soal slogan atau katakanlah program janji kandidat gubernur Kalimantan Timur. Dasacita, konsepnya menurut saya biasa saja. Karena apa yang disampaikan oleh pesan di kertas itu merupakan potret dan kondisi sosial Kalimantan Timur yang harus dibenahi.

    Karena penasaran saya lalu melanjutkan membaca. Ada Kaltim Aman Tanpa Korupsi, saya lalu berselancar nalar, oh ini pekerjaan wakilnya. Lalu ada Kaltim Relijius untuk menunjang kerukunan umat beragama, lalu ada Kaltim Cerdas lewat beasiswa. Hal yang sangat dinanti oleh pemburu kaltim Cemerlang yang nyaris putus asa menunggu kejelasan biaya studi lanjutnya.

    Lalu Ada lagi Kaltim sehat dengan 10 Rumah Sakit kelas pratama di sepuluh daerah tingkat dua. Bahkan Puskesmas rawat inap akan ditambah. Barangkali ini untuk menutup lubang lubang BPJS. Kaltim Membangun Desa, mudah mudahan ini juga mengakomodir manusia yang tinggal di sekitar hutan dan haknya dirampas oleh konsep RTRW yang amburadul.

    Lalu ada Kaltim Swasembada Pangan. Ada lagi Kaltim Kreatif yang akan mengusung pelaku UMKM. Lalu Kaltim Mulus yang menyasar sejumlah jalan provinsi, terutama kawasan terpencil. Lalu program fenomenal Kaltim Tanpa Banjir di dua daerah, Samarinda dan Balikpapan. Lalu ada pula Kaltim Lestari, sebuah program yang akan membawa Kalimantan Timur ke arah hijau dan bersahabat dengan lingkungan.

    Memprihatinkan. Itulah kata yang tepat ketika kita berada di pasar-pasar Kota Samarinda. Meski setiap hari di pasar ini banyak sekali aktifitas warga yang bisa dilihat hingga nampak ramai, namun di balik keramaian tersebut ternyata tempat ini sangat kumuh dan tidak tertata rapi.

    Banyaknya pedagang yang memilih berdagang di tepi jalan, mengakibatkan terganggunya pengguna jalan yang hendak melintas. Bahkan, setiap waktu tertentu, jalan tersebut di tutup total oleh pedagang, sehingga banyak warga yang mengeluh akan kelakuan para pedagang.

    Sedangkan, warga tak berani berbuat apa apa, sebab pengelola pasar dan aparat yang berwenang hingga kini tak mengambil langkah tegas dalam menertibkan pedagang.

    Selain itu, pasar di Kota Samarinda belum dapat dikategorikan sebagai pasar yang bersih. Menurut hasil observasi yang telah dilakukan, kondisi pasar memang masih jauh dari kata bersih. Sampah menumpuk di sana-sini. Padahal sudah disediakan bak pembuangan sampah di sekitar kawasan pasar.

    Namun, sepertinya hal itu masih belum cukup. Sampah masih saja berserakan, terutama di selokan dan drainase. Tentu saja hal itu sangat tidak sedap dipandang mata. Dan yang lebih berbahaya bila saluran drainase dipenuhi sampah, banjir pun mengancam. Air akan meluap karena saluran air tertutup.

    Tidak hanya itu, sisa-sisa sayur maupun sampah anorganik lainnya menumpuk tak terurus, membuat jalanan dalam pasar menjadi kotor. Bau tak sedap pun tercium di hampir seluruh kawasan pasar akibat sampah yang menumpuk. Sampah-sampah tersebut juga dapat mengancam kesehatan. Tentu banyak bakteri atau kuman penyakit yang menumpuk bersama sampah-sampah tersebut.

    Selain itu, kesan tak tertata dan amburadul akan semakin kuat ketika melihat kondisi pasar ini lebih jauh. Pasar tersebut tidak mempunyai ruang yang tertata. Antara pedagang sayur, buah, makanan, dan ikan terlihat menyatu dan saling bercampur. Area parkir juga tak nampak jelas, seakan menyatu dengan para pedagang. Penataan yang semrawut ini semakin membuat pasar terlihat kumuh.

    Pasar merupakan tempat bertemunya bermacam orang dan berkumpulnya produk makanan dari berbagai sumber produksi. Banyak sekali jenis penyakit yang dapat ditularkan di pasar melalui makanan dan minuman yang terkena virus, bakteri, parasit atau zat kimia lainnya dan turut masuk ke dalam tubuh kita apabila kita berperilaku tidak sehat.

    Disamping sebagai pemenuhan kebutuhan sehari- hari masyarakat, pada saat yang sama pasar juga menjadi jalur utama penyebaran penyakit seperti kasus kolera di Amerika latin, SARS dan Avian Ifluenza di Asia.

    Melatarbelakangi kondisi tersebut, Pemerintah telah berusaha mewujudkan Pasar Tradisional menjadi Pasar Sehat, diantaranya melalui Peraturan Presiden Nomor 112 tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern; serta Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519/MENKES/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.

    Pasar Sehat merupakan salah satu tatanan di dalam pengembangan program Kabupaten/ Kota Sehat seperti yang sudah tertuang dalam Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2005 dan Nomor 1138/Menkes/PB/VII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/ Kota Sehat, pasar sehat mutlak diperlukan dalam mewujudkan Kabupaten/ Kota Sehat dimana keberadaannya merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan di wilayah tersebut.

    Pengertian Pasar Sehat menurut Kepmenkes No. 519/ 2008 adalah kondisi pasar yang bersih, aman, nyaman dan sehat yang terwujud melalui kerjasama seluruh stake dalam menyediakan bahan pangan yang aman dan bergizi bagi masyarakat. Dengan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Pasar yang meliputi: Lokasi, Bangunan, Sanitasi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Keamanan dan Fasilitas lain.

    Namun pada kenyataannya, terapan Pasar Sehat belum dilakukan di banyak pasar tradisional di Kota Tepian ini. Kurangnya kontrol dari dinas terkait untuk memperbaiki dan mengelola pasar secara tertib dan tegas. Mengingat peran pasar yang sangat penting terutama sebagai penghasil pendapatan asli daerah. #

    (*Matius Sampe adalah Mahasiswa Pascasarjana, Pengembangan dan Perencanaan Wilayah, Universitas Mulawarman)

  • Atas Nama NKRI & Pancasila

    oleh: Ustadz Felix Siauw

    Ratusan pesan belum terbaca di aplikasi pengantar pesan di gadget saya, namun yang menarik dari salah satu panitia kajian di Bandung, disertakan disana screenshot percakapan

    Kira-kira begini, “Neng, Ust. Felix Siauw tidak bisa dibawa ke tempat kita, dapat warning dari atasan, Asatidz yang tidak pro-NKRI sekarang lampu merah”, begitu

    Sejurus kemudian, saya mendapat forward dari kawan-kawan lain tentang penolakan yang mengatasnamakan masyarakat Bandung Barat yang dikoordinir GP Ansor

    Alasannya sama, penolakannya bukan karena agama, tapi karena tuduhan dan fitnah anti-NKRI, anti-Pancasila, dan karangan lain dari orang yang itu-itu saja

    Saya lega, dua penolakan ini bukan karena materi yang saya sampaikan bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tapi bertentangan dengan kepentingan mereka

    Saya lalu mengukur, apa definisi “pro-NKRI” dan “anti-NKRI” bagi mereka? Yang jelas bukan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang jadi dalilnya, jadi apa yang jadi standarnya?

    Sebab ada yang bukan Muslim keluar masuk pesantren mereka sumringah dan cium tangan, tak ada masalah. Lady Gaga mau datang 100 pun kata mereka tak bahayakan aqidah

    Dangdutan dan organ tunggal juga tak ada bahaya bagi NKRI, apalagi cuma konser boyband korea. Bahkan ajaran komunis dan liberal disebarkan, ini wacana biasa kata mereka

    Kelompok yang menjual BUMN ke asing, korupsi milyaran dan trilyunan, tak pernah mereka tuduh anti NKRI. Penista agama bahkan mereka beri gelar Sunan, NKRI banget kata mereka

    Kesimpulan saya satu. Anti-NKRI dan anti-Pancasila bagi mereka adalah siapapun yang menolak rezim dzalim sekarang. Jadi sebenarnya inilah alasan satu-satunya

    Tak peduli engkau berbatik saban hari, bahkan hingga keluar negeri, engkau tetap anti-NKRI bila tidak mendukung kelompok penguasa, engkau tetap anti-Pancasila

    Tak peduli kontribusimu terhadap negeri, membina dan juga membersamai ummat untuk dekat pada Allah. Bila engkau membahayakan jabatannya, engkau anti-NKRI baginya

    Alhamdulillah, pada ormas-ormas yang paling merasa NKRI, paling Pancasilais. Love you full karena Allah. Terimakasih sudah jadi contoh bagi kami akan ayat Allah

    sumber: edaran melalui group-group Whats Up

  • Armani, Inter, dan Mimpi di Kota Milan

    Oleh Abdullah Sammy

    Perancang kenamaan Italia, Giorgio Armani awalnya tidak suka ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Milan. Armani kecil menilai, Milan terlalu besar dan kacau bila dibandingkan dengan kota tempat dia tinggal, Piacenza.

    Hanya ada dua hal yang membuat Armani kecil suka dengan kota Milan, bioskop dan risotto alla Milanese. Sekitar 75 tahun berselang, Armani tak lagi membenci kota ini. Sebaliknya, rasa cinta Armani pada Milan tak sekadar lagi karena bioskop dan risotto.

    Cinta Armani pada Milan jadi begitu besar karena dia membuktikan sendiri bahwa kota ini membuka mimpi bagi siapapun yang hendak berusaha. “Milan adalah kota metropolis yang sesungguhnya. Kota yang kuat dan tak mengenal takut, tapi terbuka bagi siapapun dia. Sedikit demi sedikit, saya menyadari bahwa saya bisa menjadi besar di Kota ini,” kata Armani seperti dilansir dari laman V Magazine.

    Giorgio Armani

    Armani membuktikan bahwa Kota Milan selalu membuka peluang. Dari seorang anak desa di Piacenza, Armani menjelma menjadi salah satu manusia terkaya di jagad bisnis fashion dunia.

    Segala produk berlabel Armani menguasai pasar industri fashion. Walhasil dari Milan, Armani kini mencengkram dunia. Untuk mengabadikan perjalanan Armani yang menguasai dunia dari kota di utara Italia itu, Kota Milan membuka museum yang diberi nama Armani Silos pada 2015 lalu.

    Tak hanya Armani Silos yang menjadi situs pembuktikan kebesaran Kota Milan. Lebih dari itu, ada Stadion Giuseppe Meazza sebagai pembuktikan tuah Kota Milan.

    Di Giuseppe Meazza, klub sepak bola bernama Internazionale Milan (Inter Milan) mewakili filosofi Kota Milan yang terbuka bagi masyarakat dunia. Sejak pertama kali berdiri pada 9 Maret 1909, Inter Milan punya filosofi bahwa sepak bola harus membuka kesempatan yang sama pada manusia.

    Dari negara manapun dia, Inter Milan selalu membuka kesempatan bagi manusia untuk mewujudkan mimpinya. Ini sama halnya dengan filosofi Kota Milan yang begitu ramah pada orang asing. Data yang dilansir dari laman Wanted Milan mencatat, dari total 3,1 juta penduduk Kota Milan, sekitar 474 ribu di antaranya adalah imigran asal luar Uni Eropa.

    Giuseppe Meazza Stadium Milan

    Walhasil, Milan jadi kota dengan angka imigran tertinggi. Meski masih meninggalkan masalah sosial, taraf hidup imigran di Milan tergolong cukup baik. Ini terbukti dengan catatan 68 persen dari imigran di Kota Milan mampu meraih pekerjaan.

    Tak pelak, Milan pun jadi kota internasional di mana harmoni ragam suku, bangsa, agama, dan budaya membaur di satu wilayah. Segala keragaman itu tak membatasi seseorang di Kota Milan untuk mendapat kesempatan yang sama untuk meraih mimpinya.

    Di lapangan sepak bola, Inter benar-benar mewakili filosofi dari Kota Milan ini. Sejarah mencatat seorang asal negara tergolong kecil macam Makedonia (Goran Pandev) atau Albania (Rey Manaj) mampu mewujudkan mimpi di dunia sepak bola dengan baju kebesaran biru hitam milik Inter Milan.

    Bahkan sejak 2013, klub Inter Milan dipimpin oleh orang asal luar Italia, tepatnya dari Indonesia, Erick Thohir. Awalnya banyak yang memandang sebelah mata tentang sepak terjang orang Indonesia yang memimpin salah satu klub terbesar Italia itu. Tapi kini, pertanyaan itu mulai terjawab dengan keberhasilan Inter kembali ke Liga Champions mulai musim depan.

    Sejak pertama kali memegang kendali Inter Milan, Erick sudah memasang target bahwa dirinya butuh lima musim untuk mengembalikan hegemoni Inter. “Inter Milan harus kembali tampil konsisten di kompetisi papan atas Eropa dan mempunyai sistem manajemen yang tak kalah dengan klub papan atas dunia,” begitu pernyataan Erick di awal kiprahnya memegang kendali Inter Milan.

    Saat pertama kali diambil alih itu, kondisi Inter sedang dalam kondisi kurang baik di dalam dan luar lapangan. Inter hanya finish di posisi sembilan klasemen Seri A musim 2012/2013.

    Tak hanya di lapangan, di luar lapangan pun Inter pada 2012/2013 mencatat penurunan performa yang signifikan. Jika merujuk statistik tahunan yang dikeluarkan oleh Brand Finance, nilai produk Inter pada 2012/2013 melorot tajam dari 215 juta dolar AS menjadi 151 juta dolar AS. Inter mengalami penurunan nilai produk hingga 30 persen.

    Erick Thohir, Presiden Inter Milan

    Dengan segala keterpurukan itu, pemilik Inter kala itu Massimo Moratti memutuskan untuk melego klub yang telah dia kuasai selama 20 tahun ini. Moratti sadar bahwa Inter memerlukan nahkoda baru yang mampu membawa suntikan segar bagi manajemen tim. Sebab Inter mesti segera berbenah total guna mengimbangi kemajuan pesat industri olahraga.

    Akhirnya nahkoda itupun diambil alih Erick Thohir pada akhir 2013. Sejak 2013, usaha panjang mulai dilakukan untuk membangkitkan Inter. Manajemen baru Inter sadar, usaha membangkitkan Nerazzurri tak akan bebuah instan.  Butuh perbaikan jangka panjang untuk mengembalikan Inter ke khittahnya sebagai salah satu klub terbesar di dunia.

    Salah satu perubahan awal yang dilakukan manajemen baru Inter adalah dengan mengubah jajaran di balik layar. Inter merekrut sejumlah profesional papan atas, seperti Alessandro Antonello yang malang melintang di industri keuangan.

    Antonello adalah eks petinggi di Puma Italia dan perusahaan ekuitas Amerika Serikat, Sun Capital Partners. Selain Antonello, Erick juga memboyong Tim Williams yang merupakan salah satu orang di balik kesuksesan bisnis Manchester United sebagai tim terkaya di dunia.

    Dengan tim baru yang profesional, Inter mulai memperbaiki sisi bisnis. Ekspansi mulai dijalankan Inter ke sejumlah negara, terutama Cina. Puncaknya ketika Erick menggandeng raksasa bisnis Cina, Suning Group, sebagai mitra kepemilikan klub per 2016. “Kami memutuskan untuk menggandeng Suning untuk membuat klub semakin kuat,” kata Erick.

    Erick saat itu yakin, dengan segala perubahan yang dia lakukan, target kembali ke Liga Champions. “Target Inter adalah konsisten bermain di Liga Champions Eropa,” ujar Erick.

    Usaha perbaikan yang dilakukan manajemen Inter perlahan tapi pasti terlihat di neraca bisnis klub. Data Brand Finance pada 2018 ini pun berbanding terbalik dengan data pada 2013. Jika nilai ekonomis Inter Milan per 2012/2013 menurun 30 persen menjadi hanya 151 juta dolar AS, kini nilainya di musim 2017/2018 meroket hingga 475 juta dolar AS.

    Jika dibandingkan tahun sebelumnya, nilai ekonomis Inter meroket sebesar 115 persen. Inter yang tahun 2017 hanya menghuni peringkat 28, kini duduk di peringkat 13 besar dunia dalam urusan nilai ekonomis klub. Angka kenaikan nilai ekonomis Inter merupakan yang tertinggi bersama klub Jerman, RB Leipzig.

    Data lembaga keuangan Deloite per Januari 2018 juga mencatat kenaikan signifikan Inter dari sisi ekonomis. Inter tercatat sebagai tim dengan pendapatan komersial tertinggi di Italia. Inter mencatat pendapatan komersial sebesar 130,1 juta euro. Jumlah ini lebih tinggi dari juara Seri A Juventus yang pendapatan dari sisi komersialnya hanya 114 juta euro.

    Proposi pendapatan dari sisi komersial Inter mencapai 50 persen dari total pemasukan. Ini berbanding terbalik dengan klub Italia lain yang porsi pendapatan terbesarnya dari hak siar. Padahal, jika ditilik lebih jauh, klub-klub terkaya di dunia pemasukan utamanya dari sisi komersial, bukan hak siar.

    Selain hitungan uang, tingkat popularitas Inter juga ikut terkerek. Jika pada 2013 lalu, Inter hanya punya followers kurang dari 0,7 juta di Twitter dan empat juta di Facebook, kini per 2018 pengikut Inter di Twitter sudah melonjak jadi 1,5 juta, 7,5 juta pengikut di Facebook, dan 1,7 juta di Instagram.

    Namun sisi yang paling penting dari semua itu adalah kebangkitan di atas lapangan. Keputusan manajemen Inter menunjuk Luciano Spalletti sebagai pelatih Inter di awal musim nyatanya membuahkan hasil manis.

    Spalletti yang sudah mengenal karakter sepak bola Italia, mampu mengembalikan gaya lama Inter yang bermain dengan 4-3-3. Pada awal musim 2017/2018, Inter di bawah Spalletti tak jor-joran dalam membeli pemain. Ini berbeda dengan saudara sekota mereka, yakni AC Milan yang menghabiskan dana transfer hingga lebih dari 200 juta euro.

    Inter dengan cermat membeli sejumlah pemain muda potensial macam Matias Vecino, Milan Skriniar, dan Dalbert. Inter juga meminjam dua pemain, yakni Joao Cancelo dari Valencia dan Rafinha. Total, dana transfer yang dihabiskan Inter pada awal musim 2017/2018 kurang dari 70 juta euro.

    Luciano Spaletti, Pelatih Inter Milan

    Dengan dana yang jauh lebih minim dari AC Milan, manajemen Inter awalnya dikritik. Banyak yang menilai, Inter tak akan mampu bersaing di papan atas. Tapi segala kritik itu coba ditepis manajemen Inter.

    Presiden lama Inter, Massimo Moratti pun angkat komentar. Moratti menilai, langkah yang dilakukan manajemen Inter sudah tepat. Inter, kata Moratti, berbeda dengan manajemen AC Milan.

    Menurut Moratti, dari segala sisi manajemen Inter jauh lebih baik dibanding saudara sekota mereka. Dari segala rekam jejak, Moratti menilai pengambilalihan saham Inter Milan jauh lebih baik daripada AC Milan.

     “Benar-benar tidak ada kesamaan antara penjualan saham saya kepada Erick Thohir dan penjualan saham AC Milan, keduanya memiliki karakter yang berbeda,” ujar Moratti.

    Apa yang disampaikan Moratti nyatanya terbukti di atas lapangan. Pada awal hingga pertengahan musim, Inter dengan kebijakan transfer yang lebih minim, nyatanya mampu bersaing di papan atas klasemen. Pada awal Desember 2017, Inter bahkan mampu merebut puncak klasemen Seri A.

    Namun pada awal paruh kedua, prestasi Inter sempat menurun. Inter yang awalnya berada di posisi teratas klasemen, perlahan tapi pasti mulai turun posisinya. Pada pertengahan Desember 2017 hingga Januari 2018, Inter mencatat delapan laga tanpa kemenangan.

    Hasil minor ini membuat Inter tak hanya terlempar dari peringkat teratas tapi juga posisinya di empat besar terancam. Penurunan prestasi Inter ini ditenggarai akibat minimnya stok pelapis.

    Inter MIlan

    Di lini depan, Inter tak punya banyak opsi selain Mauro Icardi. Walhasil, saat Icardi tampil jelek hasil buruk juga dipetik Inter.

    Walhasil, pada Januari manajemen Inter bergerak cepat di bursa transfer guna membangkitkan tim dari keterpurukan. Rafinha didatangkan dari Barcelona sebagai opsi tambahan.

    Bersama Rafinha, Spalletti mencoba untuk menerapkan taktik baru. Skema 4-2-3-1 diterapkan. Perubahan ini menjadi kunci Inter untuk bangkit di paruh terakhir kompetisi.

    Hadirnya Rafinha ini yang kembali mampu memperbaiki performa Inter. Rafinha yang malang melintang bersama Barcelona mampu mencetak assist dan gol bagi Inter di saat paling krusial kompetisi. Pada tiga laga terakhir Seri A, Rafinha mampu mencetak dua gol.

    Namun pemain yang punya peran terbesar bagi Inter adalah sang capitano, Mauro Icardi. Spanjang musim ini, Icardi mampu mencetak 29 gol yang membuatnya menjadi top skorer Seri A musim 2017/2018.

    Sosok sentral Icardi pun tampak pada laga penentuan Inter musim ini menghadapi Lazio di Olimpico, Senin (21/5) dini hari WIB. Inter yang sempat tertinggal 0-1 dan 1-2, mampu bangkit di penghujung laga. Adalah penalti Icardi pada menit ke-78 yang jadi kunci kebangkitan Inter. Ini disusul gol Vecino pada menit ke-81 yang memastikan Inter menang dramatis 3-2.

    Hasil ini sekaligus memastikan apa yang dijanjikan manajemen baru Inter pada 2013 lalu terwujud, yakni tiket Liga Champions.

    Selain Icardi, pujian besar juga patut diberikan pada sang pelatih, Spalletti. Spalletti dengan jeli mampu meramu skema 4-3-3  dan 4-2-3-1 Inter dengan sangat seimbang. Duet Skriniar dan Miranda di lini belakang mampu menjaga soliditas pertahanan. Sedangkan trio Ivan Perisic, Icardi, dan Candreva mampu jadi motor untuk menggedor pertahanan lawan.

    Ini juga ditambah kolaborasi apik Marcelo Brozovic, Roberto Gagliardini, dan Vecino di lini tengah. Pada Januari, kolaborasi ini diperkuat oleh Rafinha yang kemudian jadi kunci permainan tim pada paruh kedua kompetisi.

    Tak hanya soal teknis, hal terpenting yang dihadirkan Spalletti adalah mental bertanding. Ini terbukti dengan performa apik yang ditunjukkan Inter setiap melakoni laga besar.

    Musim ini, Intar tercatat mampu membawa pulang poin dari markas Juventus dan menang dari AC Milan. Puncaknya kala Spalletti mampu memenangkan laga final perebutan tiket Liga Champions melawan Lazio, akhir pekan lalu.

    “Spalletti memang memperlihatkan karakter Inter yang luar biasa. Selama beberapa tahun ini (Inter Milan) masih turun naik, tapi saat ini ia (Spalleti) sudah memperlihatkan karakternya sekarang,” ujar Erick Thohir.

    Dengan segala perubahan yang dilakukan, Inter telah berhasil mewujudkan mimpi yang sudah dirajut sejak lima tahun silam. Mimpi untuk mengembalikan Nerazzurri ke jajaran elite Eropa di ajang Liga Champions.

    Mulai musim depan, Inter akan kembali meretas mimpinya untuk tampil di babak utama Liga Champions melawan tim besar dunia macam Real Madrid, Barcelona, dan Manchester United.

    Kubu Inter menyadari bahwa keberhasilan lolos ke Liga Champions bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya ini adalah awal dari mimpi besar untuk mengembalikan Inter layaknya musim 2010 saat mereka mampu menjadi tim Italia pertama yang meraih trbele winners.

    Awal mimpi baru pun kini coba dirajut Inter. Selain bekal ekonomi yang semakin membaik, Inter punya amunisi lain yang sangat vital bagi masa depan tim kedepan. Bekal itu adalah pembinaan pemain muda Inter yang sangat baik.

    Inter Milan Treble/ 2010

    Bukan rahasia lagi jikalau Inter memiliki primavera (tim U-19) yang terbaik di Italia saat ini. Salah satu pembuktiannya adalah di turnamen Viareggio Cup tiga musim terakhir. Pada kompetisi papan atas bagi tim usia muda di dunia itu, Inter dua kali tampil sebagai juara pada tiga musim terakhir.

    Kini di daftar skuat muda Inter, ada sejumlah nama potensial yang bisa menjadi pondasi klub untuk merajut kembali mimpinya sebagai raja Eropa. Pemain seperti Andrea Pinamonti, Federico Valietti, dan Nicolo Zainolo bisa mulai merajut mimpinya untuk menembus tim utama di masa mendatang.

    Ini karena manajemen Inter punya kebijakan untuk menjadikan pemain muda asli binaan Inter sebagai pondasi tim di masa depan.

    Dengan gabungan materi mumpuni, dukungan manajemen yang profesional, hingga bekal pemain muda potensial, mimpi baru kini dicanangkan Inter. Mereka bertekad untuk menjadi raja Italia di musim depan.

    Sebuah mimpi yang bukan barang mustahil terjadi di Kota Milan. Sebab Milan sudah terbukti menjadi pelabuhan mimpi bagi siapapun yang mau berusaha.

    Layaknya kisah seorang Giorgio Armani. Pria desa asal Piacenza yang pada 1957 hanya menjadi seorang penjaga toko di La Rinascente, kini, menjadi perancang busana tersukses dengan kekayaan total mencapai 8,1 miliar dolar AS.

    (dimuat pertama kali di republika dengan judul yang sama: Armani, Inter, dan Mimpi di Kota Milan

  • Jokowi, Prabowo, dan AHY, Koalisi atau Kompetisi di 2019?

    oleh: Herzaky Mahendra Putra

    BERBAGAI hasil survei jelang Pemilu 2019 dalam dua bulan terakhir masih menempatkan Joko Widodo dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden dengan tingkat elektabilitas tertinggi.

    Hanya saja, elektabilitas kedua tokoh nasional tersebut bisa dikatakan cenderung tidak mengalami perubahan secara signifikan. Bahkan, bisa dikatakan hampir stagnan.

    Mengingat pemilihan presiden tahun 2019-2024 bakal berlangsung kurang dari setahun lagi, situasi ini harus benar-benar mendapat perhatian tim Jokowi dan Prabowo.

    Perlu ada langkah-langkah terobosan yang diambil, sehingga Jokowi bisa unggul jauh atas Prabowo atau Prabowo bisa meningkatkan elektabilitasnya secara signifikan.

    Di luar kompetisi Jokowi-Prabowo, ada satu fenomena baru yang bisa mengubah konstelasi peta koalisi untuk Pemilihan Presiden 2019. Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) semakin menguat sebagai calon wakil presien, baik untuk Jokowi maupun Prabowo.

    Tak kurang dari lima survei terakhir mengamini sosok yang akrab dipanggil AHY ini sebagai salah satu cawapres paling potensial untuk Jokowi maupun Prabowo.

    Bahkan, di survei terbaru Indikator, AHY dianggap sebagai cawapres paling pas untuk Jokowi dengan dukungan 16,3 persen responden. Adapun untuk cawapres Prabowo, AHY berada setelah Anies Baswedan.

    Jokowi – AHY

    Situasi elektabilitas Jokowi dan Prabowo yang tidak mengalami perubahan secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir, dan semakin menguatnya AHY sebagai salah satu cawapres potensial untuk Jokowi dan Prabowo, patut untuk dicermati.

    Tiga penyebab

    Jokowi selaku petahana memiliki segala sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan elektabilitasnya. Setiap program pemerintah merupakan sarana kampanye tidak langsung bagi kinerja Jokowi, dan ini bakal berpengaruh terhadap elektabilitasnya.

    Saat ini, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi di berbagai survei memang cukup tinggi. Hanya, yang menjadi pertanyaan, mengapa elektabilitasnya tidak setinggi tingkat kepuasan masyarakat.

    Kemungkinan ada tiga penyebabnya. Pertama, program pemerintah berjalan dengan baik, namun tidak menyentuh hal-hal mendasar di masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah.

    Kenaikan tarif listrik dan harga sembako, misalnya, cukup mengganggu sebagian masyarakat menengah ke bawah, meskipun salah satu program utama Jokowi, yaitu infrastruktur hasilnya cukup terlihat di beberapa wilayah.

    Kedua, komunikasi politik tim Jokowi ke masyarakat tidak berjalan dengan baik. Pernyataan atau tindakan Jokowi yang viral justru bukan hal-hal yang berkaitan dengan kinerja, bukan program pemerintah yang berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak, melainkan hal-hal yang kurang relevan dengan masyarakat. Contohnya pernyataan tentang kalajengking dan penggunaan motor bebek oleh Jokowi di Papua.

    Dengan kondisi itu, politik simbol yang menjadi salah satu andalan Jokowi di dua tahun awal pemerintahannya dan selalu ditunggu-tunggu masyarakat menjadi kurang efektif dalam setahun terakhir ini. Segmen kaum intelektual dan muda sangatlah kritis dalam hal ini.

    Ketiga, kepuasan masyarakat tinggi bisa jadi karena sifat dasar sebagian besar masyarakat Indonesia yang cenderung permisif dan kurang berani menyampaikan kritik atau ketidakpuasan.

    Sebagian dari mereka kemungkinan kurang puas, namun tetap menyatakan puas karena melihat Jokowi sudah berusaha. Hanya, sebagian masyarakat ada yang merasa perlunya perubahan kepemimpinan di tingkat nasional, sehingga elektabilitas Jokowi tidak sebanding dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya.

    Perbaikan ketiga hal ini diprediksi bakal membuat perjalanan Jokowi menuju Pilpres 2019 lebih mulus.

    Minim penyikapan

    Di sisi lain, Prabowo selaku lawan tertangguh Jokowi saat ini tidak mendapatkan dampak positif apa pun dari elektabilitas Jokowi yang tidak mengalami perubahan signifikan. Dengan kata lain, peralihan dukungan pemilih Jokowi bukan ke kubu Prabowo.

    Selama ini, tim Prabowo menyampaikan pembenaran bahwa dengan belum melakukan apa-apa saja, elektabilitas Prabowo sudah setinggi ini. Pertanyaannya, sampai sejauh apa tindakan yang bisa dilakukan Prabowo dan timnya untuk mengerek elektabilitas yang tertinggal cukup signifikan?

    Komandan Satgas Bersama Pemenangan Pilkada dan Pemilu 2019 Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat bertemu Presiden Joko Widodo di Istana, Selasa (6/3/3018) (Biro Pers Istana/Haryanto)

    Munculnya Prabowo di muka publik selaku juru kampanye beberapa calon kepala daerah akhir-akhir ini memang cukup membantu mengingatkan publik mengenai sosok Prabowo.

    Hanya saja, Prabowo sangat jarang mengeluarkan pernyataan terkait situasi nasional terkini. Padahal, jika menilik kondisi masyarakat saat ini, Prabowo seharusnya perlu tampil di momen-momen dimana masyarakat merasa pemerintah saat ini kurang berpihak kepada mereka.

    Ada situasi-situasi nasional yang memerlukan penyikapan Prabowo selaku antitesis, ataupun minimal, alternatif dari kepemimpinan nasional saat ini.

    Dengan melakukan penyikapan terhadap situasi nasional, masyarakat yang merasa kurang mendapatkan perhatian pemerintah bakal menganggap Prabowo merupakan bagian dari solusi atas kesulitan mereka.

    Pernyataan yang akan dikeluarkan oleh Prabowo pun sebaiknya berfokus pada usulan-usulan solusi atas kekurangan kinerja pemerintah. Prabowo sebisa mungkin menghindari mengeluarkan pernyataan kontroversial yang rawan dipelintir.

    Tentunya kita masih ingat dengan pernyataan Prabowo mengenai potensi Indonesia bubar pada tahun 2030, bukan? Padahal, tujuan komunikasi politik seperti yang disampaikan Steven Chaffee dalam Rice (1981) adalah untuk memobilisasi dukungan pada salah satu kandidat. Dan, yang dilakukan Prabowo dengan ucapan terakhirnya itu malah membuat calon pemilihnya bisa berbalik arah.

    AHY, harapan baru?

    Menguatnya AHY dalam berbagai survei kemungkinan besar karena masyarakat butuh sosok baru, yang bisa memberikan angin segar bagi perpolitikan nasional. Bukan sosok yang itu-itu saja.

    Masyarakat perlu sosok yang bisa menerobos kebuntuan komunikasi dan kejenuhan situasi politik nasional terkini. Masyarakat sepertinya jenuh dengan dikotomi pendukung dari kedua capres terkuat saat ini (Jokowi dan Prabowo), dikotomi lovers atau haters pemerintah.

    Kalau merasa pendukung pemerintah, apa pun kebijakannya selalu didukung, meskipun kebijakan itu belum tentu berdampak baik bagi masyarakat. Di sisi lain, warga bukan pendukung pemerintah selalu menyerang kebijakan pemerintah.

    Padahal, seharusnya setiap kebijakan pemerintah ditelaah dengan kritis, dan jika memang baik, apa pun posisi politiknya, seharusnya mendukung kebijakan pemerintah. Begitu juga sebaliknya.

    Ruang-ruang diskusi publik, baik di jagat maya maupun di dunia nyata, pun sepertinya hanya menjadi ajang bagi kedua pihak ini, tanpa menyisakan tempat untuk yang lain.

    Dengan sosok AHY yang relatif baru di dunia politik dan masih bersih, masyarakat merasa memiliki harapan baru. Apalagi bagi swing voters dan pemilih pemula, yang didominasi kaum milenial, mereka merasa AHY merupakan alternatif baru.

    Mereka senang melihat sosok seperti mereka (kaum milenial) bisa tampil di pentas politik nasional. Bukan sosok yang dimirip-miripkan dengan kaum milenial.

    Untuk pendukung petahana yang saat ini kurang puas dengan kinerja pemerintah, namun tidak berminat beralih ke Prabowo, merasa Jokowi perlu dilengkapi dengan sosok yang bisa menjadi aspirasi mereka. Dan saat ini, bagi kaum milenial, salah satu pilihan terbaik mereka adalah AHY.

    Hal ini didukung hasil survei litbang Kompas bulan lalu yang menunjukkan bahwa AHY merupakan cawapres Jokowi dari kalangan politisi atau ketua umum partai yang paling didukung pendukung Jokowi (39,9 persen). Posisi AHY di atas Surya Paloh (36,7 persen) dan Puan Maharani (31,6 persen).

    Di sisi lain, mereka yang ingin memilih Prabowo, namun merasa generation gaps-nya lumayan jauh, merasa bahwa AHY merupakan salah satu figur yang bisa mendekatkan Prabowo dengan mereka.

    Dengan kata lain, menggaet AHY bisa jadi merupakan salah satu terobosan bagi Jokowi atau Prabowo dalam mempermulus jalannya menuju kontestasi Pemilu 2019.

    Agus Harimurti Yudhoyono menemui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Selasa (31/10/2017).(Dokumentasi Demokrat)

    Koalisi atau kompetisi?

    Pertanyaannya, apakah Jokowi ataukah Prabowo yang bakal mengejar AHY? Atau, malah akan ada poros baru yang menggandeng AHY?

    Politik memang dinamis dan pendaftaran capres-cawapres baru bakal ditutup 10 Agustus 2018. Situasi menjelang pendaftaran bakal ditentukan oleh beberapa hal.

    Yang pertama terkait relasi Jokowi dan PDI-P. Bagaimanapun, Jokowi adalah kader PDI-P dan, bagi PDI-P, sangat penting bila pemerintahan setelah Jokowi tetap dipegang oleh kader PDI-P juga.

    Peluang terbesar untuk melanjutkan pemerintahan pada 2024-2029, bila Jokowi kembali terpilih sebagai presiden pada 2019, bakal didapat oleh cawapres Jokowi tahun depan. Sehingga, momen Pilpres 2019 ini penting bagi PDI-P untuk mengusung cawapres dari kader PDI-P juga.

    Pertanyaannya adalah, apakah Jokowi sangat yakin bisa memenangi Pilpres 2019, siapapun cawapresnya? Bagaimana jika cawapres yang diajukan PDI-P diprediksi malah menggerus elektabilitasnya?

    Bisakah Jokowi meyakinkan PDI-P bahwa lebih penting memenangi pertarungan di 2019 dulu, siapa pun cawapresnya, dan memikirkan 2024 setelah Jokowi kembali terpilih daripada memikirkan 2024 saat ini tetapi malah menuai kegagalan pada Pemilu 2019?

    Kedua, relasi Jokowi dan parpol pendukungnya selain PDI-P. Bagaimana Jokowi bisa meyakinkan parpol pendukungnya agar tetap satu perahu dengannya jika dia tidak memilih cawapres dari parpol tersebut? Akankah koalisi ini rontok di tengah jalan?

    PKB dan PPP selama ini sangat getol menawarkan ketua umumnya sebagai cawapres Jokowi. Kedua parpol ini merepresentasikan segmen pemilih Muslim dari ormas Islam terbesar di Indonesia, Nadhlatul Ulama.

    Segmen pemilih Muslim ini sangat penting untuk didekati oleh Jokowi, mengingat berbagai isu yang menerpa Jokowi berkisar ketidakdekatannya dengan komunitas Muslim. Apakah Jokowi bakal memilih salah satunya?

    Belum lagi jika harus mengelola kerumitan baru yang ditimbulkan oleh Golkar. Golkar saat ini sudah mulai melontarkan wacana mengenai Airlangga Hartarto, ketua umumnya, untuk disandingkan dengan Jokowi.

    Airlangga memang dikenal luas di dunia bisnis karena rekam jejaknya di sana. Saat ini ia juga menjabat sebagai salah satu menteri Jokowi.

    Mengingat saat ini wapres Jokowi adalah tokoh senior Golkar, Jusuf Kalla, tentunya wajar jika Golkar kembali menginginkan jatah kursi yang sama di 2019.

    Hal ketiga menyangkut peranan yang dipilih Prabowo. Gerindra memang telah memberikan mandat kepada Prabowo untuk menjadi capres 2019.

    AHY dan Prabowo

    PKS selaku mitra setia Gerindra sejak empat tahun terakhir ini memang menyatakan bakal berkoalisi dengan Gerindra. Hanya saja, siapa capres-cawapresnya masih sangat dinamis. Capres memang diserahkan kepada usulan Gerindra, namun PKS meminta cawapres dari internal PKS.

    Bagaimanapun, masa depan koalisi Gerindra-PKS bakal ditentukan peranan yang dipilih Prabowo, apakah memilih kembali melaju sebagai capres ataukah memberikan jalan untuk capres lain untuk memberikan surprise effect kepada Jokowi. Sehingga, perhitungan dan persiapan yang dilakukan kubu Jokowi mesti direkalkulasi karena menghadapi kandidat baru.

    Laiknya bermain catur, pengorbanan perwira-perwira berat untuk mendapatkan posisi lebih unggul atas lawan, sehingga membuat lawan terdesak dan kehabisan langkah, meskipun unggul perwira, merupakan terobosan yang diperlukan untuk mendapatkan kemenangan di akhir permainan.

    Keempat, keikhlasan PKS. Untuk memperkuat koalisi Gerindra-PKS, keberadaan Partai Demokrat memberikan suntikan darah segar yang bakal mengubah konstelasi. Hanya saja, jika Demokrat bergabung, apakah PKS ikhlas untuk memberikan posisi cawapres kepada perwakilan Demokrat?

    Hal itu mengingat PKS sebagai mitra setia Gerindra sejak 2014 sehingga tentu merasa lebih berhak menempatkan kadernya di posisi cawapres.

    Adapun Demokrat pun wajar meminta posisi cawapres karena memiiki kursi di parlemen lebih banyak daripada PKS dan memiliki sosok vote getter yang sedang naik daun seperti AHY.

    Faktor kelima adalah semakin meningkatnya eskalasi konflik dan dikotomi antarpendukung dua capres terkuat saat ini, yaitu Jokowi dan Prabowo, menjelang penutupan pendaftaran capres/cawapres.

    Situasi ini bisa mengakibatkan munculnya keresahan di kalangan silent majority maupun tokoh-tokoh politik nasional. Situasi ini juga bakal memicu kesadaran perlunya terobosan, dan di antaranya membentuk poros baru, agar bangsa ini tidak terbelah dua karena politik semata sehingga bisa fokus memikirkan masyarakat.

    Hanya saja, jika momentum ini muncul, ada satu faktor penting lagi yang diperlukan agar pembentukan poros baru bisa terwujud, yaitu sosok tokoh yang bisa diterima oleh berbagai pihak yang tergabung dalam koalisi.

    Kemenangan Pakatan Harapan atas Barisan Nasional di Malaysia baru-baru ini bisa menjadi pelajaran bagi pendukung poros ketiga.

    Bersatunya empat partai dalam Pakatan Harapan, salah satunya karena faktor ketokohan Mahathir Mohamad yang disepakati sebagai calon PM oleh keempat partai tersebut.

    Mahathir bukan ketua umum salah satu partai sehingga partai-partai lain nyaman dengan pilihan pada Mahathir. Selain itu, prestasi Mahathir selama menjabat, mengundang respek dari partai-partai lain.

    Untuk itu, poros ketiga ini memerlukan tokoh kaliber nasional yang tidak terlalu terasosiasi dengan salah satu partai sebagai perekat, baik sebagai capres maupun cawapres. Prestasinya selama ini, baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan, mengundang respek dari partai-partai lain maupun bagi tokoh kunci dan konstituen partai-partai tersebut.

    Beberapa tokoh bisa dipertimbangkan, seperti Gatot Nurmantyo, Chairul Tanjung, bahkan Anies Baswedan maupun Tuanku Guru Bajang yang sedang menjabat sebagai gubernur.

    Tinggal didiskusikan kembali oleh para pemimpin partai, sosok mana yang lebih bisa mereka terima sebagai jalan tengah, dan mana yang lebih bisa diterima oleh para pemilih.

    Poros baru ini bagaimanapun bakal menggandeng AHY sebagai cawapres, atau bahkan capres. Ini mengingat Partai Demokrat tempat AHY bernaung bakal menjadi partai terbesar dalam koalisi baru ini.

    AHY sendiri merupakan magnet baru bagi segmen pemilih milenial, ceruk pemilih terbesar di 2019. Ini mengingat sosok AHY yang relatif baru di politik dan bersih, terlepas dari pertikaian dan dikotomi pendukung pemerintah-antipemerintah saat ini, dan sangat pas dengan niatan awal poros baru ini dibentuk.

    Lalu, apakah Jokowi, Prabowo, dan AHY bakal berkoalisi atau berkompetisi di 2019? Kita tunggu.

    *Direktur Manilka Research and Consulting

    (artikel ini dimuat pertama kali oleh Kompas.com, edisi 11/5/2018)

  • “Mendadak Caleg !”

    Oleh: Heryadi Silvianto *)

    Secara resmi Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) pada 17 Februari 2018 telah menetapkan 16 partai politik menjadi peserta pemilu 2019. Tak lama berselang, setelah melalui proses pengadilan di Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu) Partai Bulan Bintang (PBB) menjadi kontestan terakhir yang ditetapkan dengan nomer urut 19.

    Kejutan belum selesai sampai di situ, berdasar pembacaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Jakarta, Rabu (11/4), memerintahkan KPU menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang penetapan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) menjadi parpol peserta Pemilu 2019. Sontak saja, partai tersebut langsung mengklaim telah mempersiapkan pendaftaran bakal calon anggota legislatif (caleg).

    Sejak saat itu, secara formal genderang perang ditabuh, kalkulasi politik dihitung, dan strategi pemenangan yang telah dirumuskan siap digelontorkan ke konsituten. Partai lama dan partai baru, saling berebut suara lebih dari 200 juta jiwa. Konsensus informal terbentuk: inilah tahun politik.

    Atas dasar itu, kini mulai bermunculan gambar, poster dan iklan diberbagai sudut kota para calon anggota legislatif (caleg), bahkan partai yang sangat digdaya di social media pun mencuri start pasang baliho dan spanduk di dunia nyata. Setidaknya, ini menjadi pertanda bahwa tidak ada yang terlampau dominan di semua medan perang, baik offline maupun online.

    Catatan khas lainnya yang perlu diperhatikan dari pemilu 2019, pemilihan anggota parlemen dan presiden berlangsung serentak dalam waktu yang bersamaan. Berbeda dengan pemilu sebelumnya, untuk pemilihan presiden formulasi pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diprediksi sekitar dua dan maksimal tiga pasangan calon. Sedangkan di saat yang bersamaan warga juga akan memilih puluhan ribu calon anggota legislatif, untuk kemudian menjadi legislator di pusat maupun daerah. Anggota DPR dan DPRD Provinsi/kab/kota pada akhirnya akan menjadi wajah resmi partai politik dalam etalase demokrasi selama lima tahun ke depan.

    Sebagaimana kita paham, para caleg partai politik tidak bebas nilai. Setidaknya dengan itikad mereka menjadi caleg menunjukan bahwa mereka punya ‘ambisi’ politik. Yang membedakan hanya kadar dan derajatnya saja. Pun demikian ternyata latar belakang para caleg beragam; pengusaha, purnawirawan, anak muda dan bahkan tukang ojek.

    Setidaknya secara sederhana, membuktikan bahwa demokrasi telah memberikan ruang yang setara bagi setiap warga negara untuk dipilih. Latar belakang boleh beda, tapi motif yang ditempuh relatif sama; meraih kekuasaan dan menikmati jabatan. Jika kita hendak sinis mengambil kesimpulan akhir.

    Hingga saat ini harus diakui, alih-alih menyaksikan diskursus ideologis sesuai dengan platform partai, justru kita mencermati banyak anggota dewan baik di level pusat maupun daerah seperti mati suri dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat dan memberikan kontrol terhadap kinerja pemerintah. Senyap dalam riuh agregasi politik, namun riuh dalam menuntut fasilitas.

    Menurut Miriam Budiardjo (2003), ada empat fungsi partai politik, yaitu komunikasi politik, sosialisasi politik, rekruitmen politik dan pengelolaan konflik. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan penekanan kepada fungsi rekruitmen politik yang nampak kedodoran dari proses pencalegan, terlihat dari apa yang dilakukan oleh partai politik di ‘tahun politik’ ini.

    Dalam proses pencalonan anggota legislatif dan mencari pejuang ideologis partai yang hendak ditempatkan di Parlemen justru dilakukan di persimpangan jalan–di tengah jalan-bukan sesuatu yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Penyelenggara pun mengingatkan ini, Komisioner KPU RI Hasyim Asy’ari mengingatkan agar parpol bisa selektif mengusung calon dalam pemilihan legislatif yang berlangsung 2019 mendatang.

    Mengukur daya tahan ideologis di tahun politik

    Ukuran proses kaderisasi yang sehat dari partai politik sejatinya bisa dilihat pada pesta demokrasi yang akan digelar, setidaknya kita bisa lihat dari kesungguhan partai sepanjang lima tahun terakhir mendidik dan melakukan kaderisasi untuk mengisi kolom kosong di nomor urut caleg. Nampaknya, situasi tersebut tidak bisa ideal di semua partai, dengan dalih mencari putra purti terbaik bangsa untuk berjuang bersama partai mereka melakukan outsourcing politik secara instan. Kader ditemukan ditengah jalan, bukan di awal perjuangan.

    Faktanya proses rekruitmen caleg dilakukan tidak hanya berdasarkan pertimbangan aspek teknis administrative dan subtansial parpol. Namun juga kebutuhan partai – dana – serta kehendak electoral – pemilih – . Semisal untuk mememenuhi keterwakilan perempuan 30 persen perempuan sebagian partai asal memasukan yang penting ada dan terdaftar, bukan semata-mata karena alasan kesetaraan gender dan keberpihakan kaum marginal. Masih jauh filosofis itu.

    Epik lain dari peristiwa mendadak caleg, partai politik membuka pendaftaran caleg setahun terakhir seperti dikejar setoran. Akibatnya, tentu membuka peluang cela dan seleksi yang tidak kredibel. Partai politik secara terbuka membuka pendaftaran caleg lewat media massa, luar ruang, bahkan dalam ruang senyap sekalipun.

    Prasyarat pun dilengkapi oleh setiap caleg, selain aspek administratif juga syarat prinsip kompetisi prosedural: popularitas, elektabilitas dan ‘isi tas’. Sekali lagi mahfum adanya, bermunculanlah nama-nama mengisi kolom kosong dari berbagai latar belakang profesi; artis, pengusaha dan lain sebagainya. Tidak bisa dipungkiri, sebagian dari mereka semua awam politik. Berbekal ‘euphoria’ membela rakyat, mereka masuk hutan belantara politik.

    Selama ini, ada tiga ‘rumus penting’ dalam proses pencalegan, yaitu modal politik, modal sosial, dan modal ekonomi. Seakan ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tapi, faktanya bahwa ‘rumus’ itu tidak selamanya benar, masih ada saja caleg yang kemudian jadi anggota dewan dengan cara-cara yang ‘normal’. Meski jumlahnya tidak banyak. Sebagai catatan dalam periode keanggotaan DPR 2014-2019 telah terpilih 560 (lima ratus enam puluh) wakil rakyat yang duduk di DPR RI, berasal dari 77 Daerah Pemilihan (Dapil). Anggota Dewan yang terpilih bertugas mewakili rakyat selama 5 (lima) tahun, kecuali bagi mereka yang tidak bisa menyelesaikan masa jabatannya.

    Ternyata, mereka terpilih menjadi ‘juara’ dari dapilnya dengan beragam sebab, tidak semata-mata karena popularitas dan isi tas yang selama ini menjadi asumsi umum dan hukum linier pemilihan umum. Tapi, karena kecerdasan dalam membangun personal branding, menciptakan difrensiasi dan menentukan positioning yang tepat.

    Buktinya cukup banyak anggota DPR RI yang malang melintang muncul di media, ternyata tidak terpilih di pemilu. Pun anggota yang terkenal sangat kaya juga tidak terpilih. Di titik ini, kita masih bisa sedikit menghela napas, bahwa seseorang terpilih tidak semata-mata karena modal finansial dan popularitas, namun juga karena modal sosial dan politik yang telah dihimpun sekian lama. Dikemas dalam pendekatan komunikasi dan marketing politik yang ciamik. Di sisi lain kita juga diuntungkan dengan mulai adanya geliat pemilih cerdas yang tidak pernah sepi dari hiruk pikuk pemilu.

    Selebritas sosial media dalam kontentasi politik faktual

    Di pemilu kali ini uniknya para selebritas media social nampak turun gunung dan ikut serta, tersebutlah nama Guntur Romli, Tsamara Amany dan Kokok Dirgantoro dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Juga Reiza Patters dari Partai Demokrat dan Adly Fairuz dengan follower mencapai 1,2 juta merapat ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meski kita sempat ‘kecele’ dengan manuver Pandji Pragiwaksono dalam promosi tour dunia standup comedy, mengira akan ikut serta dalam kompetisi pemilu 2019.

    Para seleb medsos, mereka terjun ke gelanggang politik berbekal kepercayaan diri bahwa popularitas virtual dapat menjadi salah satu modal dan amunisi yang berharga untuk mengarungi pertarungan pemilu. Masih harus diuji!. Jika selama ini mereka berselimut dalam balutan akun media social, mengeluarkan pendapatnnya dengan sangat baik dalam teks, kata, dan visual secara mandiri.

    Tentu saja, akhirnya, perlu dibuktikan dalam kawah candradimuka bertemu pemilih real di lapangan dengan beragam kompleksitasnya. Proses transformasi untuk mempolitisasi serta mengkapitalisasi follower (pengikut) menjadi voter (pemilih) dalam waktu tidak lebih dari satu tahun, menjadi tantangan tersendiri dan hanya waktu yang bisa menjawab.

    Cross market: caleg virtual dan factual. 

    Konfigurasi caleg yang kuat di medsos tentu akan diuji di ruang nyata, pun sebaliknya. Bagi caleg yang selama ini jarang berkecimpung di medsos, mereka seakan terpaksa harus ‘nyemplung’ tanpa pelampung yang memadai kedalamnya. Para caleg non medsos perlu masuk ke dunia baru dengan satu asumsi bahwa ada pemilih pemula di medium tersebut, segmentasi yang jumlahnya relatif besar di pemilu 2019. Terjadi semacam cross marketing yakni mengacu pada praktik yang dilakukan oleh dua atau lebih perusahaan, tetapi biasanya hanya dua, bersama-sama mengiklankan atau mengizinkan fasilitas untuk menjual produk dan layanan yang berbeda.

    Seseorang yang terkenal dan memiliki follower yang banyak di dunia maya, dengan kontestasi caleg harus terjun ke dunia nyata. Menyapa masyarakat dan menggalang dukungan. Pun demikian dengan caleg yang ‘gaptek’ mendadak mengaktivasi sosial media asset yang selama ini terbengkalai. Atas kebutuhan dan waktu yang mendesak, tersedaklah popularitas diruang publik. Muak dan bising di Publik. Atas proses itu akhirnya kita akan menyaksikan tejadi kompetisi dalam perspektif sehat, maupun ‘kanibalisasi’ dalam perspektif negative. Pasar politik akan penuh sesak, karenanya perlu kecerdasan tersendiri dari pemilih untuk mencermati situasi ini.

    Strategi yang menentukan atau taktik yang mematikan

    Bagi para caleg yang percaya pada proses, meraih elektabilitas harus dibangun dengan tekun dan pendekatan yang sangat kreatif. Namun bagi caleg yang percaya proses, maka meraih elektabilitas adalah dengan jalan pintas dan cara tuntas; transaksional semata. Bayar dan menang!. Sekilas cara ini nampak ampuh dan ajaib, namun dalam jangka panjang jika situasi tersebut terus dipelihara maka akan membahayakan demokrasi yang kita tempuh selama ini. Nampak mahal dan miskin narasi. Asal beda, asal menang, asal-asalan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.

    Maka, perlu ada terobosan yang kreatif untuk menghentikan praktek instan dan transaksional model seperti itu, selain perlunya penguatan sistem yang secara ampuh membatasi pergerakan money politik. Di sisi lain diperlukan pemilih yang semakin mandiri dan bertanggung jawab untuk menentukan caleg yang akan dipilih.  Membaca track record mereka, menguji gagasannya dan mamastikan bahwa apa yang diucapkan saat kampanye berbanding lurus saat menjadi anggota legisaltif kelak.

    *) Peneliti di Institute for Social, Law, and Humanities Studies (ISLAH)

    (pertama kali dimuat oleh Republika )

  • Kisah Sarung Bugis dan Dubes Bugis Di Qatar

    Oleh: Eggy Massadiah*

    Transit di Doha, saya ngacir keluar Bandara Hamad International. Di mulut pintu ketibaan, Hakim El Faqieh orang Bugis Pangkep yang menjadi asisten pribadi dubes RI untuk Qatar sudah tegap menjemput bersama Chandra supir KBRI asal Kerla India.

    Udara April ini bersahabat. Nyaman belum terlalu panas meski matahari bersinar sempurna. Peralihan perlahan dari dingin ke musim panas. 

    Qatar berpenduduk 2,7 juta jiwa. Orang Qatar asli hanya 400 ribu an. Sisanya expart-pendatang dari hampir 50 an negara. Luas Qatar kira kira setara dua kali wilayah pulau Bali. Negeri ini sedang bersolek menyambut hajatan Piala Dunia 2022. Mengubah image gurun pasir tandus menjadi negeri yang nyaman nan indah.

    Jumlah warga Indonesia di Qatar sekitar 30 ribuan orang. 80 persen bekerja di bidang asisten rumah tangga, gardening dan cleaning service. Orang Qatar menyebutnya domestik worker.

    Tapi yang membanggakan ada juga orang Indonesia, 10 an persen dari jumlah tersebut duduk di jabatan manajer hingga eksekutif dengan gaji per bulannya minimal 8.000 USD sampai 12.000 USD. Mereka disebut kaum profesional.

    Hakim El Faqih lulusan Afrika Internasional University in Sudan tahun 2015 jurusan Aqidah dan Pemikiran Islam memboyong saya ke Wisma Duta di kawasan Dafna Diplomatic Area pusat kota Doha.

    Andi Indah Burnawang Johar, asli dari Kecamatan Belawa Wajo yang menjabat kepala rumah tangga wisma menyambut dengan suguhan bakso ayam dan tempe goreng. Tersaji juga ikan bakar kakap putih berikut cobek cobek terasi ala Bugis.

    Dengan bersarung ala laki laki Bugis, Dubes Marsekal Madya (Purn) Basri Sidehabi Dubes RI mengajak saya berbincang aneka topik.

    Basri mengatakan sejak kunjungan Emir Qatar ke Indonesia 18 Oktober 2017 setidaknya ada lima hasil MoU antara Indonesia dan Qatar. Terkhusus bidang pendidikan, pemuda dan olah raga, kesehatan, luar negeri serta investasi dan tourism.

    “Semua ini perlu segera diimplementasikan,” ungkap Basri.

    Yang juga menggembirakan bagi Dubes Basri yaitu “Bebas Visa” bagi pemegang pasport Indonesia dan sudah berlaku sejak 9 bulan lalu. “Benar benar bebas visa, bukan visa on arrival. Dan ini tanpa bayar sama sekali. Untuk 30 hari,” ungkapnya.

    Egy Massadiyah (penulis) bersama Dubes RI untuk Qatar, Basri Sidehabi (Kanan)

    Kebanggaan lain yang berhasil diukir Dubes Basri yakni perjanjian free shipping Pelindo 1 dan 2 dengan Hamad International Port. “Dulu shipping dari Indonesia via Singapore dan Malaysia, sekarang sudah bisa langsung dari Indonesia ke Hamad Port dibawah koordinasi Pelindo 1 dan 2,” jelas mantan anggota DPR RI 2009 – 2014 ini.

    Qatar Charity juga mempererat hubungan kedua negara. Diantaranya mendukung pembangunan mesjid dan sekolah. Darul Quran Mulia di daerah Serpong, adalah salah satu yang kecipratan rezeki Qatar Charity. Adapun di Doha saat ini setidaknya ada 15 mahasiswa yang mengikuti kerjasama kuliah singkat jurusan bahasa Arab dan Sastra.

    Qatar memang terus menggeliat. Blokade dan krisis diplomatik yang dipimpin Saudi Arabia tak membuatnya redup. Sebulan pertama memang terasa ada masalah, tetapi setelah itu meski blokade tetap berlangsung ekonomi Qatar berangsur pulih dan membaik. Krisis telah membuat Qatar makin tangguh dan juga kreatif.

    Kalau pun ada kabar pening yang menimpa KBRI Qatar, adalah seputar urusan domestik worker. Antara lain sengketa dengan majikan, dizolimi majikan atau agen TKI, dan juga mental pekerja Indonesia yang mudah home sick. “Baru satu dua bulan kerja sudah minta pulang dan tidak betah,” jelas Basri.

    Namun ke depan Basri meyakini akan banyak perbaikan. Undang Undang terbaru tentang tenaga kerja telah disahkan pemerintah Qatar khususnya mengakomodir kaum domestik worker.

    Ini menyenangkan semua negara yang memiliki pekerja di Qatar. Aturan tersebut mewajibkan bahwa pasport dipegang sendiri oleh pekerja. Sehari dalam seminggu ada libur. Gaji harus dibayar langsung ke rekening pekerja. Dalam sehari maximal kerja 10 jam.

    Sambil berbincang muncul Ramli Ismail orang Aceh yang sudah menjadi warga Doha. Sebelumnya Ramli adalah karyawan Pupuk Iskandar Muda Aceh. Krisis ekonomi 98 – 99 membuatnya berangkat ke Doha dan diterima bekerja di Qapco (Qatar Petro Chemical) di Mesaeed 30 km dari Doha. Ayah lima anak ini adalah salah satu pekerja profesional Indonesia dengan posisi dan gaji menggiurkan dalam USD.

    Itulah Dubes Basri. Lulusan Akabri AU 1974 ini berasal dari Sengkang Sulawesi Selatan.

    Ia orang Bugis pertama yang menerbangkan pesawat tempur F 16 dari Amerika ke Madiun pada era tahun 80 an. Saat masih berdinas di militer ia pernah menjabat Atase Pertahanan RI di Washington DC, Gubernur Akademi Angkatan Udara, Pangkosek di Mandai, Komandan Sesko TNI serta Irjen TNI. Terakhir sebelum pensiun ada tiga bintang bertengger di pundaknya.

    Menjelang siang kami bergerak ke Souq Waqih kawasan ramai turis. Saya dijamu aneka makanan khas Qatar dan teh khas Marocco. Teh ini agak kental dituang ke gelas mungil dengan cita rasa daun mint. Tanpa gula. Kurma muda yang sepat melengkapi gelora cita rasa di mulut.

    Perbincangan pun bergeser ke politik domestik di Jakarta, termasuk suhu pilpres dan tensi pilgub Sulawesi Selatan yang sebentar lagi akan digelar. Urusan Sul Sel menjadi seru, karena kebetulan saya dan dubes satu kampung, sama sama orang Bugis. Kebetulan sama sama tinggal di Amessangeng Desa Maddukelleng Sengkang, Kecamatan Tempe, Kab Wajo.

    Kebetulan jarak rumah kami cuma selemparan batu. Dekat dengan taman segitiga Jetpur di kota Sengkang. Kebetulan juga kami masih keluarga dengan hubungan langsung antara Paman dan Keponakan.

    Sekian kabar dari Doha. Silahkan mampir jika jadwal transit Anda di atas 6 jam. Menyenangkan lidah dengan nasi kebuli kambing di kawasan Souq Waqif, muter muter di Mall Pearl yang megah, atau berpetualang sensasi off road di gurun pasir dengan mobil sejenis land cruiser atau pun range rover. Tabe.

    *Master Komunikasi Paramadina, aktivis kesenian dan pecinta jalan jalan dan kuliner)

  • Kartini Masa Kini: Perempuan Melek Politik

    Oleh: Mutya Gustina*

    Sebagai manusia yang dilahirkan menjadi perempuan, menjadi penggerak dan pelaku perubahan adalah hal yang terus diusahakan dalam setiap langkah dalam semua lini kehidupan. Ketidaktahuan, ketidakberdayaan dan pemiskinan perempuan selama ini telah menempatkannya sebagai second person dalam banyak aspek pembangunan bangsa.

    Jumat (20/4), saya bersama perwakilan pimpinan organisasi masyarakat dan organisasi kepemudaan se-Indonesia hadir dalam acara “Deklarasi Anti Politik Uang dan Politisasi SARA” yang diadakan oleh Bawaslu RI. Momentum ini dimaknai sebagai komitmen negara untuk melibatkan masyarakat sipil dalam melakukan pengawasan pemilu, terutama pada pilkada 2018 dan pemilu 2019 mendatang. Dalam identifikasi masalah pemilu, muncul beberapa kelompok rentan yang menjadi objek politik uang dan politisasi SARA yaitu: perempuan, masyarakat adat, disabilitas, pemuka agama, dan kelompok muda atau pemilih pemula. Berkaca pada momentum pemilu legislatif tahun 2014, DPT perempuan yang mencapai 93.147.643 orang hanya mampu terwakili oleh 97 orang atau setara dengan 17,32 % dari total jumlah anggota DPR RI. Angka ini berkurang dari periode sebelumnya, sekali lagi kuota affirmative action belum terpenuhi.

    Momentum pemilu merupakan momentum politik yang melibatkan semua lapisan masyarakat. Perempuan maupun laki-laki memberikan hak pilihnya untuk menentukan arah pembangunan bangsa. Akan tetapi masalahnya, dalam setiap momentum politik perempuan sering menjadi salah satu objek yang rentan mendapatkan tekanan atau intervensi serta tidak bebas dalam menentukan pilihan politiknya. Hal tersebut disebabkan salah satunya oleh peran budaya patriarki yang telah menempatkan perempuan pada keterbatasan informasi atau secara lebih umumnya pendidikan. Politik kerap kali dianggap sebagai dunia laki-laki dan suara perempuan hanya diperlukan saat politik elektoral semata yang itupun masih sarat dengan politik uang.

    Bersamaan dengan persoalan yang saya paparkan diatas, bahwa tanggal 21 April dirayakan sebagai hari Kartini. Kartini merupakan salah satu sosok perempuan yang menjadi pemantik semangat bagi gerakan perempuan untuk melawan segala bentuk ketertindasan. Keteguhannya memperjuangkan hak-hak perempuan dalam pendidikan, salah satunya untuk bisa membaca dan menulis telah mampu menginpirasi banyak perempuan, termasuk saya pribadi.

    Perjuangan Kartini, telah melahirkan banyak perempuan hebat dalam segala bidang, beberapa dari mereka telah mampu hadir dalam ruang-ruang politik baik legislatif, eksekutif, yudikatif maupun pimpinan partai politik yang telah berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

    Akan tetapi bahwa masih ada persoalan pelik hari ini juga tidak bisa dinafikkan. Salah satunya adalah bahwa tingkat pendidikan perempuan di Indonesia masih sangat rendah, sehingga perempuan sering menjadi korban atau objek yang dimanfaatkan dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu dan hal ini juga terjadi dalam momentum pemilu. Perempuan mengalami ketidakbebasan dalam menentukan pilihan politiknya. Alasannya adalah, pertama, keterbatasan pengetahuan perempuan tentang politik. Pengetahuan politik perempuan mempengaruhi konsepsi pemikiran atas dasar apa perempuan menentukan pilihan politiknya. Kedua, adanya konstruksi sosial yang terbangun dalam institusi keluarga tentang ketidakserataan relasi yang bisa memunculkan pemaksaan dalam memberikan hak pilih, misalnya istri mengikuti pilihan suami, anak perempuan mengikuti pilihan keluarga atau lainnya. Jika terjadi pembiaran, hal ini akan mengikis peran perempuan dalam menciptakan demokrasi yang berkualitas.

    Sebab itu, semangat perjuangan Kartini untuk permasalahan hari ini masih sangat relevan. Semangat Kartini adalah semangat perlawanan dan perjuangan memperoleh akses pendidikan yang sama dan berkeadilan. Pun jika hari ini kita maknai hari Kartini sebagai semangat untuk mencerdaskan pilihan politik perempuan. Perempuan harus memiliki kemerdekaan dalam menentukan pilihannya, karenanya perempuan harus memiliki pengetahuan tentang politik, khususnya tentang bagaimana menentukan pilihan politik yang cerdas dan bebas tanpa intervensi atau tekanan. Mari membangun proses pemilu yang berkualitas dengan gerakan perempuan melek politik dan pemilih perempuan cerdas.

    Jakarta, 21 April 2018

    *Penulis adalah  Sekretaris Umum KOHATI PB HMI Periode 2018-2020

  • Banyak Alasan Untuk Mengatakan Prabowo Akan Kalah di Pilpres 2019

    oleh: Tony Rasyid

    Prabowo maju lagi? Banyak orang ragu, termasuk Prabowo sendiri. Kok ragu? Pertama, elektabilitas gak menggembirakan. Stagnan dan cenderung turun. Kedua, tak mudah “jualan”. Susah cari diksi untuk “branding” Prabowo. Sebagai satu-satunya “tokoh oposisi”, Prabowo tak cukup cerdas memanfaatkan setiap momentum untuk mem-branding dirinya. Malah keluar kata “goblok”. Kata yang tak membawa rasa simpati rakyat yang mayoritas Jawa. Prabowo terlalu polos dan lugu soal politik. Ketiga, potensi kekalahan ini mengakibatkan kesulitan cari dana.

    Kabarnya, Prabowo sudah kemana-mana, tapi kesulitan dapat pendana. Mereka pesimis terhadap Prabowo. Buat apa bantu yang kalah. Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran mereka yang punya uang.

    Sekali nyawapres kalah. Lanjut nyapres juga kalah. Yang mengalahkan adalah Jokowi, new comer yang belum punya pengalaman dan track record memadai. Belum pernah jadi pejabat tinggi. Ke Jakarta dan Jadi gubernur baru dua tahun. Tapi, Jokowi mampu mengalahkan Prabowo. Saat ini, Jokowi punya segalanya, kecuali elektabilitas yang juga tidak menggembirakan. Tapi, jika lawannya Prabowo, Jokowi jauh lebih unggul.

    Baca juga: Yusril Sebut Prabowo akan Takluk dari Jokowi jika Salah Pilih Cawapres

    Wajar jika Jokowi sangat percaya diri jika lawannya adalah Prabowo. Tim istana mendorong agar Prabowo yang maju. Tampak Luhut Binsar Panjaitan (LBP) girang kalau Prabowo yang maju. Dorong terus agar tetap maju. Salah seorang politisi PDIP pun bilang: kalau Prabowo gentle, maju sendiri. Jangan majukan calon yang lain. Mereka kompak dorong Prabowo maju. Mereka yakin Jokowi akan dengan mudah mengalahkan Prabowo. Semua survei punya kesimpulan yang sama.

    Prabowo sadar itu. Kenapa nekat mau maju? Sebab, Gerindra ingin naik suaranya. Prabowo maju, itu “branding” buat Gerindra. Jumlah kursi untuk anggota legislatif akan kedorong naik. Suara Gerindra diprediksi nambah. Apalagi, 2019 pilpres dan pileg bersamaan. Branding partai dan caleg akan mudah. Risikonya, Prabowo jadi martir. Dikorbankan untuk suara dan kursi Gerindra.

    Wajar jika PAN cenderung “emoh dukung” Prabowo. Bagaimana dengan PKS? Banyak tokoh dan elit PKS juga ragu. Tapi tak ada pilihan lain, “demi alasan persekutuan”. Satu keputusan yang tidak rasional. “Mangan ora mangan asal kumpul”. Ini filosofi Jawa yang sudah usang. Sudah ditinggalkan oleh kebanyakan orang Jawa, terutama yang perantauan. Karena sudah tidak lagi rasional. PKS mau mempertahankannya?

    Majunya Prabowo, jika jadi, akan melapangkan jalan buat Jokowi untuk dua periode. Diksi #2019 Ganti Presiden akan sia-sia. Jokowi tak perlu keluar banyak keringat untuk kalahkan Prabowo. Apalagi jika Demokrat dan PAN gabung dengan istana, sebagaimana kabar yang lagi santer. Dua partai ini bersikap rasional. Mereka tak akan dukung calon yang akan kalah. Kok mendahului takdir? Tuhan sudah menetapkan hukum sosial. Banyak orang dungu di negeri ini yang tak mau belajar tentang hukum sosial itu. Akibatnya, berulangkali tersungkur karena mengabaikan perhitungan sosial.

    Usia Prabowo sudah senja. Satu diantara dua pilihan: mau husnul khatimah menjadi begawan politik? Bijak dan legowo menyerahkan kepemimpinan bangsa ini kepada yang lebih muda? Atau mengakhiri masa tua dengan kekalahan ketiga kalinya? Jika ini benar-benar terjadi, maka akan jadi catatan politik yang serius buat anak bangsa kedepan. Orang akan bilang: jangan seperti prabowo, tiga kali nyalon kalah. Sebuah kalimat yang akan diabadikan di sepanjang sejarah untuk mereka yang tidak belajar dari kekalahan. Nafsu yang kurang perhitungan.

    Dipasangkan dengan siapapun, elektabilitas Prabowo diprediksi sulit terangkat. Sebab, capres menjadi faktor utama rakyat memilih. Cawapres hanya pendukung. Jika elektabilitas capres “gak nendang”, maka akan sulit untuk menang. Karena alasan inilah, kabarnya Gatot “emoh” dan menolak dengan tegas untuk menjadi cawapres Prabowo.

    Ada dua tokoh yang potensial mengalahkan Jokowi. Keduanya tokoh muda dan “rising star”. Pertama, Anies Baswedan. Gubernur DKI ini lagi naik daun. Eksistensinya jadi pembicaraan publik. “Media darling”. Kasak kusuk sejumlah elit politik membicarakan Anies for presiden 2019. Sebab, Anies paling potensial kalahkan Jokowi. PKS dan PAN kabarnya legowo mendukungnya.

    Faktor inilah yang membuat sejumlah pihak berupaya “dengan berbagai cara” menjegal Anies untuk nyapres. Anies berupaya “dibonsai” agar tak muncul. Dibully habis, agar namanya hancur. Tapi, Anies beruntung, masih kuat bertahan. Elektabilitasnya terus naik. Kelemahan Anies satu: gak punya uang. Amunisinya cekak. Tapi, jika Prabowo legowo mendeklarasikannya, besar kemungkinan donatur merapat. Bagi donatur, siapapun yang potensial menang akan dibantu. Bukan rahasia umum lagi.

    Baca juga: Yusril: Jokowi Cukup Satu Periode Saja, Negara Dalam Keadaan Berat

    Hanya Prabowo yang bisa mendeklarasikan Anies. Tidak yang lain. Kepada Prabowo, Anies “sendiko dawuh”. Fatwa politik Prabowo adalah satu-satunya tiket dan amanah Anies nyapres di 2019. Kenapa harus Prabowo? Toh ada partai lain? Kabarnya, Anies tak mau jadi penghianat. Jika sebelumnya ada sejumlah politisi dan elit negeri yang menghianati Prabowo, biarlah itu jadi masa lalu. Anies benar, bangsa ini mesti belajar berkomitmen dan menjaga moralitas berpolitik.

    Kedua, Gatot Nurmantyo. Mantan Panglima TNI ini berpotensi mengalahkan Jokowi. Duitnya banyak. Amunisinya lebih dari cukup. Dari mana? Jangan tanya. Yang jelas, soal dana politik, kabarnya, Gatot paling siap diantara calon lainnya.

    Kelemahan Gatot satu: masih punya masalah komunikasi dengan aktivis 212. Terutama dengan pimpinannya yaitu Habib Rizieq. Mesti dijalin komunikasi jika Gatot tak ingin ada kendala serius. Sebab, Habib Rizieq, saat ini, menjadi faktor penting untuk mendapatkan suara umat Islam.

    Soal cawapres, PKS punya stok berlimpah. Ada Ahmad Heryawan, Mardani Ali Sera, Sohibul Iman, Hidayat Nurwahid dan Anis Matta. Di luar PKS ada Tuan Guru Bajang, Zulkifli Hasan, AHY dan Muhaimin Iskandar.

    Jika Prabowo legowo memberikan tiket partainya kepada satu diantara dua tokoh di atas, yaitu Anies atau Gatot, maka potensi menangnya jauh lebih besar. Selain faktor “rising star” dan elektabilitas, kedua tokoh ini juga punya surplus lainnya.

    Anies tidak punya masalah dengan ulama dan umat. Malah sebaliknya, Anies sangat dekat dengan -dan didukung oleh- ulama dan umat. Sementara Gatot punya Amunisi (dana) berlimpah. Prabowo bisa pilih mana yang lebih dibutuhlan. Dengan catatan, kader Gerindra mesti bisa bersikap rasional. Sebaliknya, jika Prabowo dipaksa untuk terus maju, kemungkinan ia akan melengkapi dan menyempurnakan kekalahannya menjadi tiga kali. (kmp)

    (pertama kali dimuat di kumparan, (edisi 10/4)

  • Trio Putin-Erdogan-Rouhani Permalukan Arab

    Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri

    Sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT) telah diselenggarakan di Ankara, Turki, pada Rabu lalu (04/04). Agenda besar konferensi membahas masa depan Suriah. Yang menarik, tak seorang pun dari pihak Suriah — baik Presiden Bashar Assad dan rezimnya maupun kelompok-kelompok oposisi — yang terlibat dalam konferensi.

    Juga para pemimpin Arab. Tak ada satu pun dari mereka yang menghadiri KTT itu. Justru yang menjadi aktor utama KTT adalah Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Iran Ayatullah Hassan Rouhani.

    Ketiga negara itu bukan Arab. Turki dan Iran memang bagian dari Timur Tengah tapi bukan Arab. Sedangkan Rusia berada di ujung dunia, ribuan kilometer dari Suriah. Sedangkan Suriah sendiri merupakan anggota Liga Arab — beranggotakan 22 negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa.

    Baca juga: Tiga Negara Ini Bukan Sekutu tapi Bersatu Demi Suriah

    Seorang pengamat Timur Tengah menyebut KTT trio presiden bukan Arab yang membahas salah satu negara Arab jelas menggambarkan kondisi Suriah yang acakadut.  Juga kondisi para pemimpin dunia Arab itu sendiri. Seolah trio pemimpin bukan Arab itu ingin mempermalukan para pemimpin Arab.

    ‘’Lihatlah, wahai para pemimpin Arab!  Boro-boro kalian menyelesaikan masalah Suriah, persoalan Palestina saja yang sudah berlangsung selama puluhan tahun tidak bisa kalian selesaikan.’’

    Pengamat tadi dari Saudi, bernama Masyary al-Thaidy. Menurutnya, melihat foto atau video yang memperlihatkan trio Erdogan-Putin-Rouhani tersenyum – saat konferensi pers usai KTT — justru menunjukkan kondisi dunia Arab yang suram.‘’Hari ini kami mengumumkan secara resmi berakhirnya perang di Suriah,’’ ujar  Rouhani.

    ‘’Kami sepakat bekerja sama menyelesaikan krisis Suriah,’’ kata Putin.

    ‘’ISIS dan semua kelompok teroris serta yang mendukung mereka tidak dapat berkontribusi pada pembentukan perdamaian abadi di Suriah,’’ Erdogan menjelaskan.

    Kata ‘teroris’ dari Erdogan itu merujuk pada kelompok-kelompok Kurdi yang selama ini berjuang menuntut kemerdekaan dari Turki. Mereka menggunakan wilayah perbatasan dua negara — Turki-Suriah — sebagai basis perjuangan. Amerika Serikat (AS) selama ini dianggap mendukung perjuangan Kurdi. Itulah sebabnya AS tidak dilibatkan dalam KTT tripartit itu, meskipun mereka ikut memerangi sebuah kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

    Ketiga negara — Turki, Rusia, dan Iran — sebenarnya mempunyai banyak perbedaan. Iran adalah Syiah, Turki merupakan negara Suni, sedangkan Rusia negara komunis yang kini jadi sekuler. Rusia dan Iran sejak awal mendukung rezim Bashar Assad.

    Sementara itu, Turki mendukung kelompok-kelompok oposisi sejak muncul konflik di Suriah tujuh tahun lalu. Hanya satu yang menyamakan ketiga negara itu, masing-masing mempunyai kepentingan di Suriah.

    Dukungan Iran kepada rezim Presiden Assad sebagai upaya untuk membuka jalur Syiah: Iran-Irak-Suriah-Lebanon (Hizbullah). Presiden Assad adalah Syiah, sedangkan mayoritas warga Suriah adalah Suni.

    Di pihak lain, Putin — yang masih dalam eforia kemenangan atas terpilihnya kembali sebagai Presiden Rusia — berambisi untuk menebar pengaruhnya di Timur Tengah melalui Suriah. Pengaruh yang selama ini didominasi oleh AS. Ia sangat membutuhkan dukungan Erdogan untuk memberikan ‘perlindungan’ yang diperlukan melawan tuduhan bahwa intervensi Rusia di Suriah adalah perang terhadap umat Islam.

    Apalagi serangan pasukan Suriah yang didukung penuh militer Rusia — baik udara, darat, maupun laut — telah menewaskan puluhan ribu warga.

    ‘Perlindungan’ itu diperlukan lantaran Putin tidak mau mengulang pengalaman pahit dulu ketika Uni Sovyet mengintervesi Afghanistan. Intervensi militer Uni Sovyet saat itu dianggap sebagai perang melawan umat Islam. Karena itu, bukan suatu kebetulan ketika penasihat Kremlin baru-baru ini menegaskan kepada para tokoh Muslim di seluruh Federasi Rusia bahwa keberadaan militer Rusia di Suriah mendapat dukungan dari pemimpin Muslim Suni Presiden Erdogan.

    Sebaliknya, Erdogan juga membutuhkan Putin agar serangan militer Turki terhadap kantong-kantong Kurdi di wilayah Suriah tidak diganggu-gugat oleh rezim Assad. Dan, itulah yang terjadi. Pasukan Rusia dan Suriah benar-benar menutup mata terhadap berbagai serangan militer Turki ke wilayah-wilayah Kurdi.

    Bahkan Erdogan sepertinya diberi keleluasaan untuk menguasai wilayah-wilayah Kurdi yang sebenarnya menjadi bagian dari kedaulatan Suriah. Dukungan Putin kepada Erdogan juga telah menghentikan berbagai kecaman keras dari pihak Iran atas sepak terjang militer Turki di wilayah Suriah.

    Sebagai politisi berpengalaman, Erdogan tampaknya paham betul bahwa ia harus mengambil peran penting di tengah adu kekuatan antara negara-negara besar. Dalam hal ‘permainan pengaruh’ di Suriah, ia merasa akan lebih baik buat Turki bila memihak kepada Rusia dalam berhadapan dengan kekuatan besar lainnya yang diwakili oleh AS. Apalagi AS selama ini mendukung perjuangan Kurdi.

    Lalu apakah peran atau pengaruh AS di Suriah benar-benar habis dengan KTT Tripartit ini? Apalagi Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan akan segera menarik semua pasukannya dari Suriah?

    Baca juga: Tiga Negara Ini Bukan Sekutu tapi Bersatu Demi Suriah

    AS — bersama negara-negara lain — selama ini merupakan kekuatan utama dalam perang melawan ISIS. Ia juga penyokong utama keberadaan kelompok-kelompok Kurdi. Sekitar 2 ribu pasukan AS kini masih berada di Suriah Utara sebagai bagian dari misi melawan sisa ISIS, yang sebelumnya menguasai daerah tersebut.

    Wilayah ini merupakan basis kelompok-kelompok Kurdi. Kini, dengan rencana Trump menarik pasukan AS dari Suriah, warga Kurdi pun khawatir. Mereka kini tanpa dukungan.

    Amerika Serikat selama ini pun merupakan sekutu utama negara-negara Arab, khususnya negara-negara Teluk. Bahkan puluhan tahun AS telah menjadi ‘penjaga’ keberadaan negara-negara Teluk, terutama untuk melawan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

    Karena itu KTT di Ankara dengan tiga aktor utama Erdogan, Putin, dan Rouhani sulit dikatakan sebagai pengulangan Konferensi Yalta dalam tingkat yang lebih kecil, regional Suriah.  Konferensi Yalta adalah KTT yang dihadiri oleh tiga tokoh Sekutu — Winston Churchill (Inggris), Franklin D. Roosevelt (AS), dan Joseph Stalin (Uni Sovyet) — untuk mengakhiri Perang Dunia II. Konferensi ini juga sekaligus untuk membicarakan pembagian pampasan perang (baca: pengaruh) di antara negara-negara pemenang perang terhadap mereka yang kalah.

    Suriah tentu bukan Jerman, Jepang, dan Italia sebagai pihak yang kalah dalam PD II, meskipun Presiden Bashar Assad kini hanyalah boneka dari Presiden Putin. Konflik di Suriah banyak yang terlibat. Di dalam negeri ada kelompok-kelompok oposisi, ada Kurdi, dan ada rezim Bashar Assad sendiri.

    Di luar itu ada kekuatan-kekuatan regional dan internasional yang juga terlibat. Ada negara-negara Arab yang tidak menginginkan rezim Assad, ada Turki, Iran, Rusia, AS, negara-negara Eropa, dan seterusnya.

    Namun, KTT di Ankara dengan aktor utama Erdogan, Putin, dan Rouhani  untuk membicarakan masa depan Suriah jelas menggambarkan ketidak-berdayaan para pemimpin Arab. Ketidak-berdayaan yang disebabkan perbedaan sikap dan perseteruan di antara mereka sendiri. Sedangkan masa depan Suriah akan tetap menjadi misteri. Perebutan pengaruh akan terus berlangsung. Korbannya adalah rakyat Suriah.

    (Pertama kali dimuat di republika.id edisi 9/4)

  • Redenominasi Rupiah: USD1 = Rp14,-

    Oleh: DR Fuad Bawazier*

    Perry Warjiyo Gubernur BI terpilih nampaknya tertarik untuk melanjutkan rencana redenominasi rupiah tergantung persetujuan Pemerintah. Kita mengerti karena pembuatan Undang undang adalah kewenangan pemerintah dengan DPR, bukan Bank Indonesia (BI) yang hanya sebagai pelaksana.

    Ide redenominasi rupiah memang sudah lama di luncurkan tapi nampaknya Kementerian Keuangan masih ragu ragu.

    Dilain pihak masyarakat justru semakin terbiasa mempraktikkan redenominasi rupiah dalam kehidupan sehari hari. Bahkan sebelum ide redenominasi diluncurkan pemerintah dan BI. Lihatlah di restaurant, cafe, toko bahkan di pasar pasar tradisional di mana harga harga dicantumkan atau ditawarkan dengan menghilangkan angka ribuannya.

    Penghilangan tiga angka nol itu ternyata tidak membingungkan atau menyesatkan customersnya. Harga harga yang tercantum jadi kelihatan rapi dan  tidak mengejutkan pembelinya. Barang atau service seharga Rp 100.000,- akan dicantumkan tag Rp100K atau cukup disebutkan 100 dan tentu saja pembeli akan membayarnya dengan uang senilai Rp100.000,-

    Dalam berbagai macam publikasi atau laporan yang menyantumkan angka rupiah, hampir dapat dipastikan akan di sederhanakan dalam ribuan, jutaan, atau miliaran. Lihatlah laporan keuangan perusahaan yang diiklankan di surat kabar, tentu ada pengecilan penulisan angka rupiahnya. Apalagi Laporan APBN yang disampaikan pemerintah, biasanya dalam jutaan dan miliaran rupiah.

    Dalam pembicaraan sehari hari baik dikalangan elit maupun rakyat bawah, di pasar modern maupun tradisional, di kota maupun di desa, hampir dapat di pastikan budaya atau kebiasaan mengecilkan rupiah itu berlaku. Bahkan di pasar tradisional dalam wawancara dengan Menteri Perdagangan, pedagang kecil akan menyebutkan 20 untuk harga Rp 20.000,- atau 150 untuk Rp 150.000,- dan lawan bicara atau pendengarnya mengerti apa atau berapa yang sebenarnya di maksudkan. Tidak ada kesalahan atau misunderstanding.

    Tetapi ketika bilangan yang sama di sebutkan oleh pedagang sepeda motor misalnya, 20 itu langsung dipahami sebagai Rp 20 juta. Dan bila di sebutkan 150 oleh pedagang mobil, tentu maksudnya Rp 150 juta. Praktik yang sudah lazim dan sehari hari berlaku ini hanya digunakan bila berkaitan dengan penyebutan atau penulisan rupiah.

    Penyederhanaan ini tidak berlaku diluar harga atau bilangan rupiah.  Seseorang tidak akan menyebutkan 10 untuk nomor rumah atau nomor surat 10,000. Atau nomor penerbangan 2000 tidak akan disebutkan atau ditulis 2 misalnya.

    Nilai mata uang suatu negara yang terlalu rendah sehingga sangat berbeda jauh dengan nilai mata uang negara lain sering mengesankan bahwa ada yang salah dalam pengelolaan ekonomi di negara tersebut. Nilai mata uang yang rendah selintas juga mengesankan harga barang dan jasa di negara itu mahal, atau menimbulkan kesan amburadulnya ekonomi. Rasanya sulit membangun ke percayaan terhadap mata uang yang rendah nilainya atau sering terpuruk, khususnya sebagai simpanan.

    Rupiah yang berlaku sekarang ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 1966 ketika pemerintah melakukan pemotongan uang Rp1000,- menjadi Rp1,- yang sempat membuat masyarakat sedikit panik dan harus menukarkan uang yang beredar dengan uang baru. Antrian penukaran uang terjadi di mana mana dan mereka yang panik membelanjakan uang lamanya sementara pedagang yang cerdas menjual barangnya dengan keuntungan extra karena yakin bisa menukarkannya dengan uang baru.

    Kini inflasi yang telah berlangsung lebih dari 50 tahun ini tentu telah menggerogoti nilai rupiah sehingga semua bilangan harga minimal dalam ribuan. Oleh karena itu sudah saatnya pemerintah dan BI menyederhanakan nilai rupiah mengikuti pola atau budaya yang sudah berlangsung mulus di masyarakat selama ini.

    Dalam penerbitan atau pengedaran uang baru sebagai pengganti uang yang telah lama beredar (biasanya 5 tahun), BI menerbitkannya dalam bilangan baru yakin Rp100,- untuk Rp 100.000,- atau Rp 50,- untuk Rp 50.000,-.  Uang baru ini akan beredar bersama sama dengan uang lama, jadi tidak ada kejutan atau kepanikan, apalagi bila sudah di sosialisasikan seperlunya. Tidak usah berlebihan.

    Jadi ini bukanlah urusan yang complicated. Dalam jangka waktu paling lama 5 tahun uang lama akan tersedot masuk kembali ke BI dan yang beredar tinggal uang baru. Saya perkirakan masyarakat segera paham dan terbiasa dan dalam waktu satu tahun saja, bila BI sanggup menyediakan uang baru, uang lama akan menghilang. Kurs rupiah terhadap dolarpun akan menjadi USD 1 = Rp 14 dan rupiahpun nampak lebih berwibawa atau bergengsi. Jadi kenapa bingung dan ragu kalau sudah melontarkan gagasan redenominasi?

    Kata orang Jawa: Nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi ojo wani-wani,  yang artinya kalau berani ( redenominasi) jangan takut takut, kalau takut jangan sok berani.

    Jakarta, 8 April 2018

    *Dr Fuad Bawazier MA, Mantan Dirjen Pajak dan Mantan Menteri Ekonomi.

    pertama kali dimuat di: Republika.id

  • Kolong Rel

    Oleh : Amiruddin W (Penggagas Komunitas 1000 Biografi)

    Malam itu, si El sang Sastrawan, lulusan salah satu kampus ternama di Jakarta mengajakku keluar. Di jam yang sudah menunjukkan arah jarum 12 malam itu, bagi sekolompok anak muda seperti el adalah hal yang biasa, bagi mereka malam adalah siang, dan siang adalah malam.

    “Bro kita kemana?”tanyaku kepada el sambil memegang gagang setir motor Mio ku.

    “Ah, ayo jalan aja kanda,” jawab el, seperti biasanya el memang sering memanggilku dengan sebutan kanda. Terang saja, dari senioritas angkatan memang aku lebih senior, dari organisasi juga gak salah lagi. Tapi, apapun itu, pertemanan tidak memupuk hirarki kesenioritasan, label pemanggilan hanyalah istilah formal dalam kesantunan.

    Dari arah Salemba menuju Matraman itu jalanan Jakarta mulai sepi, gedung-gedung pencakar langit itu berdiri kokoh seolah menghardik kekuasaan. Kami berjalan dalam embun malam, hingga sampai ke arah Kampung Melayu.

    “Stop, stop kanda,”motorku tiba-tiba berhenti karena ulah el yang menginstruksikan berhenti secara mendadak.Tepat dibawah Rel Kereta Api, si el menyuruhku memarkir si jago merahku. Kami pelan-pelan memasuki sebuah lorong gelap, dengan gerombolan manusia yang hilir-mudik.

    “Oh my god,”ucapku dalam hati. Si el membawaku ke tempat para wanita dijajakkan, dan para pria melampiaskan nafsu. Di pinggir Kolong Rel Kereta Api itu, manusia-manusia kaum Spartacus bergelimangan membujuk, merayu, dan menawarkan tarif.

    Di Rel Kereta Api itulah, transaksi seks terjadi. Tarifnya begitu murah, dari 50k hingga 200k, untuk sewa tempat melakukan jajakan seks itu juga berkisar 50k. Iyalah, wajar saja, tempat ini diperkhususkan hanya untuk mereka yang berkantong tipis, bermodal pelampiasan, dan berkelas rendah.

    Para PSK di area ini juga bermacam-macam, hanya bermodal seksi, dan sedikit parfum dan lipstik mereka sudah bisa melancarkan jual beli. Usia mereka ada yang masih terbilang ABG, tapi ada juga yang sudah berumuran. Tarif berdasarkan, presentasi umur dan kecantikan rupa. Tapi tentu saja, PSK ini tak “Seindah” PSK di tempat yang lebih berkelas.

    *********

    Sambil tertatih berjalan, gadis bertubuh langsing, dengan celana diatas paha menyambariku. Di pinggiran rel kereta Api area Kampung Melayu itu, berhamburan lelaki berhidung belang sedang menjajaki seksualitas dan pemuasan birahi.

    Setiap malam, sekira pukul 11.00 Pm hingga menjelang subuh, area ini telah penuh dengan wanita penghibur malam dan lelaki hidung belang. Area ini bisa dikatakan masih tergolong lokalisasi Kelas Teri, hampir disepanjang Rel KRL di Jakarta dihuni oleh bisnis esek-esek seperti ini.

    Tapi, jika jauh kita ke dalam. Bisnis pemuas nafsu laki-laki hidung belang ini, dengan kelas menengah, bisa kita telesuri di Area Jakarta Kota. Klub-klub malam yang isinya wanita-wanita bertubuh lunglai tanpa busana.Disinilah, terjadi peng kotakan dalam kota.

    Di area ini, sekelompok organisasi lokal menjadi palang pintu keamanan. Seperti memiliki batasan, area ini hanya dimasuki oleh mereka yang ingin menjajaki wanita penghibur itu. Dari sudut pintu ke pintu lain, masing-masing bodyguard menjaga ketat. Tidak boleh ada pengambilan gambar sepeserpun. Sebab, didalam lokalisasi itu juga dilakukan patroli oleh bodyguard.

    Jakarta, dalam sudut pandang yang berbeda, adalah Jakarta yang kelam. Dari tengah malam hingga menjelang subuh, miliaran rupiah bertukar dalam bisnis esek-esek ini. Bukan hanya disitu, bahkan transaksi gelap bisa saja terjadi (baca: Jakarta Undercover).

    Di kolong rel, standar kamarnya juga terjangkau oleh lelaki ekonomi di bawah. Namun, bagi mereka lelaki dari pengusaha dan pejabat daerah, pasti kelasnya di area Jakarta Kota itu atau pesan antar lewat Mucikari.

    Inilah Jakarta-ku, kota urban, bak penyakit yang telah tersebar virus di ujung kota hingga menjalar ke pusat. Konon bisnis ini menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi APBD DKI Jakarta. Jadi wajar, “dipelihara” oleh pemda. Bahkan bisa jadi bisnis lokaliasi ini juga sebagian dimiliki oleh oknum pejabat.

    **********

    Malam itu berlalu dengan cepat, paling tidak si el telah memberikan aku sebuah referensi baru tentang kehidupan seksualitas di Jakarta. Kami, hanya menghabiskan malam itu, dengan melihat, dan menelusuri informasi. Tak jarang el sering mewawancara perempuan-perempuan itu.

    Seperti biasanya, bangun pagi adalah kelemahan hidup. Itulah mengapa “sebagian” mahasiswa mengalami dekradasi kemapanan hidup, karena tak biasa bangun pagi. Kalaupun bangun pagi, adalah akibat dari efek kopi yang sejak malam diminum, atau karena belum tidur sama sekali.

    Tapi, apapun itu, rasanya malam itu membawaku berpikir ke dalam sebuah cakrawala Jakarta yang lebih luas. Bahwa Jakarta adalah tempat bergumulnya semua bisnis, mulai dari bisnis jual beli barang, jual beli wanita, jual beli proyek hingga jual beli jabatan. Jika hidup se-senormal orang di daerah untuk menghadapi watak Jakarta yang begitu keras, rasa-rasanya, kita akan mati diinjak petaka.

    Di kolong rel, area lokalisasi dijamin oleh pemerintahnya. Iktikad untuk melancarkan pemuasan nafsu bagi kaum adam ini dipicu karena maraknya pemerkosaan yang terjadi di mana-mana. Waktu itu, Gubernur era 90-an Ali Sadikin memikirkan bagaimana Jakarta bisa jauh dari maraknya pemerkosaan.

    Maka dibentuklah lokalisasi di berbagai titik di Jakarta. Yang terkenal adalah Kalijodo. Sang bos asal Sulawesi Selatan adalah penguasa lokalisasi ini. Konon dari zaman ke zaman, area ini juga memiliki backingan yang kuat dari aparat polisi atau militer.

    Sebab bisnis esek-esek bukan hanya soal seksualitas, tapi disitu juga terjadi bisnis miras, narkoba dengan tingkat varian kelas yang bermacam-macam.Perputaran ekonomi di area ini begitu kencang dan derasnya. Mereka yang datang dari daerah biasanya menghabiskan puluhan juta untuk memuaskan nafsu di tempat-tempat seperti ini.

    *********

    Kehidupan malam Jakarta yang merajelela dan seksualitas yang membabi buta (baca: Jakarta Undercover), benar adanya yang disampaikan oleh Moammar Emka. Bahwa kehidupan malam Jakarta bagaikan dua sisi yang berbeda dalam deretan waktu yang sama, ada yang berpesta pora, dilain sisi ada yang sedang bertabih melantunkan ayat suci.

    Pembelahan sisi sosial dan kemanusiaan terjadi di kota yang disebut Metropolitan ini. Gap yang menjulang tinggi antara miskin dan kaya, hanya dibatasi oleh tembok yang bertebal 8 cm. Kemiskinan di Jakarta dianggap hal sepele dan seksualitas merupakan rutinitas yang tak ada matinya.

    Sadar tidak sadar, antara pendosa dan pengkhutbah pintu surga berada dalam alunan ruang dan waktu yang sama. Suara musik DJ berbunyi dalam komposisi alunan shalawatan di Masjid-Masjid Jakarta. “Siapa yang mampu menghentikan?”desahku.

    Itulah Jakarta dibalik kolong rel yang penuh dengan nafsu yang memanas. Pelampiasan hidup di lorong gelapnya gank-gank kecil serta transaksi bisnis haram dengan mulusnya berlangsung tanpa interupsi.

    Setidaknya, ada beberapa titik di Jakarta yang pernah aku lakukan investasi tentang kehidupan kolong rel. Jika ingin sedikit bergeser ke Selatan Jakarta, Arah Manggarai, setidaknya bisnis esek-esek memanjangi 3 Km. Jajakannya juga sama, bahkan tarifnya juga sama.

    Bergeser ke Jakarta Timur, kita akan menjumpai Kolong Rel Kereta Jatinegara. Tak hanya perempuan berlabel original, yang perempuan non original juga memadati area ini. Jika di Manggarai dan Kampung Melayu masih susah didapatkan, berbeda halnya di Jatinegara ini.

    Di sepanjang pingiran jalan yang berbatasan dengan Rel KRL ini perempuan-perempuan bertubuh linting dan berpayu dara seksi menjajakkan lelaki yang sedang berkendaraan. Secara vulgar transaksi seks terjadi ditepi jalan itu.

  • Opini Imam Shamsi Ali: Membaca Gelombang Takdir!

    Oleh: Imam Shamsi Ali*

    Memasuki tahun pemilu, baik pilkada ditahun 2018 maupun pilpres di tahun 2019, perlu diingatkan kembali tentang “realita” (HAQ) di atas segala realita. Realita “keputusan” (qadha) di atas realita keputusan apapun. Itulah realita dan keputusan Allah SWT. Hiruk pikuk pemilihan pejabat publik kerap kali menjadikan banyak kalangan buta dengan penghulu realita (master of all realities) itu.

    Hidup manusia itu mengikut irama gelombang qadar Ilahi. Gelombang ombak yang dahsyat, bergerak sesuai pergerakan kehendak Pencipta kehidupan dan kematian (khalaqal mauta wal hayaata). Dan  kehendak Dia itulah akan dan pasti terjadi. Tiada keraguan (laa raeb) padanya sedikitpun.

    Anda hidup karena Dia yang “Al-Muhyii”.

    Anda makan karena Dia yang “Ar-Razzaq”.

    Anda kaya karena dia yang “Al-Ghany dan Al-Mughny”

    Anda kuat karena dia “Al-Qawii”.

    Anda mampu karena Dia yang “Al-Qadiir”.

    Bahkan anda berkuasa karena Dia yang “Maalikal mulk”.

    Dan ingat, suatu ketika anda pun mati juga karena Dia yang “Al-Mumiit”.

    Permasalahan sesungguhnya bukan pada pergerakan gelombang hidup. Bukan pada pergantian warna warni kehidupan. Karena itu pasti, harus dan alami. Naik turunnya pergerakan hidup, hitam putihnya warna hidup, pahit manisnya rasa hidup itu bukan masalah. Karena sekali lagi itu mutlak, bahkan bagian dari proses alami yang terjadi dalam hidup.

    Masalahnya justeru ada pada suasana “tatanan jiwa” manusianya. Semakin mapan jiwa manusia semakin kokoh, bahkan menikmati setiap detak pergerakan itu. Bahkan sungguh luar biasa ajibnya sikap manusia yang mapan kejiwaannya. “Ajaban liamril mukmin. In ashobathu sarraa syakar. Wa in ashoobathu dhorraa shobar. Wa fii dzalika kulihi khaer”.

    Sebaliknya kerapuhan dan kekerdilan jiwa manusianyalah, yang menjadikan pergerakan itu menimbulkan dua kemungkinan penyakit sosial (social sickness):

    1) Jika pergerakan itu menanjak, memihak dan menyenangkan maka dia akan membusungkan dada. Bahkan seringkali berusaha membusungkan dada, tidak mau dikalah, walau takdir memaksanya untuk terkalahkan dan dikalahkan.

    2) Tapi jika pergerakan itu melongsor turun, menungging, tidak memihat kepada ambisinya, yang terjadi adalah “sakit hati” dan dendam kusumat. Kerap kali dendam kusumat itu menampakkan diri pada momen-momen tertentu.

    Jiwa kerdil seperti ini terjadi pertama karena memang kegagalan memahami konsep tauhid itu sendiri. Konsep tauhid itu mengajarkan bahwa semua pergerakan hidup, semua warna dan bentuk hidup itu adalah proses, dan terkendali secara tunggal di antara jari jemari Ilahi. Konsep “biyadihi al-mulk” dan “ilaihi yurja’u al-amru kulluh” belum terhayati secara baik dan benar.

    Sejatinya memang keberhasilan atau kagagalan itu ditentukan secara mutlak oleh yang mengendalikan semua pergerakan di alam semesta ini. “Allahumma laa mani’a limaa a’thoeta wa laa mu’thia limaa mana’ta, wa laa raadda limaa qadhaet”.

    Kegagalan dalam memahami tauhid ini berakibat pula kepada kegagalan dalam menerima kenyataan qadar dan qadha Ilahi. Dan hati yang gagal menerima kenyataan aadar dan qadha inilah yang rentang terjangkiti penyakit jiwa. Iri hati, dengki dan hasad menjadi bayang-bayang hidupnya.

    Penyakit yang bagaikan bara api yang panas ini ketika bertengger dalam jiwa  seseorang, menjadikannya merana, menggelepar kepanasan bagaikan cacing terhempas ke daratan panas.  Tidak akan pernah merasakan ketemangan  dan tidak akan pernah menenangkan. Menanggng derita dan kebinaan sendiri (self destruction) bahkan melakukan berbagai tindakan destruktif, baik dalamp kata maupun aksinya.

    Merajut jiwa

    Perjalanan hidup manusia itu tercatat dan akan menjadi catatan sejarah hidupnya. Minimal akan menjadi sejarah bagi diri sendiri, yang setiap orang akan membacanya pada masa yang telah ditentukan.

    “Iqra’ kitaabak…kafaa biNafsikal yauma alaika hasiba”, kata manual hidup manusia.

    Dan kerenanya setiap detak perjalannnya akan menjadi bagain dari catatan pertanggung jawaban itu. Di saat anda berumur 1 – 2 tahun anda bagaikan adonan yang dibentuk oleh orang tua, khususnya Ibu. Mau dijadikan gorengan apapun sesungguhhnya ada di tangan siapa yang membentukmu.

    Memasuki umur 3-6 tahun terjadi pergesekan antara pengaruh orang lain dan upaya diri sendiri dalam mewarnai jiwa seseorang. Dalam dunia teknologi dan kemajuan informasi dan telekomunikasi, anak pada fase inipun terkadang dibentuk oleh mainannya.

    Usia 6-12 tahun masa membangun fondasi. Masa menentukan soliditas atau kerapuhan fondasi jiwanya. Wajar saja kalau fase ini sekolahnya dikenal dengan “sekolah dasar”. Ibarat bangunan sedang terjadi penataan fondasinya.

    Tapi sejatinya bangunan kehidupan itu akan mulai terbentuk warnanya ketika memasuki umur 12 ke atas. Masa itu sebuah gedung dapat dinilai secara kasat, baik atau buruknya. Dalam bahasa agama, di saat inilah seseorang memulai pertanggung jawaban, memasuki umur “akil dan balig”.

    Perjalanan selanjutnya adalah masa 18 – 25 tahun. Sebuah rentang kehidupan untuk meneruskan membangun, memperkokoh dan mempercantik hidup anda. Masa ini adalah masa membangun warna karakter hidup.

    Di saat mencapai umur 25 hingga 40 tahun anda  memasuki tingkat kematangan dalam kedewasaan. Umur nikah, bekerja dan membangun masa depan warna kehidupan. Pada rentang masa itu bangunan itu masih bisa bongkar pasang, menata untuk masa yang tiada kembali.

    Di saat anda memasuki umur 40 tahun berarti anda mencapai tingkat kedewasaan tertinggi. Wajar jika kenabian nabi-nabi dimulai ketika berumur 40 tahun. Kecuali Isa AS tentunya. Posisi ini tidak bertahan lama. Antara 40, 50, maksimal 65 tahun. Itulah rata-rata umur umat Muhammad SAW.

    Kenyataan inilah yang diingatkan oleh Rasul bahwa jika anda yang berumur 40 tahun atau lebih, tapi anda tidak melakukan perubahan, acuh dengan pembenahan karakter, tunggu akibat yang tiada berujung.

    Di saat masanya anda berbenah, tapi anda biarkan bocoran atap rumah anda, atau dinding rumah anda dimakan rayap, maka tunggu kehancuran dan keruntuhannya.

    Demikianlah ketika anda sudah melewati 40 tahun tapi penyakit jiwa tidak diobati, bahkan berakibat kepada tumbuhnya prilaku destruktif; angkuh, busung dada, iri hati dan hasad, sering mengharap dipuji tanpa dasar (yuriiduuna an yuhmadu bimaa lam yaf’alu). Di saat itu berhati-hatilah jangan-jangan itu memang tabiat dasar anda. Khawatirnya tabiat itulah yang anda akan bawa hingga ke liang kubur.

    Ada orang sakit hati karena disakiti atau dizholimi orang lain. Itu wajar dan alami. Tapi seringkali keanehan terjadi. Ada orang yang sakit hati tanpa sebab. Hanya karena orang lain di sekitarnya dianggap lebih dari dirinya, dan menjadi ancaman, entah itu kenyataan atau sekedar ilusi.

    Jika hal seperti ini terjadi pada seseorang, sungguh sebuah penyakit kronis yang berakibat destruktif, baik pada dirinya sendiri maupun lingkungannya.

    Penyakit jiwa tanpa sebab  ini rata-rata terjadi ketika seseorang berambisi selangit, sementara kemampuan secuil. Nafsu setinggi langit, tapi energi positifnya loyo. Menjadikannya ibarat katak di bawah tempurun. Ingin terbang apa daya sayap terputus secara khalqi.

    Akibatnya orang ini akan dijangkiti penyakit murakkab (berlipat ganda). Di satu sisi karena ambisi itu akan semakin memaksakan diri untuk sesuatu yang di luar kapasitasnya. Di sisi lain dengan mudah menyalahkan, jika tidak orang lain, maka dirinya akan menjadi bulan-bulanan kemarahan. Itulah kenyataan di dunia modern, betapa keputus asaan, bahkan bunuh diri menjadi “salvation” (penyelamatan) pintas.

    Atau akan nampak dalam prilaku sosial dan lingkungannya. Pada tataran rumah tangga misalnya, tingkat kekerasan rumah tangga (domestic abuses) dan percaraian drastis meninggi. Justeru itu terjadi di saat semua fasilitas duniawi lebih tersedia. Dari kampung, ke kota-kota besar, hingga ke jantung dunia bahkan Hollywood, fenomen ini nyata di depan mata kita semua.

    Itulah akibat kerapuhan mental, atau bahkan tidak berlebihan jika saya menyebutnya “mental disorder” (penyakit mental).

    Orang yang berpenyakit mental yang demikian biasanya hanya mampu merintih kesakitan dalam selimut tebalnya, sambil bermimpi terbang tinggi ke angkasa luar.

    Ketidak mampuan dalam memburu ambisinya membawa kepada sikap menyalahkan setiap nyamuk yang beterbangan di semitarnya. Bahkan nyamuk-nyamuk yang beterbangan sambil bersiul itu dilihatnya sebagai ancaman bagi dirinya…..bagaikan bom nuklir yang akan menghamburkan darah dagingnya setiap saat. Dan semoga Allah menjaga!

    * Presiden Nusantara Foundation

    (Tulisan ini dimuat pertama kali di republika.co.id )

  • Mendorong Pembentukan PERDA Perlindungan & Pemberdayaan Petani Kategori Sedang & Kecil Halmahera Utara

    Oleh: Pian Tengku (Pegiat Sosial Canga Comuniti)

    Petani dalam lintasan sejarah Bangsa Indonesia selalu saja diposisikan kedalam struktur sosial yang paling bawa dan kadang dibilang tidak beradab dengan berbagai macam stigma buruk yang muncul. demikian pula posisi mereka dalam kebijakan, selalu saja di No 10 kan alias tidak penting. Kita bisa mengambil banyak bukti dengan melihat sebuah kebijakan Politik dari masa ke masa di setiap Daerah, kerap yang diambil oleh pemerintah selalu tidak berpihak pada kepentingan Petani. Naas memang, tapi itulah fakta yang harus diterima oleh kita semua dengan dada bangka.

    Membicarakan Petani sedang-kecil Dan masa depanya seperti membicarakan si-pendosa yang ingin masuk surga. Seperti sebuah mitos dan mimpi yang tidak pernah akan menjadi kenyataan. Kenapa demikan? Jawabanya adalah: Sarana Produksi yang menjadi basis Ekonomi tidak dimilki oleh petani. Sehingga hal tersebut berdampak pada pendapatan yang tidak berbanding lurus dengan kebutuhan mereka. seperti memenuhi kebutuhan Pendidikan, kesehatan dan membangun rumah. Hal ini menjadi Masalah yang paling krusial dan pelik yang kerap menggerogoti Jiwa dan pikiran petani di Halmahera Utara. Menghadapi kebutuhan-kebutuhan tersebut Mereka seperti ketemu setan. Menyeramkan!

    Agenda Politik yang kita harapkan seperti yang di idealkan oleh plato. Bahwa politik sebagai sebuah proses mewujudkan kebahagian seluruh warga negara termasuk Petani. Namun menjadi Omong Kosong kala kita melihat sebuah fakta hari ini yang terjadi Di Halmahera Utara. Masalah terus-menurus mencengkram kehidupan petani. Dari Persoalan sengketa lahan yang melibatkan Petani 200 KK dengan perusahan, kemudian tidak ada pendampingan dalam peningkatan SDM petani, minimnya sarana seperti pembangunan irigasi, pupuk, bibit, masalah harga kopra, Kemudian masalah terjadinya over produksi hasil tanaman pangan yang kadang kala membuat harga komoditi pertanian jatuh di pasar, tidak ada modal usaha bunga rendah untuk petani.

    (Ilustrasi)

    Masih banyak lagi masalah yang kerap dihadapi oleh petani yang membuat mereka terlunta-lunta. Dan kadang gairah hidup mereka hilang. Salah satu petani Galela mengatakan ketika harga kopra turun garam pun kami tidak mampu membelinya.

    Jerit mereka tidak pernah dibayar dengan sebuah langka kongkrit oleh Pemerintah Daerah baik eksekutif maupun legislatif yang kita kenal sebagai pesuruh maupun juru urus Publik. Buktinya tidak ada satu regulasi yang secara tegas dan memiliki kekuatan hukum yang kuat yang memerintahkan pemerintah harus lebih menaruh kepentingan petani, Lebih khususnya petani sedang dan kecil di atas segala-galanya.

    Kehilangan kepedulian pemerintah, membuat masalah yang dihadapi petani tidak pernah selesai. Maka perlu didorong satu regulasi yang memiliki kekuatan hukum. Yaitu pembuatan PERDA Perlindungan dan Pemberdayaan Petani kategori sedang dan kecil. Sehingga masalah yang mereka hadapi tidak diwariskan kepada anak dan cucu mereka.

    Bentuk perlindungan yang harus didapatkan dengan memperoleh prasarana dan sarana produksi, ketersediaan lahan, kepastian usaha, perlindungan hukum, resiko harga, kegagalan panen, praktek ekonomi biaya tinggi, kredit usaha bunga rendah dan perubahan Iklim.

    Pemberdayaan Petani mencakup: meningkatkan kemampuan petani dalam melaksanakan usaha tani yang lebih baik. Melalui pendidikan dan pelatihan, Penyeluhan dan pendampingan, Pengembangan dan sistem sarana pemasaran hasil pertanian, konsolidasi dan jaminan kesediaan luasan lahan pertanian, kemudahan akses ilmu pengetahuaan, teknologi dan informasi, serta penguatan kelembagaan petani.

    Canga Comuniti bersama petani akan mengusulkan ke DPRD Kab Halut pembuatan PERDA Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. (AT)

  • Sendal Jepit Untuk Masjid

    JAKARTA, SUARADEWAN.com – Seorang netizen memposting pengalamannya saat shalat di sebuah mesjid di kawasan Jakarta Barat. Akun bernama catastrophe21 (Pamungkas Patria) tersebut bercerita tentang sedekah sendal jepit untuk mesjid. Hal ramah tamah tapi cukup menginspirasi kita berbuat kebaikan sebagaimana yang dilakukan ibu Linda. Ini isi lengkapnya unggahan netizen tersebut.

    Sedikit aku cerita latar belakangnya kenapa gue disini. Beberapa hari lalu gue sempet dapet kabar tentang adanya pembagian sandal jepit oleh seseorang di beberapa masjid, salah satunya masjid dimana aku berada sekarang, masjid Jami’ Al Anshor yang berlokasi di daerah Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Senin (19/2).

    Selama ini gue taunya, kalau orang berdonasi dengan misal menyumbang Al Qur’an, atau mencuci mukenah yang ada di sana. Nah, ini beda, orang ini menyumbang dengan memberikan sandal jepit.

    Memang terlihat receh, tapi tunggu dulu, ini tentu sangat bermanfaat, terutama bila saudara – saudara muslim yang mampir untuk beribadah, namun tidak membawa sandal, kan gak mungkin pakai sepatu setelah wudlu. Kerennya lagi, kata info tersebut,  beberapa mesjid yang kecipratan sendal jepit berada di kawasan lalu lalang turis.

    Singkat cerita, gue dapat info bahwa donatur sandal jepit ini namanya Ibu Linda Enry. Setelah aku googling ternyata beliau seoramg PNS yang menjabat sebagai Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Barat. Menarik gak? Jelas menarik, karna secara jabatan, beliau pasti ngurusin seputar wisata tentunya.

    Tapi yang beliau lakuin, ngurusin tempat ibadah. Dan kalau di liat dari lokasi, masjid ini menopang wisata sekitar. Intinya, selain mengurusi tempat wisata, beliau pun memikirkan penopang wisata, salah satunya masjid. Menginspirasi bukan? Keren nih kalau PNS PNS lainnya atau siapa saja ketularan gerakan ini. Ketika dihubungi Linda Enriany, berkisah beberapa waktu lalu, pada saat akan sholat di masjid di sekitar obyek wisata, ia kesulitan berwudhu karena tidak tersedianya sendal. Sedikitnya 300 pasang sandal jepit dibagikan.

    Adapun yang menerima selain Masjid Assahara di lingkungan kantor Walikota Jakarta Barat, juga  dibagikan ke pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Masjid Jami Al Anshor Jl. Pengukiran II Kelurahan Pekojan, DKM Masjid Jami Al Mansyur Jl. Sawah Lio No. 2 Kel Jembatan Lima, DKM Masjid Jami An Nawir Jl. Pekojan No. 71 Kel Pekojan Kec, DKM Masjid Jami Al Anwar Jl. Tubagus Angke, Gg. Mesjid No.1 Kel Angke, DKM Masjid Jami Tambora Jl. Tambora No. 4, DKM Masjid Jami Kebon Jeruk Jl. Hayam Wuruk No. 83, Kel Maphar,  serta Mushola Tinggi Pekojan Jl. Pekojan Raya No. 43 Kelurahan Pekojan. (af)

  • Denny JA, Hasrat dan (Potret) Tindak Pelecehan

    Oleh: Shiny.ane el’poesya

    Kamis (25/01), sore lalu, tersebar di media sosial video seorang pasien perempuan berumur 30 tahun tengah menangisi harga dirinya yang telah dilecehkan oleh seorang perawat lelaki. Perempuan tersebut mengungkapkan bahwa dirinya telah dilecehkan dengan diremas-remas payudaranya. Ia juga mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan oleh si perawat tidak sekali, bahkan juga dengan memain-mainkan (memelintirkan) putingnya ketika ia dalam kondisi setengah sadar sesaat setelah ia dipindahkan dari ruang operasi.

    Ironis. Peristiwa tersebut terjadi di tengah makin berkembangnya pemikiran-pemikiran mengenai pembelaan terhadap hak asasi manusia, yang justru sudah tak lagi hanya berkutat pada isu pembelaan hak konstitusional perempuan tetapi lebih jauh pada isu LGBT. Tentu hal tersebut selain menyayat perasaan kita semua, juga seolah telah menarik mundur kembali roda perkembangan hidup kita jatuh ke arah belakang.

    Masalah itu mungkin sekarang–ketika tulisan ini dibuat, tengah bergulir sebagai kasus hukum. Dan yang pantas, biarlah pihak yang berwenang kelak memutuskan apa ganjarannya.

    Namun, sebagai generasi muda-millenial yang tengah mencoba bergelut di dunia sastra, membaca berita tersbut juga sedikit menjadi “was-was”. Mengapa was-was? Sebab tiba-tiba ada satu hal yang menurut saya penting untuk disampaikan mengenai peristiwa tersebut dalam konteks kesusastraan kita saat ini. Yaitu, bahwa hasrat dan imajinasi jika tidak dibarengi pertimbangan akal sehat, maka akan sangat berbahaya.

    Dalam peristiwa yang terjadi di ruang rawat itu, saya melihat adanya peran hasrat yang begitu kuat, kita juga tak mungkin menafikan peran “imajinasi” yang yang mendorong pelakuknya dalam mengesampingkan akal sehatnya. Saat itu jelas si perawat tengah ber”imajinasi” bahwa pasien tersebut masih dalam keadaan tak sadar akibat efek obat bius yang disuntikkan ke tubuhnya sebelum masuk ruang operasi. Sialnya, ternyata si pasien meskipun belum sepenuhnya siuman, tetapi merasakan tindak pelecehan tersebut dan membeberkannya di depan seluruh staff di rumah sakit bersangkutan.

    Pertanyaannya, apakah hal tersebut tidak terjadi di era kesusastraan kita akhir-akhir ini? Di sini penulis memberi jawaban: Iya. Dan bahkan lebih mengerikan.

    Di waktu yang sama ketika berita pelecehan itu beredar, beredar pula berita yang mengabarkan mengenai hadirnya “Generasi Angkatan Sastra Puisi Esai” yang dilansir oleh beberapa media online: Republika, AntaraNews, BeritaSatu dan TribunNews. Sebuah berita yang lagi-lagi sebenarnya telah melecehkan kesusastraan kita baik dari kacamata sejarah, dari segi pertukaran wacana–berbagai kritik langsung (ex. “Denny JA, Semuanya, Jangan Sebut Proyek Puisi Esai sebagai GERAKAN!”, “Denny JA Menyangkal Sejarah Komunitas Sastra: Komunitas Sastra di setiap Daerah Marahlah!” dsb.) yang telah dibuat atas tulisan-tulisan Denny JA sendiri, maupun dari cara Denny JA mengimajinasikan kita semua sebagai sesuatu yang tidak perlu dihiraukan keberadaannya; seolah seorang pasien yang tengah terlelap dan tak berdaya di atas ranjang, meskipun memang masih banyak penulis senior yang memilih diam tenang-senang saja di atas ranjang itu.

    Tulisan yang beredar melalui media tersebut, hampir seluruh bangunan teksnya serupa, dan hanya berbeda pada bagian pembuka berita yang kemudian di-headline-kan sebagai judul. Tulisan yang (selain dari konten mudah sekali dipatahkan) sebenarnya tidak menunjukkan keahlian apapun dari segi jusrnalistik kecuali ajang gagah-gagahan bahwa ia memiliki jaringan media populer yang bisa dikendalikannya. [sic!]

      Jakarta, 27 Januari 2018


    Noted: Denny JA seharusnya mengetahui lebih dulu–sebelum mencatut 5 syarat peristiwa kebaharuan dari David Ikancinta (Fihselov) dalam tulisannya itu, bahwa pertama, setiap pembaharu dalam sastra tidak mungkin dikatakan sebagai pembaharu kalau dia hanya menulis 5 buah puisi saja–silahkan diriset. Jadi kalau masih ingin mengatakan sebagai pembaharu dengan hanya menulis 5 puisi saja, berarti ia tak tahu malu. Kedua, sebuah klaim terlahirnya angkatan itu berarti adalah seuah penanda adanya satu kemunculan generasi yang di dalamnya terdapat berbagai macam corak puisi yang digerakkan oleh licentia poetica masing-masing pengusungnya, jadi bukan kerja klaim dari satu orang dan membayar orang lain untuk mengerjakan hal yang sama; Kalau kategorinya ini, bukankah ratusan panitia lomba setingkat nasional jauh lebih banyak melakukan hal yang sifatnya massal, tematik, dan dengan ketentuan penulisan tertentu yang serupa demikian? Terakhir, bahkan ketika Denny JA mengatakan kehadiran 170 penyair yang rame-rame bekerja untuk memproduksi massal puisi esai dalam projectnya adalah sebuah fakta, tetapi ia juga tak bisa menutup fakta bahwa bahkan dari 170 penulisnya itu beberapa telah berangsur mengundurkan diri.

  • Demokrasi Yang Berdebu

    Oleh : Wahyu Hamdani

    Ada uang, abang disayang. Gak ada uang, abang dibuang. Tak dipilih untuk jadi pemimpin. Uang menjadi perangkat utama untuk memilih pemimpin. Akhirnya, hanya yang berpikiran jernih ke depan yang akan teguh bersikap. Tidak menggadaikan masa depan dengan kesenangan sesaat nan sesat.

    Konsekuensi kerusakan dari politik uang, tak hanya soal moralitas. Melainkan juga bibit kehancuran tatanan sosial. Awal dari lahirnya pemimpin korup. Maka daripada itu, tak boleh  didiamkan dan dibiarkan. Gerakan politik bersih harus jadi ujung tombak pembaharuan.

    Dalam konteks ini, masyarakat tidak salah sama sekali. Tapi pemimpin yang mengajarkan. Mengajarkan memilih karena segepok uang 100-200 ribuan. Masa depan kota akhirnya diserahkan ke “pemimpin pegadaian”. Betapa murahnya masa depan yang gilang gemilang.

    Politik uang, meski susah untuk dibuktikan sudah menjadi rahasia umum. Tak kelihatan apinya, tetapi asapnya membumbung di angkasa.  Tidak jelas memang definisi dari politik uang. Namun, dari banyak pengalaman, kasus-kasus politik uang menguap dipersidangan ketika tidak ditemukan bukti dan saksi yang menguatkan.

    Halalkan Segala Cara

    Dalam suksesi kepemimpinan, aneka bentuk keculasan, kecurangan, intrik-intrik politik, black campaign, money politicmerupakan hiasan dalam etalase perpolitikan. Strategi yang disebut Machiavelli “menghalalkan segala cara” sudah merupakan strategi turunan sejak zaman baheula.

    Berbagai bentuk pelanggaran pemilukada bukan merupakan sesuatu yang asing terdengar. Dari perkara memberikan bantuan beras, DPT/DPS, money politic, curi start kampanye hingga penggunaan fasilitas negara terutama bagi incumbent. Dari pelanggaran yang bersifat administratif sampai pelanggaran pidana. Tentu yang paling susah disorot adalah soal politik uang.

    Namun, yang menjadi persoalan hingga sekian ratus perhelatan pemilukada adalah tidak adanya ketegasan pihak-pihak terkait untuk memberikan sanksi yang membuat pelaku kapok dan tidak  akan mengulangi perbuatan yang sama. Sehingga, tidak ditiru di daerah lain yang hendak menyelenggarakan pemilukada.

    Penegakan aturan yang ketat terhadap berbagai bentuk pelanggaran yang terjadi adalah keniscayaan yang tidak bisa terelakkan. Sebuah keharusan yang bertujuan untuk memperkuat sendi-sendi demokrasi. Sebagai upaya awal untuk menciptakan pemerintah yang bersih, amanah, dan bertanggung jawab terhadap rakyat.

    Sungguh ironis, bila kepala daerah yang nantinya terpilih. Bukan sepenuhnya terpilih karena suara hati nurani rakyat. Melainkan dipilih karena banyaknya gizi yang diberikan pada rakyat baik melalui bantuan-bantuan, seperti membangun masjid maupun fasilitas jalan menjelang pemilihan, pemberian voucher beras, atau “serangan fajar”.

    Di lapangan pelanggaran-pelanggaran yang tersebut diatas, adalah sesuatu yang masih dipermukaan bukan bentuk pelanggaran yang fatal dan besar. Dikatakan demikian, sebab selama ini temuan maupun laporan mengenai pelanggaran jarang sekali diproses dan diberikan sanksi yang tegas bagi para pelakunya. Yang terjadi berbagai bentuk pelanggaran dibiarkan seiring proses pelantikan kepala daerah baru. Padahal, politik uang sesungguhnya menjadi biang rusaknya pembangunan.

    Menggejalanya politik uang ditunjang pula dengan paradigma masyarakat yang akan memilih, bila ada yang memberikan uang pengganti ke TPS. Ini sumber penyakit baru. Faktor pengangguran dan kemiskinan memberikan kontribusi besar terhadap menjamur politik uang. Di samping pula, faktor pendidikan yang rendah. Dampaknya kesadaran memilih ala kadarnya, bukan dimaknai sebagai titik tolak perubahan hidupnya.

    Bila perilaku seperti ini terus berlangsung. Mana mungkin clean and good governance yang kita impikan akan tercapai. Kepala daerah terpilih, secara rasional akan berpikir keras bagaimana mengembalikan modalnya setelah memenangkan pemilukada. Bahkan menggadaikan kebijakan pada pemilik modal. Dan inilah yang dimaksud dengan demokrasi yang kotor karena berdebu oleh praktik-praktik KKN.

    Jernihkan Kesadaran Politik

    Makin maraknya politik uang, dalam jangka panjang masyarakat yang akan dirugikan. Apalagi jika pemimpin yang terpilih berprinsip ketika jadi harus mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Kebijakan yang akan diambilnya tentu akan berpihak pada dirinya sendiri. Rakyat akan terlantar. Kesejahteraan dan kemakmuran makin menjauh.

    Jadi masalah pokoknya, sebenarnya kesadaran rakyat yang perlu dibenahi. Wawasan yang perlu ditingkatkan. Pengetahuan yang perlu diperbaiki. Bukan sistem yang digugat. Sistem pemilihan langsung sebenarnya cukup memberikan ruang untuk perbaikan. Terutama mengenai partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

    Akan tetapi, masalahnya, sistem ini terbuka untuk ditunggangi oleh para penumpang gelap demokrasi yang tak bertanggung jawab. Pelaku  demokrasi yang berperilaku menguntungkan dirinya sendiri. Pelaku yang membeli suara rakyat dengan uang ganti transport. Ihwal dari transaksionalisasi politik.

    Konsekuensinya, kesadaran memilihnya bukan karena hak dan kewajiban melainkan tergantung imbalan. Kesadaran memilihnya karena hutang budi, setelah kandidat/timsesnya memberikan uang. Persoalan ini tidak lepas dari pengetahuan dan SDM masyarakat yang rendah. Sehingga masyarakat tidak berpikir panjang akan pengaruh hak pilihnya terhadap kebijakan pembangunan.

    Kesadaran dan pengetahuan bahwa pilihanya akan menentukan arah dan kebijakan pembangunan belum banyak diketahui. Permasalahan ini yang semestinya terus didengungkan, diajarkan, disosialisasikan kepada masyarakat. Maka, logika kesadaran bahwa hak pilih mereka menentukan masa depan yang masih belum banyak terekam dalam masyarakat harus diinstal dalam kesadaran pikiran.

    Masyarakat kelas bawah, rentan sekali dengan politik uang. Sebab cara berpikir pendek mereka, yang penting bisa makan. Tidak perduli akan lahir kebijakan kedepan yang menindas dan menzholiminya. Sebuah pekerjaan rumah yang harus cepat diselesaikan.

    Terbit :  di Harian Pelita Medio Oktober 2013

  • Proklamasi itu Berat, Dilan. Kamu Tak Akan Kuat

    Oleh: M. Iqbal Tarafannur

    25 Januari kemarin, film Dilan yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia. Film ini sudah barang tentu menjadi sebuah penantian yang agung bagi setiap orang yang pernah membaca karya-karya ataupun hanya sekadar kutipan dari Pidi Baiq. Bagaimana tidak,  karya fiksi Pidi Baiq yang — ramai terpampang di etalase-etalase toko buku ternama — penuh dengan kata-kata cinta yang indah yang akan membikin orang-orang— khususnya kaum muda — yang sedang dikuasai oleh gelora asmara atau sedang dirundung patah hati, mendadak merasa tercerahkan selepas membacanya.

    Saya menonton film ini bukan karena saya adalah pembaca setia karya-karya Pidi Baiq. Saya penasaran apakah film ini bisa mengubah pikiran saya terhadap penulis-penulis kisah fiksi menye-menye, yang saya anggap telah merusak dan meracuni otak generasi hari ini dengan seluruh ihwal tetek bengek kisah percintaan bocah ingusan yang banal sekaligus binal.

    Film yang mengambil latar di Bandung pada tahun 1990 ini menceritakan kisah cinta remaja dimasa putih abu-abu antara Dilan yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan dan kekasihnya Milea yang diperankan oleh Vanesha Prescilla, seorang gadis cantik yang baru pindah dari Jakarta ke Bandung. Pada pembuka film, kaum hawa akan terpesona melihat senyum manis Dilan saat menghampiri Milea, gadis yang menjadi target operasi rasa sukanya. Dilan membuka dialog pertama dalam film dengan mengatakan “aku meramal, suatu saat kamu pasti naik motorku.” Sontak saya mendengar ada suara-suara perempuan di bioskop yang bilang ‘so sweet’, ‘asiikk,’ ‘ya ampun,’ ‘romantis banget,’ dll., dsb.

    Milea, digambarkan seorang gadis cantik yang baru pindah sekolah dari Jakarta, merupakan anak tentara. Sedangkan Dilan seorang anak tampan yang nakal namun puitis dan terlibat dalam geng motor ternama di Bandung. Tak tanggung-tanggung, bocah ingusan ini, menduduki jabatan sebagai panglima tempur dalam geng motor tersebut. Oh ya, ditambah lagi, dia juga anak dari seorang serdadu. Jangan lupa, bahwa film ini berlatar tahun 1990, di mana Sang Jenderal masih gagah berkuasa. Latar belakang keluarga Dilan yang militeristik mungkin menjadikannya besar kepala dan ditakuti. Hal ini terlihat ketika di dua adegan Dilan dipanggil oleh kepala sekolahnya karena memukul guru dan temannya.

    Mungkin faktor latar belakang keluarganya itu yang menjadi pertimbangan kelompoknya menjadikan Dilan sebagai panglima tempur, agar bisa leluasa dalam aksi-aksi mereka. Hehe. Sebab saya berpikir, bahkan setolol-tololnya kelompok geng motor, tak akan menjadikan seorang bocah SMA untuk menduduki jabatan penting, seberapa besar pun nyali si bocah.

    Berbeda dengan percintaan anak SMA pada umumnya, Dilan begitu pandai dalam merangkai puisi. Lain Rangga dalam AADC yang hanyut dalam sajak-sajak Chairil, Dilan bisa menjadi seorang pembuat puisi andal sembari menjadi bagian dari geng motor tanpa harus menjadi seorang kutu buku yang membusuk di pojok kamar. Bayangkan saja kata-kata ini: “Jangan rindu, itu berat. Kamu tak akan kuat. Biar aku saja,” diucapkan oleh seorang anak SMA. Mendengar ucapan itu keluar dari mulut DIlan, seisi bioskop kembali riuh dengan puja-puji, sementara saya tersiksa dengan rasa geli.

    Hal ini juga yang membedakan antara Dilan dan Beni — kekasih Milea — yang berada di Jakarta yang terjerumus dalam budaya plagiat pada puisi-puisi Gibran. Kisah cinta Milea dan Beni mulai terancam saat Dilan hadir dalam kehidupan Milea dan berujung di Jakarta saat konflik terjadi dan Beni menyebut Milea sebagai “pelacur”.

    Saat adegan konflik tersebut, saya terkenang—begitu juga Milea yang menangis dalam perjalanan pulang ke Bandung — dengan kata-kata Dilan sebelumnya pada Milea yang mengatakan, “Jangan kasih tahu aku ada yang menyakitimu, nanti orang itu akan hilang.”: Kata-kata yang bagi saya kelewat mengerikan dalam konteks di mana orde baru sedang berkuasa. Menggunakan kata ‘mati’ saja sudah begitu horor untuk bocah seumurannya, apalagi hilang!? Ingatan saya langsung mengarah pada orang-orang yang ‘sengaja dihilangkan’ akibat melawan Harto. Persoalan yang membuat semuanya makin mengerikan adalah karena Dilan anak dari seorang serdadu. Terlebih lagi, bahkan sebelum kenal dekat, Dilan telah mengetahui semuanya tentang Milea. Hal ini yang membuat ulasan film Dilan di Tirto.id, memberikan judul tulisan yang amat jenaka dan menyentil: “Dilan 1990, Adalah Film Horor.”

    Rasa yang sama juga saya alami ketika Milea pulang dan mendapati ayahnya sedang duduk di teras rumah sembari mengelap senapan laras panjangnya. “Sedang apa, Yah?” Tanya Milea, selepas mengucapkan salam dan menciumi tangan ayahnya. “Buat nembak tikus-tikus di jalanan”, jawab ayahnya.  Serentak saya mengingat mereka yang menjadi korban Operasi Kalong pada tahun ‘65, di mana orang-orang disiksa dan binasa, tak lebih berharga dari seekor tikus di selokan.

    Lewat penggambaran percintaan Dilan dan Milea saya menyadari bahwa tak ada jurang perbedaan yang mencolok antara generasi di tahun 90an, dan saat ini, selain komunikasinya lewat telepon dan surat. Bahkan menurut salah satu pembaca setia Pidi Baiq dalam kutipan Twitternya, mengatakan bahwa novel Dilan harus menjadi panduan hidup anak SMA saat ini, yang dikutip oleh Pidi Baiq dalam sampul belakang novel Dilan. Begini tulisnya:

    ”Keren. Buku ini harus menjadi panduan hidup anak SMA sekarang. Menteri Pendidikan juga harus baca,” kata pengguna Twitter @faisEl_farizi.

    Bayangkan! Harus menjadi panduan hidup anak SMA dan harus dibaca oleh Menteri Pendidikan! Mungkin hal ini harus dipertimbangkan oleh Menteri Pendidikan sekarang, untuk menjadikan DIlan sebagai kurikulum baru yang wajib dipelajari dalam mata pelajaran SMA. Dan untuk yang terhormat Ki Hajar Dewantara, semoga saja kau tak baper karena kalah pamor dengan Pidi Baiq. Sia-sia sudah kau mendirikan Taman Siswa. Saya rasa, persoalan ini mungkin juga jadi pertimbangan agar Paulo Freire dan Eko Prasetyo berhenti menulis tentang persoalan pendidikan. Sebab, kalian tak ada apa-apanya.

    Hati saya begitu tersentuh, ketika di adegan menjelang berakhirnya film, Dilan dan Milea akhirnya mengikrarkan cinta agung mereka lewat proklamasi. Bukan karena mereka begitu romantis dan ­antimainstream, tapi karena kata ‘proklamasi’ yang mereka gunakan. Sebab, bagi saya, kata-kata itu yang membuat Bung Karno, dkk, harus merasakan sunyinya pembuangan, pengapnya penjara, dan ngerinya peluru yang membuntuti mereka. Terserah jika bagi sebagian orang saya dianggap terlalu berlebihan. Namun, percayalah Dilan, proklamasi itu berat. Kamu tak akan kuat. Biar Bung Karno saja.

    Selain perbedaan di atas, kisah ini tak ada bedanya dengan kisah percintaan anak SMA pada umumnya yang diangkat dalam film: murahan dan menjijikan. Generasi muda, lagi-lagi menjadi sasaran komoditas lewat sastra dan film. Lewat hal ini, kaum muda diajak dalam labirin percintaan yang menggelora, seolah-olah dunia ini hanya berisi tentang kisah asmara antara dua pasangan anak manusia.

    Tapi, saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada seorang Pidi Baiq. Sebab karena karyanya, saya senantiasa merawat kebencian saya pada sastra murahan yang hanya berbicara tentang persoalan asmara yang membabi-buta.

    Sumber : http://narazine.co